Gubuk kecilku beratap dan menyenangkan, Ternaungi dari angin: Maka hujanlah, langit, sesukamu! Pikiranku tenang dan terbebaskan, Aku berlatih sepenuh hati: maka hujanlah, langit!

Tenang dan hening, Bijaksana dalam memberi nasihat dan kokoh; Meruntuhkan kualitas-kualitas buruk, Bagaikan angin meruntuhkan dedaunan di pohon.

Lihatlah kebijaksanaan para Tathāgata! Bagaikan api berkobar di malam hari, Memberikan cahaya, memberikan penglihatan, Menghalau keragu-raguan dari mereka yang datang ke sini.

Engkau seharusnya bergaul hanya dengan para bijaksana, Mereka yang condong pada yang baik, melihat tujuan. Karena bijaksana, tekun, dan cerdas, Mereka merealisasikan tujuan, begitu agung, mendalam, Sukar dilihat, samar, dan halus.

Dulu sulit dijinakkan, sekarang jinak dengan sendirinya, Layak dihormati, puas, telah menyeberangi keragu-raguan. Pemenang, dengan ketakutan lenyap, Dabba adalah seorang yang kokoh, dan telah merealisasikan nibbāna.

Bhikkhu yang mendatangi Sītavana sendirian, Puas, berlatih samādhi, Pemenang, tidak lagi merinding, Menjaga perhatian pada jasmani, teguh.

Ia telah menyapu bersih bala tentara raja kematian, Bagaikan banjir besar menyapu Jembatan buluh yang rapuh Pemenang, dengan ketakutan lenyap Ia yang jinak dan kokoh, dan telah merealisasikan nibbāna.

Dulu sulit dijinakkan, sekarang jinak dengan sendirinya, Seorang pahlawan, puas, dengan keragu-raguan teratasi, Pemenang, tidak lagi merinding, Vīra adalah seorang yang kokoh, dan telah merealisasikan nibbāna.

Disambut, bukan tidak disambut Nasihat yang kuterima adalah baik. Di antara segala sesuatu yang dibagikan, Aku menemukan yang terbaik.

Seorang yang sempurna dalam pengetahuan, Damai dan terkekang, Tidak berharap untuk berdiam di dunia ini atau pun di dunia berikutnya, Tanpa kemelekatan terhadap apa pun, Mereka mengetahui muncul dan lenyapnya dunia.

Seorang bhikkhu dengan kegembiraan besar Dalam Dhamma yang diajarkan oleh Sang Buddha Akan merealisasikan keadaan damai: Tenangnya aktivitas-aktivitas, kebahagiaan.

Dengan kekuatan kebijaksanaan, Memiliki moralitas dan tekad, Memiliki samādhi, bersenang dalam jhāna, penuh perhatian, Memakan makanan yang selayaknya, Seseorang seharusnya melewatkan waktunya di sini, bebas dari keinginan.

Tampak bagaikan awan badai biru kehitaman, berkilauan, Disejukkan dengan air dari aliran sungai jernih, Dan tertutup oleh kumbang-kumbang: Tebing bebatuan ini menyenangkanku!

Penahbisku berkata: “Mari kita pergi dari sini, Sīvaka.” Tubuhku menetap di desa, Tetapi pikiranku pergi ke hutan. Aku akan pergi ke sana bahkan jika aku berbaring; Tidak ada yang mengikat seseorang yang memahami.

Lima harus dipotong, lima harus ditinggalkan, Lima lagi harus dikembangkan. Seorang bhikkhu yang telah mengatasi lima kemelekatan Disebut “Seorang yang telah menyeberangi banjir”.

Bagaikan seekor kuda berdarah murni yang baik Melaju dengan nyaman, Ekor dan surai melambai tertiup angin; Demikian pula siang dan malamku Berlalu dengan nyaman, Penuh dengan kegembiraan spiritual.

Seorang yang mengantuk, rakus, Gemar tidur, bergulingan ketika berbaring, Bagaikan babi yang kekenyangan: Si dungu itu terlahir kembali lagi dan lagi.

Ada seorang pewaris Sang Buddha, Seorang bhikkhu di Hutan Bhesakaḷā, Yang melingkupi keseluruhan bumi Dengan persepsi “tulang-belulang”. Kurasa ia akan segera meninggalkan keinginan indria

Ahli pengairan mengalirkan air, Pembuat anak panah meluruskan anak panah, Tukang kayu membentuk kayu; Mereka yang disiplin menjinakkan diri mereka sendiri.

Aku tidak takut pada kematian; Juga aku tidak mendambakan kehidupan. Aku akan membaringkan tubuh ini, Dengan sadar dan penuh perhatian.

Aku tidak mencemaskan ketakutan. Guru kami terampil dalam tanpa-kematian; Para bhikkhu menapaki sang jalan Di mana tidak ada ketakutan yang tersisa.

Merak berjambul dengan leher biru yang indah Berkicau di Karaṃvī, Dibangunkan oleh angin sejuk, Mereka membangunkan yang terlelap untuk berlatih jhāna.

Aku akan memakan madu dan nasi di Veḷugumba, Dan kemudian, dengan terampil memeriksa Muncul dan lenyapnya kelompok-kelompok unsur kehidupan, Aku akan kembali ke hutanku Dan menekuni keterasingan.

Aku meninggalkan keduniawian setelah musim hujan— Lihatlah keunggulan Dhamma! Aku telah mencapai tiga pengetahuan Dan memenuhi ajaran Sang Buddha.

Yang Gelap, jika engkau menyerang seorang bhikkhu, Yang pikirannya penuh cahaya, Dan telah sampai pada buah, Engkau akan jatuh ke dalam penderitaan.

Setelah mendengar kata-kata indah Dari Sang Buddha, kerabat Matahari, Aku menembus kebenaran halus, Bagaikan membelah ujung rambut dengan anak panah.

Dengan dadaku aku akan mendorong ke samping Rerumputan, tanaman merambat dan menjalar, Dan menekuni keterasingan.

Tidakkah engkau terobsesi dengan pakaian? Tidakkah engkau menyenangi perhiasan? Apakah engkau—bukan orang lain— Yang menyebarkan keharuman moralitas?

Luruskan dirimu, Bagaikan pembuat anak panah meluruskan anak panah. Ketika pikiranmu tegak, Hārita, Hancurkan ketidaktahuan!

Ketika aku sakit di masa lalu, Aku penuh perhatian. Sekarang sekali lagi aku sakit— Sekarang waktunya untuk tekun berusaha.

Digigit kutu dan nyamuk Di dalam belantara, hutan purba; Seseorang harus bertahan dengan penuh perhatian, Bagaikan gajah di garis depan peperangan.

Aku akan menukar usia tua dengan tanpa penuaan, Kebakaran dengan pemadaman; Kedamaian tertinggi, Keamanan tak tertandingi dari gandar.

Bagaikan seorang ibu akan baik Kepada putra tunggalnya yang tersayang; Demikian pula, kepada semua makhluk di mana pun, Seseorang harus bersikap baik.

Bagi seseorang yang memahami Adalah selalu lebih baik tidak bergaul dengan perempuan-perempuan demikian. Aku pergi dari desa ke hutan; Dari sana aku memasuki rumah. Walaupun aku di sana untuk makan, Aku berdiri dan pergi tanpa pamit.

Siapa pun yang mencari kebahagiaan Akan menemukannya melalui latihan ini, Memperoleh reputasi baik, dan tumbuh dalam kemasyhuran: Kembangkanlah Jalan Mulia Berunsur Delapan, jalan yang lurus dan langsung Demi merealisasikan tanpa-kematian.

Belajar adalah baik, mengembara adalah baik, Kehidupan tanpa rumah adalah selalu baik. Mempertanyakan tujuan, Perbuatan-perbuatan yang terampil, Ini adalah kehidupan pertapaan bagi seseorang yang tidak memiliki apa-apa

Beberapa orang bepergian ke wilayah-wilayah berbeda, Mengembara tidak terkendali. Jika mereka kehilangan ketenangan mereka, Apalah gunanya Mengembara ke seluruh negeri? Maka engkau harus menghalau keangkuhan, Berlatih jhāna tanpa gangguan.

Kekuatan batinnya Membekukan sungai Sarabhu; Gavampati tidak terikat dan tidak bingung. Para dewa bersujud kepada sang bijaksana agung itu, Yang telah meninggalkan segala kemelekatan, Dan pergi melampaui kelahiran kembali dalam kehidupan apa pun.

Seolah-olah tertusuk pedang, Seolah-olah kepala mereka terbakar, Seorang bhikkhu harus meninggalkan keduniawian dengan penuh perhatian, Untuk meninggalkan kenikmatan-kenikmatan indriawi.

Seolah-olah tertusuk pedang, Seolah-olah kepala mereka terbakar, Seorang bhikkhu harus meninggalkan keduniawian dengan penuh perhatian, Untuk meninggalkan keinginan untuk terlahir kembali Dalam kehidupan apa pun juga.

Kilat menyambar Di celah antara Vebhāra dan Paṇḍava, Tetapi di dalam celah gunung, putra dari yang tak tertandingi Terserap dalam jhāna, seimbang.

Cāla, Upacāla dan Sīsupacāla; Waspadalah! Aku telah datang kepadamu bagaikan pembelah rambut.

Terbebaskan dengan baik! Terbebaskan dengan baik! Aku terbebaskan dengan baik dari ketiga hal menyimpang Sabitku, bajakku, cangkul kecilku. Bahkan jika benda-benda itu ada di sini – Aku telah selesai dengan benda-benda itu, selesai! Latihlah jhāna Sumaṅgala! Latihlah jhāna Sumaṅgala! Tetaplah tekun, Sumaṅgala!

Ibu, mereka menangisi orang mati, Atau mereka yang masih hidup namun menghilang. Aku hidup dan engkau dapat melihatku, Jadi Ibu, mengapa engkau menangisi aku?

Bagaikan seekor kuda berdarah murni yang baik Setelah tersungkur, segera tegak berdiri, Demikian pula aku memiliki penglihatan, Seorang siswa Sang Buddha.

Aku meninggalkan keduniawian karena keyakinan Dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Perhatian dan kebijaksanaanku telah tumbuh, Pikiranku tenang dalam samādhi. Ciptakanlah ilusi apa pun yang engkau inginkan, Itu tidak akan menggangguku.

Hormat kepada Sang Buddha, Sang Pahlawan, Yang terbebaskan dalam segala cara. Berdiam dalam buah latihanmu, Aku hidup tanpa kekotoran.

Sejak aku meninggalkan keduniawian Dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, Aku tidak menyadari kehendak apa pun Yang tidak mulia dan penuh kebencian.

Bahkan dengan segala suara, Kicauan dan cicitan merdu burung-burung, Pikiranku tidak goyah, Karena aku menekuni keterpusatan.

Hujan turun dan angin bertiup di atas bumi, Sedangkan kilat menyambar di angkasa! Tetapi pikiranku diam, Pikiranku tenang dalam samādhi.

Langit menurunkan hujan, bagaikan lagu merdu, Gubuk kecilku beratap dan menyenangkan, Ternaungi dari angin: Pikiranku tenang dalam samādhi, Maka hujanlah, langit, sesukamu.

Langit menurunkan hujan, bagaikan lagu merdu, Gubuk kecilku beratap dan menyenangkan, Ternaungi dari angin: Pikiranku tenang di dalam jasmaniku, Maka hujanlah, langit, sesukamu.

Langit menurunkan hujan, bagaikan lagu merdu, Gubuk kecilku beratap dan menyenangkan, Ternaungi dari angin: Aku berdiam di sana, dengan tekun: Maka hujanlah, langit, sesukamu.

Langit menurunkan hujan, bagaikan lagu merdu, Gubuk kecilku beratap dan menyenangkan, Ternaungi dari angin: Aku berdiam di sana, tanpa teman: Maka hujanlah, langit, sesukamu.

Aku memasuki hutan Añjana Dan membangun gubuk kecil untuk menetap. Aku telah mencapai tiga pengetahuan Dan memenuhi ajaran Sang Buddha.

“Siapakah yang berada di dalam gubuk kecil ini?” “Seorang bhikkhu berada di dalam gubuk kecil ini, Bebas dari nafsu, pikirannya tenang dalam samādhi. Sahabatku, engkau harus mengetahui ini: Gubuk kecilmu tidak dibangun dengan sia-sia.”

Ini adalah gubuk lamamu, Tetapi engkau masih menginginkan gubuk baru. Usirlah keinginan pada gubuk, bhikkhu! Gubuk baru hanya akan membawa lebih banyak penderitaan.

Gubuk kecilku menyenangkan, menggembirakan, Sebuah pemberian yang diberikan dengan keyakinan. Aku tidak memerlukan gadis-gadis: Pergilah, nona-nona, kepada mereka yang memerlukan!

Aku meninggalkan keduniawian karena keyakinan Dan membangun sebuah gubuk kecil di dalam hutan. Aku tekun, rajin, Sadar, dan penuh perhatian.

Niatku, tujuan Memasuki gubuk ini, telah terpenuhi. Meninggalkan kecenderungan pada keangkuhan, Aku akan merealisasikan pengetahuan dan kebebasan.

Seorang yang melihat Melihat mereka yang melihat dan yang tidak melihat. Seorang yang tidak melihat Tidak melihat keduanya.

Kami berdiam sendirian di dalam hutan, Bagaikan kayu yang dibuang di hutan. Banyak orang yang iri padaku Bagaikan makhluk-makhluk neraka yang iri Pada seseorang yang pergi ke surga.

Mereka mati dan jatuh; Terjatuh tetapi masih serakah, mereka kembali. Apa yang harus dilakukan telah dilakukan, Apa yang harus dinikmati telah dinikmati, Kebahagiaan telah direalisasikan melalui kebahagiaan.

Aku muncul dari orang yang namanya seperti pohon, Aku lahir dari orang yang panjinya bersinar. Sang pembunuh berpanji telah menghancurkan panji besarnya, Dengan panji itu sendiri.

Vaccha telah membuang Apa yang ia bangun selama bertahun-tahun Duduk dengan nyaman, gembira penuh sukacita, Ia mengajarkan ini kepada para perumah tangga.

Ia menasihati aku, sang pahlawan besar, Seorang yang telah melampaui segalanya. Ketika aku mendengar ajaranNya Aku mendekatiNya, penuh perhatian. Aku telah mencapai tiga pengetahuan Dan memenuhi ajaran Sang Buddha.

Kekotoranku telah terbakar habis Dengan berlatih jhāna; Kelahiran kembali ke dalam segala kehidupan telah selesai, Transmigrasi melalui kelahiran telah usai, Sekarang tidak ada lagi kelahiran kembali Ke dalam kehidupan apa pun juga.

Seorang bijaksana dengan kesadaran tinggi, tekun, Berlatih dalam cara-cara keheningan, Damai dan selalu penuh perhatian: Orang demikian tidak memiliki dukacita.

Mendengar Dhamma yang manis yang diajarkan oleh Sang Guru, Yang memahami segalanya, dan yang pengetahuannya unggul, Aku telah memasuki jalan untuk merealisasikan tanpa-kematian. Ia terampil dalam jalan menuju keamanan dari gandar.

Moralitas adalah yang tertinggi di sini, Tetapi pemahaman adalah yang tertinggi. Seseorang dengan moralitas dan pemahaman Adalah pemenang di antara manusia dan para dewa.

Walaupun nibbāna adalah sangat halus dan samar, Tidaklah sulit direalisasikan bagi seorang yang melihat tujuan, Terampil dalam pikiran, rendah hati dalam sikap, Melatih perilaku bermoral dari Sang Buddha.

Bambu muda adalah sulit dihancurkan Ketika pucuknya tumbuh dan menjadi berkayu; Itu adalah apa yang kurasakan dengan istri Yang telah dijodohkan padaku. Dengan memberiku izin – sekarang aku telah meninggalkan keduniawian.

Melihat seorang tua Seorang yang menderita penyakit, Dan mayat, sampai pada akhir kehidupan, Aku meninggalkan keduniawian, menjadi seorang pengembara, Dan meninggalkan kenikmatan indriawi.

Keinginan indriawi, niat buruk, Ketumpulan dan kantuk, Kegelisahan, dan keragu-raguan Tidak terdapat pada seorang bhikkhu sama sekali.

Pemandangan dari mereka yang berlatih adalah indah; Keragu-raguan terpotong, dan kecerdasan tumbuh. Bahkan seorang dungu menjadi bijaksana; Oleh karena itu bertemu dengan orang-orang demikian adalah baik.

Turun ketika yang lain naik; Naik ketika yang lain turun; Menetap ketika yang lain pergi; Tanpa kesenangan ketika yang lain senang.

Di masa lalu pikiranku mengembara Bagaimana ia menginginkan, di mana ia menginginkan, sesukanya. Sekarang aku akan dengan hati-hati menuntunnya, Bagaikan seekor gajah yang sedang berahi dituntun Oleh seorang pelatih dengan tongkat pengait.

Bertransmigrasi melalui tak terhitung banyaknya kelahiran, Aku telah melakukan perjalanan tanpa akhir. Aku menderita, tetapi sekarang: Kumpulan penderitaan telah runtuh.

Semua nafsuku telah ditinggalkan, Semua kebencianku telah dilepaskan, Semua delusiku telah pergi; Aku sejuk, padam.

Perbuatan apa pun yang telah kulakukan, Apakah remeh atau pun penting, Semuanya telah padam sepenuhnya; Sekarang tidak ada lagi kelahiran kembali Ke dalam bentuk kehidupan apa pun juga.

Kejahatan apa pun yang telah kulakukan Dalam kelahiran-kelahiran lampau, Harus dialami di sini Dan bukan di tempat lain.

Pergilah, nak, Kemana terdapat banyak makanan, Aman dan tanpa takut – Semoga engkau tidak dikuasai dukacita!

Berdiamlah penuh ketekunan, Sīha Jangan malas siang atau malam. Kembangkan kualitas-kualitas terampil, Dan cepatlah tinggalkan bingkai kematian.

Tidur sepanjang malam, Gemar bersosialisasi pada siang hari, Kapankah si dungu akan Mengakhiri penderitaan?

Terampil dalam karakteristik-karakteristik pikiran, Memahami manisnya keterasingan, Berlatih jhāna, disiplin, penuh perhatian: Orang demikian akan merealisasikan kebahagiaan spiritual.

Di luar sini ada banyak ajaran-ajaran lain; Jalan itu tidak mengarah menuju nibbāna, tetapi yang ini menuju nibbāna. Sungguh, Sang Bhagavā sendiri menasihati Saṅgha; Sang Guru menunjukkan telapak tanganNya.

Kelompok-kelompok unsur kehidupan terlihat sebagaimana adanya, Kelahiran kembali dalam segala kehidupan telah tercabik, Transmigrasi melalui kelahiran telah usai, Sekarang tidak ada lagi kelahiran kembali Ke dalam kehidupan apa pun juga.

Aku mampu mengangkat naik diriku Dari air ke pantai. Aku telah menembus kebenaran-kebenaran, Bagaikan seseorang yang tersapu banjir besar.

Aku telah menyeberangi rawa, Aku telah menghindari jurang, Aku terbebaskan dari banjir dan belenggu, Dan aku telah menghancurkan segala keangkuhan.

Lima kelompok unsur kehidupan telah dipahami sepenuhnya; Hal-hal itu menetap dengan atap roboh. Transmigrasi telah usai, Sekarang tidak ada lagi kelahiran kembali Ke dalam kehidupan apa pun juga.

Apa yang kumakan hari ini adalah lebih baik Daripada makanan murni seratus rasa: Dhamma yang diajarkan oleh Sang Buddha, Gotama yang berpenglihatan tak terbatas.

Seorang yang kekotorannya telah mengering, Yang tidak terikat pada makanan, Yang habitatnya adalah kebebasan Yang tanpa gambaran dan kosong: Jejaknya sulit dilacak, Bagaikan burung-burung di angkasa.

Kenikmatan indria adalah penderitaan, Eraka! Kenikmatan indria bukanlah kebahagiaan, Eraka! Seseorang yang menikmati kenikmatan indria Menikmati penderitaan, Eraka! Seseorang yang tidak menikmati kenikmatan indria Tidak menikmati penderitaan, Eraka!

Hormat kepada Sang Bhagavā, Putra Agung suku Sakya! Ketika Beliau merealisasikan yang tertinggi, Beliau mengajarkan Dhamma tertinggi dengan baik.

Aku buta, mataku rusak, Aku berjalan di jalan terpencil. Bahkan jika aku harus merangkak, aku akan tetap berjalan – Tetapi tidak dengan teman jahat.

Aku mempersembahkan sekuntum bunga, Dan kemudian menghibur diri di surga Selama 800 juta tahun; Dengan apa yang tersisa aku telah merealisasikan nibbāna.

Dengan melepaskan mangkuk perunggu yang berharga, Dan sebuah mangkuk emas berharga, juga, Aku menerima mangkuk tanah: Ini adalah penahbisanku yang ke dua.

Jika engkau berfokus pada aspek yang menyenangkan Dari pemandangan yang engkau lihat, maka engkau akan kehilangan perhatianmu. Mengalaminya dengan pikiran bernafsu, Engkau tetap mencengkeramnya Kekotoranmu tumbuh, Mengarah pada akar kelahiran kembali Ke dalam suatu kehidupan.

Jika engkau berfokus pada aspek yang menyenangkan Dari suara yang engkau dengar, maka engkau akan kehilangan perhatianmu. Mengalaminya dengan pikiran bernafsu, Engkau tetap mencengkeramnya Kekotoranmu tumbuh, Mengarah pada transmigrasi.

Sempurna dalam empat usaha benar, Dengan penegakan perhatian sebagai tempat yang aman bagimu, Dihias dengan bunga-bunga kebebasan, Engkau akan merealisasikan nibbāna tanpa kekotoran.

Ia telah meninggalkan kehidupan rumah tangga, Tetapi ia tidak memiliki tujuan, Bagaikan babi besar yang mengunyah biji-bijian, Menggunakan moncongnya sebagai bajak, hidup demi perutnya, malas: Si dungu itu kembali ke rahim lagi dan lagi.

Ditipu oleh keangkuhan, Dikotori oleh kondisi-kondisi, Ditindas oleh keuntungan dan kerugian, Mereka tidak merealisasikan samādhi.

Aku tidak memerlukan ini – Aku puas dan senang dengan Dhamma yang manis ini. Aku telah meminum yang terlezat, madu terbaik. Aku tidak akan mendekati racun.

Hey! Tubuhku ringan, Penuh dengan sukacita dan kebahagiaan. Tubuhku bagaikan melayang, Bagaikan kapas tertiup angin.

Karena tidak puas, seseorang seharusnya tidak menetap; Karena bahagia, seseorang harus pergi. Seseorang yang melihat dengan jelas tidak akan menetap Di tempat yang tidak mendukung tercapainya tujuan.

Ketika maknanya memiliki seratus aspek, Dan mengandung seratus karakteristik, Si dungu hanya melihat satu faktor, Sedangkan sang bijaksana melihat seratus.

Setelah menyelidiki, aku meninggalkan keduniawian Dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Aku telah mencapai tiga pengetahuan Dan memenuhi ajaran Sang Buddha.

Pada usia 120 tahun Aku meninggalkan keduniawian menuju kehidupan tanpa rumah. Aku telah mencapai tiga pengetahuan Dan memenuhi ajaran Sang Buddha.

Ia pergi ke pengasingan, Tetapi ia tidak mematuhi nasihat Dari seorang yang memiliki belas kasih tertinggi Demi kesejahteraannya. Ia hidup dengan indria-indria tidak terkekang Bagaikan seekor rusa muda di hutan.

Pepohonan di puncak gunung telah tumbuh dengan baik, Segar disiram oleh awan tinggi. Bagi Usabha, yang menyukai keterasingan, Dan yang hanya memikirkan hutan, Kebaikan akan tumbuh lebih banyak lagi.

Meninggalkan keduniawian adalah sulit, menetap di rumah adalah sulit, Dhamma adalah mendalam, Dan uang sulit diperoleh. Sekedar bertahan adalah sulit Bagi kami yang menerima apa pun yang ada, Maka kami harus senantiasa mengingat ketidakkekalan.

Aku memiliki tiga pengetahuan, aku adalah meditator besar, Terampil dalam ketenangan pikiran. Aku telah merealisasikan tujuan sejatiku, Dan memenuhi ajaran Sang Buddha.

Airnya jernih dan jurangnya lebar, Monyet-monyet dan rusa di sekeliling; Berhiaskan dengan lumut lembab, Tebing bebatuan ini menyenangkanku!

Ketika tubuhmu menjadi berat dan tidak nyaman, Ketika kehidupan hampir berakhir; Serakah pada kenikmatan fisik, Bagaimana mungkin engkau menemukan kebahagiaan sebagai petapa?

Di Gunung Nesādaka, Dengan selimutnya yang terkenal Dari belukar dan pepohonan, Engkau terbukti kurang baik.

Aku telah meninggalkan enam bidang kontak-indria, Pintu-pintu indriaku terjaga dan terkekang dengan baik; Aku telah mencabut akar penderitaan, Dan mencapai akhir kekotoran.

Aku diminyaki dengan baik dan berpakaian baik, Berhiaskan segala perhiasan. Aku telah mencapai tiga pengetahuan Dan memenuhi ajaran Sang Buddha.

Usia tua datang bagai kutukan; Adalah tubuh yang sama ini, tetapi tampak seperti orang lain. Aku mengingat diriku seolah-olah aku adalah orang lain, Tetapi aku masih sama, aku tidak pernah pergi.

Engkau telah pergi ke hutan, ke bawah pohon, Menempatkan nibbāna di hatimu. Latihlah jhāna, Gotama, jangan lengah. Apalah artinya kebisingan ini bagimu?

Kelima kelompok unsur kehidupan telah dipahami sepenuhnya, Hal-hal itu ada, tetapi akarnya telah tercabut. Aku telah merealisasikan akhir penderitaan, Dan mencapai akhir kekotoran.