easter-japanese

“Para bhikkhu, ada delapan penyebab dan kondisi ini yang mengarah pada diperolehnya kebijaksanaan yang mendasari kehidupan spiritual1 jika belum diperoleh dan untuk meningkatkannya, mematangkannya, dan memenuhinya melalui pengembangan jika sudah diperoleh. Apakah delapan ini?

(1) “Di sini, seorang bhikkhu hidup dengan bergantung pada Sang Guru atau seorang teman bhikkhu tertentu dalam posisi seorang guru, yang terhadapnya ia telah menegakkan rasa malu dan rasa takut yang mendalam, telah menegakkan kasih-sayang dan penghormatan. Ini adalah penyebab dan kondisi pertama yang mengarah pada diperolehnya kebijaksanaan yang mendasari kehidupan spiritual jika belum diperoleh dan untuk meningkatkannya, mematangkannya, dan memenuhinya melalui pengembangan jika sudah diperoleh. [152]

(2) “Ketika ia sedang menetap dengan bergantung pada Sang Guru atau seorang teman bhikkhu tertentu dalam posisi seorang guru, yang terhadapnya ia telah menegakkan rasa malu dan rasa takut yang mendalam, telah menegakkan kasih-sayang dan penghormatan, ia dari waktu ke waktu menemui mereka dan bertanya: ‘Bagaimanakah ini, Bhante? Apakah makna dari ini?’ Para mulia itu mengungkapkan kepadanya apa yang belum diungkapkan, menjelaskan apa yang tidak jelas, dan menghalau kebingungan sehubungan dengan banyak hal-hal yang membingungkan. Ini adalah penyebab dan kondisi ke dua yang mengarah pada diperolehnya kebijaksanaan yang mendasari kehidupan spiritual …

(3) “Setelah mendengarkan Dhamma itu, ia melakukan dua jenis pengasingan: pengasingan dalam jasmani dan pengasingan dalam pikiran. Ini adalah penyebab dan kondisi ke tiga yang mengarah pada diperolehnya kebijaksanaan yang mendasari kehidupan spiritual …

(4) “Ia bermoral; ia berdiam dengan terkendali oleh Pātimokkha, memiliki perilaku dan tempat kunjungan yang baik, melihat bahaya dalam pelanggaran-pelanggaran kecil. Setelah menerima aturan-aturan latihan, ia berlatih di dalamnya. Ini adalah penyebab dan kondisi ke empat yang mengarah pada diperolehnya kebijaksanaan yang mendasari kehidupan spiritual …

(5) “Ia telah banyak belajar, mengingat apa yang telah ia pelajari, dan mengumpulkan apa yang telah ia pelajari. Ajaran-ajaran itu yang baik di awal, baik di tengah, dan baik di akhir, dengan kata-kata dan makna yang benar, yang mengungkapkan kehidupan spiritual yang lengkap dan murni sempurna – ajaran-ajaran demikian telah banyak ia pelajari, diingat, dilafalkan secara lisan, diselidiki dengan pikiran, dan ditembus dengan baik melalui pandangan. Ini adalah penyebab dan kondisi ke lima yang mengarah pada diperolehnya kebijaksanaan yang mendasari kehidupan spiritual … [153]

(6) “Ia telah membangkitkan kegigihan untuk meninggalkan kualitas-kualitas tidak bermanfaat dan mendapatkan kualitas-kualitas bermanfaat; ia kuat, teguh dalam usaha, tidak mengabaikan tugas melatih kualitas-kualitas bermanfaat. Ini adalah penyebab dan kondisi ke enam yang mengarah pada diperolehnya kebijaksanaan yang mendasari kehidupan spiritual …

(7) “Di tengah-tengah Saṅgha, ia tidak terlibat dalam obrolan tanpa tujuan dan tanpa arah. Apakah ia sendiri yang membicarakan Dhamma, atau ia meminta seseorang lainnya untuk melakukannya, atau ia berdiam dalam keheningan mulia.2 Ini adalah penyebab dan kondisi ke tujuh yang mengarah pada diperolehnya kebijaksanaan yang mendasari kehidupan spiritual …

(8) “Ia berdiam dengan merenungkan muncul dan lenyapnya dalam kelima kelompok unsur kehidupan yang tunduk pada kemelekatan: ‘Demikianlah bentuk, demikianlah asal-mulanya, demikianlah lenyapnya; demikianlah perasaan … demikianlah persepsi … demikianlah aktivitas-aktivitas berkehendak … demikianlah kesadaran, demikian asal-mulanya, demikianlah lenyapnya.’ Ini adalah penyebab dan kondisi ke delapan yang mengarah pada diperolehnya kebijaksanaan yang mendasari kehidupan spiritual jika belum diperoleh dan untuk meningkatkannya, mematangkannya, dan memenuhinya melalui pengembangan jika sudah diperoleh.

(1) “Teman-temannya para bhikkhu menghargainya sebagai berikut: ‘Yang mulia ini hidup dengan bergantung pada Sang Guru atau seorang teman bhikkhu tertentu dalam posisi seorang guru, yang terhadapnya ia telah menegakkan rasa malu dan rasa takut yang mendalam, telah menegakkan kasih-sayang dan penghormatan. Yang mulia ini tentu mengetahui dan melihat.’ Kualitas ini mengarah pada kasih-sayang, penghormatan, penghargaan, kerukunan, dan persatuan.3

(2) “‘Ketika yang mulia ini sedang menetap dengan bergantung pada Sang Guru atau seorang teman bhikkhu tertentu dalam posisi seorang guru … [154] … para mulia itu … menghalau kebingungan sehubungan dengan banyak hal-hal yang membingungkan. Yang mulia ini tentu mengetahui dan melihat.’ Kualitas ini juga mengarah pada kasih-sayang, penghormatan, penghargaan, kerukunan, dan persatuan.

(3) “‘Setelah mendengarkan Dhamma itu, yang mulia ini melakukan dua jenis pengasingan: pengasingan dalam jasmani dan pengasingan dalam pikiran. Yang mulia ini tentu mengetahui dan melihat.’ Kualitas ini juga mengarah pada kasih-sayang, penghormatan, penghargaan, kerukunan, dan persatuan.

(4) “‘Yang mulia ini bermoral; ia berdiam dengan terkendali oleh Pātimokkha … ia berlatih di dalamnya. Yang mulia ini tentu mengetahui dan melihat.’ Kualitas ini juga mengarah pada kasih-sayang, penghormatan, penghargaan, kerukunan, dan persatuan.

(5) “‘Yang mulia ini telah banyak belajar … dan ditembus dengan baik melalui pandangan. Yang mulia ini tentu mengetahui dan melihat.’ Kualitas ini juga mengarah pada kasih-sayang, penghormatan, penghargaan, kerukunan, dan persatuan.

(6) “‘Yang mulia ini telah membangkitkan kegigihan untuk meninggalkan kualitas-kualitas tidak bermanfaat … tidak mengabaikan tugas melatih kualitas-kualitas bermanfaat. Yang mulia ini tentu mengetahui dan melihat.’ Kualitas ini juga mengarah pada kasih-sayang, penghormatan, penghargaan, kerukunan, dan persatuan. [155]

(7) “‘Di tengah-tengah Saṅgha, yang mulia ini tidak terlibat dalam obrolan tanpa tujuan dan tanpa arah … atau ia berdiam dalam keheningan mulia. Yang mulia ini tentu mengetahui dan melihat.’ Kualitas ini juga mengarah pada kasih-sayang, penghormatan, penghargaan, kerukunan, dan persatuan.

(8) “‘Yang mulia ini berdiam dengan merenungkan muncul dan lenyapnya dalam kelima kelompok unsur kehidupan yang tunduk pada kemelekatan … Yang mulia ini tentu mengetahui dan melihat.’ Kualitas ini juga mengarah pada kasih-sayang, penghormatan, penghargaan, kerukunan, dan persatuan.

“Ini, para bhikkhu, adalah delapan penyebab dan kondisi ini yang mengarah pada diperolehnya kebijaksanaan yang mendasari kehidupan spiritual jika belum diperoleh dan untuk meningkatkannya, mematangkannya, dan memenuhinya melalui pengembangan jika sudah diperoleh.”


Catatan Kaki
  1. Ādibrahmacariyikāya paññāya. Mp: “[Ini adalah] pandangan terang, kebijaksanaan yang menjadi landasan bagi kehidupan spiritual sang jalan” (maggabrahmacariyassa ādibhūtāya paññāyā ti vipassanāya). ↩︎

  2. Ariyaṃ vā tuṇhībhāvaṃ nātimaññati. Lit., “atau ia tidak merendahkan keheningan mulia.” ↩︎

  3. Piyattāya garuttāya bhāvanāya sāmaññāya ekībhāvāya saṃvattati. Mp mengemas bhāvanāya di sini sebagai bhāvanatthāya guṇasambhāvanāya vā, “pada pengembangan [meditatif] atau pada penghargaan atas moralitas.” Makna terakhir tampaknya lebih sesuai dengan konteks. Mp mengemas sāmaññāya sebagai samaṇadhammathāya, “demi tugas petapa,” tetapi saya pikir lebih mungkin bahwa sāmaññā adalah kata benda abstrak dari samāṇa, yang berarti “sama” atau “serupa.” Saya menerjemahkannya sebagai “kerukunan,” yang sesuai dengan kata berikutnya ekibhāvāya. PED mengartikan sāmañña sebagai “kesesuaian” dan “persatuan.” Kata ini muncul dalam makna ini sebagai nama dari vagga ke lima dari kelompok Lima Puluh Ke Dua (baca p.316 di bawah). Tidak terdapat paralel China, tapi baca Jilid 5 pp.346-347, catatan 143. ↩︎