easter-japanese

“Para bhikkhu, Aku akan mengajarkan kepada kalian tentang pengembangan konsentrasi benar berfaktor lima yang mulia.1 Dengarkanlah dan perhatikanlah. Aku akan berbicara.”

“Baik, Bhante,” para bhikkhu itu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

“Dan apakah, para bhikkhu, pengembangan konsentrasi benar berfaktor lima yang mulia?

(1) “Di sini, dengan terasing dari kenikmatan-kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan, yang disertai dengan pemikiran dan pemeriksaan. Ia membuat sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan itu basah, merendam, mengisi dan meliputi tubuhnya sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang tidak terliputi oleh sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan itu. Bagaikan seorang petugas pemandian atau murid petugas pemandian menumpuk bubuk mandi dalam baskom logam dan, secara perlahan memerciknya dengan air, meremasnya hingga kelembaban membasahi bola bubuk mandi tersebut, membasahinya, dan meliputinya di dalam dan di luar, namun bola itu sendiri tidak meneteskan air; demikian pula, bhikkhu itu membuat sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan itu basah, merendam, mengisi dan meliputi tubuhnya sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang tidak terliputi oleh sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan itu. Ini adalah pengembangan pertama pada konsentrasi benar berfaktor lima yang mulia.

(2) “Kemudian, dengan meredanya pemikiran dan pemeriksaan, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki ketenangan internal dan keterpusatan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi, tanpa pemikiran dan pemeriksaan. Ia membuat sukacita dan kebahagiaan yang muncul dari konsentrasi itu basah, merendam, mengisi dan meliputi tubuhnya sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang tidak terliputi oleh sukacita dan kebahagiaan yang muncul dari konsentrasi itu. Bagaikan sebuah danau yang airnya berasal dari mata air di dasarnya dan tidak ada aliran masuk dari timur, barat, utara, [26] atau selatan, dan tidak ditambah dari waktu ke waktu dengan curahan hujan, kemudian mata air sejuk memenuhi danau itu dan membuat air sejuk itu membasahi, merendam, mengisi, dan meliputi seluruh danau itu, sehingga tidak ada bagian danau itu yang tidak terliputi oleh air sejuk itu; demikian pula, bhikkhu itu membuat sukacita dan kebahagiaan yang muncul dari konsentrasi itu basah, merendam, mengisi dan meliputi tubuhnya sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang tidak terliputi oleh sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi itu. Ini adalah pengembangan ke dua pada konsentrasi benar berfaktor lima yang mulia.

(3) “Kemudian, dengan memudarnya sukacita, seorang bhikkhu berdiam seimbang dan, penuh perhatian dan memahami dengan jernih, ia mengalami kenikmatan pada jasmani; ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga yang dinyatakan oleh para mulia: ‘Ia seimbang, penuh perhatian, seorang yang berdiam dengan bahagia.’ Ia membuat kebahagiaan yang terlepas dari sukacita itu basah, merendam, mengisi dan meliputi tubuhnya sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang tidak terliputi oleh kebahagiaan yang terlepas dari sukacita itu. Bagaikan, dalam sebuah kolam teratai biru atau merah atau putih, beberapa teratai tumbuh dan berkembang dalam air tanpa keluar dari air, dan air sejuk membasahi, merendam, mengisi, dan meliputi teratai-teratai itu dari pucuk hingga ke akarnya, sehingga tidak ada bagian dari teratai-teratai itu yang tidak terliputi oleh air sejuk; demikian pula, bhikkhu itu membuat kebahagiaan yang terlepas dari sukacita itu basah, merendam, mengisi dan meliputi tubuhnya sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang tidak terliputi oleh kebahagiaan yang terlepas dari sukacita itu. Ini adalah pengembangan ke tiga pada konsentrasi benar berfaktor lima yang mulia.

(4) “Kemudian, dengan meninggalkan kenikmatan [27] dan kesakitan, dan dengan pelenyapan sebelumnya atas kegembiraan dan kesedihan, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang bukan menyakitkan juga bukan menyenangkan, dengan pemurnian perhatian melalui keseimbangan. Ia duduk dengan meliputi tubuh ini dengan pikiran yang murni dan cerah, sehingga tidak ada bagian tubuhnya yang tidak terliputi oleh pikiran yang murni dan cerah itu. Bagaikan seorang yang duduk dan ditutupi dengan kain putih dari kepala ke bawah, sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang tidak tertutupi oleh kain putih itu; demikian pula, seorang bhikkhu duduk dengan meliputi tubuh ini dengan pikiran yang murni dan cerah, sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang tidak terliputi oleh pikiran yang murni dan cerah itu. Ini adalah pengembangan ke empat pada konsentrasi benar berfaktor lima yang mulia.

(5) “Kemudian, seorang bhikkhu telah dengan baik menggenggam objek peninjauan kembali,2 memperhatikannya dengan baik, mempertahankannya dengan baik, dan menembusnya dengan baik melalui kebijaksanaan. Bagaikan seseorang yang melihat orang lainnya – seperti halnya seorang yang berdiri melihat orang yang sedang duduk, atau seorang yang duduk melihat orang yang sedang berbaring – demikian pula, seorang bhikkhu telah dengan baik menggenggam objek pemeriksaan, memperhatikannya dengan baik, mempertahankannya dengan baik, dan menembusnya dengan baik melalui kebijaksanaan. Ini adalah pengembangan ke lima pada konsentrasi benar berfaktor lima yang mulia.

“Ketika, para bhikkhu, konsentrasi benar berfaktor lima yang mulia telah dikembangkan dan dilatih dengan cara ini, maka, jika ada landasan yang sesuai, ia mampu merealisasikan kondisi apa pun yang dapat direalisasikan melalui pengetahuan langsung ke arah mana ia mengarahkan pikirannya.3

“Misalkan sebuah kendi yang penuh air diletakkan di atas sebuah bidang, kendi itu penuh air hingga ke bibirnya sehingga burung-burung gagak dapat meminumnya. Jika seorang kuat mendorongnya ke arah manapun, apakah air itu akan tumpah?”

“Benar, [28] Bhante.”

“Demikian pula, para bhikkhu, ketika konsentrasi benar berfaktor lima yang mulia telah dikembangkan dan dilatih dengan cara ini, maka, jika ada landasan yang sesuai, ia mampu merealisasikan kondisi apa pun yang dapat direalisasikan melalui pengetahuan langsung ke arah mana ia mengarahkan pikirannya.

“Misalkan di sebuah tanah datar terdapat sebuah kolam bersisi empat, dibentengi oleh suatu tanggul, penuh air hingga ke bibirnya sehingga burung-burung gagak dapat meminumnya. Jika seorang kuat membuka tanggulnya di salah satu sisi, apakah air itu akan mengalir keluar?”

“Benar, Bhante.”

“Demikian pula, para bhikkhu, ketika konsentrasi benar berfaktor lima yang mulia telah dikembangkan dan dilatih dengan cara ini, maka, jika ada landasan yang sesuai, ia mampu merealisasikan kondisi apa pun yang dapat direalisasikan melalui pengetahuan langsung ke arah mana ia mengarahkan pikirannya.

“Misalkan di atas tanah datar di sebuah persimpangan terdapat sebuah kereta yang terpasang pada kuda-kuda berdarah murni, lengkap dengan tongkat kendali, sehingga seorang pelatih yang terampil, sang kusir, dapat mengendarainya, dan dengan memegang tali kekang di tangan kiri dan tongkat kendali di tangan kanan, dapat berkendara pergi dan kembali ke mana pun dan kapan pun ia menginginkan. Demikian pula, para bhikkhu, ketika konsentrasi benar berfaktor lima yang mulia telah dikembangkan dan dilatih dengan cara ini, maka, jika ada landasan yang sesuai, ia mampu merealisasikan kondisi apa pun yang dapat direalisasikan melalui pengetahuan langsung ke arah mana ia mengarahkan pikirannya.

“Jika ia menghendaki: ‘Semoga aku mengerahkan berbagai jenis kekuatan batin: [29] dari satu, semoga aku menjadi banyak; dari banyak … [di sini dan di bawah seperti pada 5:23] … semoga aku mengerahkan kemahiran dengan jasmani hingga sejauh alam brahmā,’ ia mampu merealisasikannya, jika ada landasan yang sesuai.

“Jika ia menghendaki: ‘Semoga aku, dengan elemen telinga dewa, yang murni dan melampaui manusia, mendengar kedua jenis suara, surgawi dan manusia, yang jauh maupun dekat,’ ia mampu merealisasikannya, jika ada landasan yang sesuai.

“Jika ia menghendaki: ‘Semoga aku memahami pikiran makhluk-makhluk dan orang-orang lain, setelah melingkupi mereka dengan pikiranku sendiri. Semoga aku memahami … pikiran tidak terbebaskan sebagai pikiran tidak terbebaskan,’ ia mampu merealisasikannya, jika ada landasan yang sesuai.

“Jika ia menghendaki: ‘Semoga aku mengingat banyak kehidupan lampau … dengan aspek-aspek dan rinciannya,’ ia mampu merealisasikannya, jika ada landasan yang sesuai.

“Jika ia menghendaki: ‘Semoga aku, dengan mata dewa, yang murni dan melampaui manusia, melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan terlahir kembali … dan memahami bagaimana makhluk-makhluk mengembara sesuai kamma mereka,’ ia mampu merealisasikannya, jika ada landasan yang sesuai.

“Jika ia menghendaki: ‘Semoga aku, dengan hancurnya noda-noda, dalam kehidupan ini merealisasikan untuk diriku sendiri dengan pengetahuan langsung kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan melalui kebijaksanaan, dan setelah memasukinya, aku berdiam di dalamnya,’ ia mampu merealisasikannya, jika ada landasan yang sesuai.”


Catatan Kaki
  1. Karena konsentrasi yang akan dijelaskan di bawah terutama adalah empat jhāna dan, mungkin, konsentrasi pandangan terang, maka Mp tidak menganggap kata ariya di sini merujuk pada jalan dan buah mulia melainkan sebagai bermakna “jauh dari kotoran yang ditinggalkan melalui penekanan (vikkhambhanavasena pahīnakilesehi ārakā ṭhitassa).” Dalam komentar, ariya kadang-kadang diturunkan dari āraka. Walaupun etimologi ini bermain-main, adalah mungkin bahwa samādhi ini merupakan praktik persiapan untuk mencapai jalan dan buah, bukan jalan dan buah itu sendiri. ↩︎

  2. Paccavekkhaṇanimittaṃ. Mp mengidentifikasikan ini sebagai pengetahuan peninjauan (paccavekkhaṇañāṇameva), jelas merujuk pada pengetahuan yang meninjau kembali pencapaian-pencapaian jalan dan buah. Akan tetapi, karena penggunaan kata paccavekkhaṇa ini tampaknya khas pada komentar, saya pikir lebih mungkin bahwa paccavekkhaṇanimitta di sini bermakna objek yang sedang diperiksa melalui pandangan terang. ↩︎

  3. Baca Jilid 1 pp. 560-561, catatan 562. ↩︎