easter-japanese

Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Pada saat itu, di Sāvatthī, seorang bhikkhu tertentu digigit oleh seekor ular dan tewas.1 Kemudian sejumlah bhikkhu mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan berkata: “Bhante, seorang bhikkhu tertentu di sini di Sāvatthī digigit ular dan tewas.”

[Sang Bhagavā berkata:] “Pasti, para bhikkhu, bhikkhu itu tidak meliputi keempat keluarga kerajaan ular2 dengan pikiran cinta kasih. Karena jika ia melakukan demikian, maka ia tidak akan digigit ular dan tewas. Apakah empat ini? Keluarga kerajaan ular virūpakkha, keluarga kerajaan ular erāpatha, keluarga kerajaan ular chabyāputta, dan keluarga kerajaan ular gotamaka hitam. Pasti, bhikkhu itu tidak meliputi keempat keluarga kerajaan ular dengan pikiran cinta kasih. Karena jika ia melakukan demikian, maka ia tidak akan digigit ular dan tewas.

“Aku menginstruksikan kalian, para bhikkhu, untuk meliputi keempat keluarga kerajaan ular ini dengan pikiran cinta kasih, demi keamanan, keselamatan, dan perlindungan kalian.”

Aku memiliki cinta kasih pada ular-ular virūpakkha; pada ular-ular erāpatha aku memiliki cinta kasih. Aku memiliki cinta kasih pada ular-ular chabyāputta; pada ular-ular gotamaka hitam aku memiliki cinta kasih.

Aku memiliki cinta kasih pada makhluk-makhluk tanpa kaki; pada mereka yang berkaki dua aku memiliki cinta kasih. [73] Aku memiliki cinta kasih pada mereka yang berkaki empat; pada mereka yang berkaki banyak aku memiliki cinta kasih.

Semoga makhluk-makhluk tanpa kaki tidak mencelakaiku; semoga tidak ada bahaya bagiku dari mereka yang berkaki dua; semoga makhluk-makhluk berkaki empat tidak mencelakaiku; semoga tidak ada bahaya bagiku dari mereka yang berkaki banyak.

Semoga semua makhluk, semua benda hidup, semua penghuni dunia, semuanya, mengalami keberuntungan; semoga tidak ada hal buruk menimpa siapa pun.

Sang Buddha adalah tidak terbatas, Dhamma adalah tidak terbatas, Saṅgha adalah tidak terbatas; binatang-binatang melata, ular, kalajengking, lipan, laba-laba, kadal, dan tikus adalah terbatas. Aku telah membuat pengamanan, aku telah membuat perlindungan. Semoga makhluk-makhluk menjauh. Aku memberi hormat kepada Sang Bhagavā, hormat kepada tujuh Yang Tercerahkan Sempurna.3


Catatan Kaki
  1. Kejadian ini juga tercatat dalam Vin II 109-10. ↩︎

  2. Imāni cattāri ahirājakulāni. Mp: “Ini dikatakan sehubungan dengan [ular-ular] itu yang gigitannya berbisa. Karena semua ular berbisa termasuk dalam empat keluarga kerajaan ular ini.” ↩︎

  3. Be menyusun pernyataan ini dalam bentuk syair, tetapi saya mengikuti Ce dan Ee dengan menganggapnya sebagai prosa. Ini adalah pernyataan kebenaran (saccakiriya) dan, karena itu, menjadi bagian dari syair-syair, tetapi karena tidak ada irama yang terlihat, maka ini tidak menyerupai syair yang sesungguhnya. Pernyataan ini biasanya diucapkan oleh para bhikkhu hutan sebagai perlindungan dari gigitan ular. Syair ini sering dimasukkan dalam pembacaan harian mereka. ↩︎