easter-japanese

“Para bhikkhu, ada empat pembalikan persepsi, pembalikan pikiran, dan pembalikan pandangan.1 Apakah empat ini? (1) Pembalikan persepsi, pikiran, dan pandangan yang menganggap apa yang tidak kekal sebagai kekal; (2) pembalikan persepsi, pikiran, dan pandangan yang menganggap apa yang merupakan penderitaan sebagai menyenangkan;2 (3) pembalikan persepsi, pikiran, dan pandangan yang menganggap apa yang bukan-diri sebagai diri; (4) pembalikan persepsi, pikiran, dan pandangan yang menganggap apa yang tidak menarik sebagai menarik. Ini adalah empat pembalikan persepsi, pembalikan pikiran, dan pembalikan pandangan itu.

“Ada, para bhikkhu, empat bukan-pembalikan persepsi, bukan-pembalikan pikiran, dan bukan-pembalikan pandangan. Apakah empat ini? (1) Bukan-pembalikan persepsi, bukan-pembalikan pikiran, dan bukan-pembalikan pandangan yang menganggap apa yang tidak kekal sebagai tidak kekal; (2) bukan-pembalikan persepsi, bukan-pembalikan pikiran, dan bukan-pembalikan pandangan yang menganggap apa yang merupakan penderitaan sebagai penderitaan; (3) bukan-pembalikan persepsi, bukan-pembalikan pikiran, dan bukan-pembalikan pandangan yang menganggap apa yang bukan-diri sebagai bukan-diri; (4) bukan-pembalikan persepsi, bukan-pembalikan pikiran, dan bukan-pembalikan pandangan yang menganggap apa yang tidak menarik sebagai tidak menarik. Ini adalah keempat bukan-pembalikan persepsi, bukan-pembalikan pikiran, dan bukan-pembalikan pandangan itu.”

Melihat ketidak-kekalan sebagai kekekalan, melihat kenikmatan di dalam apa yang merupakan penderitaan, melihat diri di dalam apa yang bukan-diri, dan melihat kemenarikan di dalam apa yang tidak menarik, makhluk-makhluk mendatangi pandangan salah,3 pikiran mereka kacau, persepsi mereka terpelintir.

Orang-orang demikian terikat oleh kuk Māra, dan tidak mencapai keamanan dari belenggu. Makhluk-makhluk berlanjut dalam saṃsāra, menuju kelahiran dan kematian.

Tetapi ketika para Buddha muncul di dunia, memancarkan cahaya cemerlang, mereka mengungkapkan Dhamma ini yang menuntun menuju ditenangkannya penderitaan.

Setelah mendengarnya, orang-orang bijaksana telah tersadarkan kembali. Mereka telah melihat ketidak-kekalan sebagai ketidak-kekalan dan apa yang merupakan penderitaan sebagai penderitaan.

Mereka telah melihat apa yang bukan-diri sebagai bukan-diri Dan yang tidak menarik sebagai tidak menarik. Dengan memperoleh pandangan benar, Mereka telah mengatasi segala penderitaan. [53]


Catatan Kaki
  1. Saññāvipallāso, cittavipallāso, diṭṭhivipallāso. Vipallāsa adalah bentuk vi + pari + āsa, “dibalikkan.” Kata-kata ini diperlakukan dalam hal meninggalkan dan tidak meninggalkan pada Paṭis II 80-81. ↩︎

  2. Saya bersama dengan Ce dan Ee membaca dukkhe bhikkhave sukhan ti saññāvipallāso, tidak seperti Ee adukkhe bhikkhave dukkhan ti saññāvipallāso. ↩︎

  3. Saya bersama dengan Ce dan Ee membaca micchādiṭṭhigatā, tidak seperti Be micchādiṭṭhihatā. Tetapi saya mengikuti pembagian syair dari Be bukan dari Ce. ↩︎