easter-japanese

“Para bhikkhu, ada empat kekotoran dari matahari dan rembulan ini yang karenanya matahari dan rembulan tidak bercahaya, menyala, dan bersinar. Apakah empat ini? Awan adalah satu kekotoran dari matahari dan rembulan yang karenanya matahari dan rembulan tidak bercahaya, menyala, dan bersinar; kabut adalah satu kekotoran dari matahari dan rembulan …1 asap dan debu adalah satu kekotoran dari matahari dan rembulan … dan Rāhu, raja para asura adalah satu kekotoran dari matahari dan rembulan yang karenanya matahari dan rembulan tidak bercahaya, menyala, dan bersinar. Ini adalah empat kekotoran dari matahari dan rembulan itu yang karenanya matahari dan rembulan tidak bercahaya, menyala, dan bersinar.

“Demikian pula, para bhikkhu, ada empat kekotoran dari para petapa dan brahmana yang karenanya beberapa petapa dan brahmana tidak bercahaya, menyala, dan bersinar. Apakah empat ini?

(1) “Ada beberapa petapa dan brahmana yang meminum minuman keras dan anggur dan tidak menghindari meminum minuman keras dan anggur. Ini adalah kekotoran pertama dari para petapa dan brahmana yang karenanya beberapa petapa dan brahmana tidak bercahaya, menyala, dan bersinar.

(2) “Ada beberapa petapa dan brahmana yang menikmati hubungan seksual dan tidak menghindari hubungan seksual. Ini adalah kekotoran ke dua dari para petapa dan brahmana yang karenanya beberapa petapa dan brahmana tidak bercahaya, menyala, dan bersinar.

(3) “Ada beberapa petapa dan brahmana yang menerima emas dan perak dan tidak menghindari menerima emas dan perak. Ini adalah kekotoran ke tiga dari para petapa dan brahmana yang karenanya beberapa petapa dan brahmana tidak bercahaya, menyala, dan bersinar.

(4) “Ada beberapa petapa dan brahmana yang mencari penghidupan mereka melalui penghidupan salah dan tidak menghindari penghidupan salah. Ini adalah kekotoran ke empat dari para petapa dan brahmana yang karenanya beberapa petapa dan brahmana tidak bercahaya, menyala, dan bersinar.

“Ini adalah keempat kekotoran dari para petapa dan brahmana itu [54] yang karenanya beberapa petapa dan brahmana tidak bercahaya, menyala, dan bersinar.”2

Beberapa petapa dan brahmana diseret ke sana kemari oleh nafsu dan kebencian; orang-orang yang terhalang oleh ketidak-tahuan mencari kesenangan dalam hal-hal yang menyenangkan.

Mereka meminum minuman keras dan anggur, menikmati aktivitas seksual; si dungu menerima perak dan emas.

Beberapa petapa dan brahmana hidup dari penghidupan salah. Ini adalah kekotoran-kekotoran yang dijelaskan oleh Sang Buddha, kerabat Matahari.

Dengan dikotori oleh hal-hal ini, beberapa petapa dan brahmana – makhluk-makhluk tidak murni dan berdebu –3 tidak bersinar dan tidak menyala.

Terselimuti dalam kegelapan, budak-budak ketagihan dituntun, mereka mengambil penjelmaan baru dan memenuhi tanah pemakaman yang menakutkan.


Catatan Kaki
  1. Mp mengemas mahikā sebagai himaṃ, “salju,” tetapi PED menawarkan “kabut, embun beku,” yang tampak lebih baik. ↩︎

  2. Di antara keempat upakkilesa ini, meminum minuman keras oleh para bhikkhu dilarang dalam Pācittiya 51; hubungan seksual dalam Pārājika 1; menerima emas dan perak (serta media pertukaran uang lainnya) dalam Nissaggiya-pācittiya 18. Berbagai jenis penghidupan salah yang dilarang untuk kaum monastik Buddhis diuraikan dalam DN 2.1.21-27, I 67-69. baca juga MN 117.29, III 75,11-14. ↩︎

  3. Saya bersama dengan Be membaca asuddhā sarajā magā. ↩︎