easter-japanese

“Para bhikkhu, kehidupan spiritual bukan dijalani untuk menipu orang-orang dan membujuk mereka; juga bukan untuk kepentingan perolehan, kehormatan, dan pujian; juga bukan untuk tujuan memenangkan perdebatan; juga bukan dengan pikiran: ‘Semoga orang-orang mengenalku seperti demikian.’ Melainkan, kehidupan spiritual ini dijalani untuk mengendalikan, meninggalkan, demi kebosanan, dan lenyapnya.”1

Sang Bhagavā mengajarkan kehidupan spiritual, yang bukan berdasarkan pada tradisi, yang memuncak pada nibbāna, yang dijalani demi untuk mengendalikan dan meninggalkan.2

Ini adalah jalan makhluk-makhluk agung,3 jalan yang diikuti oleh para bijaksana agung. Mereka yang mempraktikkannya seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha, bertindak menurut bimbingan Sang Guru, akan mengakhiri penderitaan.


Catatan Kaki
  1. Saṃvaratthaṃ pahānatthaṃ virāgatthaṃ nirodhatthaṃ. Empat tujuan kehidupan spiritual ini, tampaknya adalah alasan untuk memasukkan sutta ini dalam Kelompok Empat. ↩︎

  2. Mp mengemas nibbānogadhagāminaṃ sebagai nibbānassa antogāminaṃ, “menuntun menuju nibbāna.” ↩︎

  3. Seluruh tiga edisi yang saya baca menuliskan mahantehi, tetapi saya lebih menyukai tulisan pada It §35, 28,17, mahattehi, yang dikemas oleh It-a I 112,25, mahāātumehi uḷārajjhāsayehi, “oleh makhluk-makhluk agung, oleh mereka yang berwatak luhur.” ↩︎