easter-japanese

[Demikianlah yang kudengar.]1 Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāketa, di Taman Kāḷaka.2 Di sana Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu!”

“Yang Mulia!” para bhikkhu itu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut: [25]

“Para bhikkhu, di dunia ini bersama dengan para deva, Māra, dan Brahmā, di antara populasi ini bersama dengan para petapa dan brahmana, para deva dan manusia, apa pun yang dilihat, didengar, diindra, dikenali, dicapai, dicari, diperiksa oleh pikiran – Aku mengetahuinya.

“Para bhikkhu, di dunia ini bersama dengan para deva, Māra, dan Brahmā, di antara populasi ini bersama dengan para petapa dan brahmana, para deva dan manusia, apa pun yang dilihat, didengar, diindra, dikenali, dicapai, dicari, diperiksa oleh pikiran – telah Kuketahui secara langsung. Hal ini telah diketahui oleh Sang Tathāgata,3 tetapi Sang Tathāgata tidak tunduk padanya.4

“Para bhikkhu, jika Aku mengatakan, ‘Di dunia ini bersama dengan para deva … apa pun yang dilihat, didengar, diindra, dikenali, dicapai, dicari, diperiksa oleh pikiran – Aku tidak mengetahuinya,’ maka itu adalah kebohongan di pihakKu.

“Para bhikkhu, jika Aku mengatakan, ‘Di dunia ini bersama dengan para deva … apa pun yang dilihat, didengar, diindra, dikenali, dicapai, dicari, diperiksa oleh pikiran – Aku mengetahui sekaligus tidak mengetahuinya,’ maka itu juga sama.5

“Para bhikkhu, jika Aku mengatakan, ‘Di dunia ini bersama dengan para deva … apa pun yang dilihat, didengar, diindra, dikenali, dicapai, dicari, diperiksa oleh pikiran – Aku bukan mengetahui juga bukan tidak mengetahuinya,’ maka itu adalah pelanggaran di pihakKu.6

(1) “Maka, setelah melihat apa yang dapat dilihat, Sang Tathāgata tidak salah memahami apa yang terlihat, tidak salah memahami apa yang tidak terlihat, tidak salah memahami apa yang dapat dilihat, tidak salah memahami orang yang melihat.7 (2) Setelah mendengar apa yang dapat didengar, Beliau tidak salah memahami apa yang terdengar, tidak salah memahami apa yang tidak terdengar, tidak salah memahami apa yang dapat didengar, tidak salah memahami orang yang mendengar. (3) Setelah mengindra apa yang dapat diindra, Beliau tidak salah memahami apa yang terindra, tidak salah memahami apa yang tidak diindra, tidak salah memahami apa yang dapat diindra, tidak salah memahami orang yang mengindra. (4) Setelah mengenali apa yang dapat dikenali, Beliau tidak salah memahami apa yang dikenali, tidak salah memahami apa yang tidak dikenali, tidak salah memahami apa yang dapat dikenali, tidak salah memahami orang yang mengenali.

“Demikianlah, para bhikkhu, dengan senantiasa stabil di antara hal-hal yang dilihat, didengar, diindra, dan dikenali, maka Sang Tathāgata adalah Seorang yang stabil.8 Dan, Aku katakan, tidak ada orang stabil yang lebih baik atau lebih luhur daripada Yang Stabil itu.”

Di tengah-tengah mereka yang dibatasi oleh diri sendiri, Yang Stabil tidak akan menyatakan secara tegas benar atau salah apa pun yang dilihat, didengar, atau diindra, dilekati dan dianggap sebagai kebenaran oleh orang lain.9

Karena mereka telah melihat anak panah ini10 yang padanya orang-orang melekat dan bergantung, [26] [dengan mengatakan] “Aku mengetahui, aku melihat, demikianlah adanya,” Sang Tathāgata tidak melekat pada apa pun.


Catatan Kaki
  1. Ce menuliskan ini dalam tanda kurung. Be dan Ee tidak menuliskan ini sama sekali. ↩︎

  2. Menurut Mp, Kāḷaka adalah seorang ahli keuangan kaya dan ayah mertua dari Cūḷasubhaddā, putri Anāthapiṇḍika. Pada saat pernikahannya, Kāḷaka adalah seorang pengikut para petapa telanjang dan tidak mengetahui tentang Sang Buddha atau ajaranNya. Cūḷasubhaddā merencanakan agar ia mengundang Sang Buddha dan para bhikkhu untuk mempersembahkan makanan. Setelah makan, Sang Buddha membabarkan khotbah yang membuatnya mencapai buah memasuki-arus. Kāḷaka kemudian membangun sebuah vihara di tamannya dan mempersembahkan vihara dan taman itu kepada Sang Buddha. Suatu hari, ketika para bhikkhu yang adalah para penduduk Sāketa sedang duduk di aula pertemuan membahas keberhasilan Sang Buddha dalam mengkonversi Kāḷaka, Sang Buddha membaca pikiran mereka dan mengetahui bahwa mereka telah siap untuk mendengarkan khotbah yang akan mengantarkan mereka menuju Kearahattaan. Hal ini juga menyebabkan bumi berguncang hingga ke batasnya. Karena itulah Beliau memanggil para bhikkhu. ↩︎

  3. Mp: “Ketiga kata ini (jānāmi, abbhaññāsiṃ, viditaṃ) menunjukkan bidang kemahatahuan (sabbaññutabhūmi).” Dalam sejarah Buddhisme, serta dalam pelajaran modern, pertanyaan apakah Sang Buddha mengaku maha-tahu telah menjadi topik perdebatan. Sang Buddha secara tegas menolak klaim bahwa seseorang dapat mengetahui segala hal sepanjang waktu (baca MN 71.5, I 482,4-18) serta klaim bahwa seseorang dapat mengetahui segala hal pada saat bersamaan (baca MN 90.8, II 127,28-30). Tetapi Beliau juga mengatakan bahwa menganggap bahwa Beliau sama sekali menolak kemungkinan kemahatahuan adalah salah memahami Beliau (MN 90.5, II 126.31-27.11). Dengan demikian tampaknya bahwa apa yang ditolak oleh Sang Buddha adalah kemungkinan pengetahuan segala hal terus-menerus dan bersamaan, tetapi bukan pengetahuan diskrit yang disengaja atas segala sesuatu yang dapat diketahui (yang tidak termasuk banyak hal di masa depan, karena belum terjadi). ↩︎

  4. Taṃ tathāgato na upaṭṭhāsi. Mp: “Sang Tathāgata tidak tunduk pada objek apa pun di enam pintu indria, yaitu, ia tidak menerimanya (na upagañchi) melalui ketagihan atau pandangan. Karena dikatakan: ‘Sang Bhagavā melihat bentuk dengan mata, tetapi Beliau tidak menginginkan dan tidak bernafsu pada bentuk itu; Sang Bhagavā sepenuhnya terbebaskan dalam pikiran … Sang Bhagavā mengenali fenomena dengan pikiran, tetapi Beliau tidak menginginkan dan tidak bernafsu pada pikiran itu; Sang Bhagavā sepenuhnya terbebaskan dalam pikiran’ (baca SN 35:232, IV 164-65). Ini menunjukkan bidang Kearahattaan (khīṇāsavabhūmi).” ↩︎

  5. Taṃ p’assa tādisameva. Mp: “Itu juga adalah kebohongan.” ↩︎

  6. Taṃ mam’assa kali. Mp: “Pernyataan itu adalah pelanggaranKu. Ketiga pernyataan di atas menunjukkan bidang kejujuran (saccabhūmi).” ↩︎

  7. Mp: “Beliau tidak salah menganggap (na maññati) objek terlihat melalui ketagihan, keangkuhan, atau pandangan; dan demikian pula untuk objek-objek lainnya. Kalimat ini menjelaskan bidang kekosongan (suññatābhūmi).” ↩︎

  8. Kata tādī, aslinya adalah sebuah kata hormat yang bermakna “orang itu,” mendapat makna khusus ketika digunakan untuk menunjuk pada Sang Buddha atau seorang Arahant. Nidd I 114-15 menjelaskan bahwa seorang Arahant disebut tādī karena ia telah melampaui preferensi-preferensi, melepaskan (catto) kekotoran-kekotoran, menyeberangi (tiṇṇo) banjir, dan memiliki pikiran yang terbebaskan (mutto).

    Mp: “Dengan senantiasa stabil … adalah seorang yang stabil (tādīyeva tādī): ‘Stabil’ bermakna persis sama (ekasadisatā). Sang Tathāgata adalah sama baik dalam hal keuntungan maupun kerugian, kemasyhuran dan ketidak-masyhuran, celaan dan pujian, dan kenikmatan dan kesakitan … Ini menjelaskan bidang seorang yang stabil (tādibhūmi). Ketika Beliau menutup ajaran ini dengan kelima bidang ini, pada tiap-tiap pembabarannya bumi ini berguncang sebagai saksi.” ↩︎

  9. Saya memparafrasakan penjelasan Mp atas syair ini: “Beliau tidak akan menerima bahkan satu klaim dari para penganut teori spekulatif (diṭṭhigatikā) – yang ‘dibatasi oleh diri sendiri’ (sayasaṃvutesu) dalam makna bahwa mereka terbatasi atau terblokir oleh konsepsi-konsepsi mereka – secara tegas atau tertinggi dan mempercayainya, meyakininya, mundur kembali padanya sebagai benar atau salah (evaṃ saccaṃ musā vāpi paraṃ uttamaṃ katvā na odaheyya, na saddaheyya, na pattiyāyeyya), dengan berpikir: ‘Hanya ini yang benar dan yang lainnya adalah salah.’” Penjelasan ini secara tepat menghubungkan syair ini dengan kalimat dalam prosa, “Sang Tathāgata tidak tunduk padanya.” ↩︎

  10. Mp mengidentifikasikan “anak panah” sebagai anak panah pandangan-pandangan (diṭṭhisalla). Di tempat lain ketagihan dikatakan sebagai anak panah, misalnya, pada MN II 258,27 dan SN I 40,7; dalam paragraf lain lagi, anak panah adalah kesedihan, seperti pada 5:48, 5:50. ↩︎