easter-japanese

1

“Para bhikkhu, Sang Tathāgata telah tercerahkan sepenuhnya pada dunia;2 Sang Tathāgata terlepas dari dunia. Sang Tathāgata telah tercerahkan sepenuhnya pada asal-mula dunia; Sang Tathāgata telah meninggalkan asal-mula dunia. Sang Tathāgata telah tercerahkan sepenuhnya pada lenyapnya dunia; Sang Tathāgata telah merealisasikan lenyapnya dunia. Sang Tathāgata telah tercerahkan sepenuhnya pada jalan menuju lenyapnya dunia; Sang Tathāgata telah mengembangkan jalan menuju lenyapnya dunia.

(1) “Para bhikkhu, di dunia ini bersama dengan para deva, Māra, dan Brahmā, di antara populasi ini bersama dengan para petapa dan brahmana, para deva dan manusia, apa pun yang dilihat, didengar, diindra, dikenali, dicapai, dicari, [24] diperiksa oleh pikiran – Sang Tathāgata telah tercerahkan pada semuanya; oleh karena itu Beliau disebut Sang Tathāgata.3

(2) “Para bhikkhu, apa pun yang dibicarakan, diucapkan, atau dibabarkan oleh Sang Tathāgata selama interval antara malam ketika Beliau tercerahkan pada pencerahan sempurna yang tidak terlampaui hingga malam ketika Beliau mencapai nibbāna akhir,4 semuanya adalah persis seperti itu dan bukan sebaliknya; oleh karena itu Beliau disebut Sang Tathāgata.5

(3) “Para bhikkhu, sebagaimana yang dikatakan oleh Sang Tathāgata, demikianlah Beliau melakukan; sebagaimana Beliau melakukan, demikianlah Beliau mengatakannya. Karena Beliau melakukan apa yang Beliau katakan dan mengatakan apa yang Beliau lakukan, oleh karena itu Beliau disebut Sang Tathāgata.6

(4) “Para bhikkhu, di dunia ini bersama dengan para deva, Māra, dan Brahmā, di antara populasi ini bersama dengan para petapa dan brahmana, para deva dan manusia, Sang Tathāgata adalah Sang Penakluk, yang tidak tertaklukkan, maha melihat, pemegang kekuasaan; oleh karena itu Beliau disebut Sang Tathāgata.”

Setelah secara langsung mengetahui dunia – semua di dunia hanyalah demikian – Beliau terpisah dari seluruh dunia, terlepas dari seluruh dunia.

Beliau adalah penakluk segalanya, Sang Bijaksana yang telah melepas segala ikatan. Beliau telah mencapai kedamaian tertinggi, nibbāna, yang tidak terjangkau oleh ketakutan.

Beliau adalah Sang Buddha, noda-nodaNya telah dihancurkan, tidak terganggu, semua keragu-raguan terpotong; setelah mencapai hancurnya semua kamma, Beliau terbebaskan dalam padamnya perolehan.

Beliau adalah Sang Bhagavā, Sang Buddha, Beliau adalah singa yang tidak tertandingi; di dunia ini bersama dengan para devanya, Beliau memutar roda Brahmā.

Demikianlah para deva dan manusia itu yang telah berlindung pada Sang Buddha berkumpul dan memberi hormat padaNya, yang agung bebas dari ketiadaan kepercayaan-diri:

“Jinak, Beliau adalah penjinak terbaik; damai, Beliau adalah sang bijaksana di antara para pembawa kedamaian; bebas, Beliau adalah pemimpin di antara para pembebas; menyeberang, Beliau adalah penuntun terbaik ke seberang.”

Demikianlah sesungguhnya mereka memberi hormat kepadaNya, yang agung bebas dari ketiadaan kepercayaan-diri. Di dunia ini bersama dengan para devanya, tidak ada yang mampu menandingiMu.


Catatan Kaki
  1. Juga terdapat pada It §112, 121-23. ↩︎

  2. Mp mengidentifikasikan dunia (loka) sebagai kebenaran penderitaan. Keempat tugas yang telah diselesaikan oleh Sang Tathāgata di sini bersesuaian dengan keempat tugas sehubungan dengan empat kebenaran mulia – memahami sepenuhnya kebenaran penderitaan, meninggalkan kebenaran asal-mulanya, merealisasikan lenyapnya, dan mengembangkan sang jalan – tetapi dengan “tercerahkan sepenuhnya” (abhisambuddha) menggantikan “memahami sepenuhnya” (pariññāta) sehubungan dengan kebenaran pertama. Baca SN 56:11, V 422. ↩︎

  3. Mp, seperti juga komentar lainnya, menjelaskan yang dilihat (diṭṭha) sebagai landasan bentuk terlihat; yang didengar (suta) sebagai landasan suara; yang diindra (muta) sebagai landasan bau-bauan, rasa kecapan, dan sensasi sentuhan; dan yang dikenali (viññātaṃ) sebagai landasan fenomena pikiran. Ketiga kata “dicapai, dicari, diperiksa oleh pikiran” (pattaṃ pariyesitaṃ anuvicaritaṃ manasā) hanyalah penjelasan dari yang dikenali. Mp juga menjelaskan bahwa akhiran –gata, lit. “pergi,” dalam kata turunan “Tathāgata,” bermakna sama seperti abhisambuddha, “tercerahkan sepenuhnya pada.” ↩︎

  4. Ce dan Ee hanya menuliskan parinibbāyati, tidak seperti Be anupādisesāya nibbānadhātuyā parinibbāyati, “mencapai nibbāna akhir melalui elemen nibbāna tanpa sisa.” Tulisan terakhir itu mungkin masuk ke dalam Be dari It §112, 121,21-22. ↩︎

  5. Sabbaṃ taṃ that’eva hoti, no aññathā. Tasmā ‘tathāgato’ ti vuccati. ↩︎

  6. Yathāvādī tathākārī, yathākārī tathāvādī … Tasmā ‘tathāgato’ ti vuccati. ↩︎