easter-japanese

1

Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu!”

“Yang Mulia!” para bhikkhu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

“Para bhikkhu, pada suatu ketika Aku sedang menetap di Uruvelā, di bawah pohon banyan penggembala di tepi Sungai Neranjarā, tidak lama setelah Aku mencapai Pencerahan Sempurna. Kemudian, sewaktu Aku sedang sendirian dalam keterasingan, suatu pemikiran muncul dalam pikiranku sebagai berikut: ‘Sungguh menyakitkan berdiam tanpa penghormatan dan penghargaan. Sekarang petapa atau brahmana manakah yang dapat Kuhormati, Kuhargai, dan berdiam dengan bergantung padanya?’

“Kemudian Aku berpikir: (1) ‘Jika kelompok perilaku bermoralKu belum sempurna, maka demi untuk menyempurnakannya Aku akan menghormati, menghargai, dan berdiam dengan bergantung pada petapa atau brahmana lain. Akan tetapi, di dunia ini bersama dengan para deva, Māra, dan Brahmā, di antara populasi ini dengan para petapa dan brahmana, para deva dan manusia, Aku tidak melihat petapa atau brahmana lain yang lebih sempurna dalam hal perilaku bermoral daripada diriKu sendiri yang kepadanya Aku dapat menghormat, menghargai, dan berdiam dengan bergantung padanya.

(2) “‘Jika kelompok konsentrasiKu belum sempurna, maka demi untuk menyempurnakannya Aku akan menghormati, menghargai, dan berdiam dengan bergantung pada petapa atau brahmana lain. Akan tetapi … Aku tidak melihat petapa atau brahmana lain yang lebih sempurna dalam hal konsentrasi daripada diriKu sendiri …

(3) “‘Jika kelompok kebijaksanaanKu belum sempurna, maka demi untuk menyempurnakannya Aku akan menghormati, menghargai, dan berdiam dengan bergantung pada petapa atau brahmana lain. Akan tetapi … Aku tidak melihat petapa atau brahmana lain yang lebih sempurna dalam hal kebijaksanaan daripada diriKu sendiri …

(4) “‘Jika kelompok kebebasanKu belum sempurna, maka demi untuk menyempurnakannya Aku akan menghormati, menghargai, dan berdiam dengan bergantung pada petapa atau brahmana lain. Akan tetapi, di dunia ini bersama dengan para deva, Māra, dan Brahmā, di antara populasi ini dengan para petapa dan brahmana, para deva dan manusia, Aku tidak melihat petapa atau brahmana lain yang lebih sempurna dalam hal kebebasan daripada diriKu sendiri yang kepadanya Aku dapat menghormat, menghargai, dan berdiam dengan bergantung padanya.

“Aku berpikir: ‘Biarlah Aku menghormati, menghargai, dan berdiam dengan bergantung pada Dhamma ini yang karenanya Aku telah menjadi tercerahkan sempurna.’

“Kemudian Brahmā Sahampati, [21] setelah dengan pikirannya mengetahui refleksi dalam pikiranKu, lenyap dari alam Brahmā dan muncul kembali di hadapanKu seperti halnya seorang kuat merentangkan lengannya yang tertekuk atau menekuk lengannya yang terentang. Ia merapikan jubahnya di satu bahunya, membungkuk dengan lutut kanannya di tanah, memberi hormat kepadaKu, dan berkata: ‘Begitulah, Bhagavā! Begitulah, Yang Sempurna Menempuh Sang Jalan! Bhante, mereka yang telah menjadi Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna di masa lampau – para Bhagavā itu, juga, menghormati, menghargai, dan berdiam dengan bergantung hanya pada Dhamma. Mereka yang akan menjadi Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna di masa depan – para Bhagavā itu, juga, akan menghormati, menghargai, dan berdiam dengan bergantung hanya pada Dhamma. Biarlah Sang Bhagavā, juga, yang sekarang ini menjadi seorang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna, menghormati, menghargai, dan berdiam dengan bergantung hanya pada Dhamma.’

“Ini adalah apa yang dikatakan oleh Brahmā Sahampati. Setelah mengatakan ini, ia berkata lebih lanjut sebagai berikut:

“‘Para Buddha yang sempurna di masa lampau, Para Buddha di masa depan dan Sang Buddha di masa sekarang Yang melenyapkan dukacita banyak makhluk: Mereka semua telah berdiam, sekarang berdiam, dan [di masa depan] akan berdiam dengan menghormati Dhamma sejati. Ini adalah ciri para Buddha.

“‘Oleh karena itu seseorang yang menginginkan kebaikan,2 bercita-cita untuk mencapai kebesaran, harus menghormati Dhamma sejati, mengingat ajaran para Buddha.’

“Ini adalah apa yang dikatakan oleh Brahmā Sahampati. Kemudian ia memberi hormat kepadaKu, dan dengan Aku tetap berada di sisi kanannya, ia lenyap dari sana. Kemudian, setelah menerima permohonan Brahmā dan apa yang sesuai bagi diriKu sendiri, maka Aku menghormati, menghargai, dan berdiam dengan bergantung hanya pada Dhamma yang karenanya Aku telah menjadi tercerahkan sempurna. Dan sekarang bahwa Saṅgha telah mencapai kebesaran, maka Aku juga menghormati Saṅgha.” [22]


Catatan Kaki
  1. SN 6:2, I 138-40, mencatat insiden ini dalam modus narasi langsung. Sutta ini memasukkan faktor ke lima: pengetahuan dan penglihatan pada kebebasan. Karena dibabarkan pada saat pencerahan Sang Buddha, maka Saṅgha tidak disebutkan, karena Saṅgha muncul hanya setelah Sang Buddha mulai mengajar. ↩︎

  2. Ce membaca atthakāmena; Be dan Ee menuliskan attakāmena, “menginginkan diri.” Dalam pāda d, bentuk jamak Buddha diambil dari Pāli, buddhānasāsanaṃ. Mungkin kata majemuk ini adalah bentuk keliru dari buddhānusāsanaṃ, “ajaran Buddha,” yang berbentuk tunggal. ↩︎