easter-japanese

Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Vesālī di aula beratap lancip di Hutan Besar. Kemudian Sāḷha orang Licchavi dan Abhaya orang Licchavi mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, dan duduk di satu sisi. Kemudian Sāḷha orang Licchavi berkata kepada Sang Bhagavā:

“Bhante, ada beberapa petapa dan brahmana yang menyatakan penyeberangan banjir melalui dua hal: melalui pemurnian perilaku bermoral dan melalui pertapaan-keras dan kejijikan.1 Apakah yang Sang Bhagavā katakan sehubungan dengan hal ini?”

“Aku katakan, Sāḷha, bahwa pemurnian perilaku bermoral adalah salah satu faktor pertapaan. Tetapi para petapa dan brahmana itu yang mengajarkan pertapaan keras dan kejijikan, yang menganggap pertapaan keras dan kejijikan sebagai inti, dan yang melekat pada pertapaan keras dan kejijikan tidak akan mampu menyeberangi banjir.2 Juga, para petapa dan brahmana yang perilaku jasmani, ucapan, dan pikirannya tidak murni, dan yang penghidupannya tidak murni, adalah tidak mampu mencapai pengetahuan dan penglihatan, dari pencerahan yang tidak terlampaui.

“Misalkan, Sāḷha, seseorang yang ingin menyeberangi banjir membawa kapak tajam dan memasuki hutan. Di sana ia melihat sebatang anak pohon sal besar, lurus, segar, tanpa tunas buah. Ia memotong akarnya, memotong pucuknya, sepenuhnya memotong dahan-dahan dan dedaunannya, meratakannya dengan kapak, meratakannya lebih lanjut lagi dengan beliung, mengikisnya dengan alat pengikis, menghaluskannya dengan bola batu, dan pergi menyeberangi sungai. Bagaimana menurutmu, Sāḷha? Dapatkah orang itu menyeberangi sungai?”

“Tidak, Bhante. Karena alasan apakah? Karena walaupun anak pohon sal itu telah secara menyeluruh dipersiapkan secara eksternal, [201] namun pohon itu belum dimurnikan di bagian dalam. Kemungkinan besar anak pohon sal itu akan tenggelam dan orang itu akan menemui kemalangan dan bencana.”

“Demikian pula, Sāḷha, para petapa dan brahmana itu yang mengajarkan pertapaan keras dan kejijikan, yang menganggap pertapaan keras dan kejijikan sebagai inti, dan yang melekat pada pertapaan keras dan kejijikan tidak akan mampu menyeberangi banjir. Juga, para petapa dan brahmana yang perilaku jasmani, ucapan, dan pikirannya tidak murni, dan yang penghidupannya tidak murni, adalah tidak mampu mencapai pengetahuan dan penglihatan, dari pencerahan yang tidak terlampaui.

“Misalkan, Sāḷha, seseorang yang ingin menyeberangi banjir membawa kapak tajam dan memasuki hutan. Di sana ia melihat sebatang anak pohon sal besar, lurus, segar, tanpa tunas buah. Ia memotong akarnya, memotong pucuknya, sepenuhnya memotong dahan-dahan dan dedaunannya, meratakannya dengan kapak, meratakannya lebih lanjut lagi dengan beliung, dengan menggunakan pahat ia membersihkan bagian dalamnya, mengikisnya dengan alat pengikis, menghaluskannya dengan bola batu, dan membuatnya menjadi sebuah perahu. Kemudian ia melengkapinya dengan dayung dan kemudi dan pergi menyeberangi sungai. Bagaimana menurutmu, Sāḷha? Dapatkah orang itu menyeberangi sungai?”

“Dapat, Bhante. Karena alasan apakah? Karena anak pohon sal itu telah secara menyeluruh dipersiapkan secara eksternal, dimurnikan dengan baik di bagian dalam, dibuat menjadi sebuah perahu, dan dilengkapi dengan dayung dan kemudi. Kemungkinan besar anak pohon sal itu tidak akan tenggelam dan orang itu akan selamat sampai di pantai seberang.”

(1) “Demikian pula, Sāḷha, para petapa dan brahmana itu yang tidak mengajarkan pertapaan keras dan kejijikan, yang tidak menganggap pertapaan keras dan kejijikan sebagai inti, dan yang tidak melekat pada pertapaan keras dan kejijikan akan mampu menyeberangi banjir. Juga, para petapa dan brahmana [202] yang perilaku jasmani, ucapan, dan pikirannya murni, dan yang penghidupannya murni, adalah mampu mencapai pengetahuan dan penglihatan, dari pencerahan yang tidak terlampaui.

“Walaupun seorang prajurit mengetahui banyak kemahiran berbeda yang dapat dilakukan dengan anak panah, hanya jika ia memiliki tiga kualitas maka ia layak menjadi milik seorang raja, layak menjadi perlengkapan seorang raja, dan dianggap sebagai satu faktor kerajaan. Apakah tiga ini? Ia adalah seorang penembak jarak jauh, seorang penembak tepat, dan seorang yang membelah tubuh besar.

(2) “Seperti halnya seorang prajurit adalah seorang penembak jarak jauh, demikian pula siswa mulia itu memiliki konsentrasi benar. Bentuk apa pun yang ada di sana – apakah di masa lalu, di masa depan, atau di masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat – seorang siswa mulia dengan konsentrasi benar melihat segala bentuk sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai berikut: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’ Perasaan apa pun yang ada di sana … Persepsi apa pun yang ada di sana … Aktivitas-aktivitas berkehendak apa pun yang ada di sana … Kesadaran apa pun yang ada di sana - apakah di masa lalu, di masa depan, atau di masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat – seorang siswa mulia dengan konsentrasi benar melihat segala kesadaran sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai berikut: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’

(3) “Seperti halnya seorang prajurit adalah seorang penembak tepat, demikian pula siswa mulia itu memiliki pandangan benar. Seorang siswa mulia dengan pandangan benar memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah penderitaan.’ Ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah asal-mula penderitaan.’ Ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya penderitaan.’ Ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan.’

(4) “Seperti halnya seorang prajurit membelah tubuh besar, demikian pula siswa mulia itu memiliki kebebasan benar. Seorang siswa mulia yang memiliki kebebasan benar telah membelah kumpulan besar ketidak-tahuan.”3


Catatan Kaki
  1. Menyeberangi banjir (oghassa nittharaṇa) adalah suatu metafora untuk menyeberangi saṃsāra atau melenyapkan kekotoran-kekotoran. Kedua faktor yang disebutkan oleh Sāḷha adalah sīlavisuddhi dan tapojigucchā. Yang terakhir merupakan variasi jenis pertapaan keras dan penyiksaan diri yang ditolak oleh Sang Buddha dalam formula “jalan tengah.” Dalam jawabannya, Sang Buddha menerima pemurnian perilaku bermoral sebagai salah satu faktor pertapaan (sāmaññaṅga), namun menolak pertapaan keras dan kejijikan. ↩︎

  2. Baca 3:78. ↩︎

  3. Mp menjelaskan konsentrasi benar yang dibicarakan di atas sebagai konsentrasi jalan dan buah. Pandangan benar adalah pandangan sang jalan; penyebutan empat kebenaran mulia merujuk pada empat jalan dan tiga buah. Kebebasan benar adalah kebebasan buah Kearahattaan. Kumpulan ketidak-tahuan dibelah melalui jalan Kearahattaan, yang telah dicapai oleh siswa sebelum ia memperoleh kebebasan buah.

    Saya menganggap bahwa sutta ini dimasukkan dalam Kelompok Empat melalui kemurnian moral (jasmani, ucapan, pikiran, dan penghidupan), konsentrasi benar, pandangan benar, dan kebebasan benar. Akan tetapi, sutta ini sendiri tidak cukup eksplisit sehubungan dengan hal ini dan dengan demikian penomoran saya adalah dugaan. ↩︎