easter-japanese

Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Kemudian Ratu Mallikā mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan berkata kepada Beliau:1 [203]

(1) “Bhante, mengapakah beberapa perempuan di sini (i) berpenampilan buruk, cacat, dan tidak menyenangkan dilihat; (ii) miskin, papa, dan melarat; dan (iii) tidak berpengaruh? (2) Dan mengapakah beberapa di antaranya (i) berpenampilan buruk, cacat, dan tidak menyenangkan dilihat; tetapi (ii) kaya, dengan banyak kekayaan dan harta; dan (iii) berpengaruh? (3) Dan mengapakah beberapa perempuan di sini (i) berpenampilan baik, menarik, dan anggun, memiliki kecantikan luar biasa; tetapi (ii) miskin, papa, dan melarat; dan (iii) tidak berpengaruh? (4) Dan mengapakah beberapa di antaranya (i) berpenampilan baik, menarik, dan anggun, memiliki kecantikan luar biasa; (ii) kaya, dengan banyak kekayaan dan harta; dan (iii) berpengaruh?”

(1) “Di sini, Mallikā, (i) seorang perempuan rentan terhadap kemarahan dan mudah gusar. Bahkan jika dikritik sedikit ia akan kehilangan kesabaran dan menjadi jengkel, melawan, dan keras kepala; ia memperlihatkan kemarahan, kebencian, dan kekesalan. (ii) Ia tidak memberikan benda-benda kepada para petapa dan brahmana: makanan dan minuman; pakaian dan kendaraan; kalung bunga, wangi-wangian, dan salep; tempat tidur, tempat tinggal, dan penerangan. (iii) Dan ia iri, seorang yang iri-hati, kesal, dan marah akan perolehan, kehormatan, penghargaan, pemujaan, dan penyembahan yang diberikan kepada orang lain. Ketika ia meninggal dunia dari keadaan itu, jika ia kembali ke dunia ini, maka di mana pun ia terlahir kembali (i) ia akan berpenampilan buruk, cacat, dan tidak menyenangkan dilihat; (ii) miskin, papa, dan melarat; dan (iii) tidak berpengaruh.

(2) “Perempuan lainnya (i) rentan terhadap kemarahan dan mudah gusar … (ii) Tetapi ia memberikan benda-benda kepada para petapa dan brahmana … (iii) Dan ia tanpa sifat iri, seorang yang tidak iri-hati, tidak kesal, atau marah akan perolehan, kehormatan, penghargaan, pemujaan, dan penyembahan yang diberikan kepada orang lain. Ketika ia meninggal dunia dari keadaan itu, jika ia kembali ke dunia ini, maka di mana pun [204] ia terlahir kembali (i) ia akan berpenampilan buruk, cacat, dan tidak menyenangkan dilihat; (ii) tetapi ia akan kaya, dengan banyak kekayaan dan harta; dan (iii) berpengaruh.

(3) “Perempuan lainnya lagi (i) tidak rentan terhadap kemarahan dan tidak mudah gusar. Bahkan jika dikritik banyak ia tidak akan kehilangan kesabaran dan tidak menjadi jengkel, tidak bersikap bermusuhan, dan tidak keras kepala; ia tidak memperlihatkan kemarahan, kebencian, dan kekesalan. (ii) Tetapi ia tidak memberikan benda-benda kepada para petapa dan brahmana … (iii) Dan ia iri, seorang yang iri-hati, kesal, dan marah akan perolehan, kehormatan, penghargaan, pemujaan, dan penyembahan yang diberikan kepada orang lain. Ketika ia meninggal dunia dari keadaan itu, jika ia kembali ke dunia ini, maka di mana pun ia terlahir kembali (i) ia akan berpenampilan baik, menarik, dan anggun, memiliki kecantikan luar biasa; (ii) tetapi ia akan miskin, papa, dan melarat; dan (iii) tidak berpengaruh.

(4) “Dan perempuan lainnya lagi (i) tidak rentan terhadap kemarahan dan tidak mudah gusar … (ii) Dan ia memberikan benda-benda kepada para petapa dan brahmana … (iii) Dan ia tanpa sifat iri, seorang yang tidak iri-hati, tidak kesal, atau marah akan perolehan, kehormatan, penghargaan, pemujaan, dan penyembahan yang diberikan kepada orang lain. Ketika ia meninggal dunia dari keadaan itu, jika ia kembali ke dunia ini, maka di mana pun ia terlahir kembali (i) ia akan berpenampilan baik, menarik, dan anggun, memiliki kecantikan luar biasa; (ii) kaya, dengan banyak kekayaan dan harta; dan (iii) berpengaruh.

“Ini, Mallikā, adalah mengapa beberapa perempuan di sini (i) berpenampilan buruk, cacat, dan tidak menyenangkan dilihat; (ii) miskin, papa, dan melarat; dan (iii) tidak berpengaruh. Ini adalah mengapa beberapa di antaranya (i) berpenampilan buruk, cacat, dan tidak menyenangkan dilihat; tetapi (ii) kaya, dengan banyak kekayaan dan harta; dan (iii) berpengaruh. Ini adalah mengapa beberapa perempuan di sini (i) berpenampilan baik, menarik, dan anggun, memiliki kecantikan luar biasa; tetapi (ii) miskin, papa, dan melarat; dan (iii) tidak berpengaruh. Ini adalah mengapa beberapa di antaranya (i) berpenampilan baik, menarik, dan anggun, memiliki kecantikan luar biasa; (ii) kaya, dengan banyak kekayaan dan harta; dan (iii) berpengaruh.”

Ketika hal ini dikatakan, Ratu Mallikā berkata kepada Sang Bhagavā: “Aku menduga, Bhante, (i) bahwa dalam suatu kehidupan sebelumnya aku rentan terhadap kemarahan dan mudah gusar; bahkan jika dikritik sedikit aku menjadi kehilangan kesabaran dan menjadi jengkel, [205] bersikap bermusuhan, dan keras kepala, dan memperlihatkan kemarahan, kebencian, dan kekesalan. Oleh karena itu aku sekarang menjadi berpenampilan buruk, cacat, dan tidak menyenangkan dilihat. (ii) Tetapi aku menduga bahwa dalam suatu kehidupan sebelumnya aku telah memberikan benda-benda kepada para petapa dan brahmana … tempat tidur, tempat tinggal, dan penerangan. Oleh karena itu aku sekarang menjadi kaya, dengan banyak kekayaan dan harta. (iii) Dan aku menduga bahwa dalam suatu kehidupan sebelumnya aku tanpa sifat iri, seorang yang tidak iri-hati, bukan seorang yang iri, kesal, dan marah akan perolehan, kehormatan, penghargaan, pemujaan, dan penyembahan yang diberikan kepada orang lain. Oleh karena itu aku sekarang memiliki pengaruh. Dalam kerajaan ini terdapat gadis-gadis dari keluarga-keluarga khattiya, brahmana, dan perumah tangga yang tunduk di bawah perintahku.

“Mulai hari ini, Bhante, (i) aku tidak akan rentan terhadap kemarahan dan tidak mudah gusar. Bahkan jika dikritik banyak aku tidak akan kehilangan kesabaran dan tidak akan menjadi jengkel, tidak bersikap bermusuhan, dan tidak keras kepala; aku tidak akan memperlihatkan kemarahan, kebencian, dan kekesalan. (ii) Dan aku akan memberikan benda-benda kepada para petapa dan brahmana: makanan dan minuman; pakaian dan kendaraan; kalung bunga, wangi-wangian, dan salep; tempat tidur, tempat tinggal, dan penerangan. (iii) Dan aku tidak akan menjadi iri, tidak menjadi seorang yang iri-hati, kesal, dan marah akan perolehan, kehormatan, penghargaan, pemujaan, dan penyembahan yang diberikan kepada orang lain.

“Bagus sekali, Bhante! … [seperti pada 4:111] … Sudilah Sang Bhagavā menganggapku sebagai seorang umat awam yang telah berlindung sejak hari ini hingga seumur hidup.”


Catatan Kaki
  1. Ratu Mallikā adalah istri Raja Pasenadi dari Kosala. ↩︎