easter-japanese

Pada suatu ketika Yang Mulia Ānanda sedang menetap di antara penduduk Koliya di dekat pemukiman Koliya bernama Sāpūga. Kemudian sejumlah pemuda Koliya dari Sāpūga mendatangi Yang Mulia Ānanda, bersujud kepadanya, dan duduk di satu sisi. Kemudian Yang Mulia Ānanda berkata kepada mereka:

“Para Byagghapajja, ada empat faktor usaha pemurnian1 ini yang telah dengan benar diajarkan oleh Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna, yang mengetahui dan melihat, [195] demi pemurnian makhluk-makhluk, untuk mengatasi dukacita dan ratapan, demi terhentinya kesakitan dan kesedihan, demi pencapaian metode, untuk merealisasikan nibbāna. Apakah empat ini? Faktor usaha demi pemurnian perilaku bermoral, faktor usaha demi pemurnian pikiran, faktor usaha demi pemurnian pandangan, dan faktor usaha demi pemurnian kebebasan.2

(1) “Dan apakah, para Byagghapajja, faktor usaha demi pemurnian perilaku bermoral? Di sini, seorang bhikkhu adalah bermoral … [seperti pada 4:181] … ia berlatih di dalamnya. Ini disebut pemurnian perilaku bermoral. Keinginan, usaha, kemauan, semangat, tidak mengenal lelah, perhatian, dan pemahaman jernih [yang dikerahkan dengan kehendak]: ‘Hanya dengan cara ini aku akan memenuhi pemurnian perilaku bermoral yang belum kupenuhi atau membantu dengan kebijaksanaan dalam berbagai aspek pemurnian perilaku bermoral yang telah kupenuhi’3 - ini disebut faktor usaha pemurnian perilaku bermoral.

(2) “Dan apakah, para Byagghapajja, faktor usaha pemurnian pikiran? Di sini, dengan terasing dari kenikmatan-kenikmatan indria … seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat. Ini disebut pemurnian pikiran. Keinginan, usaha, kemauan, semangat, tidak mengenal lelah, perhatian, dan pemahaman jernih [yang dikerahkan dengan kehendak]: ‘Hanya dengan cara ini aku akan memenuhi pemurnian pikiran yang belum kupenuhi atau membantu dengan kebijaksanaan dalam berbagai aspek pemurnian pikiran yang telah kupenuhi’ - ini disebut faktor usaha pemurnian pikiran.

(3) “Dan apakah, para Byagghapajja, faktor usaha pemurnian pandangan? Di sini, seorang bhikkhu memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah penderitaan’ … ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan.’ Ini disebut pemurnian pandangan.4 Keinginan, usaha, kemauan, semangat, tidak mengenal lelah, perhatian, dan pemahaman jernih [yang dikerahkan dengan kehendak]: ‘Hanya dengan cara ini aku akan memenuhi pemurnian pandangan yang belum kupenuhi atau membantu dengan kebijaksanaan dalam berbagai aspek pemurnian pandangan yang telah kupenuhi’ - ini disebut faktor usaha pemurnian pandangan.

(4) “Dan apakah, para Byagghapajja, faktor usaha pemurnian kebebasan? Siswa mulia yang sama itu, dengan memiliki faktor usaha pemurnian perilaku bermoral ini, [196] faktor usaha pemurnian pikiran ini, dan faktor usaha pemurnian pandangan ini, melepaskan pikirannya dari hal-hal yang menyebabkan kemelekatan dan membebaskan pikirannya melalui hal-hal yang membawa kebebasan. Dengan demikian ia mencapai kebebasan. Ini disebut pemurnian kebebasan.5 Keinginan, usaha, kemauan, semangat, tidak mengenal lelah, perhatian, dan pemahaman jernih [yang dikerahkan dengan kehendak]: ‘Hanya dengan cara ini aku akan memenuhi pemurnian kebebasan yang belum kupenuhi atau membantu dengan kebijaksanaan dalam berbagai aspek pemurnian kebebasan yang telah kupenuhi’ - ini disebut faktor usaha pemurnian kebebasan.

“Ini, para Byagghapajja, adalah keempat faktor usaha pemurnian itu yang telah dengan benar diajarkan oleh Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna, yang mengetahui dan melihat, demi pemurnian makhluk-makhluk, untuk mengatasi dukacita dan ratapan, demi terhentinya kesakitan dan kesedihan, demi pencapaian metode, untuk merealisasikan nibbāna.”


Catatan Kaki
  1. Pārisuddhipadhāniyaṅgāni. Saya menerjemahkan kata majemuk ini sesuai dengan pecahan oleh Mp: pārisuddhi-atthāya padhāniyaṅgāni. ↩︎

  2. Sīlapārisuddhipadhāniyaṅga, cittaparisuddhipadhāniyaṅga, diṭṭhipārisuddhipadhāniyaṅga, vimuttipārisuddhipadhāniyaṅga. Sīlavisuddhi, cittavisuddhi, dan diṭṭhivisuddhi termasuk dalam tujuh pemurnian (satta visuddhi) pada MN 24, yang digunakan sebagai kerangka bagi Vism. Empat ini termasuk di dalam sembilan pārisuddhipadhāniyaṅgānii pada DN 34.2.2, III 288,16-25, yang kesemuanya digabungkan dengan kata visuddhi, misalnya, sīlavisuddhi-pārisuddhipadhāniyaṅgaṃ. Mengherankan bahwa tidak ada sutta tentang ketujuh pemurnian yang termasuk dalam Kelompok Tujuh. Ini menyiratkan asal-usul yang belakangan untuk skema ini, serta asal-usul belakangan untuk MN 24. ↩︎

  3. Tattha tattha paññāya anuggahessāmi. Mp: “Dalam aspek ini dan itu aku akan membantunya dengan kebijaksanaan (vipassanāpaññāya).” ↩︎

  4. Karena, dalam Nikāya-nikāya, pemahaman langsung pada keempat kebenaran mulia secara khas menandai pencapaian tingkat memasuki-arus, pemurnian pandangan di sini dapat diidentifikasikan sebagai kebijaksanaan pemasuk-arus. Hal ini berlawanan dengan skema Vism, yang mana pemurnian pandangan (diṭṭhivisuddhi) adalah yang ke tiga dari tujuh pemurnian. Vism menjelaskannya sebagai pemahaman jernih pada fenomena-fenomena batin dan jasmani (nāmarūpavavatthāna), yang juga dikenal sebagai pembatasan fenomena-fenomena terkondisi (saṅkhārapariccheda). Dalam skema Vism, pencapaian tingkat memasuki-arus (dan jalan berikutnya) hanya terjadi pada pemurnian ke tujuh, yaitu pemurnian pengetahuan dan penglihatan (ñāṇadassanavisuddhi). ↩︎

  5. Pemurnian terpisah dengan nama ini tidak terdapat dalam skema Vism, tetapi mungkin dapat dianggap sebagai puncak dari pemurnian pengetahuan dan penglihatan. ↩︎