easter-japanese

Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Vesālī di aula beratap lancip di Hutan Besar. Kemudian Bhaddiya orang Licchavi mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepadanya, duduk di satu sisi, dan berkata kepada Beliau:

“Bhante, aku telah mendengar ini: ‘Petapa Gotama adalah seorang penyihir yang mengetahui sihir pengalih-keyakinan yang dengannya Beliau mengalihkan keyakinan para siswa dari guru-guru sekte lain.’ Apakah mereka yang mengatakan demikian mengatakan apa yang telah dinyatakan oleh Sang Bhagavā dan tidak salah memahami Beliau dengan apa yang berlawanan dengan fakta? Apakah mereka menjelaskan sesuai dengan Dhamma sehingga mereka tidak menimbulkan kritik yang beralasan atau landasan bagi celaan? Karena kami tidak ingin salah memahami Sang Bhagavā.”1 [191]

“Marilah, Bhaddiya, jangan menuruti tradisi lisan, ajaran turun-temurun, kabar angin, kumpulan teks, logika, penalaran, pertimbangan, penerimaan pandangan setelah merenungkan, pembabar yang tampaknya cukup kompeten, atau karena kalian berpikir: ‘Petapa itu adalah guru kami.’ Tetapi ketika engkau mengetahui untuk dirimu sendiri: ‘Hal-hal ini adalah tidak bermanfaat; hal-hal ini adalah tercela; hal-hal ini dicela oleh para bijaksana; hal-hal ini, jika diterima dan dijalankan, akan mengarah menuju bahaya dan penderitaan,’ maka engkau harus meninggalkannya.2

(1) “Bagaimana menurutmu, Bhaddiya? Ketika keserakahan muncul dalam diri seseorang, apakah hal itu demi kesejahteraan atau bahaya baginya?”

“Demi bahaya baginya, Bhante.”

“Bhaddiya, seseorang yang penuh keserakahan, dikendalikan oleh keserakahan, pikirannya dikuasai oleh keserakahan, akan melakukan pembunuhan, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan pelanggaran dengan istri orang lain, dan mengucapkan kebohongan; dan ia akan menganjurkan orang lain untuk melakukan hal serupa. Apakah itu akan mengakibatkan bahaya dan penderitaan baginya untuk waktu yang lama?”

“Benar, Bhante.”

(2) “Bagaimana menurutmu, Bhaddiya? Ketika kebencian … (3) … delusi … (4) … sikap berapi-api muncul dalam diri seseorang, apakah hal itu demi kesejahteraan atau bahaya baginya?”3

“Demi bahaya baginya, Bhante.”

“Bhaddiya, seseorang yang bersikap berapi-api, dikendalikan oleh sikap berapi-api, pikirannya dikuasai oleh sikap berapi-api, akan melakukan pembunuhan … dan ia menganjurkan orang lain untuk melakukan hal serupa. Apakah itu akan mengakibatkan bahaya dan penderitaan baginya untuk waktu yang lama?”

“Benar, Bhante.”

“Bagaimana menurutmu, Bhaddiya? Apakah hal-hal ini adalah bermanfaat atau tidak bermanfaat?” –“ Tidak bermanfaat, Bhante.” - “Tercela atau tidak tercela?” – “Tercela, Bhante.” – “Dicela atau dipuji oleh para bijaksana?” – “Dicela oleh para bijaksana, Bhante.” – “Jika diterima dan dijalankan, apakah hal-hal ini mengarah menuju bahaya dan penderitaan atau tidak, atau bagaimanakah engkau menganggapnya?” – “Jika diterima dan dijalankan, maka hal-hal ini akan mengarah menuju bahaya dan penderitaan. Demikianlah kami menganggapnya.”

“Demikianlah, Bhaddiya, ketika kami berkata: ‘Marilah, Bhaddiya, jangan menuruti tradisi lisan … [192] … Tetapi ketika engkau mengetahui untuk dirimu sendiri: “Hal-hal ini adalah tidak bermanfaat; hal-hal ini adalah tercela; hal-hal ini dicela oleh para bijaksana; hal-hal ini, jika dijalankan dan dipraktikkan, akan mengarah menuju bahaya dan penderitaan,” maka engkau harus meninggalkannya,’ adalah karena alasan ini maka hal ini dikatakan.

“Marilah, Bhaddiya. Jangan menuruti tradisi lisan, ajaran turun-temurun, kabar angin, kumpulan teks, logika, penalaran, pertimbangan, dan penerimaan pandangan setelah merenungkan, pembabar yang tampaknya cukup kompeten, atau karena kalian berpikir: ‘Petapa itu adalah guru kami.’ Tetapi ketika engkau mengetahui untuk dirimu sendiri: ‘Hal-hal ini adalah bermanfaat; hal-hal ini adalah tidak tercela; hal-hal ini dipuji oleh para bijaksana; hal-hal ini, jika dijalankan dan dipraktikkan, akan mengarah menuju kesejahteraan dan kebahagiaan,’ maka engkau harus hidup sesuai dengannya.

(1) “Bagaimana menurutmu, Bhaddiya? Ketika ketidak-serakahan muncul dalam diri seseorang, apakah hal itu demi kesejahteraan atau bahaya baginya?”

“Demi kesejahteraan baginya, Bhante.”

“Bhaddiya, seseorang yang tanpa keserakahan, tidak dikendalikan oleh keserakahan, pikirannya tidak dikuasai oleh keserakahan, tidak akan melakukan pembunuhan, tidak mengambil apa yang tidak diberikan, tidak melakukan pelanggaran dengan istri orang lain, dan tidak mengucapkan kebohongan; dan ia juga tidak akan menganjurkan orang lain untuk melakukan hal serupa. Apakah itu akan mengakibatkan kesejahteraan dan kebahagiaan baginya untuk waktu yang lama?”

“Benar, Bhante.”

(2) “Bagaimana menurutmu, Bhaddiya? Ketika ketidak-bencian … (3) … ketidak-delusian … (4) … sikap tidak berapi-api muncul dalam diri seseorang, apakah hal itu demi kesejahteraan atau bahaya baginya?”

“Demi kesejahteraan baginya, Bhante.”

“Bhaddiya, seseorang yang tidak bersikap berapi-api, tidak dikendalikan oleh sikap berapi-api, pikirannya tidak dikuasai oleh sikap berapi-api, tidak akan melakukan pembunuhan … dan ia juga tidak akan menganjurkan orang lain untuk melakukan hal serupa. Apakah itu akan mengakibatkan kesejahteraan dan kebahagiaan baginya untuk waktu yang lama?”

“Benar, Bhante.”

“Bagaimana menurutmu, Bhaddiya? Apakah hal-hal ini adalah bermanfaat atau tidak bermanfaat?” –“Bermanfaat, Bhante.” - “Tercela atau tidak tercela?” – “Tidak tercela, Bhante.” – “Dicela atau dipuji oleh para bijaksana?” – “Dipuji oleh para bijaksana, Bhante.” [193] – “Jika diterima dan dijalankan, apakah hal-hal ini mengarah menuju kesejahteraan dan kebahagiaan atau tidak, atau bagaimanakah engkau menganggapnya?” – “Jika diterima dan dijalankan, maka hal-hal ini akan mengarah menuju kesejahteraan dan kebahagiaan. Demikianlah kami menganggapnya.”

“Demikianlah, Bhaddiya, ketika kami berkata: ‘Marilah, Bhaddiya, jangan menuruti tradisi lisan … Tetapi ketika engkau mengetahui untuk dirimu sendiri: “Hal-hal ini adalah bermanfaat; hal-hal ini adalah tidak tercela; hal-hal ini dipuji oleh para bijaksana; hal-hal ini, jika dijalankan dan dipraktikkan, akan mengarah menuju kesejahteraan dan kebahagiaan,” maka engkau harus hidup sesuai dengannya,’ adalah karena alasan ini maka hal ini dikatakan.

“Bhaddiya, orang-orang baik di dunia ini mendorong para siswa mereka sebagai berikut: ‘Marilah, orang yang baik, engkau harus secara terus-menerus melenyapkan keserakahan.4 Ketika engkau secara terus-menerus melenyapkan keserakahan, maka engkau tidak akan melakukan perbuatan apa pun yang ditimbulkan oleh keserakahan, apakah melalui jasmani, ucapan, atau pikiran. Engkau harus secara terus-menerus melenyapkan kebencian. Ketika engkau secara terus-menerus melenyapkan kebencian, maka engkau tidak akan melakukan perbuatan apa pun yang ditimbulkan oleh kebencian, apakah melalui jasmani, ucapan, atau pikiran. Engkau harus secara terus-menerus melenyapkan delusi. Ketika engkau secara terus-menerus melenyapkan delusi, maka engkau tidak akan melakukan perbuatan apa pun yang ditimbulkan oleh delusi, apakah melalui jasmani, ucapan, atau pikiran. Engkau harus secara terus-menerus melenyapkan sikap berapi-api. Ketika engkau secara terus-menerus melenyapkan sikap berapi-api, maka engkau tidak akan melakukan perbuatan apa pun yang ditimbulkan oleh sikap berapi-api, apakah melalui jasmani, ucapan, atau pikiran.’”

Ketika hal ini dikatakan, Bhaddiya orang Licchavi berkata kepada Sang Bhagavā: “Bagus sekali, Bhante! … [seperti pada 4:111] … Sudilah Guru Gotama menganggapku sebagai seorang umat awam yang telah berlindung sejak hari ini hingga seumur hidup.”

“Sekarang, Bhaddiya, apakah Aku mengatakan kepadamu: ‘Marilah, Bhaddiya, jadilah siswaKu dan Aku menjadi gurumu?’”

“Tentu saja tidak, Bhante.”

“Tetapi, Bhaddiya, walaupun Aku mengatakan demikian dan menyatakan [ajaranKu] dengan cara demikian, beberapa petapa dan brahmana dengan tidak benar, tanpa dasar, secara keliru, dan secara salah memahamiKu ketika mereka mengatakan: ‘Petapa Gotama adalah seorang penyihir yang mengetahui sihir pengalih-keyakinan yang dengannya Beliau mengalihkan keyakinan para siswa dari guru-guru sekte lain.’” [194]

“Sungguh baik sekali sihir pengalih keyakinan itu, Bhante! Sungguh bagus sihir pengalih keyakinan itu! Jika sanak-saudaraku yang tercinta dan anggota-anggota keluargaku dapat teralihkan dengan pengalihan ini, maka hal itu akan mengarah pada kesejahteraan dan kebahagiaan mereka untuk waktu yang lama. Jika semua khattiya dapat teralihkan dengan pengalihan ini, maka hal itu akan mengarah pada kesejahteraan dan kebahagiaan mereka untuk waktu yang lama. Jika semua brahmana … vessa … sudda dapat teralihkan dengan pengalihan ini, maka hal itu akan mengarah pada kesejahteraan dan kebahagiaan mereka untuk waktu yang lama.”5

“Demikianlah, Bhaddiya, demikianlah! Jika semua khattiya dapat teralihkan dengan pengalihan ini ke arah ditinggalkannya kualitas-kualitas tidak bermanfaat dan perolehan kualitas-kualitas bermanfaat, maka hal itu akan mengarah pada kesejahteraan dan kebahagiaan mereka untuk waktu yang lama. Jika semua brahmana … vessa … sudda dapat teralihkan dengan pengalihan ini ke arah ditinggalkannya kualitas-kualitas tidak bermanfaat dan perolehan kualitas-kualitas bermanfaat, maka hal itu akan mengarah pada kesejahteraan dan kebahagiaan mereka untuk waktu yang lama. Jika dunia ini bersama dengan para deva, Māra, dan Brahmā, populasi ini bersama dengan para petapa dan brahmana, para deva dan manusia, dapat teralihkan dengan pengalihan ini ke arah ditinggalkannya kualitas-kualitas tidak bermanfaat dan perolehan kualitas-kualitas bermanfaat, maka hal itu akan mengarah pada kesejahteraan dan kebahagiaan mereka untuk waktu yang lama. Jika pepohonan sal besar ini dapat teralihkan dengan pengalihan ini ke arah ditinggalkannya kualitas-kualitas tidak bermanfaat dan perolehan kualitas-kualitas bermanfaat, maka hal itu bahkan akan mengarah pada kesejahteraan dan kebahagiaan pepohonan sal besar ini untuk waktu yang lama.6 Apalagi untuk seorang manusia!”


Catatan Kaki
  1. Tuduhan ini juga terdapat pada SN 42:13, IV 340,23-29. Menurut MN 56.8, I 375,24-26, tuduhan ini berasal dari kaum Jain. ↩︎

  2. Ini adalah nasihat Sang Buddha kepada para penduduk Kālāma pada 3:65. Percakapan selanjutnya juga paralel dengan yang digunakan kepada para penduduk Kālāma, tetapi dengan penambahan motif yang tidak bermanfaat. ↩︎

  3. BHSD mendefinisikan sārambha sebagai “sifat suka bertengkar” dan menghubungkannya dengan Skt saṃrambha, yang dijelaskan oleh SED sebagai “tindakan mencengkeram atau menggenggam,” dan memberikan makna “sikap berapi-api, ketidak-sabaran … kemarahan, kemurkaan pada.” Karena sutta membicarakan tentang sārambha yang terjadi melalui jasmani, ucapan, dan pikiran, maka saya memilih “sikap berapi-api.” ↩︎

  4. Ce membaca lobhaṃ vineyya vineyya viharanto, dan juga sehubungan dengan dosa, moha, dan sārambha. Saya mencoba menangkap makna ini sebagai “secara terus-menerus”, walaupun “secara berulang-ulang” juga digunakan. Be dan Ee hanya membaca lobhaṃ vineyya viharanto. ↩︎

  5. Baca MN 56.26, II 383,32-384,7. ↩︎

  6. Kata sace ceteyyuṃ terdapat dalam Ce dan Ee, tetapi tidak terdapat dalam Be. ↩︎