easter-japanese

“Para bhikkhu, empat fakta [tentang orang-orang] dapat diketahui dari empat fakta [lainnya]. Apakah empat ini?

(1) “Dengan menetap bersama maka perilaku bermoral mereka dapat diketahui, dan ini hanya setelah waktu yang lama, bukan secara sambil lalu; oleh seseorang yang memperhatikan, bukan oleh seseorang yang tidak memperhatikan; dan oleh seorang yang bijaksana, bukan oleh seorang yang tidak bijaksana.

(2) “Dengan berurusan [dengan mereka] maka integritas mereka dapat diketahui, dan ini hanya setelah waktu yang lama, bukan secara sambil lalu; oleh seseorang yang memperhatikan, bukan oleh seseorang yang tidak memperhatikan; dan oleh seorang yang bijaksana, bukan oleh seorang yang tidak bijaksana.

(3) “Melalui kemalangan maka ketabahan mereka dapat diketahui, dan ini hanya setelah waktu yang lama, bukan secara sambil lalu; oleh seseorang yang memperhatikan, bukan oleh seseorang yang tidak memperhatikan; dan oleh seorang yang bijaksana, bukan oleh seorang yang tidak bijaksana.

(4) “Melalui percakapan maka kebijaksanaan mereka dapat diketahui, dan ini hanya setelah waktu yang lama, bukan secara sambil lalu; oleh seseorang yang memperhatikan, bukan oleh seseorang yang tidak memperhatikan; dan oleh seorang yang bijaksana, bukan oleh seorang yang tidak bijaksana.

(1) “Dikatakan: ‘Dengan menetap bersama maka perilaku bermoral mereka dapat diketahui, dan ini hanya setelah waktu yang lama, bukan secara sambil lalu; oleh seseorang yang memperhatikan, bukan oleh seseorang yang tidak memperhatikan; dan oleh seorang yang bijaksana, bukan oleh seorang yang tidak bijaksana.’ Sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Di sini, para bhikkhu, dengan menetap bersama dengan orang lain, ia akan mengenalinya sebagai berikut: ‘Sejak lama perilaku yang mulia ini telah rusak, cacat, ternoda, dan bebercak, dan ia tidak secara konsisten menjalankan dan mengikuti perilaku bermoral. Yang mulia ini tidak bermoral, tidak baik.’

“Tetapi pada kasus lainnya, dengan menetap bersama dengan orang lain, ia akan mengetahui sebagai berikut: ‘Sejak lama perilaku yang mulia ini tidak rusak, tidak cacat, tidak ternoda, dan tanpa bercak, [188] dan ia secara konsisten menjalankan dan mengikuti perilaku bermoral. Yang mulia ini bermoral, bukan tidak bermoral.’

“Adalah sehubungan dengan hal ini maka dikatakan: ‘Dengan menetap bersama maka perilaku bermoral mereka dapat diketahui, dan ini hanya setelah waktu yang lama, bukan secara sambil lalu; oleh seseorang yang memperhatikan, bukan oleh seseorang yang tidak memperhatikan; dan oleh seorang yang bijaksana, bukan oleh seorang yang tidak bijaksana.’

(2) “Lebih lanjut lagi dikatakan: ‘Dengan berurusan [dengan mereka] maka integritas mereka dapat diketahui, dan ini hanya setelah waktu yang lama, bukan secara sambil lalu; oleh seseorang yang memperhatikan, bukan oleh seseorang yang tidak memperhatikan; dan oleh seorang yang bijaksana, bukan oleh seorang yang tidak bijaksana.’ Sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Di sini, para bhikkhu, dengan berurusan dengan seseorang, ia akan mengenalinya sebagai berikut: ‘Yang mulia ini berurusan dengan satu orang dengan cara ini, dengan cara lain jika berurusan dengan dua orang, dan dengan cara lain lagi jika ia berurusan dengan tiga orang, dan dengan cara lain lagi jika ia berurusan dengan banyak orang. Caranya berurusan dalam satu kasus berbeda dengan caranya berurusan dalam kasus lain.1 Yang mulia ini tidak murni dalam caranya berurusan dengan orang lain, tidak murni dalam cara-caranya berurusan.’

“Tetapi dalam kasus lain, ketika berurusan dengan seseorang, ia mengenalinya sebagai berikut: ‘Dengan cara yang sama ia berurusan dengan satu orang, ia berurusan dengan dua orang, tiga orang, atau banyak orang. Caranya berurusan dalam satu kasus sama dengan caranya berurusan dalam kasus lain. Yang mulia ini murni dalam caranya berurusan dengan orang lain, bukan tidak murni dalam cara-caranya berurusan.’

“Adalah sehubungan dengan hal ini maka dikatakan: ‘Dengan berurusan [dengan mereka] maka integritas mereka dapat diketahui, dan ini hanya setelah waktu yang lama, bukan secara sambil lalu; oleh seseorang yang memperhatikan, bukan oleh seseorang yang tidak memperhatikan; dan oleh seorang yang bijaksana, bukan oleh seorang yang tidak bijaksana.’

(3) “Lebih lanjut lagi dikatakan: ‘Melalui kemalangan maka ketabahan mereka dapat diketahui, dan ini hanya setelah waktu yang lama, bukan secara sambil lalu; oleh seseorang yang memperhatikan, bukan oleh seseorang yang tidak memperhatikan; dan oleh seorang yang bijaksana, bukan oleh seorang yang tidak bijaksana.’ Sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Di sini, para bhikkhu, seseorang menderita kehilangan sanak saudara, kekayaan, atau kesehatan, tetapi ia tidak merefleksikan sebagai berikut: ‘Kehidupan manusia di dunia memang bersifat demikian2 bahwa delapan kondisi duniawi berputar di sekeliling dunia, dan dunia berputar di sekeliling kedelapan kondisi duniawi ini, yaitu, untung dan rugi, kehilangan reputasi dan kemasyhuran, dicela dan dipuji, dan kesenangan dan kesakitan.’ Demikianlah ketika menderita kehilangan sanak saudara, kekayaan, atau kesehatan, ia berdukacita, merana, dan meratap; ia menangis sambil memukul dadanya dan menjadi kebingungan.

“Tetapi dalam kasus lain, seseorang menderita kehilangan sanak saudara, [189] kekayaan, atau kesehatan, tetapi ia merefleksikan sebagai berikut: ‘Kehidupan manusia di dunia memang bersifat demikian bahwa delapan kondisi duniawi berputar di sekeliling dunia, dan dunia berputar di sekeliling kedelapan kondisi duniawi ini, yaitu, untung dan rugi, kehilangan reputasi dan kemasyhuran, dicela dan dipuji, dan kesenangan dan kesakitan.’ Demikianlah ketika menderita kehilangan sanak saudara, kekayaan, atau kesehatan, ia tidak berdukacita, tidak merana, dan tidak meratap; ia tidak menangis sambil memukul dadanya dan tidak menjadi kebingungan.

“Adalah sehubungan dengan hal ini maka dikatakan: ‘Melalui kemalangan maka ketabahan mereka dapat diketahui, dan ini hanya setelah waktu yang lama, bukan secara sambil lalu; oleh seseorang yang memperhatikan, bukan oleh seseorang yang tidak memperhatikan; dan oleh seorang yang bijaksana, bukan oleh seorang yang tidak bijaksana.’

(4) “Lebih lanjut lagi dikatakan: ‘Melalui percakapan maka kebijaksanaan mereka dapat diketahui, dan ini hanya setelah waktu yang lama, bukan secara sambil lalu; oleh seseorang yang memperhatikan, bukan oleh seseorang yang tidak memperhatikan; dan oleh seorang yang bijaksana, bukan oleh seorang yang tidak bijaksana.’ Sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Di sini, para bhikkhu, ketika berbicara dengan seseorang, ia mengetahui: ‘Menilai dari cara yang mulia ini memulai, memformulasikan, dan mengajukan pertanyaan, ia adalah seorang yang tidak bijaksana, bukan seorang yang bijaksana. Karena alasan apakah? Yang mulia ini tidak membicarakan hal-hal yang mendalam, damai, luhur, melampaui bidang penalaran, halus, dapat dipahami oleh para bijaksana. Ketika yang mulia ini membicarakan Dhamma, ia tidak mampu menjelaskan, mengajarkan, menggambarkan, menegakkan, mengungkapkan, menganalisis, dan menguraikan maknanya baik secara ringkas maupun secara terperinci. Yang mulia ini adalah seorang yang tidak bijaksana, bukan seorang yang bijaksana.’ Seperti halnya seseorang yang berpenglihatan baik, dengan berdiri di tepi sebuah kolam, dapat melihat ikan kecil meloncat, ia akan berpikir: ‘Menilai dari cara ikan ini meloncat, dari riak yang ditimbulkan, dari kekuatannya, ini adalah seekor ikan kecil, bukan ikan besar,’ demikian pula, ketika berbicara dengan seseorang, ia mengetahui: ‘Menilai dari cara yang mulia ini memulai, memformulasikan, dan mengajukan pertanyaan, ia adalah seorang yang tidak bijaksana, bukan seorang yang bijaksana.’

“Tetapi dalam kasus lain, ketika berbicara dengan seseorang, ia mengetahui: ‘Menilai dari cara yang mulia ini memulai, memformulasikan, dan mengajukan pertanyaan, ia adalah seorang yang bijaksana, bukan seorang yang tidak bijaksana. Karena alasan apakah? Yang mulia ini membicarakan hal-hal yang mendalam, damai, luhur, melampaui bidang penalaran, halus, dapat dipahami oleh para bijaksana. Ketika yang mulia ini membicarakan Dhamma, ia mampu menjelaskan, mengajarkan, menggambarkan, menegakkan, mengungkapkan, menganalisis, dan menguraikan maknanya baik secara ringkas maupun secara terperinci. Yang mulia ini adalah seorang yang bijaksana, bukan seorang yang tidak bijaksana.’ Seperti halnya seseorang yang berpenglihatan baik, dengan berdiri di tepi sebuah kolam, dapat melihat ikan besar meloncat, [190] ia akan berpikir: ‘Menilai dari cara ikan ini meloncat, dari riak yang ditimbulkan, dari kekuatannya, ini adalah seekor ikan besar, bukan ikan kecil,’ demikian pula, ketika berbicara dengan seseorang, ia mengetahui: ‘Menilai dari cara yang mulia ini memulai, memformulasikan, dan mengajukan pertanyaan, ia adalah seorang yang bijaksana, bukan seorang yang tidak bijaksana.’

“Adalah sehubungan dengan hal ini maka dikatakan: : ‘Melalui percakapan maka kebijaksanaan mereka dapat diketahui, dan ini hanya setelah waktu yang lama, bukan secara sambil lalu; oleh seseorang yang memperhatikan, bukan oleh seseorang yang tidak memperhatikan; dan oleh seorang yang bijaksana, bukan oleh seorang yang tidak bijaksana.’

“Ini, para bhikkhu, adalah keempat fakta [tentang orang-orang] itu yang dapat diketahui dari empat fakta [lainnya].”


Catatan Kaki
  1. Di sini dan persis di bawah, saya bersama dengan Ce dan Be membaca purimavohārā pacchimavohāraṃ. ↩︎

  2. Saya menerjemahkan ini secara bebas agar sesuai dengan gaya bahasa Inggris. Pāli tathābhūto kho ayaṃ lokasannivāso tathābhūto ayaṃ attabhāvapaṭilābho yang secara literal berarti: “Keberdiaman di dunia bersifat demikian, perolehan penjelmaan diri bersifat demikian …” Lokasannivāso juga terdapat pada 3:40 §2. ↩︎