easter-japanese

“Para bhikkhu, ketika seseorang telah mengikuti ajaran-ajaran melalui telinga,1 mengulanginya secara lisan, memeriksanya dengan pikiran, dan menembusnya dengan baik melalui pandangan, maka empat manfaat ini menanti. Apakah empat ini?

(1) “Di sini, seorang bhikkhu menguasai Dhamma: khotbah-khotbah, campuran prosa dan syair, penjelasan-penjelasan, syair-syair, ucapan-ucapan inspiratif, kutipan-kutipan, kisah-kisah kelahiran, kisah-kisah menakjubkan, dan pertanyaan-dan-jawaban. Ia telah mengikuti ajaran-ajaran melalui telinga, mengulanginya secara lisan, memeriksanya dengan pikiran, dan menembusnya dengan baik melalui pandangan. Ia meninggal dunia dengan pikiran kacau dan terlahir kembali dalam kelompok deva tertentu. Di sana, mereka yang berbahagia itu melafalkan kalimat-kalimat Dhamma itu kepadanya.2 Kemunculan ingatannya lambat, tetapi kemudian makhluk itu dengan cepat mencapai keluhuran. Ini adalah manfaat pertama yang menanti ketika seseorang telah mengikuti ajaran-ajaran melalui telinga, mengulanginya secara lisan, memeriksanya dengan pikiran, dan menembusnya dengan baik melalui pandangan.

(2) “Kemudian, seorang bhikkhu menguasai Dhamma: khotbah-khotbah … dan pertanyaan-dan-jawaban. Ia telah mengikuti ajaran-ajaran melalui telinga, mengulanginya secara lisan, memeriksanya dengan pikiran, dan menembusnya dengan baik melalui pandangan. Ia meninggal dunia dengan pikiran kacau dan terlahir kembali dalam kelompok deva tertentu. Di sana, mereka yang berbahagia itu tidak melafalkan kalimat-kalimat Dhamma kepadanya, tetapi seorang bhikkhu yang memiliki kekuatan batin yang telah mencapai penguasaan pikiran mengajarkan Dhamma kepada kumpulan para deva. Ia berpikir: ‘Ini adalah Dhamma dan disiplin yang dulu pernah kujalani dalam kehidupan spiritual.’ Kemunculan ingatannya lambat, tetapi kemudian makhluk itu dengan cepat mencapai keluhuran. Misalkan seseorang yang terampil dalam hal suara genderang. Sambil berjalan di sepanjang jalan raya ia mungkin mendengar suara genderang dan sama sekali tidak ragu atau bimbang sehubungan dengan suara itu; melainkan, ia akan menyimpulkan: ‘Itu adalah suara genderang.’ Demikian pula, seorang bhikkhu menguasai Dhamma [186] … Kemunculan ingatannya lambat, tetapi kemudian makhluk itu dengan cepat mencapai keluhuran. Ini adalah manfaat ke dua yang menanti ketika seseorang telah mengikuti ajaran-ajaran melalui telinga, mengulanginya secara lisan, memeriksanya dengan pikiran, dan menembusnya dengan baik melalui pandangan.

(3) “Kemudian, seorang bhikkhu menguasai Dhamma: khotbah-khotbah … dan pertanyaan-dan-jawaban. Ia telah mengikuti ajaran-ajaran melalui telinga, mengulanginya secara lisan, memeriksanya dengan pikiran, dan menembusnya dengan baik melalui pandangan. Ia meninggal dunia dengan pikiran kacau dan terlahir kembali dalam kelompok deva tertentu. Di sana, mereka yang berbahagia itu tidak melafalkan kalimat-kalimat Dhamma kepadanya, dan juga seorang bhikkhu yang memiliki kekuatan batin yang telah mencapai penguasaan pikiran tidak mengajarkan Dhamma kepada kumpulan para deva. Akan tetapi, seorang deva muda mengajarkan Dhamma kepada kumpulan para deva itu. Ia berpikir: ‘Ini adalah Dhamma dan disiplin yang dulu pernah kujalani dalam kehidupan spiritual.’ Kemunculan ingatannya lambat, tetapi kemudian makhluk itu dengan cepat mencapai keluhuran. Misalkan seseorang yang terampil dalam hal suara trompet kulit kerang. Sambil berjalan di sepanjang jalan raya ia mungkin mendengar suara trompet kulit kerang dan sama sekali tidak ragu atau bimbang sehubungan dengan suara itu; melainkan, ia akan menyimpulkan: ‘Itu adalah suara trompet kulit kerang.’ Demikian pula, seorang bhikkhu menguasai Dhamma … Kemunculan ingatannya lambat, tetapi kemudian makhluk itu dengan cepat mencapai keluhuran. Ini adalah manfaat ke tiga yang menanti ketika seseorang telah mengikuti ajaran-ajaran melalui telinga, mengulanginya secara lisan, memeriksanya dengan pikiran, dan menembusnya dengan baik melalui pandangan.

(4) “Kemudian, seorang bhikkhu menguasai Dhamma: khotbah-khotbah … dan pertanyaan-dan-jawaban. Ia telah mengikuti ajaran-ajaran melalui telinga, mengulanginya secara lisan, memeriksanya dengan pikiran, dan menembusnya dengan baik melalui pandangan. Ia meninggal dunia dengan pikiran kacau dan terlahir kembali dalam kelompok deva tertentu. Di sana, mereka yang berbahagia itu tidak melafalkan kalimat-kalimat Dhamma kepadanya, juga seorang bhikkhu yang memiliki kekuatan batin yang telah mencapai penguasaan pikiran tidak mengajarkan Dhamma kepada kumpulan para deva, dan juga seorang deva muda tidak mengajarkan Dhamma kepada kumpulan para deva itu. Akan tetapi, seseorang yang telah terlahir kembali secara spontan mengingatkan yang lainnya yang juga telah terlahir secara spontan: ‘Ingatkah engkau, Tuan? Apakah engkau ingat di mana kita menjalani kehidupan spiritual sebelumnya?’ Yang lain berkata: ‘Aku ingat, Tuan. Aku ingat.’ Kemunculan ingatannya lambat, tetapi kemudian makhluk itu dengan cepat mencapai keluhuran. Misalkan dua sahabat yang pernah bermain bersama di dalam lumpur. Kebetulan mereka bertemu kembali di masa depan dalam kehidupan itu. Salah satu sahabat berkata kepada yang lain: ‘Ingatkah engkau, Sahabat? Apakah engkau mengingat hal itu, Sahabat?’ Dan yang lainnya berkata: [187] ‘Aku ingat, Sahabat. Aku ingat.’ Demikian pula, seorang bhikkhu menguasai Dhamma … Kemunculan ingatannya lambat, tetapi kemudian makhluk itu dengan cepat mencapai keluhuran. Ini adalah manfaat ke empat yang menanti ketika seseorang telah mengikuti ajaran-ajaran melalui telinga, mengulanginya secara lisan, memeriksanya dengan pikiran, dan menembusnya dengan baik melalui pandangan.

“Ini adalah keempat manfaat itu yang menanti ketika seseorang telah mengikuti ajaran-ajaran melalui telinga, mengulanginya secara lisan, memeriksanya dengan pikiran, dan menembusnya dengan baik melalui pandangan.”


Catatan Kaki
  1. Be dan Ee membaca sotānugatānaṃ bhikkhave dhammānaṃ. Ce menuliskan sotānudhatānaṃ di sini, dan sotānudhātā honti persis di bawah, tidak seperti Be dan Ee sotānugatā honti; akan tetapi Ce menuliskan sotānugataṃ dalam syair uddāna. Mp (Ce) membaca sotānugatānaṃ. Mp mengemas: “Setelah mengerahkan indria telinga, seseorang telah menentukan [makna] dengan telinga pengetahuan” (pasadasotaṃ odahitvā ñāṇasotena vavatthapitānaṃ). Ini tampaknya mendukung sotānudhatānaṃ, tetapi persis di bawah Mp (Be) mengemas sotānugatā honti sebagai sotaṃ anuppattā anupaviṭṭhā honti, yang menyarankan tulisan sotānugatānaṃ. Mp (Ce), walaupun membaca sotānugatānaṃ dalam lema kalimat sebelumnya, namun di sini secara tidak konsisten membaca sotānudhatā honti. Demikianlah sejumlah teks mengungkapkan bahwa para penyusun sendiri tidak pasti akan tulisan ini. Tidak ada paralel China yang tercatat. ↩︎

  2. Kalimat ini agak problematik, baik sehubungan dengan tulisan maupun maknanya. Pertama, tulisan: bersama dengan Ce saya membaca tassa tattha sukhino dhammapadāpilapanti. Saya menafsirkan dhammapadāpilapanti sebagai sebuah sandhi yang dibentuk dari dhammapadā dan apilapanti, yang bermakna “melafalkan, mengucapkan.” Kata kerja ini mungkin perubahan dari abhilapanti (baca DOP sv apilapati). Be menuliskan tassa tattha sukhino dhammapadā plavanti. Ee dhammapadāni pi lapanti, dengan spasi antara pi dan lapanti, yang tampaknya tidak dapat diterima. Dalam sebuah makalah pendek tentang paragraf ini, Norman (1992: 257-59) berpendapat bahwa kata kerja ini adalah api-lapanti = abhi + lapanti. Tulisan plavanti pada Be jelas mengambil kata kerja ini sebagai berasal dari akar plu, mengapung, mungkin melalui plavanti.

    Masalah ke dua muncul dari frasa tassa tattha sukhino. Sukhino dapat berupa bentuk datif-genitif tunggal atau pun bentuk nominatif jamak, dan dengan demikian frasa ini dapat ditafsirkan bermakna “padanya yang berbahagia di sana” (dengan tassa dan sukhino sebagai bentuk datif tunggal yang merujuk pada subjek yang sama) atau “padanya, mereka yang berbahagia di sana” (dengan tassa merujuk pada seorang yang terlahir kembali, dan sukhino sebuah bentuk nominatif jamak yang merujuk pada mereka yang telah ada di sana). Hubungan frasa ini dengan kata-kata berikutnya akan berbeda tergantung pada alternatif mana yang dipilih. Mp (Be) memilih alternatif pertama, menganggap dhammapadā sebagai subjek nominatif, plavanti sebagai kata kerja, dan tassa sukhino sebagai objek datif tidak langsung: “Kalimat-kalimat Dhamma yang mengapung padanya yang berbahagia di sana.” Dengan mengomentari frasa itu dalam makna ini, Mp (Be) mengatakan: “Kepada seseorang yang terlahir kembali yang berpikiran kacau dalam kehidupan berikutnya, ajaran-ajaran dari kata-kata Sang Buddha yang telah ia ucapkan, karena berasal dari pengucapan masa lampau, semuanya mengapung dengan jelas terlihat bagaikan bayangan dalam sebuah cermin yang bersih.” Mp (Ce), secara menarik, mencatat lema ini sebagai dhammapadāpilapanti, dan membaca kemasan: te sabbe pasanne ādāse chāyā viya apilapanti upaṭṭhahanti. Saya mengasumsikan bahwa kata kerja apilapanti dimasukkan ke sini karena naskah Sinhala dari AN mempertahankan kata kerja aslinya, yang kemudian berpindah kepada komentar untuk menggantikan plavanti atau pilavanti. Sebaliknya adalah sulit untuk menjelaskan plavanti dalam Be. Mp (Ce) juga memasukkan kata kerja upaṭṭhahanti, “[mereka] tampak,” yang tidak ada dalam Be, mungkin karena terlewatkan dalam penyuntingan. Kata kerja ini jelas dimaksudkan sebagai sebuah kemasan atas apilapanti / plavanti.

    Saya berpisah dengan Mp dan mengikuti Norman dalam menganggap tassa dan sukhino sebagai merujuk pada orang-orang berbeda: tassa adalah objek datif tidak langsung dan sukhino adalah subjek jamak nominatif. Saya menganggap kata kerja ini sebagai berbentuk transitif apilapanti ( = abhilapanti) dengan dhammapadā sebagai objek langsungnya. Norman (p.259) menegaskan kata benda netral itu dalam bentuk jamak akusatif yang kadang-kadang ditambahkan akhiran –ā. Demikianlah saya memahami baris ini sebagai bermakna bahwa “mereka yang berbahagia” – para deva di alam surga – “mengulangi kalimat-kalimat Dhamma untuknya,” yaitu, kepada orang yang terlahir kembali di sana. ↩︎