easter-japanese

“Para bhikkhu, seseorang yang condong pada kesejahteraannya sendiri1 harus mempraktikkan ketekunan, perhatian, dan menjaga pikirannya dalam empat kasus. Apakah empat ini?

(1) “‘Semoga pikiranku tidak tertarik oleh hal-hal yang memancing nafsu!’ Seorang yang condong pada kesejahteraannya sendiri harus mempraktikkan ketekunan, perhatian, dan menjaga pikirannya demikian.

(2) “‘Semoga pikiranku tidak penuh kebencian terhadap hal-hal yang memancing kebencian!’ Seorang yang condong pada kesejahteraannya sendiri harus mempraktikkan ketekunan, perhatian, dan menjaga pikirannya demikian.

(3) “‘Semoga pikiranku tidak terdelusi oleh hal-hal yang menyebabkan delusi!’ Seorang yang condong pada kesejahteraannya sendiri harus mempraktikkan ketekunan, perhatian, dan menjaga pikirannya demikian.

(4) “‘Semoga pikiranku tidak mabuk oleh hal-hal yang memabukkan!’2 Seorang yang condong pada kesejahteraannya sendiri harus mempraktikkan ketekunan, perhatian, dan menjaga pikirannya demikian.

“Para bhikkhu, ketika pikiran seorang bhikkhu tidak tertarik oleh hal-hal yang memancing nafsu karena ia telah terbebas dari nafsu; ketika pikirannya tidak penuh kebencian terhadap hal-hal yang memancing kebencian karena ia telah terbebas dari kebencian; ketika pikirannya tidak terdelusi oleh hal-hal yang menyebabkan delusi karena ia telah terbebas dari delusi; ketika pikirannya tidak mabuk oleh hal-hal yang memabukkan karena ia telah bebas dari kemabukan, maka ia tidak gentar, tidak terguncang, tidak gemetar atau menjadi ketakutan, juga tidak terombang-ambing oleh kata-kata para petapa [lain].”3


Catatan Kaki
  1. Attarūpena, Mp mengemas: “Apa yang selaras dengan diri sendiri, apa yang cocok, bermakna seseorang yang menginginkan kesejahteraannya” (attano anurūpena anucchavikena, hitakāmenā ti attho). ↩︎

  2. Kita menemukan tiga jenis kemabukan (mada) pada 3:39: yaitu kemudaan, kesehatan, dan kehidupan. Vibh 345 (Be §832) menyebutkan lebih banyak objek kemabukan: kelahiran, suku, perolehan, kehormatan, penghargaan, kekayaan, kecantikan, pembelajaran, dan sebagainya. Uraian pada Vibh 350 (Be §§843-45) menghubungkan mada dengan māna, yang bermakna keangkuhan, dan unnati, yang bermakna kemajuan diri sendiri. ↩︎

  3. Na ca pana samaṇavacanahetupi gacchati. Mp: “Ia tidak terombang-ambing oleh kata-kata para petapa yang menganut doktrin lain untuk meninggalkan pandangannya sendiri dan menganut pandangan mereka. Di sini juga yang dimaksudkan adalah hanya para Arahant.” ↩︎