“Para bhikkhu, ada tiga dasar pembicaraan ini. Apakah tiga ini? (1) Dengan merujuk pada masa lalu, seseorang akan mengatakan: ‘Demikianlah di masa lalu.’ (2) Dengan merujuk pada masa depan, seseorang akan mengatakan: ‘Demikianlah di masa depan.’ (3) Dengan merujuk pada masa sekarang, seseorang akan mengatakan: ‘Demikianlah sekarang, di masa kini.’

“Adalah sehubungan dengan pembicaraan, para bhikkhu, maka seseorang dapat dipahami sebagai layak atau tidak layak untuk berbicara. Jika orang ini ditanyai suatu pertanyaan yang harus dijawab secara tegas dan ia tidak menjawab secara tegas; [jika ia ditanyai] suatu pertanyaan yang harus dijawab setelah memberikan pembedaan dan ia menjawab tanpa memberikan pembedaan; [jika ia ditanyai] suatu pertanyaan yang harus dijawab dengan pertanyaan balasan dan ia menjawab tanpa mengajukan pertanyaan balasan; [jika ia ditanyai] suatu pertanyaan yang harus dikesampingkan dan ia tidak mengesampingkannya, maka dalam kasus demikian orang ini tidak layak untuk berbicara.1

“Tetapi jika orang ini ditanyai suatu pertanyaan yang harus dijawab secara tegas dan ia menjawab secara tegas; [jika ia ditanyai] suatu pertanyaan yang harus dijawab setelah memberikan pembedaan dan ia menjawab setelah memberikan pembedaan; [jika ia ditanyai] suatu pertanyaan yang harus dijawab dengan pertanyaan balasan dan ia menjawab dengan mengajukan pertanyaan balasan; [jika ia ditanyai] suatu pertanyaan yang harus dikesampingkan dan ia mengesampingkannya, maka dalam kasus demikian orang ini layak untuk berbicara.

“Adalah sehubungan dengan pembicaraan, para bhikkhu, maka seseorang dapat dipahami sebagai layak atau tidak layak untuk berbicara. Jika orang ini ditanyai suatu pertanyaan dan ia tidak bertahan sehubungan dengan posisinya dan posisi lawan; jika ia tidak bertahan dalam strateginya; jika ia tidak [198] bertahan dalam pernyataannya atas apa yang diketahui; jika ia tidak bertahan dalam prosedur, maka dalam kasus demikian orang ini tidak layak untuk berbicara.2

“Tetapi jika orang ini ditanyai suatu pertanyaan dan ia bertahan sehubungan dengan posisinya dan posisi lawan; jika ia bertahan dalam strateginya; jika ia bertahan dalam pernyataannya atas apa yang diketahui; jika ia bertahan dalam prosedur, maka dalam kasus demikian orang ini layak untuk berbicara.

“Adalah sehubungan dengan pembicaraan, para bhikkhu, maka seseorang dapat dipahami sebagai layak atau tidak layak untuk berbicara. Jika orang ini ditanyai suatu pertanyaan dan ia menjawab dengan cara menghindar, mengalihkan diskusi pada topik yang tidak relevan, dan memperlihatkan kemarahan, kebencian, dan kekesalan, maka dalam kasus demikian orang ini tidak layak untuk berbicara.

“Tetapi jika orang ini ditanyai suatu pertanyaan dan ia tidak menjawab dengan cara menghindar, tidak mengalihkan diskusi pada topik yang tidak relevan, dan tidak memperlihatkan kemarahan, kebencian, dan kekesalan, maka dalam kasus demikian orang ini layak untuk berbicara.

“Adalah sehubungan dengan pembicaraan, para bhikkhu, maka seseorang dapat dipahami sebagai layak atau tidak layak untuk berbicara. Jika orang ini ditanyai suatu pertanyaan dan ia membanjiri [si penanya], menggilasnya, mengejeknya, dan menangkapnya atas kesalahan kecil,3 maka dalam kasus demikian orang ini tidak layak untuk berbicara.

“Tetapi jika orang ini ditanyai suatu pertanyaan dan ia tidak membanjiri [si penanya], tidak menggilasnya, tidak mengejeknya, dan tidak menangkapnya atas kesalahan kecil, maka dalam kasus demikian orang ini layak untuk berbicara.

“Adalah sehubungan dengan pembicaraan, para bhikkhu, maka seseorang dapat dipahami sebagai apakah memiliki kondisi pendukung atau tidak memiliki kondisi pendukung. Seorang yang tidak menyimak tidak memiliki kondisi pendukung; seorang yang menyimak memiliki kondisi pendukung. Seorang yang memiliki kondisi pendukung secara langsung mengetahui satu hal, sepenuhnya memahami satu hal, meninggalkan satu hal, dan merealisasi satu hal. Dengan secara langsung mengetahui satu hal, dengan sepenuhnya memahami satu hal, dengan meninggalkan satu hal, dan dengan merealisasi satu hal, ia mencapai kebebasan benar.4

“Ini, para bhikkhu, adalah tujuan pembicaraan, tujuan diskusi, tujuan dari kondisi pendukung, tujuan dari menyimak, yaitu, kebebasan pikiran melalui ketidak-melekatan.” [199]

Mereka yang berbicara dengan niat bertengkar, kokoh dalam pendapat mereka, menggembung dengan keangkuhan, tidak mulia, setelah menyerang moralitas,5 Mencari celah [untuk menyerang] satu sama lain.

Mereka saling bersenang ketika lawan mereka berbicara dengan buruk dan melakukan kesalahan, [mereka bergembira] dalam kebingungan dan kekalahannya; tetapi para mulia tidak terlibat dalam pembicaraan demikian.

Jika seorang bijaksana ingin berbicara, setelah mengetahui waktu yang tepat, tanpa pertengkaran atau keangkuhan, seorang bijaksana harus mengucapkan ucapan yang dilatih para mulia, yang berhubungan dengan Dhamma dan maknanya.6

Tidak sombong atau agresif, dengan pikiran tidak bangga,7 ia berbicara bebas dari iri hati dengan berdasarkan pada pengetahuan benar. ia harus menyetujui apa yang diungkapkan dengan benar tetapi ia tidak boleh menyerang apa yang disampaikan dengan buruk.

Ia tidak boleh berlatih dalam mencari kesalahan juga tidak menangkap kesalahan orang lain; ia tidak boleh membanjiri dan menggilas lawannya, juga tidak mengucapkan kata-kata dusta. Sesungguhnya, suatu diskusi di antara orang-orang baik adalah demi pengetahuan dan keyakinan.

Demikianlah cara orang mulia mendiskusikan hal-hal; ini adalah diskusi para mulia. Setelah memahami hal ini, orang bijaksana tidak menggembung melainkan harus mendiskusikan hal-hal.


Catatan Kaki
  1. Ini adalah empat metode untuk memformulasikan pertanyaan; baca 4:42. Mp: “(1) Suatu pertanyaan harus dijawab secara tegas (ekaṃsavyākaṇanīya pañha) adalah, misalnya, ‘Apakah mata tidak kekal?’ yang harus dijawab secara pasti dengan ‘Ya, tidak kekal.’ (2) Suatu pertanyaan yang harus dijawab setelah memberikan perbedaan (vibhajjavyākaraṇīya pañha) adalah, misalnya, ‘Apakah yang tidak kekal adalah mata?’ yang harus dijawab dengan memberikan perbedaan: ‘Bukan hanya mata, tetapi juga telinga, hidung, dan seterusnya, adalah juga tidak kekal.’ (3) Suatu pertanyaan yang harus dijawab dengan pertanyaan balasan (paṭipucchāvyākaraṇīya pañha) adalah, misalnya, ‘Apakah mata memiliki sifat yang sama dengan telinga?’ Seseorang harus menjawab ini dengan sebuah pertanyaan balasan, ‘Sehubungan dengan apa?’ Jika mereka menjawab, ‘Sehubungan dengan melihat,’ maka ia harus menjawab tidak. Jika mereka menjawab, ‘Sehubungan dengan ketidak-kekalan,’ maka ia harus menjawab ya. (4) Suatu pertanyaan yang harus dikesampingkan (ṭhapanīya pañha) adalah, misalnya, ‘Apakah jiwa sama dengan badan?’ Ini harus dikesampingkan tanpa menjawabnya, dengan mengatakan, ‘Ini tidak dinyatakan oleh Sang Tathāgata.’” Menurut pendapat saya, contoh yang lebih baik atas “suatu pertanyaan yang harus dijawab setelah memberikan pembedaan” adalah jawaban Sang Buddha kepada Subha pada MN 99,4, II 197,9-18; jawabanNya kepada Brahmana Ujjaya pada 4:39, II 42,14-28; dan jawaban perumah tangga Vajjiyamāhita kepada para pengembara pada 10:94, V 190,14-20.
  2. Makna dari ungkapan-ungkapan ini sangat tidak jelas. Oleh karena itu saya mengandalkan Mp, yang saya terjemahkan secara lengkap, menghilangkan hanya sedikit penjelasan minor yang hanya berguna dalam Pāli:

    Seseorang tidak bertahan sehubungan dengan posisinya dan posisi lawan (ṭhānāṭhāne na saṇṭhāti): Seseorang tidak bertahan sehubungan dengan apa yang menjadi alasan dan apa yang bukan alasan. Ini adalah metodenya di sini: Seorang penganut keabadian mampu membantah seorang penganut pemusnahan dengan alasan yang masuk akal. Setelah dibantah olehnya, si penganut pemusnahan berpikir, ‘Mengapa aku harus melanjutkan menegaskan pemusnahan?’ Maka ia kemudian menyatakan keabadian; ia tidak mampu bertahan dalam doktrinnya sendiri. Demikian pula, ketika seorang penganut pemusnahan mampu [membantah] penganut keabadian [dan si penganut keabadian tidak bertahan]; dan demikian pula, ketika seorang pendukung adanya diri mampu [membantah doktrin kekosongan], dan ketika seorang pendukung kekosongan mampu [membantah doktrin adanya diri]. Demikianlah yang dimaksudkan dengan pernyataan bahwa ia tidak bertahan sehubungan dengan posisinya dan posisi lawan.” (Sebaliknya, mungkinkah ini berarti bahwa ia tidak bertahan sehubungan dengan apa yang sesungguhnya merupakan permasalahannya dan apa yang bukan merupakan permasalahannya, atau sehubungan dengan apa yang mungkin dan apa yang tidak mungkin? Ini juga adalah makna, secara berturut-turut, dari ṭhāna dan aṭṭhāna.)

    Ia tidak bertahan dalam strateginya (parikappe na saṇṭhāti): Ini ditemukan baik dalam menanyakan pertanyaan dan dalam menjawabnya. Bagaimanakah? Seseorang yang berdehem, sambil berpikir: ‘Aku akan mengajukan pertanyaan.’ Orang lainnya berkata kepadanya: ‘Engkau akan menanyakan hal ini.’ Setelah menyadari bahwa ia telah diketahui, ia berkata: ‘Aku tidak akan menanyakan itu, melainkan hal lainnya.’ Orang yang ditanya, juga, menepuk-nepuk dagunya, sambil berpikir: ‘Aku akan menjawab pertanyaan itu.’ Orang lainnya berkata kepadanya: ‘Engkau akan menjawab seperti ini.’ Setelah menyadari bahwa ia telah diketahui, ia berkata: ‘Aku tidak akan menjawab begitu, melainkan begini.’ Demikianlah yang dimaksudkan dengan pernyataan bahwa ia tidak bertahan dalam strateginya.

    Ia tidak bertahan dalam pernyataannya atas apa yang diketahui (aññātavāde na saṇṭhāti): Seseorang menanyakan suatu pertanyaan. Orang lainnya berkata: ‘Pertanyaan yang engkau tanyakan cukup baik. Dari manakah engkau mempelajarinya?’ Orang lainnya, walaupun ia telah mengajukan pertanyaan dengan cara yang benar, menjadi ragu-ragu karena pernyataan [lawannya], dengan berpikir: ‘Apakah aku menanyakan [sesuatu hal] yang tidak problematik?’ Orang yang ditanya menjawab. Orang lainnya berkata kepadanya: ‘Engkau telah menjawab pertanyaan itu dengan baik. Dari manakah engkau mempelajarinya? [Engkau menjawab] pertanyaan seperti seharusnya pertanyaan itu dijawab.’ [Responden] lainnya, walaupun ia telah menjawab dengan cara yang benar, menjadi ragu-ragu karena pernyataan [lawannya], dengan berpikir: ‘Apakah aku menjawab [sesuatu hal] yang tidak problematik?’

    Ia tidak bertahan dalam prosedur (paṭipadāya na saṇṭhāti): Tanpa memahami aturan (vattaṃ ajānitvā), ia bertanya dalam situasi ketika sebuah pertanyaan seharusnya tidak diajukan. Jika suatu pertanyaan diajukan dalam pengadilan atau di altar peringatan (cetiyaṅgana), ia seharusnya tidak menjawabnya. Demikian pula, [seseorang seharusnya tidak menjawab] dalam perjalanan untuk menerima dana makanan; ketika berjalan menerima dana makanan di desa; ketika duduk di dalam aula pertemuan; ketika duduk dan memakan bubur atau suatu makanan; ketika duduk setelah makan; dan ketika pergi ke tempat di mana ia melewatkan hari. Akan tetapi, ketika ia berdiam melewatkan keberdiaman siang hari, jika seseorang meminta izin dan kemudian mengajukan pertanyaan, maka itu harus dijawab; tetapi ia seharusnya tidak menjawab jika mereka tidak meminta izin. Demikianlah apa yang dimaksudkan dengan: ‘Mengajukan pertanyaan tanpa memahami aturan, ia tidak bertahan dalam prosedur.’”

  3. Yaitu, ia menangkap kesalahan kecil di pihak orang lain sebagai dalih untuk mengkritiknya.
  4. Mp: “Ia secara langsung mengetahui satu hal, Dhamma yang bermanfaat, jalan mulia. Ia sepenuhnya memahami satu hal, kebenaran penderitaan. Ia meninggalkan satu hal, semua kualitas-kualitas tidak bermanfaat. Ia merealisasikan satu hal, buah Kearahattaan atau [kebenaran] lenyapnya. Melalui pengetahuan ia mencapai kebebasan benar, kebebasan melalui buah Kearahattaan.”
  5. Anariyaguṇam āsajja. Kalimat ini cukup sulit. Seperti yang tercetak, ini seharusnya diterjemahkan: “Setelah menyerang kualitas-kualitas tidak mulia.” Tetapi guṇa biasanya berarti kualitas-kualitas bermoral. Mp memberikan penjelasan yang tidak meyakinkan: “Mereka membabarkan khotbah dengan menggunakan kualitas-kualitas tidak mulia untuk menyerang kualitas-kualitas.” Saya menerjemahkan atas dasar anggapan bahwa tulisan yang benar pada kalimat ini seharusnya anariyā guṇam āsajja, “mereka yang tidak mulia menyerang kualitas-kualitas [baik].” Paralel China, MĀ 119 pada T I 609a8-b29, bersesuaian erat dengan Pāli sehubungan dengan syair ini, dan baris yang bersesuaian (609b15) sesuai dengan interpretasi saya: : 非聖毀呰德 (“tidak mulia, mereka [saling] mengkritik moralitas [satu sama lain]”).
  6. Dhammaṭṭhapaṭisaṃyuttā yā ariyācaritā kathā. Mp menjelaskan dhammaṭṭhapaṭisaṃyuttā sebagai berikut: “Pembicaraan yang diucapkan oleh seseorang yang kokoh dalam Dhamma, demikianlah pembicaraan itu kokoh dalam Dhamma; dan [pembicaraan itu] berhubungan dengan Dhamma, maka pembicaraan itu kokoh dalam dan berhubungan dengan Dhamma.” Dengan demikian Mp memperlakukan dhammaṭṭha sebagai kata majemuk dari dhamme ṭhita. Akan tetapi saya menerjemahkan, dengan asumsi bahwa dhammaṭṭhapaṭisaṃyuttā mengandung kata majemuk dvanda yang seharusnya dipecah menjadi dhammena ca aṭṭhena ca paṭisaṃyuttā. Dalam penjelasan tentang ucapan benar, sering dikatakan bahwa seorang yang bermoral adalah atthavādī dhammavādī, “seorang yang membicarakan apa yang bermanfaat (atau ‘bermakna’), seorang yang membicarakan tentang Dhamma”; baca 3:69, I 204,4; 10:176 §7, V 267,22. Adalah tidak biasanya – tetapi bukan pengecualian – untuk menemukan aṭṭha pada tempat attha yang berarti “makna” atau “manfaat”; akan lebih tidak biasa untuk menemukan akhiran ṭha diletakkan di dalam suatu kata majemuk dan diikuti oleh bentuk pasif. Paralel China, yang saya temukan setelah saya menerjemahkan ini, mendukung pemahaman saya di sini. Pada T I 609b19 kita membaca: 有法亦有義 諸聖論如是, “pembicaraan yang mengandung Dhamma dan yang mengandung makna; semua pembicaraan para mulia adalah seperti ini.” Karakter 義 ini, seperti Pāli attha, berarti “baik” dan juga berarti “makna,” dan 有義 juga dapat berarti “bermanfaat” atau “bermakna.”
  7. Di sini saya bersama Be membaca anunnatena manasā, bukan seperti Ce dan Ee anupādinnena manasā. Mp (baik Ce maupun Be) mengemas menjadi anuddhatena cetasā, yang mendukung anunnatena manasā.