Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Yang Mulia Nandaka sedang menetap di Sāvatthī di Istana Migāramātā di Taman Timur. Kemudian Sāḷha, cucu dari Migāra, dan Rohaṇa, cucu dari Pekkhuniya, mendatangi Yang Mulia Nandaka, bersujud kepadanya, dan duduk di satu sisi. Kemudian Yang Mulia Nandaka berkata kepada Sāḷha:

“Marilah, Sāḷha, jangan menuruti tradisi lisan, ajaran turun-temurun, kabar angin, kumpulan teks, logika, penalaran, pertimbangan, dan penerimaan pandangan setelah merenungkan, pembabar yang tampaknya cukup kompeten, atau karena engkau berpikir: ‘Petapa itu adalah guru kami.’ Tetapi ketika engkau [194] mengetahui untuk dirimu sendiri: ‘Hal-hal ini adalah tidak bermanfaat; hal-hal ini adalah tercela; hal-hal ini dicela oleh para bijaksana; hal-hal ini, jika dijalankan dan dipraktikkan, akan mengarah menuju bahaya dan penderitaan,’ maka engkau harus meninggalkannya.

(1) “Bagaimana menurutmu, Sāḷha, apakah ada keserakahan?”

“Ada, Bhante.”

“Aku katakan bahwa ini berarti kerinduan. Seorang yang serakah, penuh kerinduan, akan melakukan pembunuhan, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan pelanggaran dengan istri orang lain, dan mengucapkan kebohongan; dan ia mendorong orang lain untuk melakukan hal serupa. Akankah itu mengarah pada bahaya dan penderitaannya untuk waktu yang lama?”

“Benar, Bhante.”

(2) “Bagaimana menurutmu, Sāḷha, apakah ada kebencian?”

“Ada, Bhante.”

“Aku katakan bahwa ini berarti niat buruk. Seorang yang penuh kebencian, dengan pikiran berniat buruk, akan melakukan pembunuhan … dan ia mendorong orang lain untuk melakukan hal serupa. Akankah itu mengarah pada bahaya dan penderitaannya untuk waktu yang lama?”

“Benar, Bhante.”

(3) “Bagaimana menurutmu, Sāḷha, apakah ada delusi?”

“Ada, Bhante.”

“Aku katakan bahwa ini berarti ketidak-tahuan. Seorang yang terdelusi, terbenam dalam ketidak-tahuan, akan melakukan pembunuhan … dan ia mendorong orang lain untuk melakukan hal serupa. Akankah itu mengarah pada bahaya dan penderitaannya untuk waktu yang lama?”

“Benar, Bhante.”

“Bagaimana menurutmu, Sāḷha? Apakah hal-hal ini adalah bermanfaat atau tidak bermanfaat?” – “Tidak bermanfaat, Bhante.” - “Tercela atau tidak tercela?” – “Tercela, Bhante.” – “Dicela atau dipuji oleh para bijaksana?” – “Dicela oleh para bijaksana, Bhante.” – “Jika diterima dan dijalankan, apakah hal-hal ini mengarah menuju bahaya dan penderitaan atau tidak, atau bagaimanakah engkau menganggapnya?” [195] – “Jika diterima dan dijalankan, maka hal-hal ini akan mengarah menuju bahaya dan penderitaan. Demikianlah kami menganggapnya.”

“Demikianlah, Sāḷha, ketika kami berkata: ‘Marilah, Sāḷha, jangan menuruti tradisi lisan … Tetapi ketika engkau mengetahui untuk dirimu sendiri: “Hal-hal ini adalah tidak bermanfaat; hal-hal ini adalah tercela; hal-hal ini dicela oleh para bijaksana; hal-hal ini, jika dijalankan dan dipraktikkan, akan mengarah menuju bahaya dan penderitaan,” maka engkau harus meninggalkannya,’ adalah karena alasan ini maka hal ini dikatakan.

“Marilah, Sāḷha, jangan menuruti tradisi lisan, ajaran turun-temurun, kabar angin, kumpulan teks, logika, penalaran, pertimbangan, dan penerimaan pandangan setelah merenungkan, pembabar yang tampaknya cukup kompeten, atau karena engkau berpikir: ‘Petapa itu adalah guru kami.’ Tetapi ketika engkau mengetahui untuk dirimu sendiri: ‘Hal-hal ini adalah bermanfaat; hal-hal ini adalah tidak tercela; hal-hal ini dipuji oleh para bijaksana; hal-hal ini, jika dijalankan dan dipraktikkan, akan mengarah menuju kesejahteraan dan kebahagiaan,’ maka engkau harus hidup sesuai dengannya.

(1) “Bagaimana menurutmu, Sāḷha, apakah ada ketidak-serakahan?”

“Ada, Bhante.”

“Aku katakan bahwa ini berarti ketiadaan kerinduan. Seorang yang tanpa keserakahan, tanpa kerinduan, tidak akan melakukan pembunuhan, tidak mengambil apa yang tidak diberikan, tidak melakukan pelanggaran dengan istri orang lain, dan tidak mengucapkan kebohongan; dan ia juga tidak akan mendorong orang lain untuk melakukan hal-hal tersebut. Akankah itu mengarah pada kesejahteraan dan kebahagiaannya untuk waktu yang lama?”

“Benar, Bhante.”

(2) “Bagaimana menurutmu, Sāḷha, apakah ada ketidak-bencian?”

“Ada, Bhante.”

“Aku katakan bahwa ini berarti niat baik. Seorang yang tanpa kebencian, dengan pikiran berniat baik, tidak akan melakukan pembunuhan … dan ia juga tidak akan mendorong orang lain untuk melakukan hal-hal tersebut. Akankah itu mengarah pada kesejahteraan dan kebahagiaannya untuk waktu yang lama?”

“Benar, Bhante.”

(3) “Bagaimana menurutmu, Sāḷha, apakah ada ketidak-delusian?”

“Ada, Bhante.”

“Aku katakan bahwa ini berarti pengetahuan sejati. Seorang yang tidak terdelusi, [196] yang telah sampai pada pengetahuan sejati, tidak akan melakukan pembunuhan … dan ia juga tidak akan mendorong orang lain untuk melakukan hal-hal tersebut. Akankah itu mengarah pada kesejahteraan dan kebahagiaannya untuk waktu yang lama?”

“Benar, Bhante.”

“Bagaimana menurutmu, Sāḷha? Apakah hal-hal ini adalah bermanfaat atau tidak bermanfaat?” – “Bermanfaat, Bhante.” - “Tercela atau tidak tercela?” – “Tidak tercela, Bhante.” – “Dicela atau dipuji oleh para bijaksana?” – “Dipuji oleh para bijaksana, Bhante.” – “Jika diterima dan dijalankan, apakah hal-hal ini mengarah menuju kesejahteraan dan kebahagiaan atau tidak, atau bagaimanakah engkau menganggapnya?” – “Jika diterima dan dijalankan, maka hal-hal ini akan mengarah menuju kesejahteraan dan kebahagiaan. Demikianlah kami menganggapnya.”

“Demikianlah, Sāḷha, ketika kami berkata: ‘Marilah, Sāḷha, jangan menuruti tradisi lisan … Tetapi ketika engkau mengetahui untuk dirimu sendiri: “Hal-hal ini adalah bermanfaat; hal-hal ini adalah tidak tercela; hal-hal ini dipuji oleh para bijaksana; hal-hal ini, jika dijalankan dan dipraktikkan, akan mengarah menuju kesejahteraan dan kebahagiaan,” maka engkau harus hidup sesuai dengannya,’ adalah karena alasan ini maka hal ini dikatakan.

“Kemudian, Sāḷha, siswa mulia itu – yang hampa dari kerinduan, hampa dari niat buruk , tidak bingung, memahami dengan jernih, penuh perhatian, berdiam dengan meliputi satu arah dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta-kasih … dengan pikiran yang dipenuhi dengan belas-kasih … dengan pikiran yang dipenuhi dengan kegembiraan altruistik … dengan pikiran yang dipenuhi dengan keseimbangan, demikian pula dengan arah ke dua, ke tiga, dan ke empat. Demikian pula ke atas, ke bawah, ke sekeliling, dan ke segala penjuru, dan kepada semua makhluk seperti kepada diri sendiri, ia berdiam dengan meliputi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi dengan keseimbangan, luas, luhur, tanpa batas, tanpa permusuhan, tanpa niat buruk.

“Kemudian ia memahami sebagai berikut: ‘Ada ini; ada yang hina; ada yang mulia; ada jalan membebaskan diri dari apa pun yang berhubungan dengan persepsi.’1 Ketika ia mengetahui dan melihat demikian, pikirannya terbebaskan dari noda indriawi, dari noda penjelmaan, dan dari noda ketidak-tahuan. [197] Ketika terbebaskan muncullah pengetahuan: ‘Terbebaskan.’ Ia memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan spiritual telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan kembali lagi pada kondisi makhluk apa pun.’

“Ia memahami sebagai berikut: ‘Sebelumnya, ada keserakahan; itu tidak bermanfaat. Sekarang tidak ada lagi; dengan demikian ini bermanfaat. Sebelumnya, ada kebencian; itu tidak bermanfaat. Sekarang tidak ada lagi; dengan demikian ini bermanfaat. Sebelumnya, ada delusi; itu tidak bermanfaat. Sekarang tidak ada lagi; dengan demikian ini bermanfaat.’

“Demikianlah dalam kehidupan ini ia berdiam tanpa lapar, terpuaskan dan sejuk, mengalami kebahagiaan, setelah dirinya sendiri menjadi brahma.”2


Catatan Kaki
  1. Atthi idaṃ, atthi hīnaṃ, atthi paṇītaṃ, atthi imassa saññāgatassa uttari nissaraṇaṃ. Ini juga terdapat dalam MN 7.17, I 38,31-32, yang dilanjutkan dengan keempat alam brahma. Mp mengatakan “ada ini” merujuk pada kelima kelompok unsur kehidupan, kebenaran penderitaan; “yang hina” merujuk pada kebenaran asal-mula; “yang mulia” merujuk pada kebenaran sang jalan; dan “jalan membebaskan diri dari apa pun yang terlibat dengan persepsi” merujuk pada nibbāna, kebenaran lenyapnya.
  2. Brahmabhūtena attanā viharati. Keseluruhan frasa ini juga terdapat pada 4:198, II 206,2-4 dan MN 51.5, I 341,11-13. Tampak seperti usaha yang disengaja oleh Sang Buddha untuk memasukkan terminologi Upanishad untuk tujuan ajaranNya sendiri.