“Para bhikkhu, Aku dipelihara dengan lembut, dipelihara dengan sangat lembut, dipelihara dengan luar biasa lembut. Di kediaman ayahKu kolam-kolam teratai dibangun hanya demi kesenanganKu: di salah satu kolamnya teratai biru bermekaran, di kolam lainnya teratai merah, dan di kolam ke tiga teratai putih.1 Aku tidak menggunakan cendana jika bukan yang berasal dari Kāsi dan penutup kepala, jubah luar, jubah bawah, dan jubah atas yang Kupakai terbuat dari kain yang berasal dari Kāsi.2 Siang dan malam sebuah kanopi putih selalu memayungiKu agar dingin dan panas, debu, rumput, dan embun tidak mengenaiKu.

“Aku memiliki tiga istana: satu untuk musim dingin, satu untuk musim panas, dan satu untuk musim hujan.3 Aku melewatkan empat bulan musim hujan di istana musim hujan, dengan dihibur oleh para musisi, tidak ada di antaranya yang laki-laki,4 dan Aku tidak meninggalkan istana. Sementara budak-budak, pekerja-pekerja, dan pelayan-pelayan di rumah-rumah orang lain diberikan nasi basi dengan bubur asam sebagai makanan mereka, namun di kediaman ayahKu mereka diberi beras gunung pilihan, daging pilihan, dan nasi.

(1) “Di tengah-tengah kehidupan yang megah dan lembut demikian, Aku berpikir: ‘Seorang kaum duniawi yang tidak terpelajar, walaupun dirinya tunduk pada penuaan, tidak terbebas dari penuaan, merasa muak, malu, dan jijik ketika ia melihat orang lain yang tua, dengan mengabaikan keadaannya sendiri.5 Sekarang, Aku juga tunduk pada penuaan dan tidak terbebas dari penuaan. Karena itu, jika Aku merasa muak, malu, [146] dan jijik ketika melihat orang lain yang tua, maka itu tidaklah selayaknya bagiKu.’ Ketika Aku merefleksikan demikian, maka kemabukanKu akan kemudaan sepenuhnya ditinggalkan.

(2) “[Kemudian, Aku berpikir:] ‘Seorang kaum duniawi yang tidak terpelajar, walaupun dirinya tunduk pada penyakit, tidak terbebas dari penyakit, merasa muak, malu, dan jijik ketika ia melihat orang lain yang sakit, dengan mengabaikan keadaannya sendiri. Sekarang, Aku juga tunduk pada penyakit dan tidak terbebas dari penyakit. Karena itu, jika Aku merasa muak, malu, dan jijik ketika melihat orang lain yang sakit, maka itu tidaklah selayaknya bagiKu.’ Ketika Aku merefleksikan demikian, maka kemabukanKu akan kesehatan sepenuhnya ditinggalkan.

(3) “[Kemudian, Aku berpikir:] ‘Seorang kaum duniawi yang tidak terpelajar, walaupun dirinya tunduk pada kematian, tidak terbebas dari kematian, merasa muak, malu, dan jijik ketika ia melihat orang lain yang mati, dengan mengabaikan keadaannya sendiri. Sekarang, Aku juga tunduk pada kematian dan tidak terbebas dari kematian. Karena itu, jika Aku merasa muak, malu, dan jijik ketika melihat orang lain yang mati, maka itu tidaklah selayaknya bagiKu.’ Ketika Aku merefleksikan demikian, maka kemabukanKu akan kehidupan sepenuhnya ditinggalkan.

“Ada, para bhikkhu, tiga jenis kemabukan ini.6 Apakah tiga ini? Kemabukan pada kemudaan, kemabukan pada kesehatan, dan kemabukan pada kehidupan. (1) Seorang kaum duniawi yang tidak terpelajar, karena mabuk pada kemudaan, melakukan perbuatan buruk melalui jasmani, ucapan, dan pikiran. Dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan yang buruk, di alam rendah, di neraka. (2) Seorang kaum duniawi yang tidak terpelajar, karena mabuk pada kesehatan, melakukan perbuatan buruk melalui jasmani, ucapan, dan pikiran. Dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan yang buruk, di alam rendah, di neraka. (3) Seorang kaum duniawi yang tidak terpelajar, karena mabuk pada kehidupan, melakukan perbuatan buruk melalui jasmani, [147] ucapan, dan pikiran. Dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan yang buruk, di alam rendah, di neraka.

“Karena mabuk pada kemudaan, seorang bhikkhu meninggalkan latihan dan kembali pada kehidupan rendah; atau karena mabuk pada kesehatan, ia meninggalkan latihan dan kembali pada kehidupan rendah; atau karena mabuk pada kehidupan, ia meninggalkan latihan dan kembali pada kehidupan rendah.

“Kaum duniawi tunduk pada penyakit, penuaan, dan kematian, menjadi jijik [karena orang lain] yang muncul sesuai dengan sifat alaminya.7

“Jika Aku menjadi jijik pada makhluk-makhluk dengan sifat demikian, itu tidaklah selayaknya bagiKu karena Aku juga memiliki sifat alami yang sama.

“Ketika Aku sedang berdiam demikian, setelah mengetahui keadaan tanpa perolehan, Aku mengatasi segala kemabukan – kemabukan pada kesehatan, pada kemudaan, dan pada kehidupan – setelah melihat keamanan dalam pelepasan keduniawian.8

“Kemudian kemauan muncul padaKu ketika Aku dengan jelas melihat nibbāna. Sekarang Aku tidak mampu lagi menuruti kenikmatan-kenikmatan indria. Dengan bersandar pada kehidupan spiritual, Aku tidak akan pernah berbalik.”9


Catatan Kaki
  1. Mp mendefinisikan paduma sebagai seroja putih (paṇḍarapadumaṃ) dan puṇḍarīka sebagai seroja merah (rattapadumaṃ). Akan tetapi, SED mendefinisikan puṇḍarika sebagai “bunga seroja (khususnya seroja putih),” dengan menambahkan bawa kata itu juga digunakan dalam arti “putih” secara umum. Banyak website juga mendefinisikan puṇḍarika sebagai seroja putih.
  2. Kāsi adalah salah satu dari enam belas negara besar di India, dengan ibu kota Bārāṇasī.
  3. Ini adalah ketiga musim di India utara: musim dingin berlangsung sekitar November hingga Maret, musim panas dari Maret hingga Juli, dan musim hujan dari Juli hingga November. Mp mengatakan bahwa istana musim dingin bertingkat sembilan, yang rendah untuk mempertahankan panas; istana musim panas bertingkat lima, yang tinggi agar udara menjadi sejuk; dan istana musim hujan bertingkat tujuh, yang tidak tinggi juga tidak rendah untuk memberikan temperatur sedang.
  4. Nippurisehi. Mp mengatakan bahwa bukan hanya para musisi, melainkan semua posisi dalam istana ditempati oleh para perempuan (itthiyo). Demikianlah selama empat bulan kaum laki-laki tidak menemuinya.
  5. Attānaṃyeva atisitvā. Atisitvā adalah bentuk absolutif dari atisarati. Baca DOP sv atisarati.
  6. Ee menganggap kalimat ini menandai awal dari sutta baru, 3:39 dalam penomorannya. Tetapi Ce dan Be, yang saya ikuti, memperlakukan paragraf ini sebagai kelanjutan dari sutta yang dimulai dengan ingatan Sang Buddha tentang pertumbuhannya yang lembut. Dalam Ce dan Be, keseluruhan sutta ini adalah 3:39, sehingga pada titik ini penomoran dalam seluruh tiga edisi menjadi bersesuaian.
  7. Pāda ke tiga tidak jelas: yathā dhammā tathā santā. Saya menerjemahkannya secara literal. Dalam menjelaskan pāda ke empat, Mp menambahkan parapuggalaṃ sebagai objek dari kata kerja jigucchanti.
  8. Ce dan Be membaca nekkhamme daṭṭhu khemataṃ. Ee menuliskan nekkhammaṃ daṭṭhu khemato sebagai bacaan utama tetapi menyebutkan variasi Ce dan Be dalam catatannya. Mp (baik Ce maupun Be) menggunakan tulisan Ce dan Be sebagai lema, yang dikemas dalam nibbāne khemabhāvaṃ disvā, tetapi kemudian mengutip tulisan Ee sebagai variasi, dikemas nibbānaṃ khemato disvā. Dengan demikian di sini Ee memilih variasi tersebut sebagai bacaan utama.
  9. Mp mengatakan bahwa syair ini merujuk pada kegigihanNya sendiri ketika muncul sewaktu Beliau sedang duduk di bawah pohon bodhi.