“Para bhikkhu, suatu ketika di masa lampau, ketika Sakka, penguasa para deva, sedang membimbing para deva Tāvatiṃsa, ia melafalkan syair berikut ini:1

“‘Orang yang akan menjadi sepertiku …, dan selama dwimingguan khusus.’

“Syair ini, para bhikkhu, diucapkan dengan buruk oleh Sakka, penguasa para deva, bukan diucapkan dengan baik. Dinyatakan dengan buruk, bukan dinyatakan dengan baik. Karena alasan apakah? Karena Sakka, penguasa para deva, tidak terbebas dari kelahiran, penuaan, dan kematian, dari dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan kesengsaraan; ia tidak terbebas dari penderitaan, Aku katakan. Tetapi dalam hal seorang bhikkhu yang adalah seorang Arahant – seorang yang noda-nodanya dihancurkan … seorang yang sepenuhnya terbebaskan melalui pengetahuan akhir – adalah selayaknya baginya untuk mengatakan:

“‘Orang yang akan menjadi sepertiku … dan selama dwimingguan khusus.’ [145]

“Karena alasan apakah? Karena bhikkhu itu terbebas dari kelahiran, penuaan, dan kematian, dari dukacita, ratapan, kesakitan, keputus-asaan, kesedihan, dan kesengsaraan; ia terbebas dari penderitaan, Aku katakan.”


Catatan Kaki
  1. Be memperlakukan kalimat ini sebagai awal dari 3:38. Anehnya, Be memberi judul ini “Yang Ke Dua tentang Empat Raja Dewa” walaupun sutta tidak menyebutkan hal ini.