easter-japanese

Yang Mulia Anuruddha mendatangi Yang Mulia Sāriputta dan saling bertukar sapa dengannya. Ketika mereka telah mengakhiri ramah tamah ini, [282] ia duduk di satu sisi dan berkata kepada Yang Mulia Sāriputta:

“Di sini, teman Sāriputta, dengan mata dewa, yang murni dan melampaui manusia, aku mengamati seribu sistem dunia. Kegigihan dibangkitkan dalam diriku tanpa mengendur; perhatianku ditegakkan tanpa kekacauan; tubuhku tenang tanpa gangguan; pikiranku terkonsentrasi dan terpusat. Namun pikiranku masih belum terbebaskan dari noda-noda melalui ketidak-melekatan.”

[Yang Mulia Sāriputta berkata:] (1) “Teman Anuruddha, ketika engkau berpikir: ‘Dengan mata dewa, yang murni dan melampaui manusia, aku mengamati seribu sistem dunia,’ itu adalah keangkuhanmu.

(2) “Dan ketika engkau berpikir: ‘Kegigihan dibangkitkan dalam diriku tanpa mengendur; perhatianku ditegakkan tanpa kekacauan; tubuhku tenang tanpa gangguan; pikiranku terkonsentrasi dan terpusat,’ ini adalah kegelisahanmu.

(3) “Dan ketika engkau berpikir: ‘Namun pikiranku masih belum terbebaskan dari noda-noda melalui ketidak-melekatan,’ ini adalah penyesalanmu.

“Baik sekali jika engkau dapat meninggalkan ketiga kualitas ini dan berhenti memperhatikannya. Sebagai gantinya, arahkan pikiranmu pada elemen tanpa-kematian.”

Beberapa waktu kemudian Yang Mulia Anuruddha meninggalkan ketiga kualitas ini dan berhenti memperhatikannya. Sebagai gantinya, ia mengarahkan pikirannya pada elemen tanpa-kematian. Kemudian, dengan berdiam sendirian, terasing, waspada, tekun, dan bersungguh-sungguh, dalam waktu tidak lama Yang Mulia Anuruddha merealisasikan untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini, kesempurnaan kehidupan spiritual yang tidak terlampaui yang karenanya anggota-anggota keluarga dengan benar pergi meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dan setelah memasukinya, ia berdiam di dalamnya. Ia secara langsung mengetahui: “Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan spiritual telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan kembali lagi pada kondisi makhluk apa pun.” Dan Yang Mulia Anuruddha menjadi salah satu di antara para Arahant.