“Para bhikkhu, ada tiga [tempat] ini yang harus diingat seumur hidup oleh seorang raja khattiya yang sah. Apakah tiga ini? (1) Yang pertama adalah tempat di mana ia dilahirkan. (2) Yang ke dua adalah tempat ia dinobatkan menjadi seorang raja khattiya. (3) Dan yang ke tiga adalah tempat di mana, setelah memenangkan peperangan, ia keluar sebagai pemenang di depan medan peperangan. Ini adalah ketiga [tempat] yang harus diingat seumur hidup oleh seorang raja khattiya yang sah. [107]

“Demikian pula, para bhikkhu, ada tiga [tempat] ini yang harus diingat seumur hidup oleh seorang bhikkhu. Apakah tiga ini? (1) Yang pertama adalah tempat di mana ia mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. (2) Yang ke dua adalah tempat di mana ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah penderitaan,’ dan ‘Ini adalah asal-mula penderitaan,’ dan ‘Ini adalah lenyapnya penderitaan,’ dan ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan.’ (3) Dan yang ke tiga adalah tempat di mana, dengan hancurnya noda-noda, ia merealisasi untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini, kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan melalui kebijaksanaan, dan setelah memasukinya, ia berdiam di dalamnya.1 Ini adalah ketiga [tempat] yang harus diingat seumur hidup oleh seorang bhikkhu.”


Catatan Kaki
  1. Kasus ke dua, pemahaman pada keempat kebenaran mulia, menandai pencapaian memasuki-arus; yang ke tiga, hancurnya noda-noda, adalah pencapaian Kearahattaan.