“Para bhikkhu, ada tiga jenis orang yang terdapat di dunia ini. Apakah tiga ini?

(1) “Di sini, para bhikkhu, dengan sepenuhnya melampaui persepsi bentuk, dengan lenyapnya persepsi kontak indria, dengan tanpa-perhatian pada persepsi keberagaman, [dengan menyadari] ‘ruang adalah tanpa batas,’ seseorang masuk dan berdiam dalam landasan ruang tanpa batas. Ia menyukainya, menginginkannya, dan menemukan kepuasan di dalamnya. Jika ia kokoh di dalamnya, fokus padanya, sering berdiam di dalamnya, dan tidak kehilangannya ketika ia meninggal dunia, maka ia terlahir kembali dalam kumpulan para deva landasan ruang tanpa batas. Umur kehidupan para deva landasan ruang tanpa batas adalah 20.000 kappa. Kaum duniawi menetap di sana sepanjang hidupnya, dan ketika ia telah menyelesaikan keseluruhan umur kehidupan deva itu, ia kemudian pergi ke neraka, ke alam binatang, atau ke alam hantu sengsara.1 Tetapi siswa Sang Bhagavā menetap di sana sepanjang hidupnya, dan ketika ia telah menyelesaikan keseluruhan umur kehidupan deva itu, ia mencapai nibbāna akhir di alam kehidupan yang sama itu. Ini adalah perbedaan, disparitas, kesenjangan antara siswa mulia yang terpelajar dan kaum duniawi yang tidak terpelajar, yaitu, ketika ada alam tujuan masa depan dan kelahiran kembali.2

(2) “Kemudian, dengan sepenuhnya melampaui landasan ruang tanpa batas, [dengan menyadari] ‘kesadaran adalah tanpa batas,’ seseorang di sini masuk dan berdiam dalam landasan kesadaran tanpa batas. Ia menyukainya, menginginkannya, dan menemukan kepuasan di dalamnya. Jika ia kokoh di dalamnya, fokus padanya, sering berdiam di dalamnya, dan tidak kehilangannya ketika ia meninggal dunia, maka ia terlahir kembali dalam kumpulan para deva landasan kesadaran tanpa batas. Umur kehidupan para deva landasan kesadaran tanpa batas adalah 40.000 kappa. Kaum duniawi menetap di sana sepanjang hidupnya, dan ketika ia telah menyelesaikan keseluruhan umur kehidupan deva itu, ia kemudian pergi ke neraka, ke alam binatang, atau ke alam hantu sengsara. Tetapi siswa Sang Bhagavā menetap di sana sepanjang hidupnya, dan ketika ia telah menyelesaikan keseluruhan umur kehidupan deva itu, ia mencapai nibbāna akhir di alam kehidupan yang sama itu. Ini adalah perbedaan, disparitas, kesenjangan [268] antara siswa mulia yang terpelajar dan kaum duniawi yang tidak terpelajar, yaitu, ketika ada alam tujuan masa depan dan kelahiran kembali.

(3) “Kemudian, para bhikkhu, dengan sepenuhnya melampaui landasan kesadaran tanpa batas, [dengan menyadari] ‘tidak ada apa-apa,’ seseorang di sini masuk dan berdiam dalam landasan kekosongan. Ia menyukainya, menginginkannya, dan menemukan kepuasan di dalamnya. Jika ia kokoh di dalamnya, fokus padanya, sering berdiam di dalamnya, dan tidak kehilangannya ketika ia meninggal dunia, maka ia terlahir kembali dalam kumpulan para deva landasan kekosongan. Umur kehidupan para deva landasan kekosongan adalah 60.000 kappa. Kaum duniawi menetap di sana sepanjang hidupnya, dan ketika ia telah menyelesaikan keseluruhan umur kehidupan deva itu, ia kemudian pergi ke neraka, ke alam binatang, atau ke alam hantu sengsara. Tetapi siswa Sang Bhagavā menetap di sana sepanjang hidupnya, dan ketika ia telah menyelesaikan keseluruhan umur kehidupan deva itu, ia mencapai nibbāna akhir di alam kehidupan yang sama itu. Ini adalah perbedaan, disparitas, kesenjangan antara siswa mulia yang terpelajar dan kaum duniawi yang tidak terpelajar, yaitu, ketika ada alam tujuan masa depan dan kelahiran kembali.

“Ini, para bhikkhu, adalah ketiga jenis orang itu yang terdapat di dunia ini.”


Catatan Kaki
  1. Menurut Abhidhamma Theravāda, ketika meninggal dunia dari alam tanpa bentuk, seorang kaum duniawi mungkin terlahir kembali di alam tanpa bentuk yang sama, di alam tanpa bentuk yang lebih tinggi, atau di alam indria dengan kesadaran kelahiran kembali berakar tiga. Ini berarti bahwa mereka akan terlahir kembali apakah sebagai seorang manusia yang cerdas atau sebagai deva. Kelahiran kembali di alam yang lebih rendah dapat terjadi pada kelahiran berikutnya, tetapi tidak pada kelahiran kembali yang persis setelah kejatuhan dari alam tanpa bentuk. Baca CMA 226-27.
  2. Bersama dengan Ce dan Ee saya membaca: yadidaṃ gatiyā upapattiyā sati. Be menghilangkan sati di sini (dan dalam dua paragraf berikutnya), tetapi memasukkannya dalam paralel pada 4:123 dan 4:125. Mp, dalam mengomentari 4:123, menjelaskan: “Ketika ada alam tujuan masa depan dan kelahiran kembali, maka siswa mulia yang adalah seorang yang masih berlatih tidak turun ke alam yang lebih rendah melainkan mencapai nibbāna akhir dalam penjelmaan alam berbentuk yang sama [atau] di alam yang lebih tinggi.” Hal yang sama berlaku, dengan modifikasi yang seperlunya, pada mereka yang terlahir kembali dalam penjelmaan alam tanpa bentuk.

    Mp-ṭ pada 4:123 menjelaskan tentang pertanyaan bagaimana siswa mulia dapat terlahir kembali di alam tanpa bentuk: “Ketika Sang Buddha membicarakan tentang umur kehidupan manusia dan deva, Beliau tidak memberikan angka tertentu untuk umur kehidupan [mereka] yang berada di empat alam sengsara dan para deva bumi. Mengapa tidak? Karena di neraka, kamma sendiri menentukan [umur kehidupan]; seseorang akan menderita di sana hingga kammanya habis. Hal yang sama berlaku untuk keempat alam sengsara. Kamma juga menentukan umur kehidupan para deva bumi. Karena beberapa deva yang terlahir kembali di sana tetap hidup di sana selama seminggu, beberapa lainnya selama dua minggu, dan beberapa lainnya selama satu kappa.

    “Di antara para manusia, beberapa umat awam menjadi pemasuk-arus dan mencapai buah yang-kembali-sekali, buah yang-tidak-kembali, dan bahkan buah Kearahattaan. Di antara mereka, para pemasuk-arus, dan seterusnya, dapat tetap [dalam kehidupan awam mereka] seumur hidup mereka, tetapi para Arahant mencapai nibbāna akhir atau meninggalkan keduniawian [menuju kehidupan tanpa rumah]. Mengapakah? Karena Kearahattaan adalah keadaan yang paling bermoral dan kehidupan awam adalah rendah. Tidaklah mungkin bagi para Arahant untuk mempertahankan keadaan paling bermoral dalam kondisi rendah, maka mereka mencapai nibbāna akhir [yaitu, meninggal dunia] atau meninggalkan keduniawian. Tetapi ketika para deva bumi mencapai Kearahattaan mereka akan tetap hidup seumur hidup mereka; para pemasuk-arus dan yang-kembali-sekali di antara keenam kelompok para deva alam indria akan hidup seumur hidup mereka. Untuk seorang yang-tidak-kembali adalah lebih cocok untuk pergi menuju penjelmaan di alam berbentuk, dan untuk para Arahant akan mencapai nibbāna akhir. Mengapakah? Karena tidak mungkin mereka akan mengalami kemunduran. Dalam alam berbentuk dan alam tanpa bentuk, semuanya akan hidup seumur hidup mereka. Para pemasuk-arus dan yang-kembali-sekali yang terlahir kembali di alam berbentuk tidak akan kembali ke alam ini, melainkan mencapai nibbāna akhir di sana. Mereka disebut ‘yang-tidak-kembali jhāna.’

    “Tetapi apakah yang menentukan [kelahiran kembali] bagi mereka yang memperoleh delapan pencapaian meditatif? Jhāna yang mana mereka kuasai yang menentukan, karena mereka terlahir kembali sesuai apa pun yang mereka kuasai. Jika mereka menguasai semuanya, apakah yang menentukan [kelahiran kembali mereka]? Pencapaian landasan bukan-persepsi-juga-bukan-bukan-persepsi, karena mereka pasti terlahir kembali di dalam landasan bukan-persepsi-juga-bukan-bukan-persepsi. Bagi para siswa mulia yang terlahir kembali di antara sembilan alam brahma, kelahiran kembali dapat terjadi di sana [di alam yang sama] atau di alam yang lebih tinggi, tetapi tidak di alam yang lebih rendah. Tetapi kaum duniawi mungkin terlahir kembali di alam yang sama, di alam yang lebih tinggi, atau di alam yang lebih rendah. Para siswa mulia di lima alam murni dan empat alam tanpa bentuk mungkin terlahir kembali di alam yang sama atau di alam yang lebih tinggi. Seorang yang-tidak-kembali yang terlahir kembali di alam jhāna pertama memurnikan sembilan alam brahma dan mencapai nibbāna akhir sewaktu berdiam di puncaknya. Tiga alam deva yang disebut ‘kondisi penjelmaan yang terbaik’: alam berbuah besar (vehapphala), Akaniṭṭha, dan landasan bukan-persepsi-juga-bukan-bukan-persepsi. Para yang-tidak-kembali yang terlahir di ketiga kondisi ini tidak naik lebih tinggi, juga tidak turun lebih rendah, melainkan mencapai nibbāna akhir di sana.”