“Para bhikkhu, ada tiga kegagalan ini. Apakah tiga ini? Kegagalan dalam perilaku bermoral, kegagalan dalam pikiran, dan kegagalan dalam pandangan.

(1) “Dan apakah kegagalan dalam perilaku bermoral? Di sini, seseorang membunuh, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan perbuatan seksual yang salah, berbicara bohong, mengucapkan ucapan memecah belah, berbicara kasar, dan bergosip. Ini disebut kegagalan dalam perilaku bermoral.

(2) “Dan apakah kegagalan dalam pikiran? Di sini, seseorang penuh kerinduan dan memiliki pikiran berniat buruk. Ini disebut kegagalan dalam pikiran.

(3) “Dan apakah kegagalan dalam pandangan? Di sini, seseorang menganut pandangan salah dan memiliki perspektif tidak benar sebagai berikut: ‘Tidak ada yang diberikan, tidak ada yang dikorbankan, tidak ada yang dipersembahkan; tidak ada [269] buah atau akibat dari perbuatan baik dan buruk; tidak ada dunia ini, tidak ada dunia lain; tidak ada ibu, tidak ada ayah; tidak ada makhluk-makhluk yang terlahir secara spontan; tidak ada di dunia ini para petapa dan brahmana yang berperilaku baik dan menjalani praktik yang baik yang, setelah merealisasikan dunia ini dan dunia lain untuk diri mereka sendiri melalui pengetahuan langsung, kemudian mengajarkannya kepada orang lain.’ Ini disebut kegagalan dalam pandangan.

“Karena kegagalan dalam perilaku bermoral, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, makhluk-makhluk terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan yang buruk, di alam rendah, di neraka. Karena kegagalan dalam pikiran … Karena kegagalan dalam pandangan, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, makhluk-makhluk terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan yang buruk, di alam rendah, di neraka.

“Ini, para bhikkhu, adalah ketiga kegagalan itu.

“Ada, para bhikkhu, tiga keberhasilan ini. Apakah tiga ini? Keberhasilan dalam perilaku bermoral, keberhasilan dalam pikiran, dan keberhasilan dalam pandangan.

(1) “Dan apakah keberhasilan dalam perilaku bermoral? Di sini, seseorang menghindari membunuh, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari melakukan perbuatan seksual yang salah, menghindari kebohongan, menghindari ucapan memecah belah, menghindari berbicara kasar, dan menghindari bergosip. Ini disebut keberhasilan dalam perilaku bermoral.

(2) “Dan apakah keberhasilan dalam pikiran? Di sini, seseorang adalah tanpa kerinduan dan memiliki pikiran yang bebas dari niat buruk. Ini disebut keberhasilan dalam pikiran.

(3) “Dan apakah keberhasilan dalam pandangan? Di sini, seseorang menganut pandangan benar dan memiliki perspektif benar sebagai berikut: ‘Ada yang diberikan, ada yang dikorbankan, dan ada yang dipersembahkan; ada buah atau akibat dari perbuatan baik dan buruk; ada dunia ini dan dunia lain; ada ibu dan ayah; ada makhluk-makhluk yang terlahir secara spontan; ada di dunia ini para petapa dan brahmana yang berperilaku baik dan menjalani praktik yang baik yang, setelah merealisasikan dunia ini dan dunia lain untuk diri mereka sendiri melalui pengetahuan langsung, kemudian mengajarkannya kepada orang lain.’ Ini disebut keberhasilan dalam pandangan. [270]

“Karena keberhasilan dalam perilaku bermoral, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, makhluk-makhluk terlahir kembali di alam tujuan yang baik, di alam surga. Karena keberhasilan dalam pikiran … Karena keberhasilan dalam pandangan, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, makhluk-makhluk terlahir kembali di alam tujuan yang baik, di alam surga.

“Ini, para bhikkhu, adalah ketiga keberhasilan itu.”