“Para bhikkhu, ada dua jenis kebahagiaan ini. Apakah dua ini? Kebahagiaan seorang umat awam dan kebahagiaan seorang yang telah meninggalkan keduniawian [menuju kehidupan tanpa rumah].1 Ini adalah kedua jenis kebahagiaan itu. Di antara kedua jenis kebahagiaan ini, kebahagiaan dari seorang yang telah meninggalkan keduniawian adalah yang terunggul.”

“Para bhikkhu, ada dua jenis kebahagiaan ini. Apakah dua ini? Kebahagiaan indria dan kebahagiaan meninggalkan keduniawian. Ini adalah kedua jenis kebahagiaan itu. Di antara kedua jenis kebahagiaan ini, kebahagiaan meninggalkan keduniawian adalah yang terunggul.”

“Para bhikkhu, ada dua jenis kebahagiaan ini. Apakah dua ini? Kebahagiaan yang terikat dengan perolehan dan kebahagiaan tanpa perolehan. Ini adalah kedua jenis kebahagiaan itu. Di antara kedua jenis kebahagiaan ini, kebahagiaan tanpa perolehan adalah yang terunggul.”2

“Para bhikkhu, ada dua jenis kebahagiaan ini. Apakah dua ini? [81] Kebahagiaan dengan noda-noda dan kebahagiaan tanpa noda-noda. Ini adalah kedua jenis kebahagiaan itu. Di antara kedua jenis kebahagiaan ini, kebahagiaan tanpa noda-noda adalah yang terunggul.”

“Para bhikkhu, ada dua jenis kebahagiaan ini. Apakah dua ini? Kebahagiaan duniawi dan kebahagiaan spiritual.3 Ini adalah kedua jenis kebahagiaan itu. Di antara kedua jenis kebahagiaan ini, kebahagiaan spiritual adalah yang terunggul.”

“Para bhikkhu, ada dua jenis kebahagiaan ini. Apakah dua ini? Kebahagiaan mulia dan kebahagiaan tidak mulia. Ini adalah kedua jenis kebahagiaan itu. Di antara kedua jenis kebahagiaan ini, kebahagiaan mulia adalah yang terunggul.”

“Para bhikkhu, ada dua jenis kebahagiaan ini. Apakah dua ini? Kebahagiaan jasmani dan kebahagiaan batin. Ini adalah kedua jenis kebahagiaan itu. Di antara kedua jenis kebahagiaan ini, kebahagiaan batin adalah yang terunggul.”

“Para bhikkhu, ada dua jenis kebahagiaan ini. Apakah dua ini? Kebahagiaan yang disertai dengan sukacita dan kebahagiaan tanpa sukacita. Ini adalah kedua jenis kebahagiaan itu. Di antara kedua jenis kebahagiaan ini, kebahagiaan tanpa sukacita adalah yang terunggul.”4

“Para bhikkhu, ada dua jenis kebahagiaan ini. Apakah dua ini? Kebahagiaan yang menyenangkan dan kebahagiaan keseimbangan. Ini adalah kedua jenis kebahagiaan itu. Di antara kedua jenis kebahagiaan ini, kebahagiaan keseimbangan adalah yang terunggul.”5

“Para bhikkhu, ada dua jenis kebahagiaan ini. Apakah dua ini? Kebahagiaan konsentrasi dan kebahagiaan tanpa konsentrasi. Ini adalah kedua jenis kebahagiaan itu. Di antara kedua jenis kebahagiaan ini, kebahagiaan konsentrasi adalah yang terunggul.”

“Para bhikkhu, ada dua jenis kebahagiaan ini. Apakah dua ini? Kebahagiaan yang berdasarkan pada adanya sukacita dan kebahagiaan yang berdasarkan pada ketiadaan sukacita. [82] Ini adalah kedua jenis kebahagiaan itu. Di antara kedua jenis kebahagiaan ini, kebahagiaan yang berdasarkan pada ketiadaan sukacita adalah yang terunggul.6

“Para bhikkhu, ada dua jenis kebahagiaan ini. Apakah dua ini? Kebahagiaan yang berdasarkan pada kenikmatan dan kebahagiaan yang berdasarkan pada keseimbangan. Ini adalah kedua jenis kebahagiaan itu. Di antara kedua jenis kebahagiaan ini, kebahagiaan yang berdasarkan pada keseimbangan adalah yang terunggul.”

“Para bhikkhu, ada dua jenis kebahagiaan ini. Apakah dua ini? Kebahagiaan yang berdasarkan pada bentuk dan kebahagiaan yang berdasarkan pada tanpa-bentuk. Ini adalah kedua jenis kebahagiaan itu. Di antara kedua jenis kebahagiaan ini, kebahagiaan yang berdasarkan pada tanpa-bentuk adalah yang terunggul.”7


Catatan Kaki
  1. Saya bersama Be membaca pabbajitasukhaṃ, bukan seperti Ce dan Ee pabbajjāsukhaṃ. Perbedaan antara gihī dan pabbajita tampak lebih logis daripada perbedaan antara gihī dan pabbajjā.
  2. Upadhisukha dan nirupadhisukha. Tentang upadhi, baca p. 500, catatan 219. Mp mengemas yang pertama sebagai kebahagiaan di tiga alam (alam indria, alam berbentuk, dan alam tanpa bentuk) dan mengemas yang terakhir sebagai kebahagiaan yang melampaui duniawi (lokuttarasukha).
  3. Perbedaannya adalah antara sāmisaṃ sukhaṃ, yang didefinisikan oleh Mp sebagai kebahagiaan yang kotor yang mengarah kembali pada lingkaran [penjelmaan], dan nirāmisaṃ sukhaṃ, kebahagiaan tidak kotor yang mengarah pada akhir lingkaran.
  4. Mp: “Kebahagiaan dengan sukacita (sappītikaṃ sukhaṃ) adalah kebahagiaan jhāna pertama dan ke dua. Kebahagiaan tanpa sukacita (nippītikaṃ sukhaṃ) adalah kebahagiaan jhāna ke tiga dan ke empat.”
  5. Mp. “Kebahagiaan yang menyenangkan (sātasukha) adalah kebahagiaan tiga jhāna pertama. Kebahagiaan keseimbangan (upekkhāsukha) adalah kebahagiaan jhāna ke empat.”
  6. Sappītikārammaṇaṃ sukhaṃ dan nippītikārammaṇaṃ sukhaṃ. Agak meragukan bahwa, dalam empat Nikāya, kata ārammaṇa selalu yang bermakna “objek kesadaran” dalam makna umum seperti dalam Abhidhamma dan komentar. Makna aslinya lebih mendekati “landasan” atau “penyokong.” Kadang-kadang, seperti dalam SN 34:5, III 266, kata ini menunjukkan suatu “objek meditasi.” Seiring perjalanan waktu, makna ārammaṇa pasti telah meluas dari “objek meditasi” menjadi “objek kesadaran” dalam makna umum, tetapi sepengetahuan saya perkembangan ini terjadi setelah masa ketika Nikāya-nikāya disusun.
  7. Mp: “Kebahagiaan yang berdasarkan pada bentuk (rūpārammaṇaṃ sukhaṃ) adalah yang berdasarkan pada jhāna keempat dari alam berbentuk, atau jhāna manapun yang muncul dengan berdasarkan pada itu. Yang berdasarkan pada tanpa-bentuk (arūpārammaṇaṃ sukhaṃ) adalah yang berdasarkan pada jhāna tanpa bentuk, atau jhāna manapun yang muncul dengan berdasarkan pada tanpa-bentuk.”