“Para bhikkhu, ada dua jenis kumpulan. Apakah dua ini? Kumpulan dangkal dan kumpulan dalam.

“Dan apakah kumpulan dangkal? Kumpulan di mana para bhikkhu gelisah, pongah, tinggi hati, banyak bicara, berbicara tanpa arah, dengan perhatian yang kacau, tanpa pemahaman jernih, tidak terkonsentrasi, dengan pikiran mengembara, dengan organ-organ indria yang kendur, disebut kumpulan dangkal.

“Dan apakah kumpulan dalam? Kumpulan di mana para bhikkhu tidak gelisah, tidak pongah, tidak tinggi hati, tidak banyak bicara, tidak berbicara tanpa arah, melainkan dengan perhatian yang kokoh, memahami dengan jernih, terkonsentrasi, dengan pikiran terpusat, dengan organ-organ indria yang terkendali, disebut kumpulan dalam.

“Ini, para bhikkhu, adalah kedua jenis kumpulan itu. Di antara kedua jenis ini, kumpulan dalam adalah yang terunggul.”1

“Para bhikkhu, ada dua jenis kumpulan ini. Apakah dua ini? Kumpulan yang terpecah dan kumpulan yang harmonis.

“Dan apakah kumpulan yang terpecah? Kumpulan di mana para bhikkhu terbiasa berdebat dan bertengkar dan jatuh dalam perselisihan, saling menusuk satu sama lain dengan kata-kata tajam, disebut kumpulan yang terpecah.2

“Dan apakah kumpulan yang harmonis? Kumpulan di mana para bhikkhu berdiam dalam kerukunan, dengan harmonis, tanpa perselisihan, bercampur bagaikan susu dan air, saling menatap satu sama lain dengan tatapan kasih sayang, disebut kumpulan yang harmonis.

“Ini, para bhikkhu, adalah kedua jenis kumpulan itu. Di antara kedua jenis ini, kumpulan yang harmonis adalah yang terunggul.”

“Para bhikkhu, ada dua jenis kumpulan ini. Apakah dua ini? Kumpulan orang-orang rendah dan kumpulan orang-orang unggul. [71]

“Dan apakah kumpulan orang-orang rendah? Di sini, dalam kumpulan jenis ini para bhikkhu senior hidup mewah dan menjadi mengendur, menjadi pelopor dalam kemerosotan, mengabaikan tugas keterasingan; mereka tidak membangkitkan kegigihan untuk mencapai apa yang belum dicapai, untuk memperoleh apa yang belum diperoleh, untuk merealisasikan apa yang belum direalisasikan. [Mereka dalam] generasi berikutnya mengikuti jejak mereka.3 Mereka juga hidup mewah dan menjadi mengendur, menjadi pelopor dalam kemerosotan, mengabaikan tugas keterasingan; mereka juga tidak membangkitkan kegigihan untuk mencapai apa yang belum dicapai, untuk memperoleh apa yang belum diperoleh, untuk merealisasikan apa yang belum direalisasikan. Ini disebut kumpulan orang-orang rendah.

“Dan apakah kumpulan orang-orang unggul? Di sini, dalam kumpulan jenis ini para bhikkhu senior tidak hidup mewah dan tidak menjadi mengendur, dan membuang kebiasaan-kebiasaan lama dan menjadi pelopor dalam keterasingan; mereka membangkitkan kegigihan untuk mencapai apa yang belum dicapai, untuk memperoleh apa yang belum diperoleh, untuk merealisasikan apa yang belum direalisasikan. [Mereka dalam] generasi berikutnya mengikuti teladan mereka. Mereka juga tidak hidup mewah dan tidak menjadi mengendur, dan membuang kebiasaan-kebiasaan lama dan menjadi pelopor dalam keterasingan; mereka juga membangkitkan kegigihan untuk mencapai apa yang belum dicapai, untuk memperoleh apa yang belum diperoleh, untuk merealisasikan apa yang belum direalisasikan. Ini disebut kumpulan orang-orang unggul.

“Ini, para bhikkhu, adalah kedua jenis kumpulan itu. Di antara kedua jenis ini, kumpulan orang-orang unggul adalah yang terunggul.”4

“Para bhikkhu, ada dua jenis kumpulan ini. Apakah dua ini? Kumpulan orang-orang mulia dan kumpulan orang-orang tidak mulia.

“Dan apakah kumpulan orang-orang tidak mulia? Kumpulan di mana para bhikkhu tidak memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah penderitaan’; tidak memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah asal-mula penderitaan’; tidak memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya penderitaan’; tidak memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan’ disebut kumpulan orang-orang tidak mulia.

“Dan apakah kumpulan orang-orang mulia? Kumpulan di mana para bhikkhu memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah penderitaan’; memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah asal-mula penderitaan’; [72] memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya penderitaan’; memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan’ disebut kumpulan orang-orang mulia.5

“Ini, para bhikkhu, adalah kedua jenis kumpulan itu. Di antara kedua jenis ini, kumpulan orang-orang mulia adalah yang terunggul.”

“Para bhikkhu, ada dua jenis kumpulan ini. Apakah dua ini? Ampas dari suatu kumpulan dan krim dari suatu kumpulan.

“Dan apakah ampas dari suatu kumpulan? Kumpulan di mana para bhikkhu memasuki jalan salah karena keinginan, kebencian, delusi, atau ketakutan disebut ampas dari suatu kumpulan.6

“Dan apakah krim dari suatu kumpulan? Kumpulan di mana para bhikkhu tidak memasuki jalan salah karena keinginan, kebencian, delusi, atau ketakutan disebut krim dari suatu kumpulan.

“Ini, para bhikkhu, adalah kedua jenis kumpulan itu. Di antara kedua jenis ini, krim dari suatu kumpulan adalah yang terunggul.”

“Para bhikkhu, ada dua jenis kumpulan ini. Apakah dua ini? Kumpulan yang terlatih dalam pembicaraan omong-kosong, bukan dalam tanya jawab, dan kumpulan yang terlatih dalam tanya jawab, bukan dalam pembicaraan omong-kosong.7

“Dan apakah kumpulan yang terlatih dalam pembicaraan omong-kosong, bukan dalam tanya jawab? Di sini, dalam kumpulan jenis ini, ketika khotbah-khotbah yang dibabarkan oleh Sang Tathāgata sedang dilafalkan yang dalam, mendalam secara makna, melampaui-keduniawian, berhubungan dengan kekosongan, para bhikkhu tidak ingin mendengarkannya, tidak menyimaknya, atau mengarahkan pikiran mereka untuk memahaminya; mereka tidak berpikir bahwa ajaran-ajaran itu harus dipelajari dan dipahami. Tetapi ketika khotbah-khotbah itu sedang dilafalkan yang hanya sekedar syair-syair yang digubah oleh para penyair, indah dalam kata-kata, diciptakan oleh pihak luar, dibabarkan oleh para siswa, maka mereka ingin mendengarnya, menyimaknya, dan mengarahkan pikiran mereka untuk memahaminya; mereka berpikir bahwa ajaran-ajaran itu harus dipelajari dan dipahami.8 Dan setelah mempelajari ajaran-ajaran itu, mereka tidak saling bertanya jawab satu sama lain tentang ajaran-ajaran itu atau memeriksanya secara seksama, [73] [dengan bertanya]: ‘Bagaimana ini? Apakah makna dari hal ini?’ Mereka tidak mengungkapkan [kepada orang lain] apa yang samar-samar dan tidak menjelaskan apa yang tidak jelas, atau menghapuskan kebingungan sehubungan dengan banyak hal yang membingungkan. Ini disebut kumpulan yang terlatih dalam pembicaraan omong-kosong, bukan dalam tanya jawab.

“Dan apakah kumpulan yang terlatih dalam tanya jawab, bukan dalam pembicaraan omong-kosong? Di sini, ketika khotbah-khotbah itu sedang dilafalkan yang hanya sekedar syair-syair yang digubah oleh para penyair, indah dalam kata-kata, diciptakan oleh pihak luar, dibabarkan oleh para siswa, maka mereka tidak ingin mendengarnya, tidak menyimaknya, dan tidak mengarahkan pikiran mereka untuk memahaminya; mereka tidak berpikir bahwa ajaran-ajaran itu harus dipelajari dan dipahami. Tetapi ketika khotbah-khotbah yang dibabarkan oleh Sang Tathāgata sedang dilafalkan yang dalam, mendalam secara makna, melampaui-keduniawian, berhubungan dengan kekosongan, para bhikkhu ingin mendengarkannya, menyimaknya, dan mengarahkan pikiran mereka untuk memahaminya; mereka berpikir bahwa ajaran-ajaran itu harus dipelajari dan dipahami. Dan setelah mempelajari ajaran-ajaran itu, mereka saling bertanya jawab satu sama lain tentang ajaran-ajaran itu dan memeriksanya secara seksama, [dengan bertanya]: ‘Bagaimana ini? Apakah makna dari hal ini?’ Mereka mengungkapkan [kepada orang lain] apa yang samar-samar dan menjelaskan apa yang tidak jelas, dan menghapuskan kebingungan sehubungan dengan banyak hal yang membingungkan. Ini disebut kumpulan yang terlatih dalam tanya jawab, bukan dalam pembicaraan omong-kosong.

“Ini, para bhikkhu, adalah kedua jenis kumpulan itu. Di antara kedua jenis ini, kumpulan yang terlatih dalam tanya jawab, bukan dalam pembicaraan omong-kosong, adalah yang terunggul.”

“Para bhikkhu, ada dua jenis kumpulan ini. Apakah dua ini? Kumpulan yang menghargai hal-hal duniawi, bukan Dhamma sejati, dan kumpulan yang menghargai Dhamma sejati, bukan hal-hal duniawi.9

“Dan apakah kumpulan yang menghargai hal-hal duniawi, bukan Dhamma sejati? Di sini, dalam kumpulan jenis ini para bhikkhu saling memuji satu sama lain di hadapan para perumah tangga berjubah putih, dengan mengatakan: ‘Bhikkhu itu adalah seorang yang terbebaskan dalam kedua cara; yang itu adalah seorang yang terbebaskan melalui kebijaksanaan; [74] yang itu adalah seorang saksi-tubuh; yang itu adalah seorang yang mencapai pandangan; yang itu adalah seorang yang terbebaskan melalui keyakinan; yang itu adalah seorang pengikut-Dhamma; yang itu adalah seorang pengikut-keyakinan; yang itu adalah seorang yang bermoral dan berkarakter baik; yang itu adalah seorang yang tidak bermoral dan berkarakter buruk.’10 Dengan cara demikian mereka menerima perolehan, yang mereka gunakan dengan terikat padanya, tergila-gila padanya, secara membuta terserap di dalamnya, tidak melihat bahaya di dalamnya, tidak memahami jalan membebaskan diri. Ini disebut kumpulan yang menghargai hal-hal duniawi, bukan Dhamma sejati.

“Dan apakah kumpulan yang menghargai Dhamma sejati, bukan hal-hal duniawi? Di sini, dalam kumpulan jenis ini para bhikkhu tidak saling memuji satu sama lain di hadapan para perumah tangga berjubah putih, dengan mengatakan: ‘Bhikkhu itu adalah seorang yang terbebaskan dalam kedua cara … yang itu adalah seorang yang tidak bermoral dan berkarakter buruk.’ Dengan cara demikian mereka menerima perolehan, yang mereka gunakan dengan tidak terikat padanya, tidak tergila-gila padanya, tidak secara membuta terserap di dalamnya, melihat bahaya di dalamnya, memahami jalan membebaskan diri. Ini disebut kumpulan yang menghargai Dhamma sejati, bukan hal-hal duniawi.

“Ini, para bhikkhu, adalah kedua jenis kumpulan itu. Di antara kedua jenis ini, kumpulan yang menghargai Dhamma sejati, bukan hal-hal duniawi, adalah yang terunggul.”

“Para bhikkhu, ada dua jenis kumpulan ini. Apakah dua ini? Kumpulan yang tidak bajik dan kumpulan yang bajik.

“Dan apakah kumpulan yang tidak bajik? Di sini, dalam kumpulan ini tindakan disiplin yang bertentangan dengan Dhamma dijalankan dan tindakan disiplin yang sesuai Dhamma tidak dijalankan; tindakan disiplin yang bertentangan dengan disiplin dijalankan dan tindakan disiplin yang sesuai disiplin tidak dijalankan. Tindakan disiplin yang bertentangan dengan Dhamma di jelaskan dan tindakan disiplin yang sesuai Dhamma tidak dijelaskan; tindakan disiplin yang bertentangan dengan disiplin dijelaskan dan tindakan disiplin yang sesuai disiplin tidak dijelaskan. Ini, para bhikkhu, disebut kumpulan yang tidak bajik. Adalah karena tidak bajik maka dalam kumpulan ini tindakan disiplin yang bertentangan dengan Dhamma dijalankan … [75] … dan tindakan disiplin yang sesuai dengan disiplin tidak dijelaskan.11

“Dan apakah kumpulan yang bajik? Di sini, dalam kumpulan ini tindakan disiplin yang sesuai Dhamma dijalankan dan tindakan disiplin yang bertentangan dengan Dhamma tidak dijalankan; tindakan disiplin yang sesuai disiplin dijalankan dan tindakan disiplin yang bertentangan dengan disiplin tidak dijalankan. Tindakan disiplin yang sesuai Dhamma di jelaskan dan tindakan disiplin yang bertentangan Dhamma tidak dijelaskan; tindakan disiplin yang sesuai disiplin dijelaskan dan tindakan disiplin yang bertentangan dengan disiplin tidak dijelaskan. Ini, para bhikkhu, disebut kumpulan yang bajik. Adalah karena bajik maka dalam kumpulan ini tindakan disiplin yang sesuai Dhamma dijalankan … [75] … dan tindakan disiplin yang bertentangan dengan disiplin tidak dijelaskan.

“Ini, para bhikkhu, adalah kedua jenis kumpulan itu. Di antara kedua jenis ini, kumpulan yang bajik adalah yang terunggul.”

“Para bhikkhu, ada dua jenis kumpulan ini. Apakah dua ini? Kumpulan yang bertindak bertentangan dengan Dhamma dan kumpulan yang bertindak sesuai Dhamma … [seperti pada 2:49] …

“Ini, para bhikkhu, adalah kedua jenis kumpulan itu. Di antara kedua jenis ini, kumpulan yang bertindak sesuai Dhamma adalah yang terunggul.”

“Para bhikkhu, ada dua jenis kumpulan ini. Apakah dua ini? Kumpulan yang membicarakan bukan-Dhamma dan kumpulan yang membicarakan Dhamma.

“Dan apakah kumpulan yang membicarakan bukan-Dhamma? Di sini, dalam kumpulan jenis ini para bhikkhu terlibat dalam suatu persoalan disiplin,12 satu yang mungkin sesuai Dhamma atau yang bertentangan dengan Dhamma. Setelah terlibat dalam persoalan itu, mereka tidak saling meyakinkan satu sama lain dan tidak membiarkan diri mereka diyakinkan; mereka tidak berunding dan tidak menerima perundingan. Tanpa adanya kekuatan tindakan saling meyakinkan dan kekuatan perundingan, [76] tidak bersedia melepaskan pendapat mereka, mereka secara keliru menggenggam persoalan disiplin tersebut bahkan lebih erat lagi, dan dengan melekati posisi mereka, mereka menyatakan: ‘Hanya ini yang benar; yang lainnya salah.’ Ini disebut kumpulan yang membicarakan bukan-Dhamma.

“Dan apakah kumpulan yang membicarakan Dhamma? Di sini, dalam kumpulan jenis ini para bhikkhu terlibat dalam suatu persoalan disiplin, satu yang mungkin sesuai Dhamma atau yang bertentangan dengan Dhamma. Setelah terlibat dalam persoalan itu, mereka saling meyakinkan satu sama lain atau membiarkan diri mereka diyakinkan; mereka berunding dan menerima perundingan. Dengan adanya kekuatan tindakan saling meyakinkan dan kekuatan perundingan, bersedia melepaskan pendapat mereka, mereka tidak secara keliru menggenggam persoalan disiplin tersebut bahkan lebih erat lagi, juga tidak dengan melekati posisi mereka, mereka menyatakan: ‘Hanya ini yang benar; yang lainnya salah.’ Ini disebut kumpulan yang membicarakan Dhamma.

“Ini, para bhikkhu, adalah kedua jenis kumpulan itu. Di antara kedua jenis ini, kumpulan yang membicarakan Dhamma adalah yang terunggul.”


Catatan Kaki
  1. Di sini dan sutta berikutnya teks menggunakan etadaggaṃ.
  2. Seperti catatan PED, vagga Pāli mewakili dua kata Skt yang berbeda: varga, bermakna “kelompok,” seperti kelompok sutta-sutta; dan vyagra, lawan dari samagra, “terbagi” sebagai lawan dari “harmonis.” Di sini jelas vagga yang ke dua yang dimaksudkan.
  3. Diṭṭhānugatiṃ āpajjati. Lit., “mengikuti sesuai dengan apa yang terlihat (diṭṭha).” Ini bukan berarti “mengikuti sesuai pandangan mereka (diṭṭhī)” Mp: “Dengan melakukan apa yang dilakukan oleh penahbis dan guru-guru mereka, mereka mengikuti sesuai dengan praktik yang mereka lihat.”
  4. Dalam Pāli yang terunggul dari ini (etadaggaṃ) adalah kumpulan orang-orang unggul (aggavatī parisā).
  5. Mp: “Keempat jalan dan empat buah dibahas melalui empat kebenaran.”
  6. Ini adalah empat motif salah, disebutkan demikian pada 4:17-20.
  7. Untuk makna ukkācita saya mengikuti DOP, p. 387, yang mendefinisikannya sebagai “membual, ucapan kosong,” dan ukkācitavinīta sebagai “terlatih dalam ucapan kosong.” Saya menggunakan “pembicaraan omong-kosong” daripada “ucapan kosong,” karena ucapan yang dianggap layak di sini pastilah ucapan tentang kekosongan. Vibh 352 (Be §862) memasukkan ukkācanā dalam sebuah definisi lapanā, yang menyiratkan bahwa ukkācanā adalah alat untuk membujuk. Baca juga Vism 27, 19-22, Ppn 1.74. Dalam sutta sekarang ini ukkācita tampaknya memiliki nuansa berbeda, mungkin pembicaraan yang bagus namun kosong.
  8. Juga pada SN 20:7, II 267, 6-15. Untuk “berhubungan dengan kekosongan” (suññatāpaṭisaṃyuttā), Mp mengatakan “Seperti Khotbah-khotbah yang Berkelompok tentang Yang Tak Terkondisi, hanya mengungkapkan fenomena-fenomena yang kosong dari makhluk” (sattasuññaṃ dhammamattameva pakāsakā asaṅkhatasaṃyuttasadisā). Karena Asaṅkhatasaṃyutta (SN bab 43) tidak mengatakan “hanya fenomena-fenomena,” maka mungkin Mp sebenarnya mengartikan aḷāyatanasaṃyutta (khususnya SN 35:85, IV 54).
  9. Mp: “Yang menghargai hal-hal duniawi (āmisagaru): seorang yang menghargai empat benda kebutuhan dan menganggap Dhamma yang melampaui keduniawian sebagai rendah. Yang menghargai Dhamma sejati (saddhammagaru): seorang yang menghargai sembilan dhamma yang melampaui keduniawian (empat jalan, empat buah, dan nibbāna), dan menganggap empat benda kebutuhan sebagai rendah.”
  10. Tujuh pertama adalah para siswa yang telah mencapai jalan dan buah yang melampaui keduniawian. Untuk penjelasan formal, baca MN 70.14-21, I 477-79. Dua yang terakhir adalah orang baik dan orang jahat yang belum mencapai sang jalan.
  11. Be tidak mencantumkan kedua kalimat ini berturut-turut, “karena tidak bajik” dan (dibawahnya) “karena bajik.” Keduanya muncul dalam Ce dan Ee.
  12. Adhikaraṇaṃ. Mp: “Empat jenis persoalan disiplin, perselisihan dan seterusnya.” Baca p. 502, catatan 231 di atas.