“Para bhikkhu, Aku akan mengajarkan kepada kalian tentang bidang orang jahat dan bidang orang baik. Dengarkan dan perhatikanlah, Aku akan berbicara.”

“Baik, Bhante,” para bhikkhu itu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

“Dan apakah bidang orang jahat? Seorang yang jahat tidak bersyukur dan tidak berterima kasih. Karena tidak bersyukur dan tidak berterima kasih dipuji oleh orang jahat. Tidak bersyukur dan tidak berterima kasih seluruhnya merupakan bidang orang jahat.

“Dan apakah bidang orang baik? Seorang yang baik bersyukur dan berterima kasih. Karena bersyukur dan berterima kasih dipuji oleh orang baik. Bersyukur dan berterima kasih seluruhnya merupakan bidang orang baik.”

“Para bhikkhu, ada dua individu yang tidak dapat dengan mudah dibalas. Apakah dua ini? Ibu dan ayah seseorang.

“Bahkan jika seseorang menggendong ibunya di satu bahunya [62] dan ayahnya di bahu lainnya, dan [selagi ia melakukan demikian] ia memiliki umur kehidupan selama seratus tahun, dan hidup selama seratus tahun; dan jika ia melayani mereka dengan cara meminyaki mereka dengan balsam, dengan cara memijat mereka, memandikan mereka, dan menggosok bagian-bagian tubuh mereka, dan mereka bahkan membuang kotoran dan air kencing mereka di sana, ia masih tetap belum cukup melakukan untuk kedua orangtuanya, juga belum membalas mereka. Bahkan jika ia mengangkat orangtuanya menjadi raja tertinggi dan penguasa di seluruh penjuru bumi ini yang berlimpah dengan tujuh pusaka, ia tetap masih belum cukup melakukan untuk kedua orangtuanya, juga belum membalas mereka. Karena alasan apakah? Orangtua adalah bantuan besar bagi anak-anak mereka; mereka membesarkan anak-anak mereka, memberi mereka makan, dan menunjukkan dunia ini kepada mereka.

“Tetapi, para bhikkhu, jika orangtuanya tidak berkeyakinan, ia mendorong, memantapkan, dan menegakkan mereka dalam keyakinan; jika, orangtuanya tidak bermoral, ia mendorong, memantapkan, dan menegakkan mereka dalam perilaku bermoral; jika orangtuanya adalah orang-orang kikir, ia mendorong, memantapkan, dan menegakkan mereka dalam kedermawanan; jika orangtuanya tidak bijaksana, ia mendorong, memantapkan, dan menegakkan mereka dalam kebijaksanaan: maka dengan cara demikian, ia telah cukup melakukan untuk orangtuanya, membalas mereka, dan melakukan lebih dari cukup untuk mereka.”1

Seorang brahmana mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan Beliau. Ketika mereka telah mengakhiri ramah tamah itu, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada Sang Bhagavā: “Apakah yang Guru Gotama ajarkan, apakah yang Beliau nyatakan?”

“Brahmana, Aku mengajarkan doktrin perbuatan dan doktrin tidak-berbuat.”2

“Tetapi dengan cara bagaimanakah Guru Gotama mengajarkan doktrin perbuatan dan doktrin tidak-berbuat?”

“Aku mengajarkan tidak-berbuat sehubungan dengan perbuatan buruk melalui jasmani, ucapan, dan pikiran; Aku mengajarkan tidak-berbuat sehubungan dengan banyak jenis kualitas buruk yang tidak bermanfaat. Aku mengajarkan berbuat sehubungan dengan perbuatan baik melalui jasmani, ucapan, dan pikiran; Aku mengajarkan berbuat sehubungan dengan banyak jenis kualitas baik yang bermanfaat. Adalah dengan cara ini, Brahmana, Aku mengajarkan doktrin perbuatan dan doktrin tidak berbuat.”

“Bagus sekali, Guru Gotama! Bagus sekali, Guru Gotama! Guru Gotama telah menjelaskan Dhamma dalam banyak cara, seolah-olah menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang berpenglihatan baik dapat melihat bentuk-bentuk. Sekarang aku berlindung kepada Guru Gotama, kepada Dhamma, dan kepada Saṅgha para bhikkhu. Sudilah Guru Gotama menganggapku sebagai seorang umat awam yang telah berlindung sejak hari ini hingga seumur hidup.”

Perumah tangga Anāthapiṇḍika mendatangi Sang Bhagavā, [63] bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan berkata kepada Beliau:

“Siapakah di dunia ini, Bhante, yang layak menerima persembahan, dan ke manakah suatu pemberian diberikan?”

“Ada, perumah tangga, dua di dunia ini yang layak menerima persembahan: yang masih berlatih dan yang melampaui latihan.3 Ini adalah dua di dunia ini yang layak menerima persembahan, dan ke mana suatu pemberian diberikan.”

Ini adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Setelah mengatakan ini, Yang Sempurna, Sang Guru, lebih jauh lagi mengatakan sebagai berikut:

“Di dunia ini, yang masih berlatih dan yang melampaui latihan
adalah layak menerima pemberian dari mereka yang mempraktikkan kedermawanan;
jujur dalam jasmani, ucapan, dan pikiran,
mereka adalah lahan bagi mereka yang mempraktikkan kedermawanan;
apa yang diberikan kepada mereka menghasilkan buah besar.”

Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Pada saat itu Yang Mulia Sāriputta sedang menetap di Sāvatthī di Istana Migāramātā di Taman Timur. Di sana Yang Mulia Sāriputta berkata kepada para bhikkhu: “Teman-teman, para bhikkhu!”4

“Teman!” para bhikkhu itu menjawab. Yang Mulia Sāriputta berkata sebagai berikut:

“Teman-teman, aku akan mengajarkan kepada kalian tentang orang yang terbelenggu secara internal dan orang yang terbelenggu secara eksternal.5 Dengarkan dan perhatikanlah, aku akan berbicara.”

“Baik, Teman,” para bhikkhu itu menjawab. Yang Mulia Sāriputta berkata sebagai berikut:

“Dan siapakah, teman-teman, orang yang terbelenggu secara internal? Di sini, seorang bhikkhu adalah bermoral; ia berdiam terkendali oleh Pātimokkha, memiliki perilaku dan tempat kunjungan yang baik, melihat bahaya bahkan dalam pelanggaran terkecil. Setelah menerima aturan-aturan latihan, ia berlatih di dalamnya. Dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia terlahir kembali dalam kelompok para deva tertentu. Meninggal dunia dari sana, ia adalah seorang yang-kembali, seorang yang kembali pada kondisi makhluk ini. Ia disebut orang yang terbelenggu secara internal, yang adalah seorang yang-kembali, seorang yang kembali pada kondisi makhluk ini.6 [64]

“Dan siapakah, teman, seorang yang terbelenggu secara eksternal? Di sini, seorang bhikkhu adalah bermoral; ia berdiam terkendali oleh Pātimokkha, memiliki perilaku dan tempat kunjungan yang baik, melihat bahaya bahkan dalam pelanggaran terkecil. Setelah menerima aturan-aturan latihan, ia berlatih di dalamnya. Setelah memasuki suatu kebebasan pikiran tertentu yang damai, ia berdiam di dalamnya.7 Dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia terlahir kembali dalam kelompok para deva tertentu. Meninggal dunia dari sana, ia adalah seorang yang-tidak-kembali, seorang yang tidak kembali pada kondisi makhluk ini. Ia disebut orang yang terbelenggu secara eksternal, yang adalah seorang yang-tidak-kembali, seorang yang tidak kembali pada kondisi makhluk ini.8

”Kemudian, teman-teman, seorang bhikkhu adalah bermoral … Setelah menerima aturan-aturan latihan, ia berlatih di dalamnya. Ia mempraktikkan kekecewaan pada kenikmatan indria, mempraktikkan kebosanan terhadapnya, dan mempraktikkan lenyapnya.9 Ia mempraktikkan kekecewaan pada kondisi-kondisi penjelmaan, mempraktikkan kebosanan terhadapnya, dan mempraktikkan lenyapnya.10 Ia mempraktikkan hancurnya ketagihan. Ia mempraktikkan hancurnya keserakahan.11 Dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia terlahir kembali dalam kelompok para deva tertentu. Meninggal dunia dari sana, ia adalah seorang yang-tidak-kembali, seorang yang tidak kembali pada kondisi makhluk ini. Ia disebut orang yang terbelenggu secara eksternal, yang adalah seorang yang-tidak-kembali, seorang yang tidak kembali pada kondisi makhluk ini.”12

Kemudian sejumlah para dewa yang berpikiran sama13 mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, berdiri di satu sisi, dan berkata kepada Beliau: “Bhante, di Istana Migāramātā di Taman Timur, Yang Mulia Sāriputta sedang mengajarkan kepada para bhikkhu tentang orang yang terbelenggu secara internal dan orang yang terbelenggu secara eksternal. Kumpulan itu tergetar. Baik sekali, Bhante, jika Sang Bhagavā sudi mendatangi Yang Mulia Sāriputta demi belas kasihan.”14 Sang Bhagavā menerima dengan berdiam diri.

Kemudian, bagaikan seorang kuat merentangkan lengannya yang tertekuk atau menekuk lengannya yang terentang, Sang Bhagavā lenyap dari Hutan Jeta dan muncul kembali di Istana Migāramātā di Taman Timur di hadapan Yang Mulia Sāriputta. Beliau duduk di tempat yang telah dipersiapkan. Yang Mulia Sāriputta [65] bersujud kepada Sang Bhagavā dan duduk di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada Yang Mulia Sāriputta.

“Di sini, Sāriputta, sejumlah para dewa yang berpikiran sama mendatangiKu, bersujud kepadaKu, berdiri di satu sisi, dan berkata: ‘Bhante, di Istana Migāramātā di Taman Timur, Yang Mulia Sāriputta sedang mengajarkan kepada para bhikkhu tentang orang yang terbelenggu secara internal dan orang yang terbelenggu secara eksternal. Kumpulan itu tergetar. Baik sekali, Bhante, jika Sang Bhagavā sudi mendatangi Yang Mulia Sāriputta demi belas kasihan.’

“Para dewa itu – berjumlah sepuluh, dua puluh, tiga puluh, empat puluh, lima puluh, dan bahkan enam puluh – berdiri di suatu bidang yang berukuran sekecil ujung jarum namun tidak saling bersinggungan satu sama lain. Mungkin, Sāriputta, engkau berpikir: ‘Pasti, di sana para dewa itu mengembangkan pikiran mereka sedemikian sehingga sepuluh … dan bahkan berjumlah enam puluh berdiri di satu bidang sekecil ujung jarum namun tidak saling bersinggungan satu sama lain.’ Tetapi hal ini tidak boleh dianggap demikian. Sebaliknya, adalah di sini para dewa itu yang terkembang pikirannya sedemikian sehingga sepuluh … dan bahkan berjumlah enam puluh berdiri di satu bidang sekecil ujung jarum namun tidak saling bersinggungan satu sama lain.15

“Oleh karena itu, Sāriputta, engkau harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami akan memiliki organ-organ indria yang damai dan pikiran yang damai.’16 Dengan cara demikianlah engkau harus berlatih. Ketika engkau memiliki organ-organ indria yang damai dan pikiran-pikiran yang damai, maka perbuatan jasmanimu akan menjadi damai, perbuatan ucapanmu akan menjadi damai, dan perbuatan pikiranmu akan menjadi damai. [Dengan berpikir:] ‘Kami akan memberikan hanya pelayanan yang damai kepada teman-teman kami para bhikkhu,’ dengan cara demikianlah, Sāriputta, engkau harus berlatih. Sāriputta, para pengembara sekte lain yang tidak mendengar khotbah Dhamma ini sungguh telah tersesat.”

Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Yang Mulia Mahākaccāna sedang menetap di Varaṇā di tepi danau Kaddama. [66] Kemudian Brahmana Ārāmadaṇḍa mendatangi Yang Mulia Mahākaccāna dan bertukar sapa dengannya. Ketika mereka telah mengakhiri ramah tamah itu, ia duduk di satu sisi dan berkata kepadanya: “Mengapakah, Guru Kaccāna, para khattiya berselisih dengan para khattiya, para brahmana berselisih dengan para brahmana, dan para perumah tangga berselisih dengan para perumah tangga?”

“Adalah, brahmana, karena keterikatan terhadap nafsu pada kenikmatan indria, terbelenggu [padanya], perasaan mendalam [padanya], obsesi [padanya], menggenggam erat-erat [padanya],17 maka para khattiya berselisih dengan para khattiya, para brahmana berselisih dengan para brahmana, dan para perumah tangga berselisih dengan para perumah tangga.”

“Mengapakah, Guru Kaccāna, para petapa berselisih dengan para petapa?”

“Adalah, brahmana, karena keterikatan terhadap nafsu pada pandangan-pandangan, terbelenggu [padanya], perasaan mendalam [padanya], obsesi [padanya], menggenggam erat-erat [padanya], maka para petapa berselisih dengan para petapa.”

“Kalau begitu adakah seseorang di dunia ini yang telah mengatasi keterikatan terhadap nafsu pada kenikmatan indria … menggenggam erat-erat [padanya], dan terhadap nafsu pada pandangan-pandangan … menggenggam erat-erat [padanya]?”

“Ada”

“Dan siapakah itu?”

“Ada, brahmana, sebuah kota di sebelah timur yang disebut Sāvatthī. Di sana Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna sedang menetap sekarang. Sang Bhagavā telah mengatasi keterikatan terhadap nafsu pada kenikmatan indria, belenggu [padanya], perasaan mendalam [padanya], obsesi [padanya], genggaman erat [padanya], [67] dan ia telah mengatasi keterikatan terhadap nafsu pada pandangan-pandangan, belenggu [padanya], perasaan mendalam [padanya], obsesi [padanya], genggaman erat [padanya].”

Ketika hal ini dikatakan, Brahmana Ārāmadaṇḍa bangkit dari duduknya, merapikan jubah atasnya di satu bahunya, menurunkan lututnya menyentuh tanah, dengan penuh hormat menyembah ke arah di mana Sang Bhagavā berada, dan mengucapkan ucapan inspiratif ini tiga kali: “Hormat kepada Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna. Hormat kepada Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna. Hormat kepada Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna. Sungguh, Sang Bhagavā itu telah mengatasi keterikatan trhadap nafsu pada kenikmatan indria, belenggu [padanya], perasaan mendalam [padanya], obsesi [padanya], genggaman erat [padanya] ini, dan Beliau telah mengatasi karena keterikatan terhadap nafsu pada pandangan-pandangan, belenggu [padanya], perasaan mendalam [padanya], obsesi [padanya], genggaman erat [padanya] ini.

“Bagus sekali, Guru Kaccāna! Bagus sekali, Guru Kaccāna! Guru Kaccāna telah menjelaskan Dhamma dalam banyak cara, seolah-olah menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang berpenglihatan baik dapat melihat bentuk-bentuk. Guru Kaccāna, Sekarang aku berlindung kepada Guru Gotama, kepada Dhamma, dan kepada Saṅgha para bhikkhu. Sudilah Guru Kaccāna menganggapku sebagai seorang umat awam yang telah berlindung sejak hari ini hingga seumur hidup.”

Pada suatu ketika Yang Mulia Mahākaccāna sedang menetap di Madhurā di Hutan Gundā. Kemudian Brahmana Kaṇḍarāyana mendatangi Yang Mulia Mahākaccāna dan saling bertukar sapa dengannya. Ketika mereka telah mengakhiri ramah tamah itu, ia duduk di satu sisi dan berkata kepadanya:

“Aku mendengar, Guru Kaccāna: ‘Petapa Kaccāna tidak menghormat para brahmana yang sepuh, tua, terbebani tahun demi tahun, berusia lanjut, sampai pada tahap akhir; ia juga tidak bangkit untuk mereka dan menawarkan tempat duduk kepada mereka.’ Hal ini sesungguhnya benar, karena Guru Kaccāna tidak menghormat para brahmana yang sepuh, tua, terbebani tahun demi tahun, berusia lanjut, sampai pada tahap akhir; ia juga tidak bangkit untuk mereka dan menawarkan tempat duduk kepada mereka. Hal ini tidak selayaknya, Guru Kaccāna.”18

“Brahmana, Sang Bhagavā, Sang Arahant, [68] Yang Tercerahkan Sempurna, yang mengetahui dan melihat, telah menyatakan tahap ketuaan dan tahap kemudaan. Walaupun seseorang berusia tua – delapan puluh, sembilan puluh, atau seratus tahun sejak lahir – jika ia menikmati kenikmatan indria, berdiam dalam kenikmatan indria,19 terbakar oleh demam kenikmatan indria, termakan oleh pikiran-pikiran kenikmatan indria, bersemangat dalam mencari kenikmatan indria, maka ia dianggap sebagai seorang tua dungu [yang kekanak-kanakan]. Tetapi walaupun seseorang berusia muda, seorang pemuda berambut hitam, memiliki berkah kemudaan, dalam tahap utama kehidupan, jika ia tidak menikmati kenikmatan indria, tidak berdiam dalam kenikmatan indria, tidak terbakar oleh demam kenikmatan indria, tidak termakan oleh pikiran-pikiran kenikmatan indria, tidak bersemangat dalam mencari kenikmatan indria, maka ia dianggap sebagai seorang sepuh bijaksana.”

Ketika hal ini dikatakan, Brahmana Kaṇḍarāyana bangkit dari duduknya, merapikan jubah atasnya di satu bahunya, dan bersujud dengan kepalanya di kaki para bhikkhu muda, [dengan berkata]: “Kalian yang sepuh berada pada tahap seorang yang sepuh; kami yang muda berada pada tahap seorang pemuda.

“Bagus sekali, Guru Kaccāna! … [seperti pada 2:37] … Sudilah Guru Kaccāna menganggapku sebagai seorang umat awam yang telah berlindung sejak hari ini hingga seumur hidup.”

“Para bhikkhu, ketika para perampok menjadi kuat, maka raja-raja menjadi lemah. Pada saat itu raja-raja tidak tenang ketika memasuki [ibu kotanya], atau ketika pergi keluar, atau ketika bepergian ke provinsi-provinsi jauh. Pada saat itu para brahmana dan para perumah tangga tidak tenang ketika memasuki [pemukiman-pemukiman dan desa-desa mereka], atau ketika pergi ke luar, atau ketika melakukan pekerjaan mereka di luar.

“Demikian pula, ketika para bhikkhu jahat menjadi kuat, maka para bhikkhu berperilaku baik menjadi lemah. Pada saat itu para bhikkhu berperilaku baik duduk diam di tengah-tengah Saṅgha20 atau mereka mendatangi21 provinsi-provinsi jauh. Hal ini adalah demi bahaya bagi banyak orang, demi ketidak-bahagiaan banyak orang, demi kehancuran, bahaya, dan penderitaan banyak orang, para deva dan manusia. [69]

“Para bhikkhu, ketika raja-raja menjadi kuat, maka para perampok menjadi lemah. Pada saat itu raja-raja dengan tenang ketika memasuki [ibu kotanya], atau ketika pergi keluar, atau ketika bepergian ke provinsi-provinsi jauh. Pada saat itu para brahmana dan para perumah tangga, juga, dengan tenang ketika memasuki [pemukiman-pemukiman dan desa-desa mereka], atau ketika pergi ke luar, atau ketika melakukan pekerjaan mereka di luar.

“Demikian pula, ketika para bhikkhu berperilaku baik menjadi kuat, maka para bhikkhu jahat menjadi lemah. Pada saat itu para bhikkhu jahat duduk diam di tengah-tengah Saṅgha atau mereka pergi ke wilayah-wilayah lain.22 Hal ini adalah demi kesejahteraan bagi banyak orang, demi kebahagiaan banyak orang, demi kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan banyak orang, para deva dan manusia.”

“Para bhikkhu, Aku tidak memuji praktik keliru dari dua [jenis orang]: seorang umat awam dan seorang yang meninggalkan keduniawian [menuju kehidupan tanpa rumah]. Apakah ia adalah seorang umat awam atau seorang yang meninggalkan keduniawian yang berlatih dengan keliru, karena praktik keliru, maka mereka tidak mencapai jalan sejati, Dhamma yang bermanfaat.24

“Para bhikkhu, Aku memuji praktik benar dari dua [jenis orang]: seorang umat awam dan seorang yang meninggalkan keduniawian. Apakah ia adalah seorang umat awam atau seorang yang meninggalkan keduniawian yang berlatih dengan benar, karena praktik benar, maka mereka mencapai jalan sejati, Dhamma yang bermanfaat.”

“Para bhikkhu, para bhikkhu itu yang mengabaikan makna dan Dhamma melalui khotbah-khotbah yang diperoleh dengan tidak benar yang kata-katanya mirip dengan [kata-kata yang sebenarnya]25 bertindak demi bahaya bagi banyak orang, demi ketidak-bahagiaan banyak orang, demi kehancuran, bahaya, dan penderitaan banyak orang, para deva dan manusia. Para bhikkhu ini mengumpulkan banyak keburukan dan menyebabkan lenyapnya Dhamma sejati.

“Para bhikkhu, para bhikkhu itu yang selaras dengan makna dan Dhamma dengan khotbah-khotbah yang diperoleh dengan benar yang kata-katanya bukan [sekedar] kemiripan26 bertindak demi kesejahteraan banyak orang, demi kebahagiaan banyak orang, demi kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan banyak orang, para deva dan manusia. Para bhikkhu itu mengumpulkan banyak jasa dan mempertahankan Dhamma sejati.” [70]


Catatan Kaki
  1. Bersama Ce dan Ee, saya membaca katañca hoti patikatañca atikatañca ti. Be mengakhirinya pada patikatañcā ti.
  2. Istilah operatif di sini adalah kiriyavāda dan akiriyavāda. Untuk kritik Buddhis atas akiriyavāda, suatu doktrin yang menyangkal kebenaran perbedaan etika, baca MN 60.13, I 404, 21-35; MN 76.10, I 516, 3-17. Sutta yang sekarang ini tampaknya dikutip dari 8:12 §§1-2.
  3. Mp: “Pelajar (sekha) merujuk pada tujuh individu yang masih berlatih [dari individu yang berada pada jalan memasuki-arus hingga seorang yang berada pada jalan Kearahattaan]. Tetapi kaum duniawi yang bermoral (sīlavantaputthujjana) juga dapat dimasukkan dalam kelompok pemasuk-arus.
  4. Mp memiliki pendahuluan panjang pada komentar atas sutta ini, menjelaskan bagaimana rombongan umat awam Sāvatthī secara spontan berkumpul di Taman Timur untuk mendengar Sāriputta berbicara. Para deva juga, menyadari bahwa Sāriputta hendak membabarkan khotbah penting, datang dari berbagai alam surga dan dari ribuan sistem dunia untuk mendengarkan. Sāriputta mengerahkan kekuatan batin sedemikian sehingga bahkan mereka yang berada di belakang kerumunan, dan para deva di tepi sistem dunia, dapat dengan jelas melihat dan mendengarkan suaranya.
  5. Mp: “Orang yang terbelenggu secara internal (ajjhattasaṃyojanaṃ puggalaṃ): ‘internal’ (ajjhattaṃ) adalah kehidupan alam indria; ‘eksternal’ (bahiddhā) adalah kehidupan alam berbentuk dan tanpa bentuk. Keinginan dan nafsu pada ‘internal,’ yang terdapat dalam kehidupan alam indria, disebut belenggu internal. Keinginan dan nafsu pada ‘eksternal,’ yang terdapat dalam kehidupan alam berbentuk dan tanpa bentuk, disebut belenggu eksternal. Atau, dengan kata lain, kelima belenggu yang lebih rendah adalah belenggu internal, dan lima belenggu yang lebih tinggi adalah belenggu eksternal. Orang-orang yang dibicarakan sebagai terbelenggu secara internal dan terbelenggu secara eksternal bukanlah kaum duniawi yang masih terikat pada lingkaran kehidupan, melainkan para siswa mulia – pemasuk-arus, yang-kembali-sekali, dan yang-tidak-kembali - yang dibedakan dalam dua cara melalui modus penjelmaan mereka.

    Mengejutkan bahwa paralel China MĀ 21 (pada T I 448c23-25) menginterpretasikan kedua individu ini dalam suatu cara yang bertentangan dengan versi Pāli: “Di dunia ini terdapat dua jenis orang. Apakah dua ini? Orang dengan belenggu internal, yang-tidak-kembali, yang tidak kembali ke dunia ini. Dan orang dengan belenggu eksternal, seorang yang bukan yang-tidak-kembali melainkan kembali ke dunia ini” 世實有二種人。 云何為二。 有內結人阿那含。 不還此間。 有外結人非阿那含。 還來此間。Penjelasan dalam MĀ 21 konsisten dengan pernyataan pembuka ini.

  6. Mp: “yang kembali pada kondisi makhluk ini (āgantā itthattaṃ): ia kembali pada kondisi kelima kelompok unsur kehidupan manusia. Atau jika tidak, ia tidak terlahir kembali di alam surga tersebut atau di alam yang lebih tinggi, melainkan kembali ke alam rendah. Melalui faktor ini, apa yang dibahas adalah kedua jalan dan buah yang lebih rendah [dari memasuki-arus dan yang-kembali-sekali] yang dicapai oleh seorang bhikkhu yang adalah meditator pandangan terang kering dengan menggunakan elemen-elemen sebagai subjek meditasi (sukkhavipassakassa dhātukammaṭṭhānikabhikkhuno).”
  7. Mp: “Kebebasan pikiran tertentu yang damai (aññataraṃ santaṃ cetovimuttiṃ): jhāna ke empat di antara delapan pencapaian meditatif; itu adalah damai karena menenangkan kekotoran-kekotoran yang melawannya, dan adalah kebebasan pikiran karena terbebaskan dari kekotoran-kekotoran itu.”
  8. Mp: “Ia terlahir kembali dalam kelompok para deva di alam-alam murni (suddhāvāsa). Ia tidak kembali pada kondisi kelima kelompok unsur kehidupan manusia, juga tidak terlahir kembali di alam rendah. Apakah ia terlahir kembali di alam yang lebih tinggi atau ia mencapai nibbāna akhir di sana. Melalui faktor ini, apa yang dibahas adalah ketiga jalan dan buah [hingga yang-tidak-kembali] dari seorang bhikkhu yang melatih konsentrasi (samādhikammikassa bhikkhuno).”
  9. Mp: “Pada titik ini, apa yang dibahas adalah pandangan terang dari pemasuk-arus dan yang-kembali-sekali [yang dijalankan] untuk menghancurkan nafsu pada kelima objek kenikmatan indria dan [untuk mencapai] jalan yang-tidak-kembali (anāgāmimaggavipassanā).”
  10. Mp: “Melalui ini, apa yang dibahas adalah pandangan terang yang-tidak-kembali [yang dijalankan] untuk menghancurkan nafsu pada penjelmaan dan [untuk mencapai jalan Kearahattaan (arahattamaggavipassanā).”
  11. Mp melihat praktik untuk penghancuran ketagihan (taṇhākkhaya) sekali lagi sebagai merujuk pada pandangan terang pemasuk-arus dan yang-kembali-sekali untuk mencapai jalan yang-tidak-kembali, dan praktik untuk penghancuran keserakahan (lobhakkhaya) sekali lagi sebagai merujuk pada pandangan terang yang-tidak-kembali untuk mencapai jalan Kearahattaan. Agak aneh jika pembedaan itu yang dimaksudkan di sini. Karena baik ketagihan (taṇhā) dan keserakahan (lobha) dapat merujuk pada keinginan pada kehidupan yang berkesinambungan (bhavataṇhā, bhavarāga), dan karena tampaknya tidak mungkin bahwa, setelah menyinggung realisasi tertinggi, Sāriputta kemudian kembali ke tingkat yang lebih rendah, kalimat ini mungkin hanyalah kelanjutan dari penjelasan tentang seorang yang berlatih untuk mencapai Kearahattaan.
  12. Mp: “[Sāriputta] membahas pandangan terang dalam enam kelompok: (1) dua jalan dan buah yang lebih rendah dari meditator pandangan terang kering yang menggunakan elemen-elemen sebagai subjek meditasinya; (2) tiga jalan dan buah dari seorang yang berusaha dalam konsentrasi; (3) pandangan terang pemasuk-arus dan yang-kembali-sekali untuk menghancurkan nafsu indria [dan mencapai] jalan yang-tidak-kembali; (4) pandangan terang yang-tidak-kembali untuk menghancurkan nafsu pada penjelmaan [dan mencapai] jalan Kearahattaan; (5) pandangan terang pemasuk-arus dan yang-kembali-sekali demi ‘hancurnya ketagihan’ – yaitu, ketagihan pada kenikmatan indria – dan untuk mencapai jalan yang-tidak-kembali; dan (6) pandangan terang yang-tidak-kembali demi ‘hancurnya keserakahan’ – yaitu, keserakahan pada penjelmaan – dan [untuk mencapai] jalan Kearahattaan. Pada bagian penutup dari khotbah ini, para dewa yang berjumlah ratusan ribu koṭi (satu koṭi = sepuluh juta) mencapai Kearahattaan, dan tidak terhitung banyaknya yang menjadi pemasuk-arus dan seterusnya.”
  13. Mp menjelaskan samacittā berarti “dengan pikiran yang sama,” dengan demikian memecahkan makna ambigu dalam kata Pāli. Walaupun dalam Skt perbedaan antara śama – “kedamaian” dan sama = “sama, setara” telah cukup jelas, dalam kebanyakan dialek Indo-Aryan Tengah (termasuk Pāli) kedua kata ini tidak dapat dibedakan dan dengan demikian maknanya dapat tertukar. Mp menafsirkan sama sebagai seperti Skt sama, “sama, setara”: “Mereka disebut ‘berpikiran sama’ karena kemiripan dalam kehalusan pikiran mereka (cittassa sukhumabhāvasamatāya samacittā); karena mereka menciptakan tubuh mereka dengan pikiran yang kehalusannya sama (sukhume cittasarikkhake katvā).” Mp memberikan penjelasan lain atas samacittā, tetapi semuanya mengartikan maknanya sebagai “dengan pikiran yang sama.” Paralel China (pada TI 449b1) menuliskan 等心天 = “para dewa berpikiran sama,” dengan demikian serupa dengan Mp. Hal ini menunjukkan bahwa teks asli dari mana terjemahan China bersumber adalah samacittā dalam suatu bahasa yang membedakan śama dengan sama, atau, jika dilestarikan dalam suatu bahasa yang tidak membedakan hal tersebut, maka disertai dengan penjelasan kata itu dalam makna “berpikiran sama.” Akan tetapi, ungkapan santindriyā dan santamānasā menjelang akhir sutta, yang keduanya berhubungan dengan Skt śama, menyiratkan bahwa makna aslinya mungkin bermakna “pikiran yang damai,” kecuali jika ambivalensi ini memang disengaja.
  14. Anukampaṃ upādāya. Mp: “Bukan demi belas kasihan kepada Sāriputta, karena pada saat itu tidak diperlukan untuk menunjukkan belas kasihan kepada Bhikkhu [Sāriputta] … yang telah mencapai kesempurnaan pengetahuan seorang siswa. Sebaliknya, mereka memohon Sang Bhagavā untuk pergi demi belas kasihan kepada para deva dan manusia lainnya yang telah berkumpul di sana.” Terlepas dari komentar, sepertinya para deva itu benar-benar menginginkan Sang Buddha untuk mendatangi Sāriputta demi dirinya. Sāriputta mungkin tidak memiliki kesaktian untuk melihat kumpulan para deva yang berkumpul di sana untuk mendengarkannya berbicara dan karena itu Sang Buddha harus memberitahunya. Pada Ud 40,28-29, Sāriputta mengatakan bahwa ia bahkan tidak melihat sesosok hantu lumpur (mayaṃ pan’etarahi paṃsupisācakampi na passāma).
  15. Mp: “Adalah di sini (idh’eva): Adalah di alam manusia ini dan di bawah ajaran ini para dewa itu telah mengembangkan pikiran mereka sedemikian sehingga mereka terlahir kembali di alam berbentuk yang damai. Setelah datang dari sana, mereka telah menciptakan tubuh halus. Walaupun para dewa itu mungkin telah mencapai tiga jalan dan buah pada masa ajaran Buddha Kassapa, karena semua Buddha memiliki ajaran yang sama, namun dengan kata ‘di sini’ Beliau merujuk pada ajaran sebagai kesatuan.” Paralel China lebih eksplisit daripada Pāli: “Adalah di masa lampau ketika mereka adalah manusia para dewa berpikiran sama itu mengembangkan pikiran bermanfaat demikian, pikiran yang sangat luas dan luar biasa demikian.”
  16. Santindriyā bhavissāma santamānasā. Seperti tertulis dalam catatan 264 di atas, penggunaan kata santa yang berulang di sini dan persis di bawah menyiratkan bahwa samacittā, sehubungan dengan para dewa itu, dapat bermakna “pikiran yang damai” – terlepas dari kesesuaian antara Mp dan terjemahan China pada “berpikiran sama.”
  17. Kāmarāgābhinivesavinibandhapaligedhapariyuṭṭhānajjhosānahetu. Saya menerjemahkan kata majemuk ini mengikuti pecahan oleh Mp: kāmarāgābhinivesahetu, kāmarāgavinibandhahetu, kāmarāgapaligedhahetu, kāmarāgapariyuṭṭhanahetu, kāmarāga-ajjhosānahetu. Hal yang sama berlaku pada kata majemuk yang panjang tentang diṭṭhi.
  18. Tuduhan yang sama juga ditujukan kepada Sang Buddha sendiri dalam 4:22 dan 8:11.
  19. Saya mengikuti Ce dan Be kāmamajjhāvasati ( = kāmaṃ ajjhāvasati), bukan seperti Ee kāmamajjhe vasati.
  20. Tuṇhībhūtā tuṇhībhūtā va saṅghamajjhe saṅkasāyanti. Mp: “Duduk diam di tengah-tengah Saṅgha, mereka tidak mampu membuka mulut dan mengucapkan sepatah kata pun, melainkan hanya duduk di sana seolah-olah merenung.”
  21. Di sini dan di bawah saya membaca sama seperti Ce dan Ee bhajanti.
  22. Membaca seperti Be yena vā pana tena pakkamanti. Ce dan Ee membaca papatanti, yang tidak sesuai.
  23. Baca SN 45:24, V 18-19.
  24. Ñāyaṃ dhammaṃ kusalaṃ. Mp: “Sang jalan bersama dengan pandangan terang.”
  25. Duggahitehi suttantehi byañjanappatirūpakehi. Untuk –patirūpaka sebagai bermakna “tiruan, kesamaan, penampilan yang menyesatkan,” baca ungkapan seperti amitto mittapatirūpako pada DN III 185-86; sakkapatirūpako pada SN I 230, 16; jātarūpappatirūpakaṃ dan saddhammappatirūpakaṃ pada SN II 224, 10-17. Di sini kata majemuk tersebut mungkin bermakna sama seperti dunnikkhitaṃ padabyañjanaṃ pada 2:20 di atas. Baca juga 4:160 (II 147,21) dan 5:156 (III 178,26). Mp menganggap dhamma di sini bermakna teks (pāḷi), dengan komentar: “Mereka mengabaikan makna dan teks dari khotbah-khotbah yang diperoleh dengan benar dan meninggikan makna dan teks dari khotbah-khotbah yang diperoleh dengan tidak benar.”
  26. Be di sini membaca suggahitehi suttantehi byañjanappatirūpakehi (Ee vyañjanapatirūpakehi). Akan tetapi, Ce yang saya ikuti menggunakan bentuk negatif: suggahitehi suttantehi na byañjanapatirūpakehi. Ce mungkin telah menambahkan na untuk menyampaikan makna yang diperlukan, tetapi tanpa itu maka kalimat itu menjadi tampak bertentangan.