“Para bhikkhu, ada dua jenis orang dungu. Apakah dua ini? Seorang yang tidak melihat pelanggarannya sebagai suatu pelanggaran dan seorang yang tidak, menurut Dhamma, menerima pelanggaran dari orang yang mengakui pelanggarannya. Ini adalah dua jenis orang dungu.1

“Para bhikkhu, ada dua jenis orang bijaksana ini. Apakah dua ini? Seorang yang melihat pelanggarannya sebagai suatu pelanggaran dan seorang yang, menurut Dhamma, menerima pelanggaran dari orang yang mengakui pelanggarannya. Ini adalah dua jenis orang bijaksana.”

“Para bhikkhu, kedua orang ini salah merepresentasikan Sang Tathāgata. Dua yang manakah? Seorang yang penuh kebencian yang memendam kebencian dan seorang yang berkeyakinan karena kesalah-pahamannya. Kedua ini salah merepresentasikan Sang Tathāgata.”2

“Para bhikkhu, kedua orang ini salah merepresentasikan Sang Tathāgata. Dua yang manakah? [60] Seorang yang menjelaskan apa yang tidak dinyatakan dan tidak diucapkan oleh Sang Tathāgata sebagai telah dinyatakan dan diucapkan oleh Beliau, dan seorang yang menjelaskan apa yang telah dinyatakan dan diucapkan oleh Sang Tathāgata sebagai tidak dinyatakan dan tidak diucapkan oleh Beliau. Kedua orang ini salah merepresentasikan Sang Tathāgata.

“Para bhikkhu, kedua orang ini tidak salah merepresentasikan Sang Tathāgata. Dua yang manakah? Seorang yang menjelaskan apa yang tidak dinyatakan dan tidak diucapkan oleh Sang Tathāgata sebagai tidak dinyatakan dan tidak diucapkan oleh Beliau, dan seorang yang menjelaskan apa yang telah dinyatakan dan diucapkan oleh Sang Tathāgata sebagai dinyatakan dan diucapkan oleh Beliau. Kedua orang ini tidak salah merepresentasikan Sang Tathāgata.”

“Para bhikkhu, kedua orang ini salah merepresentasikan Sang Tathāgata. Dua yang manakah? Seorang yang menjelaskan sebuah khotbah yang maknanya memerlukan interpretasi sebagai sebuah khotbah yang bermakna eksplisit, dan seorang yang menjelaskan sebuah khotbah yang bermakna eksplisit sebagai sebuah khotbah yang maknanya memerlukan interpretasi. Kedua ini salah merepresentasikan Sang Tathāgata.”4

“Para bhikkhu, kedua orang ini tidak salah merepresentasikan Sang Tathāgata. Dua yang manakah? Seorang yang menjelaskan sebuah khotbah yang maknanya memerlukan interpretasi sebagai sebuah khotbah yang maknanya memerlukan interpretasi, dan seorang yang menjelaskan sebuah khotbah yang bermakna eksplisit sebagai sebuah khotbah yang bermakna eksplisit. Kedua ini tidak salah merepresentasikan Sang Tathāgata.”

“Para bhikkhu, bagi seorang dengan perbuatan-perbuatan yang disembunyikan maka salah satu dari kedua tujuan ini menanti: neraka atau alam binatang.5

“Bagi seorang dengan perbuatan-perbuatan yang tidak disembunyikan maka salah satu dari kedua tujuan ini menanti: alam deva atau alam manusia.”

“Para bhikkhu, bagi seorang yang menganut pandangan salah maka salah satu dari kedua tujuan ini menanti: neraka atau alam binatang.”

“Para bhikkhu, bagi seorang yang menganut pandangan benar maka salah satu dari kedua tujuan ini menanti: alam deva atau alam manusia.”

“Para bhikkhu, bagi seorang yang tidak bermoral maka ada dua penampung:7 neraka atau alam binatang. Bagi seorang yang bermoral, maka ada dua penampung: alam deva atau alam manusia.”

“Para bhikkhu, dengan melihat dua keuntungan, Aku mendatangi tempat-tempat tinggal yang terpencil di dalam hutan-hutan dan taman-taman.8 Apakah dua ini? Bagi diriKu Aku melihat keberdiaman yang nyaman dalam kehidupan ini [61] dan Aku memiliki belas kasihan terhadap generasi mendatang.9 Dengan melihat dua keuntungan ini, Aku mendatangi tempat-tempat tinggal yang terpencil di dalam hutan-hutan dan taman-taman.”

“Para bhikkhu, kedua hal ini berhubungan dengan pengetahuan sejati.10 Apakah dua ini? Ketenangan dan pandangan terang. Ketika ketenangan terkembang, manfaat apakah yang dialami seseorang? Pikirannya terkembang. Ketika pikirannya terkembang, manfaat apakah yang ia alami? Nafsu ditinggalkan. Ketika pandangan terang terkembang, manfaat apakah yang ia alami? Kebijaksanaan terkembang. Ketika kebijaksanaan terkembang, manfaat apakah yang ia alami? Ketidak-tahuan ditinggalkan.11

“Pikiran yang dikotori oleh nafsu adalah tidak terbebaskan, dan kebijaksanaan yang dikotori oleh ketidak-tahuan adalah tidak terkembang. Demikianlah, para bhikkhu, melalui meluruhnya nafsu maka ada kebebasan pikiran, dan melalui meluruhnya ketidak-tahuan maka ada kebebasan melalui kebijaksanaan.”12


Catatan Kaki
  1. Juga pada SN 11:24, I 239, 26-31, di mana ditambahkan suatu kisah dan dihias dengan syair.
  2. Mp: “Yang pertama dicontohkan oleh Sunakkhatta, yang berkata: ‘Petapa Gotama tidak memiliki kualitas-kualitas apa pun yang melampaui manusia biasa’ (pada MN 12.2, I 68,9-10). Yang ke dua dicontohkan oleh seorang umat yang keyakinannya tanpa pemahaman, seperti seorang yang salah memahami Sang Tathāgata dengan mengatakan: ‘Sang Buddha sepenuhnya melampaui keduniawian (buddho nāma sabbalokuttaro); semua bagian tubuhnya, seperti rambut kepala, adalah melampaui keduniawian.’” Komentar terakhir ini tampaknya digali dari aliran Lokottaravāda, sebuah sekte turunan dari Mahāsāṃghika yang berpendapat bahwa para Buddha adalah sepenuhnya melampaui keduniawian.
  3. Ee membagi sutta ini menjadi dua sutta terpisah melalui dua paragraf, sedangkan Ce dan Be melihatnya sebagai satu.
  4. Pertanyaan atas khotbah-khotbah dari Sang Buddha yang mana yang bermakna eksplisit (nītattha) dan yang mana yang memerlukan interpretasi (neyyattha) menjadi salah satu hal yang paling banyak diperdebatkan dalam penafsiran Buddhis. Dimulai dari aliran-aliran Buddhis India awal, perdebatan berlanjut dalam sūtra-sūtra Mahāyāna belakangan seperti Akṣayamatinirdeśa dan Saṃdhinirmocana. Kontroversi ini berlanjut bahkan di luar India, yaitu di Sri Lanka, China, dan Tibet. Komentar Pāli memutuskan persoalan ini dengan berdasarkan pada pembedaan Abhidhamma antara realitas mutlak dan realitas konvensional.

    Mp: “Sutta-sutta itu yang membicarakan tentang satu orang (puggala), dua orang, dan seterusnya, memerlukan interpretasi, karena maknanya harus diinterpretasikan di bawah sorotan fakta bahwa dalam makna mutlak seseorang itu tidak eksis (paramatthato pana puggalo nāma natthi). Seseorang yang keliru menafsirkan sutta-sutta itu membicarakan tentang seseorang, berpendapat bahwa orang itu eksis dalam makna mutlak, menjelaskan sebuah khotbah yang maknanya memerlukan interpretasi sebagai sutta yang maknanya eksplisit. Sebuah sutta yang maknanya eksplisit adalah sutta yang menjelaskan ketidak-kekalan, penderitaan, dan bukan-diri; karena dalam hal ini maknanya adalah ketidak-kekalan, penderitaan, dan bukan-diri. Seseorang yang mengatakan: ‘Khotbah ini memerlukan interpretasi,’ dan menafsirkannya sedemikian sehingga menyatakan ‘ada yang kekal, ada yang menyenangkan, ada diri,’ menjelaskan suatu sutta yang bermakna eksplisit sebagai sutta yang memerlukan interpretasi.” Kritik pertama ini mungkin diarahkan terhadap aliran Puggalavāda, yang berpendapat bahwa seseorang eksis secara mutlak. Kritik berikutnya mungkin diarahkan kepada bentuk awal teori tathāgatagarbha, yang (dalam Sūtra Parinirvāṇa Mahāyāna) dinyatakan sebagai kekal, penuh kebahagiaan, diri yang murni.

  5. Mp menginterpretasikan “perbuatan yang disembunyikan” (paṭicchannakamma) hanya sebagai perbuatan buruk, menjelaskan bahwa bahkan jika suatu perbuatan buruk tidak disembunyikan, maka itu tetap disebut perbuatan yang disembunyikan. Akan tetapi, tampaknya pengakuan atas perbuatan buruk seseorang dan memperbaikinya dapat mengurangi kekuatan negatifnya. Baca Dhp 173: “Seseorang yang telah melakukan perbuatan buruk tetapi menutupinya dengan perbuatan baik menerangi dunia ini bagaikan bulan yang terbebas dari awan.”
  6. Ee menggabungkan sutta ini dan dua sutta berikutnya menjadi satu, sedangkan Ce dan Be tetap memisahnya. Saya menduga Ee dengan benar menggabungkan 2:27 dan 2:28, dua khotbah yang saling mendukung, tetapi keliru dalam memasukkan 2:29, yang memiliki tema berbeda. Tetap saja, saya mengikuti Ce dan Be. Catatan bahwa 2:26 dan 2:29 digabungkan menjadi satu sutta mempertentangkan pernyataan-pernyataan tentang dua jenis kelahiran kembali berturut-turut yang dihasilkan dari perbuatan buruk dan baik.
  7. Paṭiggāhā. Sebuah penggunaan yang tidak biasa dari kata ini. Mp hanya mengatakan bahwa kedua kondisi ini menerima (paṭiggaṇhanti) individu tidak bermoral.
  8. Araññavanapatthānī pantāni senāsanāni. Saya mengikuti Mp, yang menjelaskan araññavanapatthānī sebagai kata majemuk dvanda: araññāni ca vanapatthāni ca.
  9. Pacchimañca janataṃ anukampamāno. Ps I 129,4-12, yang mengomentari ungkapan yang sama pada MN I 23, 35, mengatakan: “Bagaimanakah ia menunjukkan belas kasihan terhadap generasi mendatang dengan berdiam di dalam hutan? Ketika seorang pemuda yang telah meninggalkan keduniawian karena keyakinan melihat bahwa bahkan Sang Bhagavā – yang tidak memiliki apa pun untuk dipahami, ditinggalkan, dikembangkan, dan direalisasi – tidak mengabaikan keberdiaman di dalam hutan, mereka akan berpikir bahwa mereka juga harus berdiam di dalam hutan. Demikianlah mereka akan dengan cepat mengakhiri penderitaan.”
  10. Vijjabhāgiyā. Baca 1:575
  11. Untuk penjelasan lebih lanjut tentang hubungan ketenangan (samatha) dan pandangan terang (vipassanā), baca 4:92-94 dan 4:170.
  12. Mp menginterpretasikan pikiran yang terkembang sebagai “pikiran dari sang jalan” (maggacitta) dan kebijaksanaan yang terkembang sebagai “kebijaksanaan sang jalan” (maggapaññā). Akan tetapi, bagi saya tampaknya bahwa teks itu sendiri bermaksud mengatakan “pikiran” dan “kebijaksanaan” secara umum, bukan secara spesifik sebagai pikiran dan kebijaksanaan dari pencapaian jalan mulia. Akan tetapi, pengembangan pikiran melalui samatha dan kebijaksanaan melalui vipassanā, memuncak pada “kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan melalui kebijaksanaan” (anāsavā cetovimutti paññāvimutti), tujuan akhir dari Dhamma. Di sini, samatha adalah kondisi bagi kebebasan pikiran dan vipassanā bagi kebebasan melalui kebijaksanaan.