1

“Para bhikkhu, ada dua kualitas tidak bermanfaat ini. Apakah dua ini? (230) Kemarahan dan permusuhan … (231) Sikap merendahkan dan kurang ajar … (232) Iri dan kikir … (233) Kecurangan dan muslihat … (234) Tanpa rasa malu dan tanpa rasa takut. Ini adalah kedua kualitas tidak bermanfaat itu.”

“Para bhikkhu, ada dua kualitas bermanfaat ini. Apakah dua ini? (235) Ketidak-marahan dan tanpa-permusuhan … (236) Sikap tidak merendahkan dan tidak kurang ajar … (237) Ketidak-irian dan ketidak-kikiran … (238) Ketidak-curangan dan tanpa-muslihat … (239) Rasa malu dan rasa takut. Ini adalah kedua kualitas bermanfaat itu.”

“Para bhikkhu, ada dua kualitas tercela ini. Apakah dua ini? (240) Kemarahan dan permusuhan … (241) Sikap merendahkan dan kurang ajar … (242) Iri dan kikir … (243) Kecurangan dan muslihat … (244) Tanpa rasa malu dan tanpa rasa takut. Ini adalah kedua kualitas tercela itu.”

Para bhikkhu, ada dua kualitas tanpa cela ini. Apakah dua ini? (245) Ketidak-marahan dan tanpa-permusuhan … (246) Sikap tidak merendahkan dan tidak kurang ajar … (247) Ketidak-irian dan ketidak-kikiran … (248) Ketidak-curangan dan tanpa-muslihat … (249) Rasa malu dan rasa takut. Ini adalah kedua kualitas tanpa cela itu.”

“Para bhikkhu, ada dua kualitas ini yang memiliki penderitaan sebagai akibatnya. Apakah dua ini? (250) Kemarahan dan permusuhan … (251) Sikap merendahkan dan kurang ajar … (252) Iri dan kikir … (253) Kecurangan dan muslihat … (254) Tanpa rasa malu dan tanpa rasa takut Ini adalah kedua kualitas yang memiliki penderitaan sebagai akibatnya itu.”

Para bhikkhu, ada dua kualitas ini yang memiliki kebahagiaan sebagai akibatnya. Apakah dua ini? (255) Ketidak-marahan dan tanpa-permusuhan … (256) Sikap tidak merendahkan dan tidak kurang ajar … (257) Ketidak-irian dan ketidak-kikiran … (258) Ketidak-curangan dan tanpa-muslihat … (259) Rasa malu dan rasa takut. Ini adalah kedua kualitas yang memiliki kebahagiaan sebagai akibatnya itu.”

“Para bhikkhu, ada dua kualitas ini yang berakibat dalam penderitaan. Apakah dua ini? (260) Kemarahan dan permusuhan … (261) Sikap merendahkan dan kurang ajar … (262) Iri dan kikir … (263) Kecurangan dan muslihat … (264) Tanpa rasa malu dan tanpa rasa takut. Ini adalah kedua kualitas yang berakibat dalam penderitaan itu.” [98]

Para bhikkhu, ada dua kualitas ini yang berakibat dalam kebahagiaan. Apakah dua ini? (265) Ketidak-marahan dan tanpa-permusuhan … (266) Sikap tidak merendahkan dan tidak kurang ajar … (267) Ketidak-irian dan ketidak-kikiran … (268) Ketidak-curangan dan tanpa-muslihat … (269) Rasa malu dan rasa takut. Ini adalah kedua kualitas yang berakibat dalam kebahagiaan itu.”

“Para bhikkhu, ada dua kualitas menyakitkan ini. Apakah dua ini? (270) Kemarahan dan permusuhan … (271) Sikap merendahkan dan kurang ajar … (272) Iri dan kikir … (273) Kecurangan dan muslihat … (274) Tanpa rasa malu dan tanpa rasa takut. Ini adalah kedua kualitas yang menyakitkan itu.”

“Para bhikkhu, ada dua kualitas tidak-menyakitkan ini. Apakah dua ini? (275) Ketidak-marahan dan tanpa-permusuhan … (276) Sikap tidak merendahkan dan tidak kurang ajar … (277) Ketidak-irian dan ketidak-kikiran … (278) Ketidak-curangan dan tanpa-muslihat … (279) Rasa malu dan rasa takut. Ini adalah kedua kualitas yang tidak-menyakitkan itu.”


Catatan Kaki
  1. Be dan Ce menghitung sutta-sutta berikut ini sebagai vagga terpisah, tetapi Ee memperlakukannya sebagai kelanjutan dari vagga XVI.
  2. Sekali lagi, saya mengikuti Ce dan Ee dalam menghitung tiap-tiap pasang kualitas tidak bermanfaat (dan di bawahnya, yang bermanfaat) dalam vagga ini sebagai sutta terpisah, sedangkan Be menghitung tiap-tiap kelompok kualitas tidak bermanfaat dan bermanfaat sebagai satu sutta.