“Para bhikkhu, ada dua kualitas ini. Apakah dua ini? (180) Kemarahan dan permusuhan … (181) Sikap merendahkan dan kurang ajar … (182) Iri dan kikir … (183) Kecurangan dan muslihat … (184) Tanpa rasa malu dan tanpa rasa takut. Ini adalah kedua kualitas itu.”

“Para bhikkhu, ada dua kualitas ini. Apakah dua ini? (185) Tanpa-kemarahan dan tanpa-permusuhan … (186) Sikap tidak merendahkan dan tidak kurang ajar … (187) Ketidak-irian dan ketidak-kikiran … (188) Ketidak-curangan dan tanpa-muslihat … (189) Rasa malu dan rasa takut. Ini adalah kedua kualitas itu.”

“Para bhikkhu, dengan memiliki dua kualitas, seseorang berdiam dalam penderitaan. Apakah dua ini? (190) Kemarahan dan permusuhan … (191) Sikap merendahkan dan kurang ajar … (192) Iri dan kikir … (193) Kecurangan dan muslihat … (194) Tanpa rasa malu dan tanpa rasa takut [96] Dengan memiliki kedua kualitas ini, seseorang berdiam dalam penderitaan.”

“Para bhikkhu, dengan memiliki dua kualitas, seseorang berdiam dengan bahagia. Apakah dua ini? (195) Tanpa-kemarahan dan tanpa-permusuhan … (196) Sikap tidak merendahkan dan tidak kurang ajar … (197) Ketidak-irian dan ketidak-kikiran … (198) Ketidak-curangan dan tanpa-muslihat … (199) Rasa malu dan rasa takut. Dengan memiliki kedua kualitas ini, seseorang berdiam dengan bahagia.”

“Para bhikkhu, kedua kualitas ini mengarah pada kemunduran seorang bhikkhu yang adalah seorang yang masih berlatih . Apakah dua ini? (200) Kemarahan dan permusuhan … (201) Sikap merendahkan dan kurang ajar … (202) Iri dan kikir … (203) Kecurangan dan muslihat … (204) Tanpa rasa malu dan tanpa rasa takut. Kedua kualitas ini mengarah pada kemunduran seorang bhikkhu yang masih berlatih.”

“Para bhikkhu, kedua kualitas ini mengarah pada ketidak-munduran seorang bhikkhu yang adalah seorang yang masih berlatih . Apakah dua ini? (205) Tanpa-kemarahan dan tanpa-permusuhan … (206) Sikap tidak merendahkan dan tidak kurang ajar … (207) Ketidak-irian dan ketidak-kikiran … (208) Ketidak-curangan dan tanpa-muslihat … (209) Rasa malu dan rasa takut. Kedua kualitas ini mengarah pada ketidak-munduran seorang bhikkhu yang masih berlatih.”

“Para bhikkhu, dengan memiliki dua kualitas, seseorang ditempatkan di neraka seolah-olah dibawa ke sana. Apakah dua ini? (210) Kemarahan dan permusuhan … (211) Sikap merendahkan dan kurang ajar … (212) Iri dan kikir … (213) Kecurangan dan muslihat … (214) Tanpa rasa malu dan tanpa rasa takut. Dengan memiliki kedua kualitas ini, seseorang ditempatkan di neraka seolah-olah dibawa ke sana.” [97]

“Para bhikkhu, dengan memiliki dua kualitas, seseorang ditempatkan di surga seolah-olah dibawa ke sana. Apakah dua ini? (215) Tanpa-kemarahan dan tanpa-permusuhan … (216) Sikap tidak merendahkan dan tidak kurang ajar … (217) Ketidak-irian dan ketidak-kikiran … (218) Ketidak-curangan dan tanpa-muslihat … (219) Rasa malu dan rasa takut. Dengan memiliki kedua kualitas ini, seseorang ditempatkan di surga seolah-olah dibawa ke sana.”

“Para bhikkhu, dengan memiliki dua kualitas, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, seseorang di sini terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan kelahiran yang buruk, di alam rendah, di neraka. Apakah dua ini? (220) Kemarahan dan permusuhan … (221) Sikap merendahkan dan kurang ajar … (222) Iri dan kikir … (223) Kecurangan dan muslihat … (224) Tanpa rasa malu dan tanpa rasa takut. Dengan memiliki kedua kualitas ini, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, seseorang di sini terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan kelahiran yang buruk, di alam rendah, di neraka.”

“Para bhikkhu, dengan memiliki dua kualitas, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, seseorang di sini terlahir kembali di alam tujuan kelahiran yang baik, di alam surga. Apakah dua ini? (225) Tanpa-kemarahan dan tanpa-permusuhan … (226) Sikap tidak merendahkan dan tidak kurang ajar … (227) Ketidak-irian dan ketidak-kikiran … (228) Ketidak-curangan dan tanpa-muslihat … (229) Rasa malu dan rasa takut. Dengan memiliki kedua kualitas ini, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, seseorang di sini terlahir kembali di aam tujuan kelahiran yang baik, di alam surga.”


Catatan Kaki
  1. Di sini saya mengikuti Ce dan Ee, yang menghitung masing-masing dari lima pasang sebagai sutta terpisah; Be menghitung masing-masing kelompok sebagai satu sutta.