“Para bhikkhu, ada dua kekuatan ini. Apakah dua ini? Kekuatan refleksi dan kekuatan pengembangan.

“Dan apakah kekuatan refleksi? Di sini, seseorang merefleksikan sebagai berikut: ‘Perbuatan buruk melalui jasmani memiliki akibat yang buruk1 dalam kehidupan sekarang maupun kehidupan mendatang; perbuatan buruk melalui ucapan memiliki akibat yang buruk dalam kehidupan sekarang maupun kehidupan mendatang; perbuatan buruk melalui pikiran memiliki akibat yang buruk dalam kehidupan sekarang maupun kehidupan mendatang.’ Setelah merefleksikan demikian, ia meninggalkan perbuatan buruk melalui jasmani dan mengembangkan perbuatan baik melalui jasmani; ia meninggalkan perbuatan buruk melalui ucapan dan mengembangkan perbuatan baik melalui ucapan; ia meninggalkan perbuatan buruk melalui pikiran dan mengembangkan perbuatan baik melalui pikiran; ia mempertahankan dirinya dalam kemurnian. Ini disebut kekuatan refleksi.

“Dan apakah kekuatan pengembangan? Kekuatan pengembangan adalah kekuatan dari seorang yang masih berlatih.2 Karena dengan mengandalkan kekuatan dari seorang yang masih berlatih , maka ia meninggalkan nafsu, kebencian, dan delusi. Setelah meninggalkan nafsu, kebencian, dan delusi, maka ia tidak melakukan apa pun yang tidak bermanfaat; ia tidak mengejar apa pun yang buruk. Ini disebut kekuatan pengembangan.

“Ini, para bhikkhu, adalah kedua kekuatan itu.”

“Para bhikkhu, ada dua kekuatan ini. Apakah dua ini? Kekuatan refleksi dan kekuatan pengembangan.

“Dan apakah kekuatan refleksi? Di sini, seseorang merefleksikan sebagai berikut: ‘Perbuatan buruk melalui jasmani memiliki akibat yang buruk dalam kehidupan sekarang maupun kehidupan mendatang; perbuatan buruk melalui ucapan memiliki akibat yang buruk dalam kehidupan sekarang maupun kehidupan mendatang; perbuatan buruk melalui pikiran memiliki akibat yang buruk dalam kehidupan sekarang maupun kehidupan mendatang.’ Setelah merenungkan demikian, ia meninggalkan perbuatan buruk melalui jasmani dan mengembangkan perbuatan baik melalui jasmani; ia meninggalkan perbuatan buruk melalui ucapan dan mengembangkan perbuatan baik melalui ucapan; ia meninggalkan perbuatan buruk melalui pikiran dan mengembangkan perbuatan baik melalui pikiran; ia mempertahankan dirinya dalam kemurnian. Ini disebut kekuatan refleksi.

“Dan apakah kekuatan pengembangan? Di sini, [53] seorang bhikkhu mengembangkan faktor pencerahan perhatian yang berdasarkan keterasingan, kebosanan, dan lenyapnya, yang matang dalam pelepasan. Ia mengembangkan faktor pencerahan pembedaan fenomena-fenomena … faktor pencerahan kegigihan … faktor pencerahan sukacita … faktor pencerahan ketenangan … faktor pencerahan konsentrasi … faktor pencerahan keseimbangan yang berdasarkan keterasingan, kebosanan, dan lenyapnya, yang matang dalam pelepasan. Ini disebut kekuatan pengembangan.

“Ini, para bhikkhu, adalah kedua kekuatan itu.”

“Para bhikkhu, ada dua kekuatan ini. Apakah dua ini? Kekuatan refleksi dan kekuatan pengembangan.

“Dan apakah kekuatan refleksi? Di sini, seseorang merefleksikan sebagai berikut: ‘Perbuatan buruk melalui jasmani memiliki akibat yang buruk dalam kehidupan sekarang maupun kehidupan mendatang; perbuatan buruk melalui ucapan memiliki akibat yang buruk dalam kehidupan sekarang maupun kehidupan mendatang; perbuatan buruk melalui pikiran memiliki akibat yang buruk dalam kehidupan sekarang maupun kehidupan mendatang.’ Setelah merenungkan demikian, ia meninggalkan perbuatan buruk melalui jasmani dan mengembangkan perbuatan baik melalui jasmani; ia meninggalkan perbuatan buruk melalui ucapan dan mengembangkan perbuatan baik melalui ucapan; ia meninggalkan perbuatan buruk melalui pikiran dan mengembangkan perbuatan baik melalui pikiran; ia mempertahankan dirinya dalam kemurnian. Ini disebut kekuatan refleksi.

“Dan apakah kekuatan pengembangan? Di sini, dengan terasing dari kenikmatan-kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan, yang disertai dengan pemikiran dan pemeriksaan. Dengan meredanya pemikiran dan pemeriksaan, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki ketenangan internal dan keterpusatan pikiran dan dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi, tanpa pemikiran dan tanpa pemeriksaan. Dengan meluruhnya sukacita, ia berdiam seimbang dan, dengan penuh perhatian dan memahami dengan jernih, ia mengalami kenikmatan dengan tubuhnya; ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga yang dinyatakan oleh para mulia: ‘Ia seimbang, penuh perhatian, seorang yang berdiam dengan bahagia.’ Dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, dan dengan pelenyapan sebelumnya kegembiraan dan kesedihan, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang bukan menyakitkan juga bukan menyenangkan, dengan pemurnian perhatian melalui keseimbangan. Ini disebut kekuatan pengembangan.

“Ini, para bhikkhu, adalah kedua kekuatan itu.”

“Para bhikkhu, Sang Tathāgata memiliki dua jenis pengajaran Dhamma ini. Apakah dua ini? Secara ringkas dan secara terperinci.3 Sang Tathāgata memiliki kedua jenis pengajaran Dhamma ini.”

“Para bhikkhu, jika, sehubungan dengan persoalan disiplin tertentu,4 bhikkhu yang telah melakukan suatu pelanggaran dan bhikkhu yang menegurnya masing-masing tidak merefleksikan diri mereka, maka adalah mungkin bahwa persoalan disiplin ini [54] akan mengarah pada dendam dan permusuhan dalam waktu yang lama dan para bhikkhu tidak dapat berdiam dengan nyaman. Tetapi jika bhikkhu yang telah melakukan suatu pelanggaran dan bhikkhu yang menegurnya masing-masing dengan seksama merefleksikan diri mereka, maka adalah mungkin bahwa persoalan disiplin ini tidak akan mengarah pada dendam dan permusuhan dalam waktu yang lama dan para bhikkhu dapat berdiam dengan nyaman.

“Dan bagaimanakah bhikkhu yang telah melakukan suatu pelanggaran merefleksikan dirinya dengan seksama? Di sini, bhikkhu yang telah melakukan suatu pelanggaran merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku telah melakukan perbuatan buruk tidak bermanfaat tertentu melalui jasmani.5 Bhikkhu itu melihatku melakukan hal itu. Jika aku tidak melakukan perbuatan buruk tidak bermanfaat tertentu melalui jasmani, maka ia tidak akan melihatku melakukan hal itu. Tetapi karena aku telah melakukan perbuatan buruk tidak bermanfaat tertentu melalui jasmani, maka ia melihatku melakukan hal itu. Ketika ia melihatku melakukan perbuatan buruk tidak bermanfaat tertentu melalui jasmani, maka ia menjadi tidak senang. Karena tidak senang, maka ia mengungkapkan ketidak-senangannya kepadaku. Karena ia mengungkapkan ketidak-senangannya kepadaku, maka aku menjadi tidak senang. Karena tidak senang, maka aku memberitahukan kepada orang lain. Demikianlah dalam hal ini adalah aku yang menimbulkan pelanggaran, seperti halnya apa yang dilakukan oleh seorang pelancong ketika ia menghindari pembayaran pajak atas barang-barang belanjaannya.’6 Adalah dengan cara ini bhikkhu itu yang telah melakukan pelanggaran merefleksikan dirinya dengan seksama.

“Dan bagaimanakah bhikkhu yang menegur merefleksikan dirinya dengan seksama? Di sini, bhikkhu yang menegur merefleksikan sebagai berikut: ‘Bhikkhu ini telah melakukan perbuatan buruk tidak bermanfaat tertentu melalui jasmani. Aku melihatnya melakukan hal itu. Jika bhikkhu ini tidak melakukan perbuatan buruk tidak bermanfaat tertentu melalui jasmani, maka aku tidak akan melihatnya melakukan hal itu. [55] Tetapi karena ia melakukan perbuatan buruk tidak bermanfaat tertentu melalui jasmani, maka aku melihatnya melakukan hal itu. Ketika aku melihatnya melakukan perbuatan buruk tidak bermanfaat tertentu melalui jasmani, aku menjadi tidak senang. Karena tidak senang, maka aku mengungkapkan ketidak-senanganku kepadanya.7 Karena aku mengungkapkan ketidak-senanganku kepadanya, maka ia menjadi tidak senang. Karena tidak senang, maka ia memberitahukan kepada orang lain. Demikianlah dalam hal ini adalah aku yang menimbulkan pelanggaran, seperti halnya apa yang dilakukan oleh seorang pelancong ketika ia menghindari pembayaran pajak atas barang-barang belanjaannya.’ Adalah dengan cara ini bhikkhu yang menegur merefleksikan dirinya dengan seksama.

“Jika, para bhikkhu, sehubungan dengan persoalan disiplin tertentu, bhikkhu yang telah melakukan suatu pelanggaran dan bhikkhu yang menegurnya masing-masing tidak merefleksikan diri mereka, maka adalah mungkin bahwa persoalan disiplin ini akan mengarah pada dendam dan permusuhan dalam waktu yang lama dan para bhikkhu tidak dapat berdiam dengan nyaman. Tetapi jika bhikkhu yang telah melakukan suatu pelanggaran dan bhikkhu yang menegurnya masing-masing dengan seksama merefleksikan diri mereka, maka adalah mungkin bahwa persoalan disiplin ini tidak akan mengarah pada dendam dan permusuhan dalam waktu yang lama dan para bhikkhu dapat berdiam dengan nyaman.”

Seorang brahmana tertentu mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan Beliau. Ketika mereka telah mengakhiri ramah tamah itu, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada Sang Bhagavā: “Mengapakah, Guru Gotama, beberapa makhluk di sini, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan kelahiran yang buruk, di alam rendah, di neraka?”

“Adalah, brahmana, karena perilaku yang berlawanan dengan Dhamma, perilaku tidak baik, maka beberapa makhluk di sini, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan kelahiran yang buruk, di alam rendah, di neraka.”8

“Tetapi mengapakah, Guru Gotama, beberapa makhluk di sini, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, terlahir kembali di alam tujuan kelahiran yang baik, di alam surga?”

“Adalah, brahmana, karena perilaku yang selaras dengan Dhamma, perilaku yang baik, [56] maka beberapa makhluk di sini, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, terlahir kembali di alam tujuan kelahiran yang baik, di alam surga.”

“Bagus sekali, Guru Gotama! Bagus sekali, Guru Gotama! Guru Gotama telah menjelaskan Dhamma dalam banyak cara, seolah-olah menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang berpenglihatan baik dapat melihat bentuk-bentuk. Sekarang aku berlindung kepada Guru Gotama, kepada Dhamma, dan kepada Saṅgha para bhikkhu. Sudilah Guru Gotama menganggapku sebagai seorang umat awam yang telah berlindung sejak hari ini hingga seumur hidup.”

Brahmana Jāṇussoṇī mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan Beliau. Ketika mereka telah mengakhiri ramah tamah itu, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada Sang Bhagavā: “Mengapakah, Guru Gotama, beberapa makhluk di sini, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan kelahiran yang buruk, di alam rendah, di neraka?”

“Adalah, brahmana, karena apa yang telah mereka lakukan dan apa yang tidak mereka lakukan maka beberapa makhluk di sini, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan kelahiran yang buruk, di alam rendah, di neraka.”

“Mengapakah, Guru Gotama, beberapa makhluk di sini, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, terlahir kembali di alam tujuan kelahiran yang baik, di alam surga?”

“Adalah, brahmana, karena apa yang telah mereka lakukan dan apa yang tidak mereka lakukan maka beberapa makhluk di sini, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, terlahir kembali di alam tujuan kelahiran yang baik, di alam surga.”9

“Aku tidak memahami secara terperinci makna dari pernyataan yang Guru Gotama ucapkan secara ringkas tanpa menganalisis maknanya secara terperinci. Baik sekali jika Guru Gotama sudi mengajarkan Dhamma kepadaku sehingga aku dapat memahami makna dari pernyataan ini secara terperinci.”

“Baiklah, brahmana, dengarkan dan perhatikanlah dengan seksama, Aku akan berbicara.” [57]

“Baik, Tuan,” Brahmana Jāṇussoṇī menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

“Di sini, brahmana, seseorang telah melakukan perbuatan buruk melalui jasmani, tidak melakukan perbuatan baik melalui jasmani; ia telah melakukan perbuatan buruk melalui ucapan, tidak melakukan perbuatan baik melalui ucapan; ia telah melakukan perbuatan buruk melalui pikiran, tidak melakukan perbuatan baik melalui pikiran. Demikianlah, adalah karena apa yang telah dilakukan dan apa yang tidak dilakukan maka beberapa makhluk di sini, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan kelahiran yang buruk, di alam rendah, di neraka. Tetapi beberapa makhluk di sini yang telah melakukan perbuatan baik melalui jasmani, tidak melakukan perbuatan buruk melalui jasmani; ia telah melakukan perbuatan baik melalui ucapan, tidak melakukan perbuatan buruk melalui ucapan; ia telah melakukan perbuatan baik melalui pikiran, tidak melakukan perbuatan buruk melalui pikiran. Demikianlah, adalah karena apa yang telah dilakukan dan apa yang tidak dilakukan maka beberapa makhluk di sini, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, terlahir kembali di alam tujuan kelahiran yang baik, di alam surga.”

“Bagus sekali, Guru Gotama! … [seperti pada 2:16] … Sudilah Guru Gotama menganggapku sebagai seorang umat awam yang telah berlindung sejak hari ini hingga seumur hidup.”

Yang Mulia Ānanda mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, dan duduk di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepadanya:

“Aku tegaskan, Ānanda, perbuatan buruk melalui jasmani, perbuatan buruk melalui ucapan, dan perbuatan buruk melalui pikiran adalah tidak boleh dilakukan.”

“Karena, Bhante, Sang Bhagavā telah menyatakan dengan tegas bahwa perbuatan buruk melalui jasmani, perbuatan buruk melalui ucapan, dan perbuatan buruk melalui pikiran adalah tidak boleh dilakukan, maka bahaya apakah yang menanti dalam perbuatan demikian?”

“Ānanda, Aku telah menyatakan dengan tegas bahwa perbuatan buruk melalui jasmani, perbuatan buruk melalui ucapan, dan perbuatan buruk melalui pikiran adalah tidak boleh dilakukan karena dengan melakukan demikian maka bahaya ini menanti: ia menyalahkan dirinya sendiri; para bijaksana, setelah menyelidiki, akan mencelanya; berita buruk beredar sehubungan dengan dirinya; ia meninggal dunia dengan tidak tenang; dan dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan kelahiran yang buruk, di alam rendah, di neraka. Aku telah menyatakan dengan tegas bahwa perbuatan buruk melalui jasmani, perbuatan buruk melalui ucapan, dan perbuatan buruk melalui pikiran adalah tidak boleh dilakukan karena dengan melakukan demikian maka bahaya ini menanti.

“Aku tegaskan, Ānanda, [58] perbuatan baik melalui jasmani, perbuatan baik melalui ucapan, dan perbuatan baik melalui pikiran adalah harus dilakukan.”

“Karena, Bhante, Sang Bhagavā telah menyatakan dengan tegas bahwa perbuatan baik melalui jasmani, perbuatan baik melalui ucapan, dan perbuatan baik melalui pikiran adalah harus dilakukan, maka manfaat apakah yang menanti dalam perbuatan demikian?”

“Ānanda, Aku telah menyatakan dengan tegas bahwa perbuatan baik melalui jasmani, perbuatan baik melalui ucapan, dan perbuatan baik melalui pikiran adalah harus dilakukan karena dengan melakukan demikian maka manfaat ini menanti: ia tidak menyalahkan dirinya sendiri; para bijaksana, setelah menyelidiki, akan memujinya; ia memperoleh reputasi baik; ia meninggal dunia dengan tenang; dan dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, terlahir kembali di alam tujuan kelahiran yang baik, di alam surga. Aku telah menyatakan dengan tegas bahwa perbuatan baik melalui jasmani, perbuatan baik melalui ucapan, dan perbuatan baik melalui pikiran adalah harus dilakukan karena dengan melakukan demikian maka manfaat ini menanti.”

“Para bhikkhu, tinggalkanlah apa yang tidak bermanfaat! Adalah mungkin untuk meninggalkan apa yang tidak bermanfaat. Jika tidak mungkin untuk meninggalkan apa yang tidak bermanfaat, maka Aku tidak akan mengatakan: ‘Para bhikkhu, tinggalkanlah apa yang tidak bermanfaat!’ Tetapi karena adalah mungkin untuk meninggalkan apa yang tidak bermanfaat, maka Aku mengatakan: ‘Para bhikkhu, tinggalkanlah apa yang tidak bermanfaat!’ Jika dengan meninggalkan apa yang tidak bermanfaat dapat mengarah pada bahaya dan penderitaan, maka aku tidak akan menyuruh kalian untuk meninggalkannya. Tetapi karena dengan meninggalkan apa yang tidak bermanfaat dapat mengarah pada kesejahteraan dan kebahagiaan, maka Aku mengatakan: ‘Para bhikkhu, tinggalkanlah apa yang tidak bermanfaat!’

“Para bhikkhu, kembangkanlah apa yang bermanfaat! Adalah mungkin untuk mengembangkan apa yang bermanfaat. Jika tidak mungkin untuk mengembangkan apa yang bermanfaat, maka Aku tidak akan mengatakan: ‘Para bhikkhu, kembangkanlah apa yang bermanfaat!’ Tetapi karena adalah mungkin untuk mengembangkan apa yang bermanfaat, maka Aku mengatakan: ‘Para bhikkhu, kembangkanlah apa yang bermanfaat!’ Jika dengan mengembangkan apa yang bermanfaat ini dapat mengarah pada bahaya dan penderitaan, maka Aku tidak akan menyuruh kalian untuk mengembangkannya. Tetapi karena dengan mengembangkan apa yang bermanfaat dapat mengarah pada kesejahteraan dan kebahagiaan, maka Aku mengatakan: ‘Para bhikkhu, kembangkanlah apa yang bermanfaat!’”

“Para bhikkhu, ada dua hal yang mengarah pada kemunduran dan lenyapnya Dhamma sejati. Apakah dua ini? [59] Kata-kata dan frasa-frasa yang ditata dengan buruk dan makna yang diinterpretasikan dengan buruk.11 Ketika kata-kata dan frasa-frasa ditata dengan buruk, maka makna diinterpretasikan dengan buruk. Kedua hal ini mengarah pada kemunduran dan lenyapnya Dhamma sejati.

“Para bhikkhu, ada dua hal yang mengarah pada ketidak-munduran dan ketidak-lenyapan Dhamma sejati. Apakah dua ini? Kata-kata dan frasa-frasa yang ditata dengan baik dan makna yang diinterpretasikan dengan baik.12 Ketika kata-kata dan frasa-frasa ditata dengan baik, maka makna diinterpretasikan dengan baik. Kedua hal ini mengarah pada ketidak-munduran dan ketidak-lenyapan Dhamma sejati.”


Catatan Kaki
  1. Di sini, berlawanan dengan 2:1, baik Ce maupun Be hanya menuliskan pāpako vipāko, tanpa dukkho.
  2. Ce sekhametaṁ balaṃ; Be sekhānametaṃ balaṃ; Ee sekhānaṃ etaṃ balaṃ. Mp: “Kekuatan pengetahuan tujuh jenis individu yang masih berlatih .” Tujuh jenis individu yang masih berlatih merentang dari orang yang berada pada jalan memasuki-arus hingga orang yang berada pada jalan Kearahattaan. Demikianlah mereka termasuk semua individu mulia kecuali Arahant, yang adalah asekha, “seorang yang melampaui latihan.”
  3. Saṅkhittena ca vitthārena ca. Mp: “Suatu ajaran ringkas adalah pembabaran secara singkat dengan menyebutkan kerangka (mātikā). Suatu ajaran yang terperinci adalah yang dibabarkan dengan menjelaskan dan menganalisis kerangka tersebut (mātikaṃ vitthārato vibhajitvā kathitā). Tetapi apakah suatu kerangka ditetapkan atau tidak, suatu ajaran yang dibabarkan secara terperinci dengan analisis disebut ajaran terperinci. Ajaran ringkas dibabarkan kepada orang yang memiliki kebijaksanaan tinggi, ajaran terperinci dibabarkan kepada orang yang kecerdasannya lebih tumpul … Walaupun keseluruhan Tipitaka adalah ajaran ringkas, di sini dianggap sebagai ajaran terperinci.
  4. Mp menyebutkan empat jenis persoalan disiplin: yang melibatkan perselisihan (vivādādhikaraṇa), yang melibatkan tuduhan (anuvādādhikaraṇa), yang melibatkan suatu pelanggaran (āpattādhikaraṇa), dan yang melibatkan prosedur (kiccādhikaraṇa). Ini dibahas secara terperinci dalam Vin II, 88-92. Secara singkat, suatu persoalan yang melibatkan perselisihan muncul ketika para bhikkhu atau para bhikkhunī berselisih tentang Dhamma dan Vinaya; suatu persoalan yang melibatkan tuduhan muncul ketika mereka menuduh seorang anggota lain melakukan pelanggaran; suatu persoalan yang melibatkan pelanggaran muncul ketika seorang bhikkhu atau bhikkhunī yang telah melakukan pelanggaran memohon rehabilitasi; dan suatu persoalan yang melibatkan prosedur berhubungan dengan prosedur-prosedur kolektif Saṅgha. Metode-metode untuk menyelesaikan persoalan disiplin (adhikaraṇasamatha) dijelaskan pada MN 104.12-20, II 247-50. baca juga Thānissaro 2007a: 546-61.
  5. Ahaṃ kho akusalaṃ āpanno kañcideva desaṃ kāyena. Mp: “Di sini, dengan ‘Apa yang tidak bermanfaat’ (akusalaṃ), yang dimaksudkan adalah suatu pelanggaran (āpatti); maknanya adalah ‘Aku telah melakukan suatu pelanggaran.’ ‘Perbuatan buruk tertentu’ (kañcideva desaṃ): bukan setiap pelanggaran, melainkan pelanggaran jenis tertentu; maknanya adalah ‘suatu pelanggaran tertentu.’”
  6. Suṅkadāyataṃ va bhaṇḍasmiṃ. Saya menjelaskan sekilas tentang ungkapan Pāli untuk mengungkapkannya. Mp: “Suatu tindak kriminal terjadi oleh seseorang yang mengimpor benda-benda kena pajak ketika ia menghindari petugas pajak, dan ia adalah pelaku kriminal di sini, bukan raja-raja atau para pejabatnya.”
  7. Mp menjelaskan bahwa kedua pelanggaran di pihak bhikkhu yang menegur adalah karena dikuasai oleh ketidak-senangan dan menegur orang lain karena ketidak-senangannya itu. Ketiga pelanggaran di pihak bhikkhu yang ditegur adalah melakukan pelanggaran, karena menjadi tidak senang, lalu memberitahu orang lain.
  8. Perilaku yang berlawanan dengan Dhamma (adhammacariyā) dan perilaku yang sesuai Dhamma (dhammacariyā) dijelaskan secara singkat pada sutta berikutnya. Pada 10:220 dan 10:217 berturut-turut diidentifikasikan sebagai sepuluh kamma tidak bermanfaat dan sepuluh kamma bermanfaat.
  9. Mp menjelaskan bahwa brahmana itu mendatangi Sang Buddha dengan keangkuhan, bermaksud untuk mencari celah kesalahan ajaran. Sang Buddha mengetahui hal ini dan memahami bahwa brahmana itu hanya akan memperoleh manfaat jika ia dijawab dengan jawaban yang ambigu agar ia bertanya lebih jauh. Karena Sang Buddha pertama-tama menyebutkan penyebab kelahiran kembali di alam surga dengan kata-kata yang sama dengan penyebab kelahiran kembali di neraka, brahmana itu harus mengakui kebingungannya dan meminta klarifikasi. Hal ini membuatnya menjadi rendah hati, membuka pikirannya untuk menerima pemahaman.
  10. Be membagi sutta ini menjadi dua, sedangkan Ce dan Ee, yang saya ikuti, memperlakukan paragraf tentang lenyapnya dan kelangsungan Dhamma sebagai bagian yang saling berlawanan dalam satu sutta.
  11. Dunnikkhittañca padabyañjanaṃ attho ca dunnīto.
  12. Sunikkhittañca padabyañjanaṃ attho ca sunīto.