“Para bhikkhu, seorang bhikkhu yang memiliki keyakinan, jika beraspirasi dengan benar, maka harus beraspirasi sebagai berikut: ‘Semoga aku menjadi seperti Sāriputta dan Moggallāna!’ Ini adalah teladan dan kriteria1 bagi para siswa bhikkhu, yaitu, Sāriputta dan Moggallāna.”

“Para bhikkhu, seorang bhikkhunī yang memiliki keyakinan, jika beraspirasi dengan benar, maka harus beraspirasi sebagai berikut: ‘Semoga aku menjadi seperti Khemā dan Uppalavaṇṇā!’ Ini adalah teladan dan kriteria bagi para siswa bhikkhunī, yaitu, Khemā dan Uppalavaṇṇā.”2

“Para bhikkhu, seorang umat awam laki-laki yang memiliki keyakinan, jika beraspirasi dengan benar, maka harus beraspirasi sebagai berikut: ‘Semoga aku menjadi seperti perumah tangga Citta dan Hatthaka dari Āḷavī!’ Ini adalah teladan dan kriteria bagi para siswa awam laki-laki, yaitu, perumah tangga Citta dan Hatthaka dari Āḷavī.”3

“Para bhikkhu, seorang umat awam perempuan yang memiliki keyakinan, jika beraspirasi dengan benar, maka harus beraspirasi sebagai berikut: ‘Semoga aku menjadi seperti umat awam perempuan Khujjuttarā dan Veḷukaṇṭakī Nandamātā!’ [89] Ini adalah teladan dan kriteria bagi para siswa awam perempuan, yaitu, umat awam perempuan Khujjuttarā dan Veḷukaṇṭakī Nandamātā.”4

“Para bhikkhu, dengan memiliki dua kualitas, orang dungu, yang tidak kompeten, dan jahat mempertahankan dirinya dalam kondisi celaka dan terluka; ia tercela dan dicela oleh para bijaksana; dan ia menghasilkan banyak keburukan. Apakah dua ini? Tanpa menyelidiki dan tanpa memeriksa, ia memuji seorang yang layak dicela. Tanpa menyelidiki dan tanpa memeriksa, ia mencela seorang yang layak dipuji. Dengan memiliki dua kualitas ini, orang dungu, yang tidak kompeten, dan jahat mempertahankan dirinya dalam kondisi celaka dan terluka; ia tercela dan dicela oleh para bijaksana; dan ia menghasilkan banyak keburukan.

“Para bhikkhu, dengan memiliki dua kualitas, orang bijaksana, yang kompeten, dan baik mempertahankan dirinya dalam kondisi tidak-celaka dan tidak-terluka; ia tanpa cela dan di luar celaan oleh para bijaksana; dan ia menghasilkan banyak jasa. Apakah dua ini? Setelah menyelidiki dan setelah memeriksa, ia mencela seorang yang layak dicela. Setelah menyelidiki dan setelah memeriksa, ia memuji seorang yang layak dipuji. Dengan memiliki dua kualitas ini, orang bijaksana, yang kompeten, dan baik mempertahankan dirinya dalam kondisi tidak-celaka dan tidak-terluka; ia tanpa cela dan di luar celaan oleh para bijaksana; dan ia menghasilkan banyak jasa.”

“Para bhikkhu, dengan memiliki dua kualitas, orang dungu, yang tidak kompeten, dan jahat mempertahankan dirinya dalam kondisi celaka dan terluka; ia tercela dan dicela oleh para bijaksana; dan ia menghasilkan banyak keburukan. Apakah dua ini? Tanpa menyelidiki dan tanpa memeriksa, ia mempercayai sesuatu yang manfaatnya mencurigakan. Tanpa menyelidiki dan tanpa memeriksa, ia mencurigai sesuatu yang manfaatnya terpercaya. Dengan memiliki dua kualitas ini, orang dungu, yang tidak kompeten, dan jahat mempertahankan dirinya dalam kondisi celaka dan terluka; ia tercela dan dicela oleh para bijaksana; dan ia menghasilkan banyak keburukan. [90]

“Para bhikkhu, dengan memiliki dua kualitas, orang bijaksana, yang kompeten, dan baik mempertahankan dirinya dalam kondisi tidak celaka dan tidak terluka; ia tanpa cela dan di luar celaan oleh para bijaksana; dan ia menghasilkan banyak jasa. Apakah dua ini? Setelah menyelidiki dan setelah memeriksa, ia mencurigai sesuatu yang manfaatnya mencurigakan. Setelah menyelidiki dan setelah memeriksa, ia mempercayai sesuatu yang manfaatnya terpercaya. Dengan memiliki dua kualitas ini, orang bijaksana, yang kompeten, dan baik mempertahankan dirinya dalam kondisi tidak celaka dan tidak terluka; ia tanpa cela dan di luar celaan oleh para bijaksana; dan ia menghasilkan banyak jasa.”

“Para bhikkhu, dengan berperilaku buruk terhadap dua individu, orang dungu, yang tidak kompeten, dan jahat mempertahankan dirinya dalam kondisi celaka dan terluka; ia tercela dan dicela oleh para bijaksana; dan ia menghasilkan banyak keburukan. Siapakah dua ini? Ibu dan ayahnya. Dengan berperilaku buruk terhadap kedua individu ini, si dungu, yang tidak kompeten, dan jahat mempertahankan dirinya dalam kondisi celaka dan terluka; ia tercela dan dicela oleh para bijaksana; dan ia menghasilkan banyak keburukan.

“Para bhikkhu, dengan berperilaku baik terhadap dua individu, orang bijaksana, yang kompeten, dan baik mempertahankan dirinya dalam kondisi tidak celaka dan tidak terluka; ia tanpa cela dan di luar celaan oleh para bijaksana; dan ia menghasilkan banyak jasa. Siapakah dua ini? Ibu dan ayahnya. Dengan berperilaku baik terhadap kedua individu ini, orang bijaksana, yang kompeten, dan baik mempertahankan dirinya dalam kondisi tidak celaka dan tidak terluka; ia tanpa cela dan di luar celaan oleh para bijaksana; dan ia menghasilkan banyak jasa.”

“Para bhikkhu, dengan berperilaku buruk terhadap dua individu, orang dungu, yang tidak kompeten, dan jahat mempertahankan dirinya dalam kondisi celaka dan terluka; ia tercela dan dicela oleh para bijaksana; dan ia menghasilkan banyak keburukan. Siapakah dua ini? Sang Tathāgata dan seorang siswa Sang Tathāgata.7 Dengan berperilaku buruk terhadap kedua individu ini, si dungu, yang tidak kompeten, dan jahat mempertahankan dirinya dalam kondisi celaka dan terluka; ia tercela dan dicela oleh para bijaksana; dan ia menghasilkan banyak keburukan. [91]

“Para bhikkhu, dengan berperilaku baik terhadap dua individu, orang bijaksana, yang kompeten, dan baik mempertahankan dirinya dalam kondisi tidak celaka dan tidak terluka; ia tanpa cela dan di luar celaan oleh para bijaksana; dan ia menghasilkan banyak jasa. Siapakah dua ini? Sang Tathāgata dan seorang siswa Sang Tathāgata. Dengan berperilaku baik terhadap kedua individu ini, orang bijaksana, yang kompeten, dan baik mempertahankan dirinya dalam kondisi tidak celaka dan tidak terluka; ia tanpa cela dan di luar celaan oleh para bijaksana; dan ia menghasilkan banyak jasa.”

“Para bhikkhu, ada dua hal ini. Apakah dua ini? Membersihkan pikiran sendiri dan tidak melekat pada apa pun di dunia ini.8 Ini adalah kedua hal itu.”

“Para bhikkhu, ada dua hal ini. Apakah dua ini? Kemarahan dan permusuhan. Ini adalah kedua hal itu.”

“Para bhikkhu, ada dua hal ini. Apakah dua ini? Pelenyapan kemarahan dan pelenyapan permusuhan. Ini adalah kedua hal itu.”


Catatan Kaki
  1. Esa bhikkhave tulā etaṃ pamāṇaṃ. Mp: “Seperti halnya seseorang menimbang emas atau beras menggunakan timbangan, menggunakannya sebagai acuan, ukuran, atau patokan, demikian pula ini adalah acuan dan patokan bagi para siswa bhikkhu, yaitu, Sāriputta dan Moggallāna. Adalah mungkin untuk menimbang atau mengukur diri sendiri dengan beraspirasi, ‘Semoga aku menjadi seperti mereka sehubungan dengan kebijaksanaan atau kekuatan batin!’ Tetapi bukan dengan cara lain.”
  2. Kedua siswa bhikkhunī utama berturut-turut dalam hal kebijaksanaan dan kekuatan batin. Baca 1:236, 1:237.
  3. Baca 1:250, 1:251.
  4. Baca 1:260, 1:262. Nama ke dua juga dituliskan sebagai Veḷukaṇṭakiya dan Veḷukaṇḍakī.
  5. Ce membagi tiap-tiap pernyataan tentang orang dungu dan orang bijaksana dalam 2:134-37 menjadi dua sutta, sedangkan Be dan Ee memperlakukannya sebagai bagian yang berlawanan dari satu sutta. Demikianlah di mana Be dan Ee menghitung empat sutta di sini, Ce menghitungnya delapan. Paralel dalam nipāta lainnya (3:9, 4:3, 10:225-28) bahkan dalam Ce mendukung Be dan Ee, yang oleh karena itu saya ikuti.
  6. Ce secara keliru menomori paragraf pertama sutta ini sebagai 6 dalam vagga ini, dengan demikian memberi nomor 6 pada kedua sutta berturut-turut. Ini harus dikoreksi menjadi 7, dan penomoran sutta berikutnya dalam vagga ini harus ditambah satu.
  7. Mp menyebutkan Devadatta dalam hubungannya dengan Sang Tathāgata dan Kokālika sehubungan dengan kedua siswa utama (baca 10:89, juga SN 6:9-10, I 149-53, Sn 3:10, pp.123-31; Vin II 196-200). Tentang sisi positif, Mp menyebutkan secara berturut-tururt Ānanda, dan penggembala sapi Nanda dan putra majikannya.
  8. Sacittavodānañca na ca kiñci loke upādiyati. Saya memantulkan ketidak-cocokan gabungan bentuk gramatikal.