“Bercahaya, para bhikkhu, pikiran ini, tetapi dikotori oleh kekotoran dari luar. Kaum duniawi yang tidak terpelajar tidak memahami hal ini sebagaimana adanya; oleh karena itu Kukatakan bahwa bagi kaum duniawi yang tidak terpelajar tidak ada pengembangan pikiran.”1

“Bercahaya, para bhikkhu, pikiran ini, dan terbebaskan dari kekotoran dari luar. Siswa mulia yang terpelajar memahami hal ini sebagaimana adanya; oleh karena itu Kukatakan bahwa bagi siswa mulia yang terpelajar ada pengembangan pikiran.”2

“Para bhikkhu, jika selama hanya sejentikan jari seorang bhikkhu mengejar pikiran cinta kasih, maka ia disebut seorang bhikkhu yang tidak hampa dari jhāna, yang bertindak sesuai ajaran Sang Guru, yang menuruti nasihat Beliau, dan yang tidak memakan dana makanan dari desa dengan sia-sia.3 Apalagi bagi mereka yang melatihnya!”

“Para bhikkhu, jika selama hanya sejentikan jari seorang bhikkhu mengembangkan pikiran cinta kasih, maka ia disebut seorang bhikkhu yang tidak hampa dari jhāna, yang bertindak sesuai ajaran Sang Guru, yang menuruti nasihat Beliau, dan yang tidak memakan dana makanan dari desa dengan sia-sia. Apalagi bagi mereka yang melatihnya!” [11]

“Para bhikkhu, jika selama hanya sejentikan jari seorang bhikkhu menekuni pikiran cinta kasih, maka ia disebut seorang bhikkhu yang tidak hampa dari jhāna, yang bertindak sesuai ajaran Sang Guru, yang menuruti nasihat Beliau, dan yang tidak memakan dana makanan dari desa dengan sia-sia. Apalagi bagi mereka yang melatihnya!”

“Para bhikkhu, kualitas-kualitas apa pun yang tidak bermanfaat, yang menjadi bagian dari apa yang tidak bermanfaat, dan berhubungan dengan apa yang tidak bermanfaat, semuanya dipelopori oleh pikiran.4 Pikiran muncul lebih dulu kemudian diikuti oleh kualitas-kualitas tidak bermanfaat.”

“Para bhikkhu, kualitas-kualitas apa pun yang bermanfaat, yang menjadi bagian dari apa yang bermanfaat, dan berhubungan dengan apa yang bermanfaat, semuanya dipelopori oleh pikiran. Pikiran muncul lebih dulu kemudian diikuti oleh kualitas-kualitas bermanfaat.”

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang begitu menyebabkan kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang belum muncul menjadi muncul dan kualitas-kualitas bermanfaat yang telah muncul menjadi berkurang selain daripada kelengahan.5 Bagi seorang yang lengah, maka kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang belum muncul menjadi muncul dan kualitas-kualitas bermanfaat yang telah muncul menjadi berkurang.”

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang begitu menyebabkan kualitas-kualitas bermanfaat yang belum muncul menjadi muncul dan kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang telah muncul menjadi berkurang selain daripada kewaspadaan. Bagi seorang yang waspada, maka kualitas-kualitas bermanfaat yang belum muncul menjadi muncul dan kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang telah muncul menjadi berkurang.”

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang begitu menyebabkan kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang belum muncul menjadi muncul dan kualitas-kualitas bermanfaat yang telah muncul menjadi berkurang selain daripada kemalasan. Bagi seorang yang malas, maka kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang belum muncul menjadi muncul dan kualitas-kualitas bermanfaat yang telah muncul menjadi berkurang.” [12]


Catatan Kaki
  1. Cittabhāvanā natthi. Mp: “Tidak ada stabilitas pikiran, tidak ada pemahaman pikiran” (cittaṭṭhiti cittapariggaho natthi). Mp-ṭ: “Pengembangan pikiran [yang disebut] ‘stabilitas pikiran’ (cittaṭṭhiti) adalah praktik yang melaluinya seseorang dapat secara tepat memahami kekotoran pikiran dan kebebasan dari kekotoran. Pengembangan pandangan terang (vipassanābhāvanā), yang terjadi dengan berdasarkan pada stabilisasi [pikiran] dengan sepenuhnya memusatkannya pada satu objek tunggal, adalah apa yang dikenal sebagai pemahaman pikiran (cittassa pariggaha); [hal ini terjadi] bersamaan dengan faktor-faktor [pikiran] yang berhubungan yang berdasarkan pada objek tersebut. Adalah melalui ini maka seseorang dapat dengan tepat memahami makna yang dimaksudkan.”

    Nikāya-nikāya sering kali mempertentangkan antara “kaum duniawi yang tidak terpelajar” (assutavā putthujjana), orang-orang duniawi biasa yang tidak berlatih di dalam ajaran Buddha, dan siswa mulia yang terpelajar (sutavā ariya sāvaka), yang telah mempelajari ajaran dan menjalankan latihan. Lebih luas lagi, seorang putthujjana adalah seorang yang belum mencapai jalan memasuki-arus (sotāpatti). Seorang ariyasāvaka tidak harus seorang “yang mulia” dalam makna teknis, melainkan seorang siswa, monastik atau awam, yang telah mempelajari ajaran dan bersungguh-sungguh menjalani praktik.

  2. Mp: “Sutta ini membahas pandangan terang yang kuat (balavavipassanā); tetapi beberapa orang mengatakan pandangan terang lembut (taruṇavipassanā).” Di sini, “pandangan terang lembut” merujuk pada tahap awal pengetahuan muncul dan lenyapnya, sedangkan “pandangan terang kuat” merujuk pada tahap matang dari pengetahuan muncul dan lenyapnya dan pengetahuan-pengetahuan pandangan terang yang lebih tinggi.
  3. Mp mengatakan bahwa dengan “mengejar pikiran cinta kasih” (mettācittaṃ āsevati), teks merujuk pada sekedar meliputi semua makhluk dengan mengharapkan kesejahteraan mereka. Dengan demikian tampaknya di sini “tidak hampa dari jhāna” (arittajjhāno) tidak harus berarti bahwa bhikkhu itu benar-benar mencapai salah satu dari empat jhāna melainkan bahwa ia bersungguh-sungguh berlatih meditasi. Frasa “tidak memakan dana makanan dari desa dengan sia-sia,” berarti bahwa dengan berlatih meditasi, maka bhikkhu itu layak menerima dana makanan dari umat-umat awam. Ia memungkinkan para penyumbang untuk memperoleh jasa dan menggunakan dana makanan itu dengan benar untuk menyokong kehidupan spiritualnya.
  4. Sabb’ete manopubbaṅgamā. Mp menginterpretasikan ini selaras dengan doktrin Abhidhamma bahwa pikiran (citta) dan pendamping-pendampingnya (cetasika) muncul secara bersamaan: “[Faktor-faktor] ini muncul bersamaan dengan pikiran (mano); faktor-faktor ini memiliki satu kemunculan, landasan, kelenyapan, dan objek. Tetapi karena pikiran adalah apa yang membangkitkan, menghasilkan, membentuk, dan menyebabkan, maka dikatakan pikiran adalah pelopornya.” Sekali lagi, Mp membaca pernyataan ini melalui lensa analisis Abhidhamma pada pikiran. Dipahami selaras dengan Dhp 1 dan 2, teks ini mungkin hanya bermakna bahwa sebelum seseorang melakukan perbuatan jasmani atau ucapan apa pun yang tidak bermanfaat, maka ia pertama-tama memutuskan untuk bertindak demikian. Hal ini memberikan makna yang lebih bersifat etika daripada psikologis pada pernyataan ini. Interpretasi ini didukung oleh kalimat berikutnya tentang pikiran yang muncul terlebih dulu, diikuti oleh yang lainnya. Hal yang sama berlaku pada pikiran bermanfaat dan kualitas-kualitasnya dalam sutta berikutnya.
  5. Mp mengutip Vibh 350 (Be §846) untuk definisi kelengahan (pamāda): “Apakah kelengahan? Kelalaian pikiran, kekenduran pikiran, sehubungan dengan perilaku salah jasmani, perilaku salah ucapan, perilaku salah pikiran, dan kelima jenis kenikmatan indria; dan mengabaikan latihan kualitas-kualitas bermanfaat tanpa kesungguhan dan kegigihan dalam hal ini. [Adalah] kelonggaran prosedur, ketiadaan keinginan, tanpa-komitmen, tanpa-ketetapan, tanpa-pengabdian, tanpa-pengejaran, tanpa-pengembangan, dan tanpa-pelatihan [kualitas-kualitas bermanfaat].”