1

2

(333) “Seperti halnya, para bhikkhu, di Jambudīpa ini,3 taman-taman, hutan-hutan, pemandangan-pemandangan yang indah adalah sedikit, sedangkan lebih banyak bukit-bukit dan lereng-lereng, sungai-sungai yang sulit diseberangi, tempat-tempat dengan tunggul-tunggul pohon dan duri, dan barisan pegunungan, demikian pula makhluk-makhluk yang terlahir kembali di atas tanah kering adalah lebih sedikit; lebih banyak makhluk-makhluk yang terlahir di air.”

(334) “… demikian pula makhluk-makhluk yang terlahir kembali di antara manusia adalah lebih sedikit; lebih banyak makhluk-makhluk yang terlahir kembali di tempat selain daripada di antara manusia.”

(335) “… demikian pula makhluk-makhluk yang terlahir kembali di wilayah tengah adalah lebih sedikit; lebih banyak makhluk-makhluk yang terlahir kembali di wilayah terpencil di antara orang-orang asing yang kasar.”4

(336) “… demikian pula terdapat lebih sedikit makhluk-makhluk yang bijaksana, cerdas, cerdik, mampu memahami apa yang telah dinyatakan dengan baik dan dinyatakan dengan buruk; lebih banyak makhluk-makhluk yang tidak bijaksana, bodoh, tumpul, tidak mampu memahami apa yang telah dinyatakan dengan baik dan dinyatakan dengan buruk.”

(337) “… demikian pula terdapat lebih sedikit makhluk-makhluk yang memiliki mata kebijaksanaan yang mulia; lebih banyak makhluk-makhluk yang bingung dan tenggelam dalam ketidak-tahuan.”5

(338) “… … demikian pula terdapat lebih sedikit makhluk-makhluk yang dapat melihat Sang Tathāgata; lebih banyak makhluk-makhluk yang tidak dapat melihat Beliau.”

(339) “… demikian pula terdapat lebih sedikit makhluk-makhluk yang dapat mendengar Dhamma dan disiplin yang dibabarkan oleh Sang Tathāgata; [36] lebih banyak makhluk-makhluk yang tidak dapat mendengarnya.”

(340) “… demikian pula terdapat lebih sedikit makhluk-makhluk yang, setelah mendengar Dhamma, kemudian mengingatnya; lebih banyak makhluk-makhluk yang setelah mendengar Dhamma, dan tidak mengingatnya.”

(341) “… demikian pula terdapat lebih sedikit makhluk-makhluk yang memeriksa makna dari ajaran-ajaran setelah mengingatnya; lebih banyak makhluk-makhluk yang tidak memeriksa makna dari ajaran-ajaran setelah mengingatnya.”

(342) “… demikian pula terdapat lebih sedikit makhluk-makhluk yang memahami makna dan Dhamma dan kemudian mempraktikkan sesuai Dhamma; lebih banyak makhluk-makhluk yang tidak memahami makna dan Dhamma dan tidak mempraktikkan sesuai Dhamma.”6

(343) “… demikian pula terdapat lebih sedikit makhluk-makhluk yang memperoleh rasa keterdesakan atas hal-hal yang menginspirasi keterdesakan; lebih banyak makhluk-makhluk yang tidak memperoleh rasa keterdesakan atas hal-hal yang menginspirasi keterdesakan.”7

(344) “… demikian pula terdapat lebih sedikit makhluk-makhluk yang, ketika terinspirasi oleh rasa keterdesakan, kemudian berusaha dengan seksama; lebih banyak makhluk-makhluk yang, ketika terinspirasi oleh rasa keterdesakan, tidak berusaha dengan seksama.”

(345) “… demikian pula terdapat lebih sedikit makhluk-makhluk yang memperoleh konsentrasi, keterpusatan pikiran, yang berdasarkan pada pelepasan; lebih banyak makhluk-makhluk yang tidak memperoleh konsentrasi, keterpusatan pikiran, yang berdasarkan pada pelepasan.”8

(346) “… demikian pula terdapat lebih sedikit makhluk-makhluk yang memperoleh makanan-makanan lezat; lebih banyak makhluk-makhluk yang tidak memperoleh makanan demikian tetapi bertahan dari makanan-makanan sisa di dalam mangkuk.”

(347) “… demikian pula terdapat lebih sedikit makhluk-makhluk yang memperoleh rasa makna, rasa Dhamma, rasa kebebasan; lebih banyak makhluk-makhluk yang tidak memperoleh rasa makna, rasa Dhamma, rasa kebebasan.9 Oleh karena itu, para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami akan memperoleh rasa makna, rasa Dhamma, rasa kebebasan.’ Demikianlah kalian harus berlatih.” [37]

10

(348) – (350) “Seperti halnya, para bhikkhu, di Jambudīpa ini, taman-taman, hutan-hutan, pemandangan-pemandangan yang indah adalah sedikit, sedangkan lebih banyak bukit-bukit dan lereng-lereng, sungai-sungai yang sulit diseberangi, tempat-tempat dengan tunggul-tunggul pohon dan duri, dan barisan pegunungan, demikian pula makhluk-makhluk yang, ketika meninggal dunia sebagai manusia, kemudian terlahir kembali di tengah-tengah manusia lebih sedikit. Lebih banyak makhluk-makhluk yang, ketika meninggal dunia sebagai manusia, kemudian terlahir kembali di neraka … di alam binatang … di alam hantu-hantu yang menderita.”11

(351) – (353) “… demikian pula makhluk-makhluk yang, ketika meninggal dunia sebagai manusia, kemudian terlahir kembali di antara para deva lebih sedikit. Lebih banyak makhluk-makhluk yang, ketika meninggal dunia sebagai manusia, kemudian terlahir kembali di neraka … di alam binatang … di alam hantu-hantu yang menderita.”

(354) – (356) “… demikian pula makhluk-makhluk yang, ketika meninggal dunia sebagai deva, kemudian terlahir kembali di antara para deva lebih sedikit. Lebih banyak makhluk-makhluk yang, ketika meninggal dunia sebagai deva, kemudian terlahir kembali di neraka … di alam binatang … di alam hantu-hantu yang menderita.”

(357) – (359) “… demikian pula makhluk-makhluk yang, ketika meninggal dunia sebagai deva, kemudian terlahir kembali di antara para manusia lebih sedikit. Lebih banyak makhluk-makhluk yang, ketika meninggal dunia sebagai deva, kemudian terlahir kembali di neraka … di alam binatang … di alam hantu-hantu yang menderita.”

(360) – (362) “… demikian pula makhluk-makhluk yang, ketika meninggal dunia dari alam neraka, kemudian terlahir kembali di antara para manusia lebih sedikit. Lebih banyak makhluk-makhluk yang, ketika meninggal dunia dari alam neraka, kemudian terlahir kembali di neraka … di alam binatang … di alam hantu-hantu yang menderita.”

(363) – (365) “… demikian pula makhluk-makhluk yang, ketika meninggal dunia dari alam neraka, kemudian terlahir kembali di antara para deva lebih sedikit. Lebih banyak makhluk-makhluk yang, ketika meninggal dunia dari alam neraka, kemudian terlahir kembali di neraka … di alam binatang … di alam hantu-hantu yang menderita.”

(366) – (368) “… demikian pula makhluk-makhluk yang, ketika meninggal dunia dari alam binatang, kemudian terlahir kembali di antara para manusia lebih sedikit. Lebih banyak makhluk-makhluk yang, ketika meninggal dunia dari alam binatang, kemudian terlahir kembali di neraka … di alam binatang … di alam hantu-hantu yang menderita.”

(369) – (371) “… demikian pula makhluk-makhluk yang, ketika meninggal dunia dari alam binatang, kemudian terlahir kembali di antara para deva lebih sedikit. Lebih banyak makhluk-makhluk [38] yang, ketika meninggal dunia dari alam binatang, kemudian terlahir kembali di neraka … di alam binatang … di alam hantu-hantu yang menderita.”

(372) – (374) “… demikian pula makhluk-makhluk yang, ketika meninggal dunia dari alam hantu menderita, kemudian terlahir kembali di antara para manusia lebih sedikit. Lebih banyak makhluk-makhluk yang, ketika meninggal dunia dari alam hantu menderita, kemudian terlahir kembali di neraka … di alam binatang … di alam hantu-hantu yang menderita.”

(375) – (377) “… demikian pula makhluk-makhluk yang, ketika meninggal dunia dari alam hantu menderita, kemudian terlahir kembali di antara para deva lebih sedikit. Lebih banyak makhluk-makhluk yang, ketika meninggal dunia dari alam hantu menderita, kemudian terlahir kembali di neraka … di alam binatang … di alam hantu-hantu yang menderita.”


Catatan Kaki
  1. Ce memberi judul vagga ini Jambudīpapeyyālo, “Rangkaian Pengulangan Jambudīpa.” Ee menghitung ini sebagai vagga XIX dan menamainya Appamattakaṃ, “Sedikit.” Be hanya menyebutnya Catutthavaggo, “(Sub-) bab ke empat.”
  2. Ce menghitung lima belas sutta dalam rangkaian pertama ini; Be, dengan menggabungkan sutta-sutta ke dua dan ke tiga, menghitungnya empat belas; Ee menghitung semuanya sebagai satu sutta.
  3. Jambudīpa: “Benua Jambu,” benua selatan dalam geografi Buddhis. Ketiga benua lainnya adalah Aparagoyana di Barat, Uttarakuru di Utara, dan Pubbavideha di timur. Mp mengatakan bahwa Jambudīpa dinamai dari “pohon jambu besar” di pegunungan Himalaya, yang lebarnya seratus yojana, dengan dahan-dahan sepanjang lima puluh yojana dan batang dengan diameter lima belas yojana. PED memperkirakan satu yojana setara dengan tujuh mil; SED memberikan beberapa alternatif tetapi menganggap sembilan mil sebagai yang paling akurat.
  4. “Propinsi tengah” (majjhimā janapadā) secara kasar bersesuaian dengan negeri sebelah timur laut dan utara tengah dari India sekarang. Mp mencantumkan Vin I 197, 20-29, untuk spesifikasi tepat dari perbatasannya. Dikatakan bahwa para Buddha, para paccekabuddha, para siswa besar, dan lain-lain, terlahir hanya di sini. Semua wilayah yang berada di luar batasan ini disebut “propinsi jauh” (paccantimā janapadā). Bahwa definisi-definisi ini adalah fleksibel terlihat dalam pernyataan Mp bahwa seluruh Jambudīpa dapat disebut wilayah tengah dan benua lainnya adalah propinsi jauh. Di Sri Lanka (pada masa para komentator), wilayah Anurādhapura dianggap sebagai wilayah tengah dan wilayah lainnya di negara itu adalah propinsi jauh. Tentang mleccha (kata Skt dari Pāli milakkha), SED menjelaskan: “seorang asing, biadab, bukan orang Ārya, orang dari ras terbuang, siapa pun yang tidak berbahasa Sanskrit dan tidak sesuai dengan institusi Hindu yang umum.”
  5. Mp: “Mata kebijaksanaan yang mulia (ariya paññācakkhu): sang jalan bersama dengan pandangan terang.”
  6. Ce dan Be ete va sattā bahutarā ye atthamaññāya dhammamaññāya dhammānudhammaṃ na paṭipajjanti; Ee ete va sattā bahutarā ye na atthaṃ aññāya na dhammaṃ aññāya dhammānudhammaṃ na paṭipajjanti. Saya menganggap bahwa dalam Ce dan Be negasi na yang mendahului kata kerja finitif dimaksudkan untuk memberlakukan secara menyeluruh pada bentuk absolutif yang mendahuluinya. Tulisan pada Ee didukung oleh edisi cetakan Sri Lanka yang lama.
  7. Saṃvejaniyesu ṭhānesu saṃvijjanti. Tentang rasa keterdesakan (saṃvega), baca 3:128, 4:113. Komentar menguraikan “delapan landasan bagi rasa keterdesakan” (aṭṭha saṃvegavatthūni): kelahiran, usia tua, penyakit, kematian; penderitaan di alam sengsara; penderitaan yang berakar dalam masa lalu saṃsāra seseorang; penderitaan yang harus dialami di masa depan saṃsāra seseorang; dan penderitaan yang berakar dalam pencarian makanan. Baca Sv III 795, 6-9, Ps I 298, 24-28, Spk III 163,23-26, Mp II 68, 9-12.
  8. Mp: “Berdasarkan pada kebebasan (vavassaggārammaṇaṃ karitvā): kebebasan adalah nibbāna. Maknanya adalah: setelah menjadikan itu sebagai objek. Memperoleh konsentrasi (labhanti samādhiṃ): mereka memperoleh konsentrasi sang jalan dan konsentrasi buah.” Saya tidak yakin ungkapan vavassaggārammaṇaṃ karitvā harus diinterpretasikan dalam makna teknis (yang digunakan dalam Abhidhamma) citta sang jalan dan buah dengan nibbāna sebagai objeknya. Ungkapan ini juga digunakan dalam definisi indria konsentrasi pada SN 48:9-10 (V 197,14-16, V 198,24-25). Mungkin awalnya hanya bermakna suatu kondisi samādhi yang didorong oleh aspirasi untuk mencapai kebebasan. Dalam SN, jalan mulia berunsur delapan, tujuh faktor pencerahan, dan lima indria spiritual sering digambarkan sebagai vossaggapariṇāmiṃ, “berkembang menuju kebebasan” atau “matang dalam kebebasan,” vossagga dan vavassagga adalah bentuk alternatif dari kata yang sama.
  9. Mp mengidentifikasi “rasa makna” (attharasa) sebagai empat buah, “rasa Dhamma” (dhammarasa) sebagai empat jalan, dan rasa kebebasan (vimuttirasa) sebagai nibbāna tanpa-kematian (amatanibbāna). Baca 8:19: “Dhamma dan disiplin ini hanya memiliki satu rasa, yaitu rasa kebebasan” (ayaṃ dhammavinayo ekaraso vimuttiraso). Sekali lagi, Mp tampaknya memaksakan perbedaan teknis yang diformulasikan pada periode belakangan ke dalam sutta.
  10. Saya mengikuti Ce dan Be menghitung tiga puluh sutta dalam kelompok ini. Ee menggabungkannya menjadi satu.
  11. Sutta-sutta ini bersesuaian persis dengan SN 56:102-31, V 474-77.