(279) “Adalah tidak mungkin dan tidak masuk akal, para bhikkhu, bahwa seorang perempuan dapat menjadi seorang Arahant yang adalah seorang Buddha yang tercerahkan sempurna … (280) … bahwa seorang perempuan dapat menjadi seorang Raja Pemutar Roda … (281) … bahwa seorang perempuan dapat menempati posisi Sakka … (282) … bahwa seorang perempuan dapat menempati posisi Māra … (283) … bahwa seorang perempuan dapat menempati posisi Brahmā; tidak ada kemungkinan seperti itu. Tetapi adalah mungkin bahwa seorang laki-laki dapat menempati posisi Brahmā; ada kemungkinan seperti itu.”1

(284) “Adalah tidak mungkin dan tidak masuk akal, para bhikkhu, bahwa suatu akibat yang diharapkan, diinginkan, dan menyenangkan dapat dihasilkan dari perilaku salah melalui jasmani … (285) … bahwa suatu akibat yang diharapkan, diinginkan, dan menyenangkan dapat dihasilkan dari perilaku salah melalui ucapan … (286) … bahwa suatu akibat yang diharapkan, diinginkan, dan menyenangkan dapat dihasilkan dari perilaku salah melalui pikiran; tidak ada kemungkinan seperti itu. Tetapi ada kemungkinan bahwa suatu akibat yang tidak diharapkan, tidak diinginkan, dan tidak menyenangkan dapat dihasilkan [dari perilaku salah melalui jasmani … dari perilaku salah melalui ucapan …] dari perilaku salah melalui pikiran; ada kemungkinan seperti itu.”


Catatan Kaki
  1. Tampaknya bahwa dalam Nikāya-Nikāya lama gagasan bercita-cita untuk mencapai Kebuddhaan di masa depan tidak diangkat sama sekali. Dengan demikian klaim yang dinyatakan di sini bukanlah bahwa seorang perempuan tidak dapat menjadi seorang Buddha yang tercerahkan sempurna di masa depan tetapi bahwa seorang Buddha adalah selalu laki-laki. Penegasan dalam sutta ini jangan dibaca sebagai mengecualikan kemungkinan bahwa seseorang yang adalah perempuan pada kehidupan sekarang dapat menjadi seorang Buddha, tetapi hal ini harus terjadi dalam kehidupan mendatang, setelah ia telah mengalami perubahan jenis kelamin. Pernyataan ini tidak diragukan telah diformulasikan dalam konteks kebudayaan India pada masa itu, yang selalu menyerahkan posisi yang berkuasa kepada para laki-laki. MĀ 181, sebuah paralel China dari MN 115, tidak memasukkan bagian ketidak-mampuan para perempuan ini. Namun demikian, kita menemukan pernyataan bahwa seorang perempuan tidak dapat menjadi seorang Buddha dalam sutta paralel China lainnya, pada T XVII 713b20-22. Juga muncul dalam sebuah sūtra yang dikutip dalam Abhidharma Mahāvibhāṣā pada T XXVI 502b16-18, dan dalam *Ṥāriputrābhidharma Ṥāstra pada T XXVIII, 600b10-12. Menurut teks-teks kanonis belakangan seperti Buddhavaṃsa, jika seorang perempuan bertekad untuk mencapai Kebuddhaan di hadapan seorang Buddha, maka tekadnya tidak berhasil (yaitu, ia tidak akan menerima ramalan mencapai Kebuddhaan di masa depan). Agar tekadnya berhasil, maka sang calon harus seorang laki-aki dan telah meninggalkan kehidupan rumah tangga. Baca Bodhi 2007: 251-53. Sakka adalah penguasa para deva di alam surga Tāvatiṃsa.