1

“Adalah tidak mungkin dan tidak masuk akal, para bhikkhu, bahwa seseorang yang sempurna dalam pandangan, dapat menganggap fenomena apa pun yang terkondisi sebagai kekal; tidak ada kemungkinan seperti itu. Tetapi adalah mungkin [27] bahwa seorang kaum duniawi dapat menganggap suatu fenomena terkondisi sebagai kekal; ada kemungkinan seperti itu.”2

“Adalah tidak mungkin dan tidak masuk akal, para bhikkhu, bahwa seseorang yang sempurna dalam pandangan, dapat menganggap fenomena apa pun yang terkondisi sebagai menyenangkan; tidak ada kemungkinan seperti itu. Tetapi adalah mungkin bahwa seorang kaum duniawi dapat menganggap suatu fenomena terkondisi sebagai menyenangkan; ada kemungkinan seperti itu.”3

“Adalah tidak mungkin dan tidak masuk akal, para bhikkhu, bahwa seseorang yang sempurna dalam pandangan, dapat menganggap fenomena apa pun yang terkondisi sebagai diri; tidak ada kemungkinan seperti itu. Tetapi adalah mungkin bahwa seorang kaum duniawi dapat menganggap suatu fenomena terkondisi sebagai diri; ada kemungkinan seperti itu.”4

(271) “Adalah tidak mungkin dan tidak masuk akal, para bhikkhu, bahwa seseorang yang sempurna dalam pandangan, dapat membunuh ibunya … (272) bahwa seseorang yang sempurna dalam pandangan, dapat membunuh ayahnya … (273) bahwa seseorang yang sempurna dalam pandangan, dapat membunuh seorang Arahant … (274) bahwa seseorang yang sempurna dalam pandangan dapat, dengan pikiran kebencian, melukai seorang Tathāgata hingga berdarah … (275) bahwa seseorang yang sempurna dalam pandangan, dapat memecah belah Saṅgha … (276) bahwa seseorang yang sempurna dalam pandangan, dapat mengakui orang lain [selain Sang Buddha] sebagai gurunya; tidak ada kemungkinan seperti itu. Tetapi adalah mungkin bahwa seorang kaum duniawi dapat mengakui seorang lain [selain Sang Buddha] sebagai gurunya; ada kemungkinan seperti itu.”5

“Adalah tidak mungkin dan tidak masuk akal, para bhikkhu, bahwa dua Arahant yang adalah para Buddha yang tercerahkan sempurna6 [28] dapat muncul pada masa yang sama dalam satu sistem dunia; tidak ada kemungkinan seperti itu. Tetapi adalah mungkin bahwa satu orang Arahant yang adalah Buddha yang tercerahkan sempurna dapat muncul dalam satu sistem dunia; ada kemungkinan seperti itu.”7

“Adalah tidak mungkin dan tidak masuk akal, para bhikkhu, bahwa dua Raja Pemutar Roda dapat muncul pada masa yang sama dalam satu sistem dunia; tidak ada kemungkinan seperti itu.8 Tetapi adalah mungkin bahwa satu orang Raja Pemutar Roda dapat muncul dalam satu sistem dunia; ada kemungkinan seperti itu.”


Catatan Kaki
  1. Be membagi dua puluh delapan sutta dalam vagga ini menjadi tiga sub bab terdiri dari sepuluh, sembilan, dan sembilan sutta berturut-turut. Saya mengikuti Ce yang memperlakukan semuanya dalam satu vagga dengan nama Aṭṭhānapāḷi. Banyak dari ucapan-ucapan ini juga terdapat dalam MN 115.12-19, III 64-67.
  2. Mp: “Seorang yang sempurna dalam pandangan (diṭṭhisampanna) adalah seorang siswa mulia, seorang pemasuk-arus, yang memiliki pandangan sang jalan (maggadiṭṭhiyā sampanna). Kaum duniawi, sebaliknya, mungkin menganggap fenomena terkondisi dari tiga alam [alam indria, alam berbentuk, dan alam tanpa bentuk] sebagai kekal melalui pandangan keabadian (sassatadiṭṭhī).”
  3. Mp: “Ini dikatakan sehubungan dengan obsesi pada kenikmatan yang erjadi melalui pandangan diri (attadiṭṭhivasena), seperti pada mereka yang menganut bahwa diri adalah sangat berbahagia dan abadi, dan seterusnya. Tetapi, dengan pikiran yang terlepas dari pandangan-pandangan (diṭṭhivippayuttacittena), seorang siswa mulia yang menderita demam dapat menganggap bahkan tinja sebagai menyenangkan, mempercayainya dapat menyembuhkan demamnya.”
  4. Mp: “Pada bagian tentang diri, bukannya membicarakan tentang ‘fenomena terkondisi’ (sankhāra), yang digunakan adalah ungkapan ‘segala sesuatu’ (kañci dhammaṃ); ini bertujuan untuk memasukkan entitas-entitas konseptual seperti kasiṇa, dan seterusnya (baca 1:455-64). Apa pun yang digenggam oleh kaum duniawi sebagai kekal, menyenangkan, dan diri¸ siswa mulia melepaskan dirinya dari cengkeraman itu, menganggapnya sebagai tidak kekal, penderitaan, dan bukan-diri.”
  5. Lima yang pertama adalah perbuatan-perbuatan kejam yang menghasilkan akibat segera (ānantariya kamma), pasti menghasilkan kelahiran kembali di neraka pada kehidupan berikutnya. Kelima ini disebutkan secara kolektif pada 6:94. Keenam hal secara bersama-sama dirujuk pada Sn 233 sebagai “enam hal yang tidak dapat dilakukan” (cha cābhiṭhānāni abhabbo kātuṃ) oleh pemasuk-arus. Mp: “Ini di sini adalah kehendak: ‘Kondisi seorang kaum duniawi adalah tercela sejauh seorang kaum duniawi dapat melakukan perbuatan-perbuatan ini yang menghasilkan akibat segera, seperti membunuh ibu dan seterusnya. Tetapi siswa mulia adalah kuat karena ia tidak melakukan perbuatan-perbuatan demikian.’” Sehubungan dengan melukai seorang Tathāgata hingga berdarah, Mp mengatakan bahwa ungkapan “dengan pikiran kebencian” (paduṭṭhacitto) digunakan untuk menggaris-bawahi motifnya. Devadatta, yang ingin membunuh Sang Buddha dan mengambil alih Saṅgha, melukai Sang Buddha dalam suatu percobaan pembunuhan yang gagal dan karenanya melakukan ānantariya kamma. Tetapi tabib Jīvaka, ingin memulihkan kesehatan Sang Buddha, melukai kulit Sang Buddha untuk mengeluarkan darah kotor; karena itu ia melakukan perbuatan baik. Tentang memecah-belah Saṅgha (saṅghabheda), baca 10:37, 10:39.
  6. Ini berlebihan, karena sammā sambuddha hanya berarti “Seorang yang tercerahkan sempurna,” tetapi saya menerjemahkan kata ini demikian untuk menghindari kesalahpahaman. Walaupun para siswa Arahant mencapai sambodhi, pencerahan sempurna, dan kadang-kadang disebut sebagai sambuddha, “tercerahkan,” namun sebutan sammā sambuddha dikhususkan untuk pendiri, yang oleh diri sendiri mencapai anuttara sammā sambodhi, “pencerahan sempurna yang tidak terlampaui.”
  7. Mp menjelaskan kata “sezaman” (apubbaṃ acarimaṃ, lit. “bukan sebelum, bukan sesudah”) untuk mencakup periode dari saat seorang Bodhisatta memasuki rahim ibunya hingga relik-relik Sang Buddha lenyap. Hanya ada satu Buddha pada satu waktu karena seorang Buddha adalah tanpa imbangan atau tandingan (baca 1:172, 1:174). Dengan demikian jika dua Buddha muncul pada waktu yang sama, maka pernyataan ini akan menjadi tidak berlaku. Hal ini juga dibahas pada Mil 236-39, yang dikutip oleh Mp. Mp mengatakan demikian karena tidak ada sutta yang mengatakan tentang kemunculan Buddha di sistem dunia lain, sementara ada sutta yang mengatakan bahwa Buddha tidak muncul di tempat lain, hanya di sistem dunia ini (imasmiṃyeva cakkavāḷe) Mereka muncul. Mp-ṭ mencantumkan beberapa sutta yang diinterpretasikan sebagai ketidak-mungkinan munculnya Buddha di tempat lain, tetapi teks-teks ini tampaknya tidak sepositif seperti yang dimaksudkan oleh penulis. Mungkin argumen ini dimaksudkan untuk membantah gagasan yang telah berkembang dalam sūtra-sūtra Mahāyāna awal (atau bahkan di antara aliran-aliran pra-Mahāyāna lainnya) bahwa para Buddha muncul dalam sistem dunia di sepuluh penjuru. Untuk pandangan Buddhis awal tentang sistem dunia, baca 3:81.
  8. Seorang “raja pemutar roda” (rājā cakkavatī) adalah sesosok raja ideal yang menaklukkan negeri-negeri di empat penjuru dengan keadilan. Dalam AN ia disebutkan dalam 3:14, 5:131-33, 7:62, dan 7:66. Untuk penjelasan terperinci, baca MN 129, 33-47, III 172-77.