easter-japanese

1

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya keinginan indria yang belum muncul menjadi muncul dan keinginan indria yang telah muncul menjadi bertambah dan meningkat selain daripada gambaran dari apa yang menarik.2 Bagi seorang yang mengamati secara tidak seksama pada gambaran dari apa yang menarik, maka keinginan indria yang belum muncul menjadi muncul dan keinginan indria yang telah muncul menjadi bertambah dan meningkat.”

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya niat buruk yang belum muncul menjadi muncul dan niat buruk yang telah muncul menjadi bertambah dan meningkat selain daripada gambaran dari apa yang menjijikkan.3 Bagi seorang yang mengamati secara tidak seksama pada gambaran dari apa yang menjijikkan, maka niat buruk yang belum muncul menjadi muncul dan niat buruk yang telah muncul menjadi bertambah dan meningkat.”

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya ketumpulan dan kantuk yang belum muncul menjadi muncul dan ketumpulan dan kantuk yang telah muncul menjadi bertambah dan meningkat selain daripada ketidak-puasan, kelesuan, kemalasan, kantuk setelah makan, dan kelambanan pikiran.4 Bagi seorang dengan pikiran yang lamban, maka ketumpulan dan kantuk yang belum muncul menjadi muncul dan ketumpulan dan kantuk yang telah muncul menjadi bertambah dan meningkat.”

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya kegelisahan dan penyesalan yang belum muncul menjadi muncul dan kegelisahan dan penyesalan yang telah muncul menjadi bertambah dan meningkat selain daripada pikiran yang kacau.5 Bagi seorang dengan pikiran yang kacau, maka kegelisahan dan penyesalan yang belum muncul menjadi muncul dan kegelisahan dan penyesalan yang telah muncul menjadi bertambah dan meningkat.” [4]

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya keragu-raguan yang belum muncul menjadi muncul dan keragu-raguan yang telah muncul menjadi bertambah dan meningkat selain daripada pengamatan tidak seksama.6 Bagi seorang yang mengamati secara tidak seksama, maka keragu-raguan yang belum muncul menjadi muncul dan keragu-raguan yang telah muncul menjadi bertambah dan meningkat.”

7

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya keinginan indria yang belum muncul menjadi tidak muncul dan keinginan indria yang telah muncul menjadi ditinggalkan selain daripada gambaran dari apa yang tidak menarik.8 Bagi seorang yang mengamati secara seksama pada gambaran dari apa yang tidak menarik, maka keinginan indria yang belum muncul menjadi tidak muncul dan keinginan indria yang telah muncul menjadi ditinggalkan.”9

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya niat buruk yang belum muncul menjadi tidak muncul dan niat buruk yang telah muncul menjadi ditinggalkan selain daripada kebebasan pikiran melalui cinta-kasih.10 Bagi seorang yang mengamati secara seksama pada kebebasan pikiran melalui cinta-kasih, maka niat buruk yang belum muncul menjadi tidak muncul dan niat buruk yang telah muncul menjadi ditinggalkan.”11

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya ketumpulan dan kantuk yang belum muncul menjadi tidak muncul dan ketumpulan dan kantuk yang telah muncul menjadi ditinggalkan selain daripada elemen dorongan, elemen keuletan, elemen pengerahan.12 Bagi seorang yang telah membangkitkan kegigihan, maka ketumpulan dan kantuk yang belum muncul menjadi tidak muncul dan ketumpulan dan kantuk yang telah muncul menjadi ditinggalkan.”13

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya kegelisahan dan penyesalan yang belum muncul menjadi tidak muncul dan kegelisahan dan penyesalan yang telah muncul menjadi ditinggalkan selain daripada penenteraman pikiran.14 Bagi seorang dengan pikiran yang tenteram, maka kegelisahan dan penyesalan yang belum muncul menjadi tidak muncul dan kegelisahan dan penyesalan yang telah muncul menjadi ditinggalkan.”15

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun [5] yang karenanya keragu-raguan yang belum muncul menjadi tidak muncul dan keragu-raguan yang telah muncul menjadi ditinggalkan selain daripada pengamatan seksama.16 Bagi seorang yang mengamati dengan seksama, maka keragu-raguan yang belum muncul menjadi tidak muncul dan keragu-raguan yang telah muncul menjadi ditinggalkan.”17


Catatan Kaki
  1. Rangkaian sutta-sutta ini menempatkan hubungan antara kelima rintangan dan kondisi utamanya. Sehubungan dengan hal ini, sutta-sutta ini serupa dengan SN 46:2, V 64-65, dan SN 46:51, V 102-3, mengenai makanan bagi kelima rintangan. Untuk penjelasan lebih lanjut tentang kelima rintangan dalam AN, baca 5:23, 5:51, 5:52, 5:193↩︎

  2. Subhanimitta. Mp: “Gambaran dari apa yang menarik adalah suatu objek yang menjadi landasan bagi nafsu.” Mp mengutip berbagai penggunaan kata nimitta: sebagai kondisi (paccaya), sebab (kāraṇa), konsentrasi (samādhi), dan pandangan terang (vipassanā). Di sini bermakna “suatu objek yang menyenangkan yang menjadi landasan bagi nafsu” (rāgaṭṭhāniyo iṭṭhārammaṇadhammo). Mp mengemas ayoniso manasikaroto sebagai anupāyena manasikarontassa (“bagi seorang yang memperhatikan dengan tidak terampil”) dan mengutip definisi “pengamatan tidak seksama” (ayoniso manasikāra) pada Vibh 373 (Be §936): “Pengamatan tidak seksama adalah perhatian yang menyimpang, yang menganggap apa yang tidak kekal sebagai kekal, penderitaan sebagai kebahagiaan, apa yang bukan-diri sebagai diri, dan apa yang tidak menarik sebagai menarik. Atau ini adalah pengalihan pikiran, pengarahan, kecondongan, pertimbangan, pengamatan [pada objek] dalam suatu cara yang berlawanan dengan [empat] kebenaran mulia.” Bagi saya tampaknya meragukan bahwa penjelasan dari ayoniso manasikāra dapat berlaku untuk semua penerapan kata ini dalam Nikāya-nikāya. Bahkan dalam sutta berikutnya, tentang muncul dan bertambahnya niat buruk, dapat dipertanyakan bahwa mengamati dengan tidak seksama pada “gambaran dari apa yang menjijikkan” dapat digolongkan dalam salah satu dari empat penyimpangan dalam definisi pada Vibh 373. ↩︎

  3. Paṭighanimitta. Mp: “Ini menunjukkan suatu tanda yang tidak menyenangkan; suatu sebutan bagi penolakan (kejijikan) dan bagi suatu objek yang menjijikkan” (aniṭṭhaṃ nimittaṃ; paṭighassapi paṭighassārammaṇassapi etaṃ adhivacanaṃ). Yang menarik, Mp melanjutkan dengan mengutip “komentar”: “Karena dikatakan dalam komentar: ‘Gambaran dari apa yang menjijikkan adalah penolakan (kejijikan) dan sebuah objek yang menjijikkan’” (vuttampi c’etaṃ aṭṭhakathāyaṃ paṭighampi paṭighanimittaṃ, paṭighārammaṇopi dhammo paṭighanimittan ti). Mp-ṭ mengidentifikasikan “komentar” sebagai “Komentar Besar” (mahā aṭṭhakathā), salah satu komentar Sinhala kuno yang digunakan oleh Buddhaghosa sebagai sumber bagi komentarnya. Komentar-komentar kuno ini sudah tidak ada lagi, tetapi kiasan ini menjelaskan bahwa Buddhaghosa bekerja menurut sumber dan bukan menuliskan karya sendiri. ↩︎

  4. Istilah-istilah ini didefinisikan pada Vibh 352 (Be §§856-860). ↩︎

  5. Avūpasantacittassa. Mp: “Pikiran yang tidak ditenangkan oleh jhāna atau pandangan terang.” ↩︎

  6. Mp mengutip Dhs 205 (Be §1167) untuk definisi dari rintangan keragu-raguan (vicikicchānīvaraṇa) sebagai keragu-raguan terhadap Buddha, Dhamma, Saṅgha, dan latihan (baca juga 5:205). ↩︎

  7. Rangkaian ini, 1:16-20, bersesuaian dengan SN 46:51 §3, V 105-6, tentang “penelantaran” atau pelenyapan kelima rintangan. ↩︎

  8. Mp menggunakan skema komentar atas kelima jenis pelepasan untuk menjelaskan bagaimana keinginan indria dan rintangan-rintangan lainnya ditinggalkan: (1) dalam hal tertentu (tadaṅgappahāna), melalui pandangan terang; (2) dengan penekanan (vikkhambhanappahāna), melalui pencapaian meditatif; (3) melalui pembasmian (samucchedappahāna), melalui jalan yang melampaui keduniawian; (4) dengan meredanya (paṭipassadhippahāna), melalui buah; dan (5) dengan jalan membebaskan diri (nissaraṇappahāna), melalui nibbāna, “kebebasan dari segala kekotoran.” Mp mengatakan bahwa seluruh lima ini berlaku di sini.

    Mp mengidentifikasi “gambaran dari apa yang tidak menarik” (asubhanimitta) sebagai jhāna pertama yang muncul dengan berlandaskan pada salah satu dari sepuluh objek yang tidak menarik (dasasu asubhesu uppannaṃ sārammaṇaṃ paṭhamajjhānaṃ). Penjelasan ini bersandar pada skema Vism, yang menganggap objek asubha sebagai mayat-mayat dalam berbagai tahap kerusakan (baca Vism 178-93, Ppn 6.1-80). Walaupun kita memang menemukan meditasi pada kerusakan mayat-mayat dalam Nikāya-nikāya (baca di bawah 1:480-84), khususnya sutta-sutta yang menjelaskan persepsi ketidak-menarikan (asubhasaññā) sebagai meditasi pada tiga puluh satu unsur jasmani (meningkat menjadi tiga puluh dua dalam karya-karya belakangan dengan menambahkan otak). Baca, misalnya, 10:60 §3, tentang persepsi ketidak-menarikan. Persepsi ini muncul di antara kelompok lima subjek meditasi yang memuncak pada tanpa-kematian (5:61), yang mengarah menuju nibbāna (5:69) dan hancurnya noda-noda (5:70), dan yang membawa kebebasan pikiran dan kebebasan melalui kebijaksanaan (5:71). Pada 7:49 §1, persepsi ketidak-menarikan direkomendasikan sebagai penawar bagi keinginan seksual, dan pada 9:1 §6 dan 9:3 §6 diresepkan untuk meninggalkan nafsu. ↩︎

  9. Selaras dengan komentar pada Satipaṭṭhāna Sutta (pada Sv III 778-82, Ps I 282-86), Mp menguraikan enam hal yang mengarah pada ditinggalkannya masing-masing dari kelima rintangan. Enam hal yang mengarah menuju ditinggalkannya keinginan indria adalah: mempelajari objek yang tidak menarik, meditasi pada objek yang tidak menarik, menjaga pintu-pintu indria, makan secukupnya, pertemanan yang baik, dan percakapan yang selayaknya. ↩︎

  10. Mettācetovimutti. Mp: “Cinta kasih meliputi semua makhluk dengan [mengharapkan] kesejahteraan mereka. Karena pikiran yang berhubungan dengan cinta kasih itu terbebaskan dari kondisi-kondisi yang berlawanan seperti rintangan-rintangan, maka disebut kebebasan pikiran (cetovimutti). Khususnya, ‘kebebasan pikiran’ ini adalah terbebaskan dari obsesi oleh niat buruk. Di sini, apa yang dimaksudkan dengan ‘kebebasan pikiran’ adalah absorpsi (appanā) melalui tiga atau empat jhāna [tergantung dari apakah skema empat atau lima jhāna yang digunakan].” Mp-ṭ: “[Hal ini dikatakan] karena tidak ada kebebasan [pikiran] melalui cinta kasih hingga seseorang mencapai absorpsi.” Pada 6:3 §1 cinta kasih diajarkan sebagai jalan membebaskan diri dari niat buruk. Pada 9:1 §7 dan 9:3 §7, hal ini direkomendasikan untuk meninggalkan niat buruk. 8:63 §1 mengajarkan pendekatan berbeda untuk mengembangkan kebebasan pikiran melalui cinta kasih, dan 8:1 dan 11:15 menjelaskan, berturut-turut, delapan dan sebelas manfaat menguasai kebebasan pikiran melalui cinta kasih. Skema empat jhāna adalah khas Nikāya-nikāya; skema lima jhāna muncul dalam Abhidhamma dengan membagi jhāna ke dua menjadi dua: yang ke dua dengan pemeriksaan dan yang ke tiga tanpa pemikiran dan tanpa pemeriksaan. ↩︎

  11. Mp menyebutkan enam hal yang mengarah pada ditinggalkannya niat buruk: mempelajari meditasi cinta kasih, melatih meditasi cinta kasih, meninjau kepemilikan kamma, perenungan berulang-ulang, pertemanan yang baik, dan percakapan yang selayaknya. Tentang “meninjau kepemilikan kamma,” Mp mengatakan bahwa seseorang harus merenungkan sebagai berikut: “Jika anda marah kepada orang lain, apakah yang dapat anda lakukan? Dapatkah anda menghancurkan perilaku bermoralnya, dan sebagainya? Bukankah anda datang ke dunia ini karena kamma anda sendiri dan bukankah anda meninggal dunia melalui kamma anda sendiri? Marah kepada orang lain adalah bagaikan memegang bara panas tanpa api atau sebatang tombak berlumuran kotoran untuk menusuk seseorang. Jika ia marah kepada anda, apakah yang dapat ia lakukan? Dapatkah ia menghancurkan perilaku bermoral anda, dan sebagainya? Bukankah ia datang ke dunia ini karena kammanya sendiri dan bukankah ia meninggal dunia melalui kammanya sendiri? Bagaikan sebuah persembahan kue yang ditolak, atau bagaikan segenggam debu yang ditebarkan melawan arah angin, kemarahannya akan tetap bersamanya.” Untuk cara-cara mengatasi kemarahan, baca Vism 298-306, Ppn 9:14-39. ↩︎

  12. Ārambhadhātu, nikkamadhātu, parakkamadhātu. Mp menjelaskan hal-hal ini berturut-turut sebagai tingkat-tingkat kegigihan yang kuat. ↩︎

  13. Mp menyebutkan enam hal lain yang mengarah pada ditinggalkannya ketumpulan dan kantuk: makan secukupnya, mengubah postur, persepsi cahaya, menetap di ruang terbuka, pertemanan yang baik, dan percakapan selayaknya. Untuk makan secukupnya, Mp (selaras dengan komentar-komentar lain) menyarankan bahwa ketika seseorang masih memiliki ruang untuk empat atau lima suap, maka ia harus berhenti makan dan melanjutkan dengan meminum air. ↩︎

  14. Vūpasantacittassa. Mp: “Pikiran yang ditenangkan oleh jhāna atau oleh pandangan terang.” ↩︎

  15. Mp: “Enam hal lain yang mengarah pada ditinggalkannya kegelisahan dan penyesalan: banyak belajar, mengajukan pertanyaan, menjadi terampil dalam Vinaya, mengunjungi para bhikkhu senior, pertemanan yang baik, dan percakapan selayaknya.” ↩︎

  16. Ini adalah ringkasan. SN 46:51 §3, V 106,9-15, mengatakan bahwa “penelantaran” keragu-raguan terjadi “melalui pengamatan seksama pada kualitas-kualitas bermanfaat dan tidak bermanfaat, kualitas-kualitas tercela dan tidak tercela, kualitas-kualitas hina dan mulia, kualitas-kualitas gelap dan terang dengan pasangannya.” ↩︎

  17. Mp: “Enam hal lainnya yang mengarah pada ditinggalkannya keragu-raguan: banyak belajar, mengajukan pertanyaan, menjadi terampil dalam Vinaya, keteguhan berlimpah (yaitu, kepercayaan dan keyakinan pada Tiga Permata), pertemanan yang baik, dan percakapan selayaknya.” ↩︎