Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Sang Bhagavā memanggil para bhikkhu: “Para bhikkhu!”

“Yang Mulia!” para bhikkhu itu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu bentuk pun yang begitu mengobsesi pikiran1 seorang laki-laki selain daripada bentuk seorang perempuan. Bentuk seorang perempuan mengobsesi pikiran seorang laki-laki.”

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu suara pun yang begitu mengobsesi pikiran seorang laki-laki selain daripada suara seorang perempuan. Suara seorang perempuan mengobsesi pikiran seorang laki-laki.”

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu bau pun yang begitu mengobsesi pikiran seorang laki-laki selain daripada bau seorang perempuan. Bau seorang perempuan mengobsesi pikiran seorang laki-laki.”2 [2]

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu rasa kecapan pun yang begitu mengobsesi pikiran seorang laki-laki selain daripada rasa seorang perempuan. Rasa seorang perempuan mengobsesi pikiran seorang laki-laki.”3

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu sentuhan pun yang begitu mengobsesi pikiran seorang laki-laki selain daripada sentuhan seorang perempuan. Sentuhan seorang perempuan mengobsesi pikiran seorang laki-laki.”4

5

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu bentuk pun yang begitu mengobsesi pikiran seorang perempuan selain daripada bentuk seorang laki-laki. Bentuk seorang laki-laki mengobsesi pikiran seorang perempuan.”

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu suara pun yang begitu mengobsesi pikiran seorang perempuan selain daripada suara seorang laki-laki. Suara seorang laki-laki mengobsesi pikiran seorang perempuan.”

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu bau pun yang begitu mengobsesi pikiran seorang perempuan selain daripada bau seorang laki-laki. Bau seorang laki-laki mengobsesi pikiran seorang perempuan.”

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu rasa kecapan pun yang begitu mengobsesi pikiran seorang perempuan selain daripada rasa seorang laki-laki. Rasa seorang laki-laki mengobsesi pikiran seorang perempuan.”

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu sentuhan pun yang begitu mengobsesi pikiran seorang perempuan selain daripada sentuhan seorang laki-laki. Sentuhan seorang laki-laki mengobsesi pikiran seorang perempuan.”[3]


Catatan Kaki
  1. Di sini dan di tempat lain saya menerjemahkan idiom Pāli cittaṃ pariyādāya tiṭṭhati hanya sebagai “[ini] mengobsesi pikiran.” Secara literal dapat diterjemahkan “setelah menguasai pikiran, [hal itu] menetap [di sana].”
  2. Mp: “aroma tubuh perempuan adalah memuakkan (duggandha), tetapi apa yang dimaksudkan di sini adalah bau-bauan yang berasal dari tubuhnya karena salep, dan sebagainya.”
  3. Mp: “Rasa kecapan perempuan adalah rasa kecapan bibirnya, ludahnya, dan sebagainya, dan rasa kecapan bubur, nasi, dan sebagainya yang ia berikan kepada suaminya. Banyak makhluk yang menemui bencana setelah menerima kemanisan dari seorang perempuan.”
  4. Mp: “Karena perbedaan watak dan kecenderungan tersembunyi makhluk-makhluk, maka Sang Buddha menyebutkan masing-masing dari [kelima objek indria] seperti bentuk-bentuk, dengan mengatakan: ‘Aku tidak melihat apa pun seperti ini.’ Ketika seseorang memuja bentuk, maka bentuk sesosok perempuan mengobsesi pikirannya dan mengganggunya – mengikatnya, memikatnya, memperdayanya, dan membingungkannya; tetapi tidak demikian dengan objek-objek indria lainnya seperti suara. Demikian pula, suara dan bukan bentuk memikat seseorang yang memuja suara, dan seterusnya. Bagi beberapa orang, hanya satu objek indria yang mengobsesi pikirannya; bagi beberapa orang lain, dua objek – atau tiga, empat, atau lima objek – menguasai mereka. Demikianlah lima sutta ini dibabarkan karena kelima jenis pemujaan [pada objek-objek indria yang berbeda].”
  5. Mp: “Tidak hanya para laki-laki yang memuja kelima objek indria namun para perempuan juga. Oleh karena itu kelima sutta berikutnya diformulasikan dengan perempuan sebagai subjek.”