“Beritahukanlah bahaya, oh tuan, dari seseorang yang ditaklukkan oleh hubungan seksual. Setelah mendengar ajaranMu, Kami akan berlatih dalam pengasingan.”

Sang Buddha:

“Seseorang yang ditaklukkan oleh hubungan seksual, sang ajaran tidak dimengerti dengan baik dan dia berlatih dengan cara yang salah: hal ini tidak terpuji pada dirinya. Siapapun yang sebelumnya pergi seorang diri, tetapi kemudian terjerumus pada hubungan seksual — seperti sebuah kereta yang lepas kendali — adalah disebut kejijikan di dunia, Seorang awam. Kemulian & harga diri sebelumnya: hilang. Mengetahui hal ini, dia harus melatih dirinya untuk meninggalkan hubungan seksual.

Diatasi dengan tekad, dia meratap bagai seorang yang malang yang menyedihkan. Mendengar cemoohan orang lain, ia malu. Ia membuat senjata-senjata, diserang oleh kata-kata orang lain. Ini, untuk dirinya, adalah sebuah jeratan besar. Ia tenggelam dalam dusta.

Mereka mengira ia bijaksana ketika ia telah pergi bertekad untuk hidup sendiri, tetapi sekarang ia ditaklukkan oleh hubungan seksual mereka menyatakan ia adalah seorang bodoh.

Mengetahui kerugian ini, para bijaksana disini — sebelum & sesudah — tetap teguh untuk hidup sendiri; tidak terjerumus dalam hubungan seksual; akan melatih dirinya dalam pengasingan — ini, untuk para mulia, adalah tertinggi. Ia tidak karena hal tersebut, berpikir dirinya lebih baik dari orang lain: Ia sudah diambang Pembebasan.

Orang-orang yang terjerat pada kenikmatan sensual, iri pada dirinya: bebas, seorang bijaksana menjalani hidupnya tanpa ketertarikan pada kenikmatan sensual — seseorang yang telah menyebrangi banjir.”