easter-japanese

Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap diantara penduduk Bhagga di Suṃsumāragira, di taman rusa di Hutan Bhesakalā. Pada saat itu Yang Mulia Mahāmoggallāna sedang duduk dan mengantuk1 di Kallavāmuttagāma di antara penduduk Magadha. Dengan mata dewaNya, yang murni dan melampaui manusia, Sang Bhagavā melihat Yang Mulia Mahāmoggallāna sedang duduk dan mengantuk. Kemudian, secepat seorang kuat merentangkan lengannya yang tertekuk atau menekuk lengannya yang terentang, Sang Bhagavā lenyap dari taman rusa di Hutan Bhesakalā, dan muncul kembali di hadapan Yang Mulia Mahāmoggallāna. Sang Bhagavā duduk di tempat duduk yang telah dipersiapkan untukNya dan berkata:

“Apakah engkau mengantuk, Moggallāna? Apakah engkau mengantuk, Moggallāna?”

“Benar, Bhante.”

(1) “Oleh karena itu, Moggallāna, engkau tidak boleh memperhatikan atau melatih objek yang sedang engkau perhatikan ketika engkau mengantuk. [86] Dengan cara demikian, adalah mungkin bahwa kantukmu akan ditinggalkan.

(2) “Tetapi jika engkau tidak dapat meninggalkan kantukmu dengan cara demikian, maka engkau harus merenungkan, memeriksa, dan dengan pikiran menyelidiki Dhamma yang telah engkau dengar dan pelajari. Dengan cara demikian, adalah mungkin bahwa kantukmu akan ditinggalkan.

(3) “Tetapi jika engkau tidak dapat meninggalkan kantukmu dengan cara demikian, maka engkau harus melafalkan Dhamma secara terperinci seperti yang telah engkau dengar dan pelajari. Dengan cara demikian, adalah mungkin bahwa kantukmu akan ditinggalkan.

(4) “Tetapi jika engkau tidak dapat meninggalkan kantukmu dengan cara demikian, maka engkau harus menarik kedua telingamu dan menggosok bagian-bagian tubuhmu dengan tanganmu. Dengan cara demikian, adalah mungkin bahwa kantukmu akan ditinggalkan.

(5) “Tetapi jika engkau tidak dapat meninggalkan kantukmu dengan cara demikian, maka engkau harus bangkit dari dudukmu, menggosok matamu dengan air, menatap segala penjuru, dan menatap konstelasi dan bintang-bintang. Dengan cara demikian, adalah mungkin bahwa kantukmu akan ditinggalkan.

(6) “Tetapi jika engkau tidak dapat meninggalkan kantukmu dengan cara demikian, maka engkau harus memperhatikan persepsi cahaya; engkau harus mempersepsikan siang hari sebagai berikut: ‘Seperti halnya siang hari, demikian pula malam hari; seperti halnya malam hari, demikian pula siang hari.’ Demikianlah, dengan pikiran terbuka dan tidak tertutup, engkau harus mengembangkan pikiran yang dipenuhi dengan kecemerlangan. Dengan cara demikian, adalah mungkin bahwa kantukmu akan ditinggalkan. [87]

(7) “Tetapi jika engkau tidak dapat meninggalkan kantukmu dengan cara demikian, maka engkau harus melakukan [olah raga] berjalan mondar-mandir, mengawasi apa yang ada di belakangmu dan apa yang ada di depanmu, dengan organ-organ indriamu tertarik ke dalam dan pikiranmu ditenangkan. Dengan cara demikian, adalah mungkin bahwa kantukmu akan ditinggalkan.

“Tetapi jika engkau tidak dapat meninggalkan kantukmu dengan cara demikian, maka engkau harus berbaring pada sisi kanan dalam postur singa, dengan satu kaki di atas kaki lainnya, penuh perhatian dan memahami dengan jernih, setelah mencatat dalam pikiranmu gagasan untuk terjaga. Ketika engkau terjaga, engkau harus bangkit dengan segera, [dengan berpikir]: ‘Aku tidak akan terlena pada kenikmatan beristirahat, kenikmatan bermalas-malasan, kenikmatan tidur.’ Adalah dengan cara ini, Moggallāna, engkau harus berlatih.

“Oleh karena itu, Moggallāna, engkau harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami tidak akan mendatangi keluarga-keluarga [untuk menerima dana makanan] dengan kepala menggembung oleh kesombongan.’ Dengan cara inilah, Moggallāna, engkau harus berlatih. Mungkin, Moggallāna, bahwa seorang bhikkhu mendatangi keluarga-keluarga dengan kepala menggembung oleh kesombongan. Sekarang ada pekerjaan-pekerjaan rumah yang harus dilakukan dalam keluarga-keluarga itu, dan karena alasan ini, ketika seorang bhikkhu datang, orang-orang tidak memperhatikannya. Dalam situasi demikian bhikkhu itu mungkin berpikir: ‘Siapakah yang telah menghasut keluarga ini memusuhiku? Tampaknya orang-orang ini sekarang telah menjadi tidak peduli padaku’. Dengan cara ini, karena tidak mendapatkan perolehan ia merasa terhina; ketika merasa terhina, ia menjadi gelisah; ketika ia gelisah, maka ia kehilangan pengendaliannya. Pikiran seseorang yang tanpa pengendalian adalah jauh dari konsentrasi.

“Oleh karena itu, Moggallāna, engkau harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami tidak akan terlibat dalam perdebatan.’ Dengan cara inilah engkau harus berlatih. Ketika terjadi perdebatan, maka akan ada kata-kata yang berlebihan. Ketika ada kata-kata yang berlebihan, maka seseorang menjadi gelisah; ketika ia gelisah, maka ia kehilangan pengendaliannya. Pikiran seseorang yang tanpa pengendalian adalah jauh dari konsentrasi.

“Moggallāna, Aku tidak memuji keterikatan dengan siapa pun, juga Aku tidak [88] memuji ketidak-terikatan sama sekali. Aku tidak memuji keterikatan dengan para perumah tangga dan kaum monastik, tetapi Aku memuji keterikatan dengan tempat-tempat tinggal yang sepi dan tidak berisik yang jauh dari kesibukan orang-orang, jauh dari pemukiman manusia, dan sesuai untuk keterasingan.”

Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Moggallāna berkata kepada Sang Bhagavā:2 “Secara singkat, Bhante, bagaimanakah seorang bhikkhu terbebaskan dalam padamnya ketagihan, menjadi yang terbaik di antara para deva dan manusia: seorang yang telah mencapai akhir tertinggi, telah memenangkan keamanan tertinggi dari belenggu, telah menjalankan kehidupan spiritual tertinggi, dan telah memperoleh kesempurnaan tertinggi?”

“Di sini, Moggallāna, seorang bhikkhu telah mendengar: ‘Tidak ada yang layak digenggam.’ Ketika seorang bhikkhu telah mendengar: ‘Tidak ada yang layak digenggam,’ ia secara langsung mengetahui segala sesuatu. Setelah mengetahui segala sesuatu, ia sepenuhnya memahami segala sesuatu. Setelah sepenuhnya memahami segala sesuatu, perasaan apa pun yang ia rasakan – apakah menyenangkan, menyakitkan, atau bukan menyakitkan juga bukan menyenangkan – ia berdiam dengan merenungkan ketidak-kekalan dalam hal-hal itu, merenungkan peluruhan dalam perasaan-perasaan itu, merenungkan pelenyapan dalam perasaan-perasaan itu, merenungkan pelepasan dalam perasaan-perasaan itu. Ketika ia berdiam merenungkan ketidak-kekalan … peluruhan … pelenyapan … pelepasan dalam perasaan-perasaan itu, ia tidak melekat pada apa pun di dunia. Karena tidak melekat, ia tidak bergejolak. Karena tidak bergejolak, ia secara pribadi mencapai nibbāna. Ia memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan kembali lagi pada kondisi makhluk apa pun.’

“Secara singkat, Moggallāna, dengan cara inilah seorang bhikkhu menjadi yang terbaik di antara para deva dan manusia: seorang yang telah mencapai akhir tertinggi, telah memenangkan keamanan tertinggi dari belenggu, telah menjalankan kehidupan spiritual tertinggi, dan telah memperoleh kesempurnaan tertinggi.”


Catatan Kaki
  1. Pacalāyamāno nisinno hoti. Persis di bawah, Mp mengemas pertanyaan Sang Buddha, “Pacalāyasī no?” menjadi “Niddāyasi nu” (“Apakah engkau jatuh tertidur?”. Mp: “Sewaktu bergantung pada desa untuk menerima dana makanan, Moggallāna telah berlatih meditasi di hutan. Selama tujuh hari ia telah dengan bersemangat berlatih meditasi berjalan dan usaha itu melelahkannya. Demikianlah ia mengantuk [di tempat duduknya] di ujung jalan setapak itu.” ↩︎

  2. Percakapan ini juga terdapat pada MN 37.2-3, I 251-52, tetapi dengan Sakka sebagai penanya. Mp menjelaskan kalimat ini sebagai berikut: “Tidak ada (lit., tidak semua) yang layak digenggam (sabbe dhammā nālaṃ abhinivesāya): di sini, ‘segala sesuatu’ (sabbe dhammā) adalah kelima kelompok unsur kehidupan, dua belas landasan indria, dan delapan belas elemen. Hal-hal ini adalah tidak layak digenggam melalui ketagihan dan pandangan. Mengapa tidak? Karena hal-hal itu bukan seperti dalam cara bagaimana hal-hal itu digenggam. Hal-hal itu digenggam sebagai kekal, menyenangkan, dan diri, tetapi hal-hal itu ternyata tidak kekal, penderitaan, dan bukan-diri. Oleh karena itu tidak layak digenggam. Seseorang secara langsung mengetahuinya melalui pemahaman penuh atas apa yang diketahui (ñātapariññāya abhijānāti) sebagai tidak kekal, penderitaan, dan bukan-diri. Ia sepenuhnya memahaminya dalam cara yang sama dengan pemahaman penyelidikan sepenuhnya (tīraṇapariññāya parijānāti).” “Segala sesuatu” dalam terjemahan saya dari Mp berhubungan dengan “tidak ada” dari sutta, karena frasa Pāli dari sutta ini adalah bentuk negatif dari “sabbe dhammā”(“tidak semua”). Tentang ketiga jenis pemahaman penuh (pariññā), baca Vism 606,18 – 607,23, Ppn 20.3-6. ↩︎