easter-japanese

“Para bhikkhu, ada lima bahaya masa depan ini yang belum muncul yang akan muncul di masa depan. Kalian harus mengenalinya dan berusaha untuk meninggalkannya. Apakah lima ini?

(1) “Di masa depan, akan ada para bhikkhu yang menginginkan jubah yang baik. Mereka akan berhenti menggunakan jubah potongan kain, berhenti bertempat tinggal di tempat-tempat terpencil di dalam hutan dan belantara, dan setelah berkumpul di desa-desa, pemukiman-pemukiman, dan kota-kota besar, akan menetap di sana, dan mereka akan terlibat dalam banyak jenis pencarian yang salah dan tidak selayaknya demi sehelai jubah. Ini adalah bahaya masa depan pertama yang belum muncul yang akan muncul di masa depan. Kalian harus mengenalinya dan berusaha untuk meninggalkannya. [109]

(2) “Kemudian, di masa depan akan ada para bhikkhu yang menginginkan makanan yang baik. Mereka akan berhenti melakukan pengumpulan dana makanan, berhenti bertempat tinggal di tempat-tempat terpencil di dalam hutan dan belantara, dan setelah berkumpul di desa-desa, pemukiman-pemukiman, dan kota-kota besar, akan menetap di sana; mencari makanan-makanan lezat terbaik dengan ujung lidah mereka; dan mereka akan terlibat dalam banyak jenis pencarian yang salah dan tidak selayaknya demi makanan. Ini adalah bahaya masa depan ke dua yang belum muncul yang akan muncul di masa depan. Kalian harus mengenalinya dan berusaha untuk meninggalkannya.

(3) “Kemudian, di masa depan akan ada para bhikkhu yang menginginkan tempat tinggal yang baik. Mereka akan berhenti berdiam di bawah pohon, akan berhenti bertempat tinggal di tempat-tempat terpencil di dalam hutan dan belantara, dan setelah berkumpul di desa-desa, pemukiman-pemukiman, dan kota-kota besar, akan menetap di sana; dan mereka akan terlibat dalam banyak jenis pencarian yang salah dan tidak selayaknya demi tempat tinggal. Ini adalah bahaya masa depan ke tiga yang belum muncul yang akan muncul di masa depan. Kalian harus mengenalinya dan berusaha untuk meninggalkannya.

(4) “Kemudian, di masa depan akan ada para bhikkhu yang berhubungan erat dengan para bhikkhunī, para perempuan yang dalam masa percobaan, dan para sāmaṇera.1 Ketika mereka membentuk hubungan demikian, dapat diharapkan bahwa mereka akan menjalani kehidupan spiritual dengan tidak puas, melakukan pelanggaran kotor tertentu,2 atau meninggalkan latihan dan kembali kepada kehidupan rendah. Ini adalah bahaya masa depan ke empat yang belum muncul yang akan muncul di masa depan. Kalian harus mengenalinya dan berusaha untuk meninggalkannya.

(5) “Kemudian, di masa depan akan ada para bhikkhu yang berhubungan erat dengan para pekerja vihara dan para sāmaṇera. Ketika mereka membentuk hubungan demikian, dapat diharapkan bahwa mereka akan terlibat dalam penggunaan berbagai jenis barang-barang simpanan [110] dan memberikan isyarat nyata sehubungan dengan tanah dan tanaman.3 Ini adalah bahaya masa depan ke lima yang belum muncul yang akan muncul di masa depan. Kalian harus mengenalinya dan berusaha untuk meninggalkannya.

“Ini, para bhikkhu, adalah kelima bahaya masa depan itu yang belum muncul yang akan muncul di masa depan. Kalian harus mengenalinya dan berusaha untuk meninggalkannya.”


Catatan Kaki
  1. Saṃsaṭṭhā viharissanti. Mp: “Mereka akan berhubungan erat melalui lima jenis hubungan (pañcavidhena saṃsaggena).” Mp-ṭ: “Lima hubungan: hubungan melalui mendengar, melihat, percakapan, makan bersama, kontak fisik” (savanasaṃsaggo, dassanasaṃsaggo, samullāpasaṃsaggo, sambhogasaṃsaggo, kāyasaṃsaggo). Mp-ṭ mengidentifikasinya semua sebagai manifestasi nafsu dan memberi contoh yang terakhir dengan nafsu yang muncul karena berpegangan tangan (hatthaggāha, suatu pelanggaran saṅghādisesa jika terjadi antara seorang bhikkhu dan seorang perempuan). Seorang perempuan yang dalam masa percobaan (sikkhamānā) adalah para bhikkhunī yang telah ditahbiskan sebagai sāmaṇerī yang secara resmi dilatih sebelum penahbisan penuh sebagai bhikkhunī. ↩︎

  2. Pelanggaran kotor (saṅkilitthaṃ āpattiṁ) di sini dapat berupa pārājika atau saṅghādisesa. ↩︎

  3. Penggunaan makanan yang disimpan (sannidhikāraparibhoga) dilarang dalam Pācittiya 38, Vin IV 86-87. Sehubungan dengan “memberikan isyarat nyata” (oḷārikaṃ nimittaṃ), Mp mengatakan: “Di sini, menggali tanah ini dan memerintahkan ‘Gali!’ disebut memberikan isyarat nyata sehubungan dengan tanah. Memotong dan memerintahkan ‘Potong!’ disebut memberikan isyarat nyata sehubungan dengan tanaman.” Rujukannya adalah pada Pācittiya 10 dan 11, Vin IV 32-33, 33-35. ↩︎