easter-japanese

“Para bhikkhu, ada lima bahaya masa depan ini yang belum muncul yang akan muncul di masa depan. Kalian harus mengenalinya [106] dan berusaha untuk meninggalkannya. Apakah lima ini?

(1) “Di masa depan, akan ada para bhikkhu yang tidak terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan.1 Mereka akan memberikan penahbisan penuh kepada orang lain tetapi tidak mampu mendisiplinkan mereka dalam perilaku bermoral yang lebih tinggi, pikiran yang lebih tinggi, dan kebijaksanaan yang lebih tinggi. [Murid-murid] ini juga tidak terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan. Pada gilirannya mereka akan memberikan penahbisan penuh kepada orang lain tetapi tidak mampu mendisiplinkan mereka dalam perilaku bermoral yang lebih tinggi, pikiran yang lebih tinggi, dan kebijaksanaan yang lebih tinggi. [Murid-murid] ini juga tidak terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan. Demikianlah, para bhikkhu, melalui kerusakan Dhamma maka terjadi kerusakan disiplin, dan dari kerusakan disiplin maka terjadi kerusakan Dhamma.2 Ini adalah bahaya masa depan pertama yang belum muncul yang akan muncul di masa depan. Kalian harus mengenalinya dan berusaha untuk meninggalkannya.

(2) “Kemudian, di masa depan, akan ada para bhikkhu yang tidak terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan. Mereka akan menjadi tempat bergantung3 bagi orang lain tetapi tidak mampu mendisiplinkan mereka dalam perilaku bermoral yang lebih tinggi, pikiran yang lebih tinggi, dan kebijaksanaan yang lebih tinggi. [Murid-murid] ini juga tidak terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan. Pada gilirannya mereka akan menjadi tempat bergantung bagi orang lain tetapi tidak mampu mendisiplinkan mereka dalam perilaku bermoral yang lebih tinggi, pikiran yang lebih tinggi, dan kebijaksanaan yang lebih tinggi. [Murid-murid] ini juga tidak terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan. Demikianlah, para bhikkhu, melalui kerusakan Dhamma maka terjadi kerusakan disiplin, dan dari kerusakan disiplin maka terjadi kerusakan Dhamma. Ini adalah bahaya masa depan ke dua yang belum muncul yang akan muncul di masa depan. Kalian harus mengenalinya dan berusaha untuk meninggalkannya. [107]

(3) “Kemudian, di masa depan, akan ada para bhikkhu yang tidak terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan. Sewaktu terlibat dalam pembicaraan yang berhubungan dengan Dhamma, dalam pertanyaan-dan-jawaban,4 mereka akan tergelincir ke dalam Dhamma gelap tetapi tidak menyadarinya. Demikianlah, para bhikkhu, melalui kerusakan Dhamma maka terjadi kerusakan disiplin, dan dari kerusakan disiplin maka terjadi kerusakan Dhamma. Ini adalah bahaya masa depan ke tiga yang belum muncul yang akan muncul di masa depan. Kalian harus mengenalinya dan berusaha untuk meninggalkannya.

(4) “Kemudian, di masa depan, akan ada para bhikkhu yang tidak terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan. Ketika khotbah-khotbah yang dibabarkan oleh Sang Tathāgata sedang dilafalkan yang mendalam, dengan makna yang mendalam, melampaui keduniawian, berhubungan dengan kekosongan, mereka tidak ingin mendengarkannya, tidak menyimaknya, dan tidak mengarahkan pikiran mereka untuk memahaminya; mereka tidak berpikir bahwa ajaran-ajaran itu seharusnya dipelajari dan diketahui.5 Tetapi ketika khotbah-khotbah yang sedang dilafalkan itu hanya sekedar puisi yang digubah oleh para penyair, indah dalam kata-kata dan frasanya, diciptakan oleh pihak luar, dibabarkan oleh para siswa, mereka ingin mendengarkannya, menyimaknya, dan mengarahkan pikiran mereka untuk memahaminya; mereka akan berpikir bahwa ajaran-ajaran itu seharusnya dipelajari dan diketahui. Demikianlah, para bhikkhu, melalui kerusakan Dhamma maka terjadi kerusakan disiplin, dan dari kerusakan disiplin maka terjadi kerusakan Dhamma. Ini adalah bahaya masa depan ke empat yang belum muncul yang akan muncul di masa depan. Kalian harus mengenalinya dan berusaha untuk meninggalkannya.

(5) “Kemudian, di masa depan, akan ada para bhikkhu yang tidak terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, [108] dan kebijaksanaan. Para bhikkhu senior – karena tidak terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan – akan hidup mewah dan menjadi mengendur, menjadi pelopor dalam kemerosotan, mengabaikan tugas keterasingan; mereka tidak akan membangkitkan kegigihan untuk mencapai apa-yang-belum-dicapai, untuk memperoleh apa-yang-belum-diperoleh, untuk merealisasikan apa-yang-belum-direalisasikan. Mereka dalam generasi berikutnya akan mengikuti teladan mereka. Mereka juga, akan hidup mewah dan menjadi mengendur, menjadi pelopor dalam kemerosotan, mengabaikan tugas keterasingan; mereka juga tidak akan membangkitkan kegigihan untuk mencapai apa-yang-belum-dicapai, untuk memperoleh apa-yang-belum-diperoleh, untuk merealisasikan apa-yang-belum-direalisasikan. Demikianlah, para bhikkhu, melalui kerusakan Dhamma maka terjadi kerusakan disiplin, dan dari kerusakan disiplin maka terjadi kerusakan Dhamma. Ini adalah bahaya masa depan ke lima yang belum muncul yang akan muncul di masa depan. Kalian harus mengenalinya dan berusaha untuk meninggalkannya.

“Ini, para bhikkhu, adalah kelima bahaya masa depan itu yang belum muncul yang akan muncul di masa depan. Kalian harus mengenalinya dan berusaha untuk meninggalkannya.”


Catatan Kaki
  1. Mp tidak mengomentari tentang abhāvitakāyā, tetapi Spk II 395,16 mengemasnya sebagai abhāvitapañcadvārikakāyā, “tidak terkembang dalam jasmani pada kelima pintu indria,” mungkin merujuk pada pengendalian indria. Saya curiga bahwa kata itu sesungguhnya merujuk pada pemeliharaan pemahaman jernih dalam segala postur dan berbagai aktivitas jasmani, seperti dijelaskan pada AN II 210,21-26, dan V 206,25-30. ↩︎

  2. Iti kho, bhikkhave, dhammasandosā vinayasandoso; vinayasandosā dhammasandoso. Mp: “Bagaimanakah bahwa ketika Dhamma menjadi rusak, maka disiplin menjadi rusak? Ketika dhamma-dhamma ketenangan dan pandangan terang tidak lagi dipelihara, maka kelima disiplin juga tidak ada. Tetapi ketika tidak ada disiplin pengendalian di antara mereka yang tidak bermoral, dalam ketiadaannya maka ketenangan dan pandangan terang tidak dipelihara. Dengan cara inilah, melalui kerusakan disiplin, maka terjadi kerusakan Dhamma.” Kelima disiplin melalui pengendalian adalah pengendalian melalui perilaku bermoral, perhatian, pengetahuan, kesabaran, dan kegigihan (sīlasaṃvara, satisaṃvara, ñāṇasaṃvara, khantisaṃvara, viriyasaṃvara). Baca Ps I 62,23-25, yang mengomentari Sabbāsava Sutta. ↩︎

  3. Nissaya. Suatu prosedur yang ditetapkan dalam Vinaya yang mana seorang bhikkhu junior melayani seorang bhikkhu senior yang memenuhi syarat yang memberikan pelajaran kepadanya, biasanya penahbis atau gurunya. Prosedur serupa juga ditetapkan untuk para bhikkhunī. Periode nissaya biasanya lima tahun pertama setelah penahbisan penuh, namun dapat diperpanjang dalam kasus seorang yang memerlukan waktu lebih lama untuk memperoleh kompetensi. Untuk penjelasan terperinci, baca Thanissaro 2007a: 29-40. ↩︎

  4. Abhidhammakathaṃ vedallakathaṃ kathentā. Saya menganggap kata abhidhamma di sini memiliki fungsi rujukan murni, yaitu, bermakna “berhubungan dengan Dhamma.” Kata ini tidak menunjukkan koleksi kanon dengan nama yang sama atau filosofinya. Baca DOP sv abhidhamme. Mp juga, tampaknya menganggap bahwa Abhidhamma Piṭaka tidak relevan di sini, dengan menjelaskan abhidhammakathaṃ dalam paragraf ini sebagai sebuah diskusi tentang “ajaran tertinggi tentang perilaku bermoral, dan sebagainya” (sīlādi-uttamadhammakathaṃ). Mp menganggap vedallakathaṃ sebagai “pembicaraan lainnya tentang pengetahuan yang berhubungan dengan kegembiraan inspiratif” (vedapaṭisaṃyuttaṃ ñāṇamissakakathaṃ). MN 43 dan MN 44 mencantumkan vedalla dalam judulnya dan dilanjutkan dengan berbagai tanya jawab antara para siswa. “Dhamma gelap” (kaṇhadhammaṃ) dikatakan muncul dengan cara mencari kesalahan dengan pikiran yang bermaksud untuk mengkritik orang lain (randhagavesitāya upārambhapariyesanavasena). ↩︎

  5. Baca 2:47. ↩︎