easter-japanese

“Para bhikkhu, ada lima situasi ini yang tidak dapat diperoleh seorang petapa atau brahmana, deva, Māra, atau Brahmā, atau siapa pun di dunia. Apakah lima ini? (1) ‘Semoga apa pun yang tunduk pada penuaan tidak menjadi tua!’: ini adalah sebuah situasi yang tidak dapat diperoleh seorang petapa atau brahmana, deva, Māra, atau Brahmā, atau siapa pun di dunia. (2) ‘Semoga apa pun yang tunduk pada penyakit tidak jatuh sakit!’: ini adalah sebuah situasi yang tidak dapat diperoleh seorang petapa … atau siapa pun di dunia. (3) ‘Semoga apa pun yang tunduk pada kematian tidak mati!’: ini adalah sebuah situasi yang tidak dapat diperoleh oleh seorang petapa … atau siapa pun di dunia. (4) ‘Semoga apa pun yang tunduk pada kehancuran tidak menjadi hancur!’: ini adalah sebuah situasi yang tidak dapat diperoleh seorang petapa … atau siapa pun di dunia. (5) ‘Semoga apa pun yang tunduk pada kehilangan tidak menjadi hilang!’: ini adalah sebuah situasi yang tidak dapat diperoleh seorang petapa atau brahmana, deva, Māra, atau Brahmā, atau siapa pun di dunia.

(1) “Para bhikkhu, bagi kaum duniawi yang tidak terpelajar, apa yang tunduk pada penuaan menjadi tua. Ketika hal ini terjadi, ia tidak merefleksikan: ‘Aku bukan satu-satunya yang padanya apa yang tunduk pada penuaan menjadi tua. Karena semua makhluk yang datang dan pergi, yang meninggal dunia dan mengalami kelahiran kembali, apa yang tunduk pada penuaan menjadi tua. Jika aku berdukacita, merana, meratap, menangis dengan memukul dada, dan menjadi kebingungan ketika apa yang tunduk pada penuaan menjadi tua, maka aku akan kehilangan selera makanku dan penampilanku akan menjadi buruk. Aku tidak akan mampu melakukan pekerjaanku, musuh-musuhku akan menjadi gembira, dan teman-temanku akan menjadi sedih.’ Demikianlah, ketika apa yang tunduk pada penuaan menjadi tua, ia berdukacita, merana, meratap, menangis dengan memukul dada, dan menjadi kebingungan. Ini disebut seorang kaum duniawi yang tidak terpelajar yang tertusuk oleh anak panah dukacita yang beracun yang hanya menyiksa dirinya sendiri.

(2) “Kemudian, bagi kaum duniawi yang tidak terpelajar, [55] apa yang tunduk pada penyakit jatuh sakit … (3) … apa yang tunduk pada kematian menjadi mati … (4) … apa yang tunduk pada kehancuran menjadi hancur … (5) … apa yang tunduk pada kehilangan menjadi hilang. Ketika hal ini terjadi, ia tidak merefleksikan: ‘Aku bukan satu-satunya yang padanya apa yang tunduk pada kehilangan menjadi hilang. Karena semua makhluk yang datang dan pergi, yang meninggal dunia dan mengalami kelahiran kembali, apa yang tunduk pada kehilangan menjadi hilang. Jika aku berdukacita, merana, meratap, menangis dengan memukul dada, dan menjadi kebingungan ketika apa yang tunduk pada kehilangan menjadi hilang, maka aku akan kehilangan selera makanku dan penampilanku akan menjadi buruk. Aku tidak akan mampu melakukan pekerjaanku, musuh-musuhku akan menjadi gembira, dan teman-temanku akan menjadi sedih.’ Demikianlah, ketika apa yang tunduk pada kehilangan menjadi hilang, ia berdukacita, merana, meratap, menangis dengan memukul dada, dan menjadi kebingungan. Ini disebut seorang kaum duniawi yang tidak terpelajar yang tertusuk oleh anak panah dukacita yang beracun yang hanya menyiksa dirinya sendiri.

(1) “Para bhikkhu, bagi siswa mulia yang terpelajar, apa yang tunduk pada penuaan menjadi tua. Ketika hal ini terjadi, ia merefleksikan: ‘Aku bukan satu-satunya yang padanya apa yang tunduk pada penuaan menjadi tua. Karena semua makhluk yang datang dan pergi, yang meninggal dunia dan mengalami kelahiran kembali, apa yang tunduk pada penuaan menjadi tua. Jika aku berdukacita, merana, meratap, menangis dengan memukul dada, dan menjadi kebingungan ketika apa yang tunduk pada penuaan menjadi tua, maka aku akan kehilangan selera makanku dan penampilanku akan menjadi buruk. Aku tidak akan mampu melakukan pekerjaanku, musuh-musuhku akan menjadi gembira, dan teman-temanku akan menjadi sedih.’ Demikianlah, ketika apa yang tunduk pada penuaan menjadi tua, ia tidak berdukacita, tidak merana, tidak meratap, tidak menangis dengan memukul dada, dan tidak menjadi kebingungan. Ini disebut seorang siswa mulia yang terpelajar yang telah mencabut anak panah dukacita yang beracun yang karena tertusuk oleh anak panah ini kaum duniawi yang tidak terpelajar hanya menyiksa dirinya sendiri. Dengan tidak berdukacita, tanpa anak panah, siswa mulia itu merealisasi nibbāna.1

(2) “Kemudian, bagi siswa mulia yang terpelajar, apa yang tunduk pada penyakit jatuh sakit … (3) … apa yang tunduk pada kematian menjadi mati … (4) … apa yang tunduk pada kehancuran menjadi hancur … (5) … apa yang tunduk pada kehilangan menjadi hilang. Ketika hal ini terjadi, ia merefleksikan: ‘Aku bukan satu-satunya yang padanya apa yang tunduk pada kehilangan menjadi hilang. Karena semua makhluk yang datang dan pergi, yang meninggal dunia dan mengalami kelahiran kembali, apa yang tunduk pada kehilangan [56] menjadi hilang. Jika aku berdukacita, merana, meratap, menangis dengan memukul dada, dan menjadi kebingungan ketika apa yang tunduk pada kehilangan menjadi hilang, maka aku akan kehilangan selera makanku dan penampilanku akan menjadi buruk. Aku tidak akan mampu melakukan pekerjaanku, musuh-musuhku akan menjadi gembira, dan teman-temanku akan menjadi sedih.’ Demikianlah, ketika apa yang tunduk pada kehilangan menjadi hilang, ia tidak berdukacita, tidak merana, tidak meratap, tidak menangis dengan memukul dada, dan tidak menjadi kebingungan. Ini disebut seorang siswa mulia yang terpelajar yang telah mencabut anak panah dukacita yang beracun yang karena tertusuk oleh anak panah ini kaum duniawi yang tidak terpelajar hanya menyiksa dirinya sendiri. Dengan tidak berdukacita, tanpa anak panah, siswa mulia itu merealisasi nibbāna.

“Ini, para bhikkhu, adalah kelima situasi itu ini yang tidak dapat diperoleh seorang petapa atau brahmana, deva, Māra, atau Brahmā, atau oleh siapa pun di dunia.

“Bukanlah dengan berdukacita dan meratap maka bahkan kebaikan terkecil pun di sini dapat diperoleh.2 Karena mengetahui bahwa seseorang berdukacita dan bersedih, maka musuh-musuhnya bergembira.

“Ketika orang bijaksana tidak terguncang dalam kesusahan, mengetahui bagaimana menentukan apa yang baik, musuh-musuhnya menjadi sedih, setelah melihat bahwa raut wajahnya tidak berubah.

“Di mana pun seseorang dapat memperoleh kebaikannya, dalam cara apa pun – dengan merapal, mantra-mantra, peribahasa-peribahasa, pemberian, atau tradisi3 - di sana ia harus mengerahkan usaha dengan cara itu.

“Tetapi jika ia memahami: ‘Kebaikan ini tidak dapat kuperoleh atau siapa pun juga,’ ia harus menerima situasi tersebut tanpa berdukacita, dengan berpikir: ‘Kamma adalah kuat; apakah yang dapat kulakukan sekarang?’” [57]


Catatan Kaki
  1. Teks menggunakan bentuk kausatif refleksif: attānaṃyeva parinibbāpeti. Ini juga dapat diterjemahkan: “Ia memadamkan dirinya sendiri.” Apa yang dipadamkan secara literal adalah perasaan sedih dukacita, tetapi kata kerja parinibbāpeti, berhubungan dengan kata benda nibbāna, yang menyiratkan bahwa ia mencapai kebebasan tertinggi. ↩︎

  2. Bersama dengan Ee saya membaca attho idha labbhā api appako pi (Be pada intinya serupa). Ce attho alabbho api appako pi berarti “bahkan kebaikan terkecil pun tidak dapat diperoleh,” yang merusak maknanya. ↩︎

  3. Paveṇiyā. Mp: “Melalui kebiasaan keluarga (kulavaṃsena). Maknanya adalah, ‘Kami telah secara tradisi mempraktikkan ini, dan kami tidak mempraktikkan itu.’” ↩︎