easter-japanese

Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Vesālī di aula beratap lancip di Hutan Besar. Kemudian, pada pagi harinya Sang Bhagavā merapikan jubah, membawa mangkuk dan jubahnya, dan mendatangi kediaman Ugga dari Vesālī, di mana Beliau duduk di tempat yang telah disediakan. Kemudian perumah tangga Ugga dari Vesālī menghampiri Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan berkata kepada Sang Bhagavā:

“Bhante, di hadapan Sang Bhagavā aku mendengar dan mempelajari ini: ‘Pemberi apa yang menyenangkan memperoleh apa yang menyenangkan.’ Bhante, bubur bunga sal ini menyenangkan.1 Sudilah Sang Bhagavā menerimanya dariku, demi belas kasihan.” Sang Bhagavā menerimanya, demi belas kasihan.

“Bhante, di hadapan Sang Bhagavā aku mendengar dan mempelajari ini: ‘Pemberi apa yang menyenangkan memperoleh apa yang menyenangkan.’ Bhante, daging babi dengan bumbu jujube ini menyenangkan.2 Sudilah Sang Bhagavā menerimanya dariku, demi belas kasihan.” Sang Bhagavā menerimanya, demi belas kasihan.

“Bhante, di hadapan Sang Bhagavā aku mendengar dan mempelajari ini: ‘Pemberi apa yang menyenangkan memperoleh apa yang menyenangkan.’ Bhante, tangkai sayuran goreng ini menyenangkan.3 Sudilah Sang Bhagavā menerimanya dariku, demi belas kasihan.” Sang Bhagavā menerimanya, demi belas kasihan.

“Bhante, di hadapan Sang Bhagavā aku mendengar dan mempelajari ini: ‘Pemberi apa yang menyenangkan memperoleh apa yang menyenangkan.’ Bhante, nasi beras gunung yang telah dibersihkan dari butiran-butiran beras hitam, yang dilengkapi dengan berbagai kuah dan bumbu-bumbu ini menyenangkan. Sudilah Sang Bhagavā menerimanya dariku, demi belas kasihan.” Sang Bhagavā menerimanya, demi belas kasihan. [50]

“Bhante, di hadapan Sang Bhagavā aku mendengar dan mempelajari ini: ‘Pemberi apa yang menyenangkan memperoleh apa yang menyenangkan.’ Bhante, kain dari Kāsi ini menyenangkan. Sudilah Sang Bhagavā menerimanya dariku, demi belas kasihan.” Sang Bhagavā menerimanya, demi belas kasihan.

“Bhante, di hadapan Sang Bhagavā aku mendengar dan mempelajari ini: ‘Pemberi apa yang menyenangkan memperoleh apa yang menyenangkan.’ Bhante, dipan yang beralaskan permadani, selimut, dan penutup, dengan tutup yang baik dari kulit kijang, dengan atap di atas dan bantal guling di kedua sisinya ini menyenangkan. Walaupun aku mengetahui bahwa ini tidak diperbolehkan untuk Sang Bhagavā, papan cendana ini bernilai lebih dari seribu.4 Sudilah Sang Bhagavā menerimanya dariku, demi belas kasihan.” Sang Bhagavā menerimanya, demi belas kasihan.

Kemudian Sang Bhagavā mengungkapkan penghargaannya kepada perumah tangga Ugga dari Vesālī sebagai berikut:

“Pemberi apa yang menyenangkan memperoleh apa yang menyenangkan, ketika ia dengan kerelaan memberikan kepada mereka yang lurus kain, tempat tidur, makanan, dan minuman, dan berbagai jenis benda kebutuhan. “Setelah mengetahui para Arahant adalah bagaikan lahan karena apa yang dilepaskan dan dipersembahkan, tidak ditahan,5 orang-orang baik memberikan apa yang sulit diberikan: pemberi apa yang menyenangkan memperoleh apa yang menyenangkan.”

Kemudian, setelah mengungkapkan penghargaannya kepada perumah tangga Ugga dari Vesālī, Sang Bhagavā bangkit dari duduknya dan pergi. Kemudian, beberapa waktu kemudian, perumah tangga Ugga dari Vesālī meninggal dunia. Setelah kematiannya, perumah tangga Ugga dari Vesālī terlahir kembali di tengah-tengah kelompok [dewata] dengan tubuh ciptaan-pikiran.6 Pada saat itu Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Kemudian, ketika malam telah berlalu, deva muda Ugga, dengan keindahan mempesona, menerangi seluruh [51] Hutan Jeta, mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, dan berdiri di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepadanya: “Aku harap Ugga, bahwa ini adalah apa yang engkau harapkan.”

“Tentu saja, Bhante, ini adalah apa yang kuharapkan.”

Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada deva muda Ugga dalam syair berikut:

“Pemberi apa yang menyenangkan memperoleh apa yang menyenangkan; pemberi apa yang terunggul sekali lagi memperoleh apa yang terunggul; pemberi apa yang baik memperoleh apa yang baik; pemberi apa yang terbaik mencapai kondisi terbaik. “Orang yang memberikan apa yang terbaik, pemberi apa yang terunggul, pemberi apa yang baik, berumur panjang dan termasyhur di mana pun ia terlahir kembali.”7


Catatan Kaki
  1. Sālapupphakaṃ khādaniyaṃ. Mp: “Sejenis makanan yang menyerupai tepung sal; terbuat dari tepung beras gunung yang dicampur dengan empat jenis manisan (madu, gula, mentega, dan ghee).” ↩︎

  2. Bersama dengan Be membaca sampannakolakaṃ sūkaramaṃsaṃ. Mp: “Daging babi berusia satu tahun yang dimasak dengan bumbu-bumbu seperti biji wijen, dan sebagainya, bersama dengan buah jujube manis.” ↩︎

  3. Ce nibaddhatelakaṃ nāḷiyasākaṃ (Be nibattatelakaṃ nāliyasākaṃ). Mp: “Tangkai sayuran dimasak dalam ghee yang dicampur dengan jintan dan bumbu-bumbu lainnya, yang dilumatkan bersama dengan tepung beras gunung; kemudian dioleskan dengan empat jenis manisan dan dibiarkan hingga mengeluarkan aroma tertentu.” ↩︎

  4. Demikianlah menurut Ce. Be dan Ee “lebih dari seratus ribu” (adhikasatasahasssaṃ). Diduga ini merujuk pada kahāpaṇa, mata uang utama masa itu. ↩︎

  5. Bersama Ce membaca anaggahītaṃ, bukan seperti Be dan Ee anuggahītaṃ. ↩︎

  6. Aññataraṃ manomayaṃ kāyaṃ upapajjati. Saya mengikuti Mp dalam menganggap ungkapan ini, seperti yang digunakan di sini, bermakna bahwa ia terlahir kembali di antara sekelompok (kāya) dewata, bukan bermakna bahwa ia terlahir kembali dengan tubuh ciptaan-pikiran. Mp: “[Terlahir kembali] dalam kelompok para deva di alam murni yang dihasilkan melalui pikiran jhāna” (suddhāvāsesu ekaṃ jhānamanena nibbattaṃ devakāyaṃ). Juga, pada AN III 348,28-349,1 (= V 139,5-8) kita menemukan tusitaṃ kāyaṃ upapanno, di mana kāyaṃ pasti berarti “kelompok.” Sehubungan dengan kekuatan-kekuatan spiritual, manomaya kāya menyiratkan tubuh halus yang dihasilkan melalui pikiran meditatif, seperti pada AN I 24,2. Baca juga 5:166. ↩︎

  7. Sulit untuk melihat mengapa sutta ini dimasukkan ke dalam Kelompok Lima. Mungkinkah versi awal hanya terdiri dari lima jenis persembahan dan yang ke enam ditambahkan belakangan, setelah sutta ini dimasukkan dalam Kelompok Lima? ↩︎