easter-japanese

1

Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Rājagaha di Hutan Bambu, Taman Suaka Tupai. Kemudian Putri Cundī,2 disertai oleh lima ratus kereta dan lima ratus dayang, mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, dan duduk di satu sisi. Kemudian Putri Cundī berkata kepada Sang Bhagavā:

“Bhante, kakakku adalah Pangeran Cunda. Ia berkata sebagai berikut: ‘Kapan pun seorang laki-laki atau seorang perempuan telah berlindung kepada Sang Buddha, Dhamma, dan Saṅgha, dan menghindari membunuh, menghindari apa yang tidak diberikan, menghindari perilaku seksual yang salah, menghindari berbohong, dan menghindari meminum minuman keras, arak, dan minuman memabukkan, yang menjadi landasan bagi kelengahan, maka dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia akan terlahir kembali di alam tujuan yang baik, bukan di alam tujuan yang buruk.’ Aku bertanya kepada Sang Bhagavā: ‘Guru seperti apakah, Bhante, yang seseorang harus yakini, agar, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia akan terlahir kembali hanya di alam tujuan yang baik, bukan di alam tujuan yang buruk? Dhamma seperti apakah, yang seseorang harus yakini, agar, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia akan terlahir kembali hanya di alam tujuan yang baik, bukan di alam tujuan yang buruk? Saṅgha seperti apakah, yang seseorang harus yakini, agar, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia akan terlahir kembali hanya di alam tujuan yang baik, bukan di alam tujuan yang buruk? Perilaku bermoral seperti apakah yang seseorang harus penuhi agar, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia akan terlahir kembali hanya di alam tujuan yang baik, bukan di alam tujuan yang buruk?”

(1) “Cundī, sejauh apa pun jangkauan makhluk-makhluk yang ada, apakah tanpa kaki atau berkaki dua, berkaki empat, atau berkaki banyak, apakah memiliki bentuk atau tanpa bentuk, apakah memiliki persepsi, tanpa persepsi, atau bukan memiliki persepsi juga bukan tanpa persepsi, Sang Tathāgata, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna dinyatakan sebagai yang terunggul di antara mereka. Mereka yang berkeyakinan pada Sang Buddha memiliki keyakinan pada yang terunggul, dan bagi mereka yang memiliki keyakinan pada yang terunggul, hasilnya juga terunggul.

(2) “Sejauh apa pun, Cundī, jangkauan fenomena-fenomena terkondisi yang ada, jalan mulia berunsur delapan dinyatakan sebagai yang terunggul di antaranya. Mereka yang berkeyakinan pada jalan mulia berunsur delapan memiliki keyakinan pada yang terunggul, dan bagi mereka yang memiliki keyakinan pada yang terunggul, hasilnya juga terunggul.3

(3) “Sejauh apa pun, Cundī, jangkauan fenomena-fenomena terkondisi atau tidak terkondisi yang ada, kebosanan dinyatakan sebagai yang terunggul di antaranya, yaitu digilasnya keangkuhan, dilenyapkannya dahaga, dicabutnya kemelekatan, dihentikannya lingkaran, hancurnya ketagihan, kebosanan, lenyapnya, nibbāna. Mereka yang [36] berkeyakinan pada Dhamma, pada kebosanan,4 memiliki keyakinan pada yang terunggul, dan bagi mereka yang memiliki keyakinan pada yang terunggul, hasilnya juga terunggul.

(4) “Sejauh apa pun, Cundī, jangkauan Saṅgha-Saṅgha atau kelompok-kelompok yang ada, Saṅgha para siswa Sang Tathāgata dinyatakan sebagai yang terunggul di antaranya, yaitu empat pasang makhluk, delapan jenis individu - Saṅgha para siswa Sang Bhagavā ini layak menerima pemberian, layak menerima keramahan, layak menerima persembahan, layak menerima penghormatan, lahan jasa yang tiada taranya di dunia. Mereka yang berkeyakinan pada Saṅgha memiliki keyakinan pada yang terunggul, dan bagi mereka yang memiliki keyakinan pada yang terunggul, hasilnya juga terunggul.

(5) “Sejauh apa pun, Cundī, jangkauan perilaku bermoral yang ada, perilaku bermoral yang disukai para mulia dinyatakan sebagai yang terunggul di antaranya, yaitu, ketika tidak rusak, tidak cacat, tanpa noda, tanpa bercak, membebaskan, dipuji oleh para bijaksana, tidak digenggam, mengarah pada konsentrasi. Mereka yang memenuhi perilaku bermoral yang disukai para mulia ini memenuhi yang terunggul, dan bagi mereka yang memenuhi yang terunggul, hasilnya juga terunggul.”

Bagi mereka yang berkeyakinan pada apa yang terunggul,5 mengetahui Dhamma yang terunggul, berkeyakinan pada Sang Buddha – yang terunggul – tidak terlampaui, layak menerima persembahan; bagi mereka yang berkeyakinan pada Dhamma yang terunggul, dalam kedamaian kebosanan yang membahagiakan; bagi mereka yang berkeyakinan pada Saṅgha yang terunggul, lahan jasa yang tiada taranya; bagi mereka yang memberikan pemberian kepada yang terunggul, jenis jasa yang terunggul meningkat: umur kehidupan yang terunggul, kecantikan yang terunggul, dan keagungan yang terunggul, reputasi baik yang terunggul, kebahagiaan yang terunggul, dan kekuatan yang terunggul.

Yang bijaksana yang memberi kepada yang terunggul, terkonsentrasi pada Dhamma yang terunggul, setelah menjadi deva atau manusia, bergembira setelah mencapai yang terunggul.


Catatan Kaki
  1. Ini memasukkan paralel yang diperluas dari 4:34. ↩︎

  2. Mp, dalam mengomentari sutta sebelumnya, mengatakan bahwa ia adalah putri Raja Bimbisāra. ↩︎

  3. Anehnya, baik Ce maupun Ee tidak mencantumkan paragraf ini, yang terdapat dalam Be. Ini tampaknya diperlukan untuk melengkapi kelompok lima hal. Paragraf ini terdapat dalam seluruh tiga edisi kelompok Empat. Paralelnya dalam It §90, 88, tidak mencantumkan paragraf ini, tetapi It §90 memasukkannya dalam kelompok Tiga dan dengan demikian membatasinya pada tiga objek keyakinan. ↩︎

  4. Virāge dhamme. Pernyataan paralel pada 4:34 hanya menuliskan virāge, tetapi It §90 menuliskan virāge dhamme. ↩︎

  5. Syair-syair ini juga terdapat pada 4:34. ↩︎