easter-japanese

Di Sāvatthī. “Para bhikkhu, ada lima kekuatan dari seorang yang masih berlatih ini. Apakah lima ini? Kekuatan keyakinan, kekuatan rasa malu, kekuatan rasa takut, kekuatan kegigihan, dan kekuatan kebijaksanaan.

(1) “Dan apakah, para bhikkhu, kekuatan keyakinan? Di sini, seorang siswa mulia memiliki keyakinan. Ia berkeyakinan pada pencerahan Sang Tathāgata sebagai berikut: ‘Sang Bhagavā adalah seorang Arahant, tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku, sempurna menempuh sang jalan, pengenal dunia, pelatih terbaik bagi orang-orang yang harus dijinakkan, guru para deva dan manusia, Yang Tercerahkan, Yang Suci.’ Ini disebut kekuatan keyakinan.

(2) “Dan apakah kekuatan rasa malu? Di sini, seorang siswa mulia memiliki rasa malu; ia malu atas perilaku salah melalui jasmani, ucapan, dan pikiran; ia malu dalam memperoleh kejahatan, kualitas-kualitas tidak bermanfaat. Ini disebut kekuatan rasa malu.

(3) “Dan apakah kekuatan rasa takut? Di sini, seorang siswa mulia memiliki rasa takut; ia takut terhadap perilaku salah melalui jasmani, ucapan, dan pikiran; ia takut dalam memperoleh kejahatan, kualitas-kualitas tidak bermanfaat. Ini disebut kekuatan rasa takut.1

(4) “Dan apakah kekuatan kegigihan? Di sini, seorang siswa mulia telah membangkitkan kegigihan untuk meninggalkan kualitas-kualitas tidak bermanfaat dan mendapatkan kualitas-kualitas bermanfaat; ia kuat, kokoh dalam pengerahan usaha, tidak mengabaikan tugas melatih kualitas-kualitas bermanfaat. Ini disebut kekuatan kegigihan.

(5) “Dan apakah kekuatan kebijaksanaan? Di sini, seorang siswa mulia bijaksana; ia memiliki kebijaksanaan yang melihat muncul dan lenyapnya, yang mulia dan menembus dan mengarah pada kehancuran penderitaan sepenuhnya. Ini disebut kekuatan kebijaksanaan.2

“Ini adalah kelima kekuatan dari seorang yang masih berlatih itu. Oleh karena itu, para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami akan memiliki kekuatan keyakinan, satu kekuatan dari seorang yang masih berlatih; kami akan memiliki kekuatan rasa malu, satu kekuatan dari seorang yang masih berlatih; kami akan memiliki kekuatan rasa takut, [3] satu kekuatan dari seorang yang masih berlatih; kami akan memiliki kegigihan, satu kekuatan dari seorang yang masih berlatih; kami akan memiliki kekuatan kebijaksanaan, satu kekuatan dari seorang yang masih berlatih.’ Demikianlah, para bhikkhu, kalian harus berlatih.”


Catatan Kaki
  1. Untuk perbedaan antara rasa malu (hiri) dan rasa takut (ottappa), dengan rujukannya, baca 2:8-9 dan Jilid 1 p. 506, catatan 225. ↩︎

  2. Mp menjelaskan udayatthagāminī paññā, “kebijaksanaan yang melihat muncul dan lenyapnya,” sebagai “kebijaksanaan yang mampu menembus muncul dan lenyapnya kelima kelompok unsur kehidupan (pañcannaṃ khandhānaṃ udayavayagāminiyā udayañca vayañca paṭivijjhituṃ samathāya). Ini adalah kebijaksanaan sang jalan bersama dengan kebijaksanaan pandangan terang (vipasanāpaññāya c’eva maggapaññāya).” ↩︎