easter-japanese

Demikianlah yang kudengar.1 Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Kosambī di Taman Ghosita. Pada saat itu Kakudha putra Koliya, pelayan Yang Mulia Mahāmoggallāna, baru saja meninggal dunia dan terlahir kembali di tengah-tengah kelompok [dewata] dengan tubuh ciptaan pikiran.2 Tubuhnya berukuran dua atau tiga kali luas lahan di sebuah desa Magadha, tetapi ia tidak menghalangi dirinya atau yang lainnya dengan tubuhnya itu.3

Kemudian deva muda Kakudha mendatangi Yang Mulia Mahāmoggallāna, bersujud kepadanya, berdiri di satu sisi, dan [123] berkata kepadanya: “Bhante, suatu keinginan muncul pada Devadatta: ‘Aku akan memimpin Saṅgha para bhikkhu.’ Dan bersama dengan munculnya pikiran ini, Devadatta kehilangan kekuatan batinnya.”4 Ini adalah apa yang dikatakan oleh deva muda Kakudha. Kemudian ia bersujud kepada Yang Mulia Mahāmoggallāna, mengelilinginya dengan sisi kanannya menghadap Yang Mulia Mahāmoggallāna, dan lenyap dari sana.

“Kemudian Yang Mulia Mahāmoggallāna mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan melaporkan segala yang telah terjadi. [Sang Bhagavā berkata:] “Tetapi, Moggallāna, apakah engkau melingkupi pikirannya dengan pikiranmu dan memahami deva muda Kakudha: ‘Apa pun yang dikatakan oleh deva muda Kakudha semuanya benar dan bukan sebaliknya’?”

“Benar, Bhante.”

“Ingatlah pernyataan ini, Moggallāna! Sekarang orang dungu itu, atas kehendaknya sendiri, mengungkapkan dirinya sendiri.

“Ada, Moggallāna, lima jenis guru ini terdapat di dunia. Apakah lima ini? [124]

(1) “Di sini, seorang guru yang perilakunya tidak murni mengaku: ‘Aku adalah seorang yang perilakunya murni. Perilakuku murni, bersih, tidak kotor.’ Para siswanya mengenalinya sebagai berikut: ‘Guru yang terhormat ini, walaupun perilakunya tidak murni, tetapi mengaku: “Aku adalah seorang yang perilakunya murni. Perilakuku murni, bersih, tidak kotor.” Ia akan tidak senang jika kami melaporkan hal ini kepada orang-orang awam. Bagaimana mungkin kami dapat memperlakukannya dengan cara yang tidak ia sukai? Lebih jauh lagi, ia dihormati dengan jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan dan perlengkapan bagi yang sakit. Seseorang akan dikenal dengan apa yang ia lakukan.’5 Para siswanya melindungi guru demikian sehubungan dengan perilakunya, dan seorang guru demikian mengharapkan agar dilindungi oleh para siswanya sehubungan dengan perilakunya.

(2) “Kemudian, seorang guru yang penghidupannya tidak murni mengaku: ‘Aku adalah seorang yang penghidupannya murni. Penghidupanku murni, bersih, tidak kotor.’ Para siswanya mengenalinya sebagai berikut: ‘Guru yang terhormat ini, walaupun penghidupannya tidak murni, tetapi mengaku: “Aku adalah seorang yang penghidupannya murni. Penghidupanku murni, bersih, tidak kotor.” Ia akan tidak senang jika kami melaporkan hal ini kepada orang-orang awam. Bagaimana mungkin kami dapat memperlakukannya dengan cara yang tidak ia sukai? Lebih jauh lagi, ia dihormati dengan jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan dan perlengkapan bagi yang sakit. Seseorang akan dikenal dengan apa yang ia lakukan.’ Para siswanya melindungi guru demikian sehubungan dengan penghidupannya, dan seorang guru demikian mengharapkan agar dilindungi oleh para siswanya sehubungan dengan penghidupannya.

(3) “Kemudian, seorang guru yang ajaran Dhammanya tidak murni mengaku: ‘Aku adalah seorang yang ajaran Dhammanya murni. Ajaran Dhammaku murni, bersih, tidak kotor.’ Para siswanya mengenalinya sebagai berikut: ‘Guru yang terhormat ini, walaupun ajaran Dhammanya tidak murni, [125] tetapi mengaku: “Aku adalah seorang yang ajaran Dhammanya murni. Ajaran Dhammaku murni, bersih, tidak kotor.” Ia akan tidak senang jika kami melaporkan hal ini kepada orang-orang awam. Bagaimana mungkin kami dapat memperlakukannya dengan cara yang tidak ia sukai? Lebih jauh lagi, ia dihormati dengan jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan dan perlengkapan bagi yang sakit. Seseorang akan dikenal dengan apa yang ia lakukan.’ Para siswanya melindungi guru demikian sehubungan dengan ajaran Dhammanya, dan seorang guru demikian mengharapkan agar dilindungi oleh para siswanya sehubungan dengan ajaran Dhammanya.

(4) “Kemudian, seorang guru yang penjelasan-penjelasannya tidak murni6 mengaku: ‘Aku adalah seorang yang penjelasan-penjelasannya murni. Penjelasan-penjelasanku murni, bersih, tidak kotor.’ Para siswanya mengenalinya sebagai berikut: ‘Guru yang terhormat ini, walaupun penjelasan-penjelasannya tidak murni, tetapi mengaku: “Aku adalah seorang yang penjelasan-penjelasannya murni. Penjelasan-penjelasanku murni, bersih, tidak kotor.” Ia akan tidak senang jika kami melaporkan hal ini kepada orang-orang awam. Bagaimana mungkin kami dapat memperlakukannya dengan cara yang tidak ia sukai? Lebih jauh lagi, ia dihormati dengan jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan dan perlengkapan bagi yang sakit. Seseorang akan dikenal dengan apa yang ia lakukan.’ Para siswanya melindungi guru demikian sehubungan dengan penjelasan-penjelasannya, dan seorang guru demikian mengharapkan agar dilindungi oleh para siswanya sehubungan dengan penjelasan-penjelasannya.

(5) “Kemudian, seorang guru yang pengetahuan dan penglihatannya tidak murni mengaku: ‘Aku adalah seorang yang pengetahuan dan penglihatannya murni. Pengetahuan dan penglihatanku murni, bersih, tidak kotor.’ Para siswanya mengenalinya sebagai berikut: ‘Guru yang terhormat ini, walaupun pengetahuan dan penglihatannya tidak murni, tetapi mengaku: “Aku adalah seorang yang pengetahuan dan penglihatannya murni. Pengetahuan dan penglihatanku murni, bersih, tidak kotor.” Ia akan tidak senang jika kami melaporkan hal ini kepada orang-orang awam. Bagaimana mungkin kami dapat memperlakukannya dengan cara yang tidak ia sukai? [126] Lebih jauh lagi, ia dihormati dengan jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan dan perlengkapan bagi yang sakit. Seseorang akan dikenal dengan apa yang ia lakukan.’ Para siswanya melindungi guru demikian sehubungan dengan pengetahuan dan penglihatannya, dan seorang guru demikian mengharapkan agar dilindungi oleh para siswanya sehubungan dengan pengetahuan dan penglihatannya.

“Ini adalah kelima jenis guru itu yang terdapat di dunia.”

(1) “Tetapi, Moggallāna, Aku adalah seorang yang perilakuNya murni dan Aku mengaku: ‘Aku adalah seorang yang perilakuNya murni. PerilakuKu murni, bersih, tidak kotor.’ Para siswaKu tidak melindungiKu sehubungan dengan perilakuKu, dan Aku tidak berharap agar dilindungi oleh para siswaKu sehubungan dengan perilakuKu. (2) Aku adalah seorang yang penghidupanNya murni dan Aku mengaku: ‘Aku adalah seorang yang penghidupanNya murni. PenghidupanKu murni, bersih, tidak kotor.’ Para siswaKu tidak melindungiKu sehubungan dengan penghidupanKu, dan Aku tidak berharap agar dilindungi oleh para siswaKu sehubungan dengan penghidupanKu. (3) Aku adalah seorang yang ajaran DhammaNya murni dan Aku mengaku: ‘Aku adalah seorang yang ajaran DhammaNya murni. Ajaran DhammaKu murni, bersih, tidak kotor.’ Para siswaKu tidak melindungiKu sehubungan dengan ajaran DhammaKu, dan Aku tidak berharap agar dilindungi oleh para siswaKu sehubungan dengan ajaran DhammaKu. (4) Aku adalah seorang yang penjelasan-penjelasanNya murni dan Aku mengaku: ‘Aku adalah seorang yang penjelasan-penjelasanNya murni. Penjelasan-penjelasanKu murni, bersih, tidak kotor.’ Para siswaKu tidak melindungiKu sehubungan dengan penjelasan-penjelasanKu, dan Aku tidak berharap agar dilindungi oleh para siswaKu sehubungan dengan penjelasan-penjelasanKu. (5) Aku adalah seorang yang pengetahuan dan penglihatanNya murni dan Aku mengaku: ‘Aku adalah seorang yang pengetahuan dan penglihatanNya murni. Pengetahuan dan penglihatanKu murni, bersih, tidak kotor.’ Para siswaKu tidak melindungiKu sehubungan dengan pengetahuan dan penglihatanKu, dan Aku tidak berharap agar dilindungi oleh para siswaKu sehubungan dengan pengetahuan dan penglihatanKu.” [127]


Catatan Kaki
  1. Kisah pembuka, bersama dengan khotbah tentang kelima jenis guru, terdapat pada Vin II 185-87. ↩︎

  2. Manomayaṃ kāyaṃ upapanno. Para dewata ciptaan pikiran adalah mereka yang terlahir kembali di alam berbentuk melalui kekuatan pencapaian jhāna masa lampau mereka. ↩︎

  3. Kata untuk “tubuh” di sini adalah attabhāvapaṭilābha. Saya menganggap paṭilābha hanya sebagai idiom tambahan dan tidak menganggap kata itu menambah apa pun dalam maknanya. Mp mengemas sebagai sarīrapaṭilābho, yang mendukung perkiraan saya bahwa yang dimaksudkan di sini adalah tubuh fisik. Ungkapan attabhāvapaṭilābha muncul pada 4:171, di mana kata itu merujuk pada keseluruhan jenis makhluk hidup. Dalam teks tersebut kata itu tidak dapat ditafsirkan secara sempit sebagai tubuh fisik, karena juga mencakup “para deva di landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi,” yang tanpa tubuh fisik.

    Sehubungan dengan ukuran tubuhnya, teks membaca dve vā tīṇi vā māgadhikāni gāmakkhettāni. Tentang gāmakkhetta Brahmāli menulis: “Kata ini juga muncul pada MN III 10,11: ekaṃ gāmakkhettaṃ upanissāya viharāma, dan pada MN II 167,27: amhākaṃ gāmakkhettaṃ āgacchanti. Dari kalimat ini tampaknya cukup jelas bagi saya bahwa gāmakkhetta merujuk pada sebuah desa bersama dengan semua lahan-lahannya” (komunikasi pribadi). Ukuran panjang tubuhnya ini menurut Mp menyiratkan bahwa tubuhnya adalah 3-4.5 mil atau 5-7 km tingginya. ↩︎

  4. Teks mengatakan tassā iddhiyā, “kekuatan batin itu,” bukan tassa iddhiyā, “kekuatan batinnya.” Kata ganti tersebut merujuk pada kekuatan batin yang telah disebutkan, namun sutta tidak menjelaskan apa itu. Konteks ini diberikan oleh Vin II 184,33-185,21, di mana Devadatta mengerahkan kekuatan batinnya dengan mengubah dirinya menjadi seorang anak muda yang mengenakan sabuk ular. Ia menggunakan kekuatan ini untuk mengesankan Pangeran Ajātasattu dan mendapatkan dukungannya. Selanjutnya Devadatta berpikir untuk menguasai Saṅgha dari Sang Buddha, yang karenanya ia kehilangan kekuatan batin itu. ↩︎

  5. Yaṃ tumo karissati tumo’va tena paññāyissati. PED menjelaskan akar kata tuma sebagai “kemungkinan besar merupakan bentuk singkat dari ātuma = attā, Skt ātman, diri.” Mp memparafrasakan: “Seorang akan dikenali melalui perbuatan yang ia lakukan” (yaṃ esa karissati, eso’va tena kammena pākaṭo bhavissati). ↩︎

  6. Aparisuddhaveyyākarano. Mp tidak berkomentar. Diduga, hal ini merujuk pada penjelasannya atas suatu hal dalam ajarannya atau jawabannya atas suatu pertanyaan. ↩︎