easter-japanese

“Para bhikkhu, ada empat jenis kepercayaan diri ini yang dimiliki oleh Sang Tathāgata, yang dengan memilikinya Beliau menyatakan posisinya sebagai sapi pemimpin, [9] mengaumkan auman singaNya di dalam kumpulan-kumpulan, dan memutar roda brahma.1 Apakah empat ini?

(1) “Aku tidak melihat landasan apa pun yang dengan berdasarkan pada landasan itu seorang petapa atau brahmana atau deva atau Māra atau Brahmā atau siapa pun di dunia dapat dengan logis mencelaKu, dengan mengatakan: ‘Walaupun Engkau mengaku tercerahkan sempurna, namun Engkau tidak sepenuhnya tercerahkan sehubungan dengan hal-hal ini.’ Karena aku tidak melihat landasan demikian, maka Aku berdiam aman, tanpa takut, dan percaya diri.

(2) “Aku tidak melihat landasan apa pun yang dengan berdasarkan pada landasan itu seorang petapa atau brahmana atau deva atau Māra atau Brahmā atau siapa pun di dunia dapat dengan logis mencelaKu, dengan mengatakan: ‘Walaupun Engkau mengaku noda-nodanya telah dihancurkan, namun Engkau tidak sepenuhnya menghancurkan noda-noda ini.’ Karena aku tidak melihat landasan demikian, maka Aku berdiam aman, tanpa takut, dan percaya diri.

(3) “Aku tidak melihat landasan apa pun yang dengan berdasarkan pada landasan itu seorang petapa atau brahmana atau deva atau Māra atau Brahmā atau siapa pun di dunia dapat dengan logis mencelaKu, dengan mengatakan: ‘Hal-hal ini yang Engkau katakan sebagai penghalang tidak mampu menghalangi orang yang melakukannya.’ Karena aku tidak melihat landasan demikian, maka Aku berdiam aman, tanpa takut, dan percaya diri.

(4) “Aku tidak melihat landasan apa pun yang dengan berdasarkan pada landasan itu seorang petapa atau brahmana atau deva atau Māra atau Brahmā atau siapa pun di dunia dapat dengan logis mencelaKu, dengan mengatakan: ‘Dhamma tidak menuntun seseorang menuju kehancuran penderitaan sepenuhnya, yang demi tujuan itu maka engkau mengajarkannya.’2 Karena aku tidak melihat landasan demikian, maka Aku berdiam aman, tanpa takut, dan percaya diri.

“Ini, para bhikkhu, adalah keempat jenis kepercayaan diri yang dimiliki oleh Sang Tathāgata, yang dengan memilikinya Beliau menyatakan posisinya sebagai sapi pemimpin, mengaumkan auman singaNya di dalam kumpulan-kumpulan, dan memutar roda Brahma.”

Jalan-jalan doktrin ini, yang diformulasikan dalam berbagai macam cara, yang diandalkan oleh para petapa dan brahmana, tidak mencapai Sang Tathāgata, yang percaya diri yang telah melewati melampaui jalan-jalan doktrin.3

Sempurna, setelah mengatasi [segalanya],

Beliau memutar roda Dhamma demi belas kasihan pada semua makhluk. Makhluk-makhluk bersujud kepada orang demikian, yang terbaik di antara para deva dan manusia, yang telah melampaui penjelmaan. [10]


Catatan Kaki
  1. Mp mengemas brahma di sini sebagai “yang terbaik, tertinggi, murni” (seṭṭhaṃ uttamaṃ visuddhaṃ) dan mengidentifikasikan brahmacakka sebagai dhammacakka, roda Dhamma. ↩︎

  2. Baca 3:64 dan Jiilid 1 p.538, catatan 451. ↩︎

  3. Vanarata menuliskan sehubungan dengan pāda c: “Saya pikir bahwa patvā adalah suatu adaptasi keliru dari Pāli awal yang asli pattā, yang dapat berbentuk absolutif juga dapat berbentuk pasif. Ketika Pāli dibentuk ulang, alternatif keliru yang dipilih. Pattā, sebagai bentuk pasif, seharusnya tidak diubah” (komunikasi pribadi). Saya membaca pāda d sesuai Be visāradaṃ vādapatthātivattaṃ, tulisan yang juga terdapat pada naskah-naskah kuno Sinhala. Ce menuliskan visāradaṃ vādapathātivattīnaṃ, yang juga masuk akal, tetapi Be visāradaṃ vādapathāti vuttaṃ jelas adalah kekeliruan. ↩︎