easter-japanese

“Para bhikkhu, ada empat jenis orang ini terdapat di dunia. Apakah empat ini? Orang yang sedikit belajar yang tidak bersungguh-sungguh pada apa yang telah ia pelajari; orang yang sedikit belajar yang bersungguh-sungguh pada apa yang telah ia pelajari; orang yang banyak belajar yang tidak bersungguh-sungguh pada apa yang telah ia pelajari; orang yang banyak belajar yang bersungguh-sungguh pada apa yang telah ia pelajari.

(1) “Dan bagaimanakah orang yang sedikit belajar yang tidak bersungguh-sungguh pada apa yang telah ia pelajari? [7] Di sini, seseorang telah mempelajari sedikit – yaitu, khotbah-khotbah, campuran prosa dan syair, penjelasan-penjelasan, syair-syair, ucapan-ucapan inspiratif, kutipan-kutipan, kisah-kisah kelahiran, kisah-kisah menakjubkan, dan pertanyaan-dan-jawaban1 - tetapi ia tidak memahami makna dari apa yang telah ia pelajari; ia tidak memahami Dhamma; dan ia tidak berlatih sesuai Dhamma. Demikianlah orang yang sedikit belajar yang tidak bersungguh-sungguh pada apa yang telah ia pelajari.

(2) “Dan bagaimanakah orang yang sedikit belajar yang bersungguh-sungguh pada apa yang telah ia pelajari? Di sini, seseorang telah mempelajari sedikit – yaitu, khotbah-khotbah … pertanyaan-dan-jawaban – tetapi setelah memahami makna dari apa yang telah ia pelajari, dan setelah memahami Dhamma, ia berlatih sesuai Dhamma. Demikianlah orang yang sedikit belajar yang bersungguh-sungguh pada apa yang telah ia pelajari.

(3) “Dan bagaimanakah orang yang banyak belajar yang tidak bersungguh-sungguh pada apa yang telah ia pelajari? Di sini, seseorang telah mempelajari banyak – yaitu, khotbah-khotbah … pertanyaan-dan-jawaban – tetapi ia tidak memahami makna dari apa yang telah ia pelajari, ia tidak memahami Dhamma; dan ia tidak berlatih sesuai Dhamma. Demikianlah orang yang banyak belajar yang tidak bersungguh-sungguh pada apa yang telah ia pelajari.

(4) “Dan bagaimanakah orang yang banyak belajar yang bersungguh-sungguh pada apa yang telah ia pelajari? Di sini, seseorang telah mempelajari banyak – yaitu, khotbah-khotbah … pertanyaan-dan-jawaban – dan setelah memahami makna dari apa yang telah ia pelajari, dan setelah memahami Dhamma, ia berlatih sesuai Dhamma. Demikianlah orang yang banyak belajar yang bersungguh-sungguh pada apa yang telah ia pelajari.

“Ini, para bhikkhu, adalah keempat jenis orang itu yang terdapat di dunia.”

Jika seseorang sedikit belajar dan tidak kokoh dalam moralitas, mereka mengkritiknya dalam kedua hal, perilaku bermoral dan pembelajaran.

Jika seseorang sedikit belajar namun kokoh dengan baik dalam moralitas, mereka memujinya atas perilaku bermoralnya; pembelajarannya telah berhasil.2

Jika seseorang banyak belajar namun tidak kokoh dalam moralitas, mereka mengkritiknya atas ketiadaan moralitasnya; pembelajarannya belum berhasil. [8]

Jika seseorang banyak belajar dan kokoh dengan baik dalam moralitas, mereka memujinya dalam kedua hal, perilaku bermoral dan pembelajaran.

Ketika seorang siswa Sang Buddha banyak belajar, seorang ahli Dhamma, memiliki kebijaksanaan, bagaikan kepingan uang yang terbuat dari emas gunung yang dihaluskan, siapakah yang pantas mencelanya? Bahkan para deva memuji orang demikian; Brahmā juga memujinya.


Catatan Kaki
  1. Dalam Pāli: suttaṃ, geyyaṃ, veyyākaraṇaṇ, gāthā, udānaṃ, itivuttakaṃ, jātakaṃ, abhutadhammaṃ, vedallaṃ. Ini adalah sembilan pengelompokan awal dari Dhamma, yang akhirnya digantikan dengan pengaturan teks-teks ke dalam lima Nikāya. Baca Norman 1983: 15-16; Norman 2006a: 172-73. Mp, selaras dengan komentar-komentar lainnya, memberikan contoh untuk tiap-tiap gaya pengungkapan, yang tidak semuanya diterima oleh para terpelajar masa kini. Telah menjadi perdebatan apakah beberapa koleksi dalam daftar itu merujuk pada koleksi yang telah ada pada masa Sang Buddha atau merujuk pada purwarupa dari koleksi yang ada sekarang. Pendapat para terpelajar masa kini lebih condong pada yang ke dua. ↩︎

  2. Saya mengikuti Be, yang membaca tassa sampajjate sutaṃ dalam pāda d dari syair ini dan nāssa sampajjate sutaṃ, “pembelajarannya belum berhasil,” dalam pāda d bait berikutnya. Ce membaca nāssa sampajjate sutaṃ di sini dan tassa sampajjate sutaṃ pada bait berikutnya, sedangkan Ee menuliskan nāssa sampajjate sutaṃ dalam kedua bait. Mp mendukung Be dengan menjelaskan, sehubungan dengan bait ini: “Pembelajarannya dapat dikatakan telah berhasil karena orang ini telah menggunakan apa yang telah ia pelajari untuk mencapai tujuan pembelajaran.” Dan sehubungan dengan bait berikutnya, Mp menjelaskan: “[Pembelajarannya] belum berhasil karena ia belum mencapai tujuan pembelajarannya.”Syair ini dikutip dalam Vism 48, Ppn 1.136, tetapi dengan beberapa perbedaan dalam tulisan di antara banyak edisi. ↩︎